Janda Bersegel

Janda Bersegel
Lombok


__ADS_3

Berangkat ke kantor dengan mobil yang berbeda, meskipun dari rumah yang sama. Bukan karena ingin menunjukkan kekayaannya, tapi Tuan Wira akan pulang telat malam ini. Selain itu, ada tamu yang menunggu Dion pagi ini.


"Mana Dion sama Mia?" tanya Nyonya Helen.


"Sudah berangkat duluan," jawan Tuan Wira dingin.


"Hah? Mama ditinggalin?" tanya Nyonya Helen.


"Dandannya kelamaan," jawab Tuan Wira.


Nyonya Helen cemberut. Rasa kecewa pada Mia membuatnya ingin menangis. Nyonya Helen tidak percaya kalau Mia bisa melakukan semua ini.


"Dion mau ketemu sama orang. Jadi berangkat lebih dulu. Jangan buruk sangka sama anak sendiri. Dosa," ucap Tuan Wira.


Seketika kesedihan itu hilang. Namun kecewa itu masih ada. Bedanya, sekarang rasa kecewa untuk Mia berganti menjadi rasa kesal ada suaminya sendiri.


"Papa tuh yang dosa. Bohooong terus kerjaannya. Bisa-bisanya masih pagi ngeprank orang. Dimana-mana pagi-pagi itu sarapan. Tubuh beri asupan yang baik. Jangan dikasih asupan dosa," ucap Nyonya Helen.


"Aduuuh. Mana ada bohong terus. Ini baru sekali Ma. Jangan dilebih-lebihkan. Nanti jadi dosa buat Mama. Mau?" Tanya Tuan Wira.


"Mau, mau. Ayo berangkat! Ini udah kesiangan," ucap Nyonya Helen.


Melihat jam yang terus berputar, Nyonya Helen mengalah. Ia harus menyudahi perdebatan yang cukup sengit pagi ini.


Setibanya di kantor, hal pertama yang dilakukan Nyonya Helen adalah segera mencari Mia.


"Dimana Mia Pa?" tanya Nyonya Helen.


"Paling juga di ruangan Dion," jawab Tuan Wira.


"Gak ada," jawab Nyonya Helen. "Kemana ya Pa?" lanjutnya panik.


"Ya mana Papa tahu Ma. Biarin lah. Kan Mia juga sama suaminya. Ngapain sih Mama panik begitu?" tanya Tuan Wira.


"Ya kan tujuan Mama ikut ke sini juga mau ngobrol sama Mia. Kalau cuma liatin Papa sih mending Mama di rumah aja rebahan," jawab Nyonya Helen.


"Aduh Mama kalau ngomong bisa enteng begitu ya? Ya kali-kali Mama harus tahu gimana perjuangan Papa untuk keluarga kita? Mama harus lihat Papa banting tulang buat kesejahteraan Mama dan Dion," ucap Tuan Wira.


"Ah, Papa juga waktu Mama berjuang lahiran Dion gak lihat Mama. Padahal itu adalah perjuangan antara hidup dan mati Mama. Kok Papa malah tunggu di luar?" tanya Nyonya Helen.


"Eh, kan Papa jadinya masuk Ma. Papa nemenin Mama lahiran loh," jawab Tuan Wira.


"Ya itu karena dipaksa aja sama dokternya. Nemenin juga cuma merem aja. Gak lihat gimana Mama banjir keringat nahan sakit," ucap Tuan Wira.


Bukan sekedar gosip. Ternyata benar. Wanita kalau sudah kesal sama pria, maka kesalahan pria puluhan tahun masih diingat. Lagi pula kan Papa gak tega lihat Mama kesakitan begitu. Apalagi Mama jerit-jerit. Bikin Papa lemes. Ya dari pada pingsan, mendingan Papa tutup mata.


"Maaf ya Ma," ucap Tuan Wira.


Mengerti situasi. Jika dilanjutkan, ini tidak akan selesai dalam satu hari. Bahkan bukan tidak mungkin jika nanti akan dibahas masalah-masalah yang lain.


Semakin lama berumah tangga, Tuan Wira semakin paham apa yang harus ia lakukan. Ya, mengalah. Ia hanya harus mendengarkan dan meminta maaf. Itu sudah lebih dari cukup. Hal itu membantu Nyonya Helen mereda dengan sendirinya.


"Jangan marah dong. Papa minta maaf ya! Papa akui ini semua salah Papa. Mama mau kan maafin Papa?" tanya Tuan Wira.


Usia tidak menghalangi Tuan Wira untuk bersikap romantis. Ia berhasil membuat Nyonya Helen tersipu malu saat memberikan pelukan dari belakang dan mencium pipi istrinya.


"Astagaaaa," ucap Dion.


Dion yang masuk ke ruangan Tuan Wira tanpa permisi harus melihat kejadian romantis yang dilakukan orang tuanya. Ia kembali menutup pintunya agar Tuan Wira dan Nyonya Helen tidak terganggu. Meskipun kedatangan Dion secara tiba-tiba membuat orang tuanya langsung saling menjauh dan menjadi gugup.


"Ada apa A?" tanya Mia.


Mia yang tidak melihat apapun karena posisinya di belakang tubuh Dion, terkejut saat melihat suaminya tidak jadi masuk dan menggelengkan kepalanya.


"Ayo ikut aku!" ucap Duon menarik tangan Mia.


"Hey mau kemana?" tanya Tuan Wira.


"Kemana-mana hatiku senang," jawab Dion.


Dion terus berjalan meninggalkan ruangan Tuan Wira dan kembali ke dalam ruangannya. Sementara Mia yang tidak mengerti apa yang terjadi, hanya bisa tersenyum dengan wajah bingung.


"Bisa-bisanya Mama sama Papa mesum di kantor," ucap Dion setelah sampai ke ruangannya.


"Hussst!" ucap Mia.


"Lagian ngapain begitu di kantor? Kan mata ku jadi melihