Janda Bersegel

Janda Bersegel
Kembali ke Jakarta


__ADS_3

"Mami kenapa?" tanya Danu saat tiba di kantor.


"Danuuu, kamu harus nikah. Pokoknya kamu harus nikah," ucap Nyonya Nathalie.


"Mami kenapa sih? Kok tiba-tiba nyuruh aku nikah?" tanya Danu.


"Pokoknya kamu harus nikah. Titik gak pakai koma," jawab Nyonya Nathalie.


Hah? Mami kesambet setan apaan sih kok bisa-bisanya datang-datang ke kantor nyuruh aku nikah?


"Danu, kamu dengar mami tidak?" tanya Nyonya Nathalie kesal.


"Mi, aku masih banyak pekerjaan." Danu berdiri dan meninggalkan Nyonya Nathalie yang masih terlihat kesal.


"Danu, Danu," panggil Nyonya Nathalie.


Danu tidak menghiraukan panggilan ibunya dan segera pergi meninggalkan ruangan Tuan Ferdinan.


"Mami, sudahlah. Mami itu kenapa?" tanya Tuan Ferdinan.


"Ah, mami kesel banget. Mami tadi ketemu sama Nyonya Helen. Masa dia bilang Danu masih belum move on dari Mia? Ih, kan gak banget pi. Mana dia bilang Mia lagi hamil lagi," ucap Nyonya Nathalie.


"Hah? Mia hamil?" tanya Tuan Ferdinan.


"Iya. Kesel kan papi?" tanya Nyonya Nathalie.


Tuan Ferdinan diam. Ia tak bisa menjawab pertanyaan istrinya. Bukan kesal, mungkin perasaan Tuan Ferdinan saat ini adalah merasa sangat bersalah pada Mia.


"Ah papi dan Danu sama saja. Bikin mami tambah kesel. Diajak ngomong diam saja. Mami mau pulang saja ah," ucap Nyonya Nathalie.


Saat akan keluar dari ruangan Tuan Ferdinan, Nyonya Nathalie mengurungkan niatnya untuk pulang. Ia lebih memilih untuk menemui Danu dan membujuk istrinya itu.


"Danu," panggil Nyonya Nathalie.


Apa lagi sih Mi? Aku tidak ingin berdebat dengan Mami. Apalagi tentang Mia. Itu akan membuat aku semakin pusing dan sakit. Mami kenapa sih gak ngerti perasaan aku?


"Masuk Mi," jawab Danu malas.


"Danu, kamu lagi santai kan?" tanya Nyonya Nathalie.


Bagaimana bisa Mami bilang aku lagi santai? Sementara mata dan tanganku sedang fokus pada layar laptop.


"Ada apa lagi Mi?" tanya Danu.


"Kamu sayang kan sama Mami?" tanya Nyonya Nathalie.


Modus apa lagi ini? Ah mami ini bikin aku kesal saja.


"Memangnya selama ini kasih sayang aku sama Mami gak terasa?" Danu balik bertanya.


"Ya, bukan begitu Danu. Tapi kalau kamu sayang sama Mami, kamu mau ya nikah. Kalau kamu masih menolak untuk menikah, artinya kamu gak sayang sama Mami." Nyonya Nathalie cemberut.


"Mi, apa kurang pengorbananku selama ini? Aku sudah mengorbankan cintaku. Aku mengabaikan perasaanku. Aku menceraikan Mia demi Mami," ucap Danu.


"Demi Mami? Bohong. Kamu menceraikan Mia karena kamu merasa kamu tidak bisa memiliki anak kan dari Mia? Kamu takut Mami terus-terusan membenci Mia kan? Kamu belum berkorban apapun demi Mami Danu," ucap Nyonya Nathalie.


Apa? Mami tidak merasakan pengorbananku selama ini? Aku sudah melepas Mia. Aku pikir setelah aku menceraikan Mia, Mami tidak akan ikut campur lagi urusan pribadi aku. Nyatanya aku salah. Apa yang terjadi ada Mami? Kenapa Mami berubah seratus delapan puluh derajat? Aku bahkan tidak mengenali Mami.


"Danu, jawab dong. Kamu mau kan menikah dengan wanita pilihan Mami?" tanya Nyonya Nathalie.


"Maaf Mi. Aku gak bisa," jawab Danu sembari kembali fokus pada layar ponselnya.


"Oh, ternyata benar apa kata Nyonya Helen. Kalau kamu memang belum move on dari Mia? Kamu ini memalukan sekali Danu," ucap Nyonya Nathalie.


Danu mengangkat wajahnya.


"Nyonya Helen?" tanya Danu.


Danu tidak begitu mengenal Nyonya Helen. Hanya saja Danu tahu kalau Nyonya Helen adalah mertua mia.


"Iya. Mami benar-benar malu saat dia bilang kamu belum move on. Masa kamu masih cinta sama dia sih? Dia kan sudah jadi istri orang. mana sekarang lagi hamil lagi. Sudahlah. Jangan pernah berpikir untuk kembali sama Mia. Cari yang baru saja," ucap nyonya Nathalie.


Hamil? Mia hamil? Tuhaaaan, demi apa hati aku sakit. Sangat sakit. Maafkan aku Mia. Aku tidak bisa bahagia atas rasa bahagiamu saat ini. Aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri. Aku sakit dengan kenyataan ini.


"Mi, aku lagi banyak pekerjaan. Mami pulang saja,istirahat di rumah ya!" ucap Danu.


"Ih kamu sama saja kayak papi. Nyebelin," ucap Nyonya Nathalie sambil berdiri dan segera pergi meninggalkan ruangan Danu.


Wajah Nyonya Nathalie yang cemberut karena kesal, menjadi pusat perhatian. Beberapa karyawan sempat ditegur karena menyinggung istri dari pemilik perusahaan itu.


Kenapa sih semua orang ini aneh? Gak ada yang peka dan ngerti sama aku.


Hal yang sama, kurang lebih ternyata dialami juga oleh Nyonya Helen. Namun bedanya, ada sedikit rasa puas saat mengingat Nyonya Nathalie terkejut mendengar kehamilan Mia.


"Ya sudah kan Mama yang menang. Kok Mama marah-marah sih?" tanya Tuan Wira.

__ADS_1


"Tapi kan tetap kesel Pa. Dia itu memang ngeselin. Selalu saja menghina Mia. Padahal Mia itu anak baik-baik. Selama Mama kenal sama Mia, mama gak pernah kecewa. Apa sih yang membuat si wewe gombel itu begitu membenci Mia?" ucap Nyonya Helen yang uring-uringan.


"Ma, jangan kepo sama urusan orang. Bikin kepala sakit tahu. Tugas kita itu melindungi Mia dan menyayanginya. Tidak perlu mencari tahu masa lalunya," ucap Tuan Wira.


"Iya juga Pa. Tapi kan mama kesel aja sama ucapan si wewe gombel yang selalu saja menyudutkan Mia. Seolah-olah Mia itu wanita yang sangat bersalah dan tidak ada harga dirinya. Mungkin karena mama sayang sama Mia kali ya! Jadi Mama gak mau ada yang menghina Mia," ucap Nyonya Helen.


Tuan Wira menatap Nyonya Helen. Tidak menjawab ucapan istrinya, ia lebih memilih untuk memeluknya. Mengungkapkan rasa syukurnya karena sudah menjadi ibu mertua rasa ibu kandung.


"Mama the best. Papa makin cinta deh. Mama mau hadiah apa dari papa?" tanya Tuan Wira.


"Terima kasih pa. Mama mau papa sehat aja. Biar papa selalu menenangkan Mama. I love you papa," ucap Tuan Wira.


Kriiiing... Kriiiing.. Kriiiing.


Dering ponsel Nyonya Nathalie membuat Tuan Wira melepaskan pelukannya sebelum ia menjawab 'I love you too'.


Nyonya Helen menjawab panggilan itu dengan bibir yang tersenyum lebar. Raut wajahnya langsung berubah setelah mendapat telepon itu.


"Pa, boleh gak besok mama mau ngumpul sama teman mama?" tanya Nyonya Helen.


"Asal mama senang, lakukan saja Ma. Tapi papa besok ada meeting penting. Mama bisa pergi sama sopir kan?" tanya Tuan Wira.


"Iya, gak apa-apa Pa. Terima kasih ya sayang, sudah selalu mengerti sama kebutuhan Mama." Nyonya Helen memeluk Tuan Wira.


Ya, mungkin Tuan Wira bisa dibilang sosok suami idaman. Sebagai seorang suami, Tuan Wira mengerti kalau istrinya butuh me time. Tuan Wira amat sangat mengerti dan selalu memberi waktu untuk Nyonya Helen melakukan apapun yang membuatnya senang. Apalagi saat ini, Nyonya Helen pasti kesepian dengan keadaannya yang sendirian. MMenghabiskan waktu di rumah memang membosankan. Dan Tuan Wira paham semua itu.


"Itu semua karena Mama juga mengerti kebutuhan papa," ucap Tuan Wira.


Sama halnya dengan Tuan Wira yang tidak mengekang Nyonya Helen. Nyonya Helen juga tidak membatasi pergaulan suaminya. Ia sadar kalau sebagai pemilik sebuah perusahaan, tidak jarang rekan bisnis dari gender wanita sering berhubungan dengan suaminya. Nyonya Helen hanya mengingatkan kalau hubungan itu jangan sampai berlebihan.


Bermodalkan saling percaya, Nyonya Helen tidak pernah mempermasalahkan dan mempersulit urusan pekerjaan suaminya. Mungkin itu salah satu yang membuat rumah tangga mereka tidak pernah diterpa gosip. Selama ini rumah tangganya rukun-rukun saja. Walaupun memang ada kerikil dalam rumah tangga, namun keduanya bisa menghadapi semuanya dengan baik.


Ini sudah bulan kedua Dion dan Mia tidak pulang ke Jakarta. Rasa rindu Nyonya Helen tidak bisa digambarkan lagi. Hampir tiap hari merengek pada suaminya agar diizinkan untuk pergi ke Surabaya, namun hasilnya nihil.


"Mama jangan jahat ya sama papa. Kemarin hampir satu kosong. Untung papa bisa nyusul. Jadinya satu sama. Papa gak mau nanti skornya jadi dua satu. Nanti ya setelah pekerjaan papa agak longgar, kita ke sana sama-sama." Tuan Wira memberi pengertian.


"Ah, papa kan gak tentu waktu longgarnya. Mama sudah gak tahan nih kangennya pakai banget," ucap Nyonya Helen.


"Mama pikir papa gak kange gitu?" tanya Tuan Wira kesal.


"Ya mama tahu, tapi kan papa biasanya pengertian. Kok sekarang gak sih?" ucap Nyonya Helen.


"Khusus yang ini maaf Ma. Papa gak mau nanti cucu kita jadi pilih kasih. Nanti cucu kita lebih sayang Mama karena sering nengokin dia, sedangkan sama papa gak karena jarang nengokin dia. Gak mau papa," ucap Tuan Wira.


"Ya gak mungkin lah Pa. Kan bayinya masih dalam perut. Mana mungkin dia mikir begitu?" Tanya Nyonya Helen kesal.


"Itukan jargon Mama. Kok Papa ikut-ikutan sih?" tanya Nyonya Helen.


"Eh, sebentar Ma. Dion telepon," ucap Tuan Wira.


Nyonya Helen mengangguk dan mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Dengan kode yang diberikan Nyonya Helen, akhirnya Tuan Wira mengaktifkan loudspeakernya.


"Yeaaaay, kamu beneran mau bawa Mia ke Jakarta?" teriak Nyonya Helen.


"Loh, kok ada Mama?" tanya Dion dari balik sambungan telepon.


"Memangnya kenapa kalau ada mama?" tanya Nyonya Helen.


"Iya gak apa-apa. Memangnya papa gak ke kantor?" tanya Dion.


"Ini Mama kamu yang ikut ke kantor," jawab Tuan Wira.


"Waduh, dikawal bodyguard nih." Dion tertawa sangat puas.


"Kamu ya, awas nanti kalau pulang. Mama buat perhitungan sama kamu ya!" ancam Nyonya Helen.


"Ya sudah kalau gitu aku sama Mia gak pulang deh," ucap Dion.


"Eh, gak jadi. Mama gak jadi bikin perhitungan. Tapi kalian jadi pulang kan?" tanya Nyonya Helen memastikan.


"Nah begitu dong," ucap Dion.


"Mana Mia?" tanya Nyonya Helen.


"Ya di rumah. Mia kan bukan bodyguard. Jadi istirahat saja di rumah," jawab Dion.


Nampaknya Dion masih tetap menggoda Nyonya Helen yang sangat jarang ikut ke kantor Tuan Wira. Hal ini terjadi karena Nyonya Helen merasa kesepian saat sendirian di rumah. Jawaban Nyonya Helen justru membuat hati Dion tersentuh. Hingga Dion berpikir agar Mia bisa tinggal di Jakarta saja.


"Kamu jangan mancing kemarahan Mama deh. Bikin kesel," ucap Nyonya Helen.


"Pokoknya mama marah, aku sama Mia gak jadi pulang. Gampang kan?" tanya Dion.


"Iya gak marah kok. Siapa yang marah sih ah," jawab Nyonya Helen.


"Udah ah, baterai ponsel papa abis nih. Udah satu jam ini. Masih aja pada anteng," ucap Tuan Wira.

__ADS_1


Sambungan telepon pun terputus. Membuat Nyonya Helen cemberut karena masih asyik ngobrol dengan Dion meskipun kadang Dion membuatnya kesal.


Dua hari setelah panggilan Dion, Nyonya Helen mendapat surprise saat melihat kedatangan Mia dan Dion ke Jakarta.


"Mamaaaaa," teriak Mia.


Nyonya Helen yang sedang memainkan ponsel di kamarnya baru menyadari ada yang berteriak memanggilnya.


"Mia?" gumam Nyonya Helen.


Meskipun tidak begitu yakin kalau anak dan menantunya akan pulang ke Jakarta hari itu, namun Nyonya Helen kenal betul suara wanita yang berteriak memanggilnya.


"Maaa," teriak Mia untuk yang keempat kalinya.


Ah itu benar-benar Mia.


Nyonya Helen keluar dari kamarnya dan mencari jawaban atas ketidakyakinannya itu.


"Miaaaaa," teriak Nyonya Helen dengan sangat bahagia.


Mia disambut dengan pelukan dan ciuman hangat di keningnya dari Nyonya Helen. Nampaknya kejutan itu benar-benar berhasil. Nyonya Helen sampai menangis karena sangat bahagianya dengan kedatangan Mia dan Dion.


"Kamu ini keterlaluan. Kenapa Mama gak dikasih tahu kalau kalian mau pulang? Katanya mau pulang minggu depan," ucap. Nyonya Helen.


"Kebetulan besok mas Dion ada undangan teman bisnisnya di Jakarta, Ma. Jadi pulangnya dipercepat," jawab Mia.


"Waaah, mama senang sekali Mia. Kamu sama bayinya sehat kan?" tanya Nyonya Helen.


"Sehat. Mama juga sehat kan?" tanya Mia.


"Sehat dong," jawab Nyonya Helen.


Sejak kedatangan Mia, Nyonya Helen melihat Mia berkali-kali. Badan Mia jauh lebih besar. Rasanya lucu saja. Padahal saat menikah dulu, badan Mia kurus sekali.


"Mama kenapa sih lihat Mianya begitu? Apa ada yang aneh sama Mia?" tanya Mia.


"Kamu naik berapa kilo sih Mi?" tanya Nyonya Helen yang sudah sangat penasaran.


"Sudah naik empat kilo Ma," jawab Mia dengan wajah ceria sambil mengusap perutnya.


Mia sama sekali tidak merasa aneh dengan perubahan fisiknya yang terus mengembang. Dion meyakinkan Mia kalau badannya yang mengembang adalah bukti sayangnya pada bayi yang ada di dalam perutnya.


Setelah tahu kalau Mia hamil, Dion terus memberi asupan nutrisi yang sangat baik. Hal itu tentu untuk menunjang kebutuhan calon anaknya yang ada di perut Mia. Mengikuti arahan dokter, semua makanan yang bergizi dan susu selalu Dion siapkan untuk Mia.


"Tapi kamu tetap cantik kok," ucap Dion.


mendengar jawaban Dion, tiba-tiba Nyonya Helen merasa tidak enak sendiri dengan pertanyaannya.


"Mia, Selam hamil kamu jangan mikirin berat badan ya! Mama dulu waktu hamil Dion naiknya sampai sembilan belas kilo. Yang penting itu ibu dan bayinya sehat," ucap Nyonya Helen.


"Iya Ma," jawab Mia.


Mia memang bukan orang yang gampang terbawa suasana. Bahkan Mia tidak tahu kalau ucapan Nyonya Helen itu adalah pengalihan atas pertanyaan yang tidak berarti sama sekali untuknya.


"Mia, besok kamu mau ikut sama Dion gak?" tanya Nyonya Helen.


"Jangan ah, istirahat saja. Mia sudah melakukan perjalanan Surabaya-Jakarta," jawab Dion.


Mia hanya mengangguk dan menunduk. Ya, begitulah Dion. Selalu khawatir atas keadaannya. Hal ini yang selalu membuat Mia jatuh cinta pada sosok Dion.


"Bagus deh. Mama juga gak bakal ikut kok," ucap Nyonya Helen.


"Mama kalau may ikut, ikut saja. Mia gak apa-apa kok di rumah sendirian," ucap Mia.


Kata sendirian untuk Nyonya Helen atau Mia di rumah mewah itu, sebenarnya karena tidak ada ibu atau anak yang bisa diajak ngobrol. Padahal di rumah itu masih banyak orang yang bekerja di sana.


"Gak mau ah. Mama mau nemenin kamu saja," ucap Nyonya Helen.


"Mia bisa ditemani mba kok Ma. Mama pergi saja. Kan gak enak kalau Mama gak datang," ucap Mia.


"Gak. Mama gak mau ketemu sama si wewe gombel. Males," ucap Nyonya Helen.


"Wewe gombel?" tanya Mia.


"Itu, mantan mertua kamu yang sangat menyebalkan. Kamu kok mau sih punya mertua kayak dia?" tanya Nyonya Helen.


Nyonya Nathalie? Dulu saat pertama Mia bertemu dengannya, ia tidak begitu. Seperti Mama. Dia baik dan sayang sama Mia. Tapi waktu sudah membuatnya berubah. Hingga akhirnya Mia tidak percaya dengan perubahan sikap Nyonya Nathalie. Bahkan Mia sendiri tidak tahu pasti awal mula kebencian Nyonya Nathalie pada Mia.


#################


Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.


Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍

__ADS_1


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


Terima kasih..


__ADS_2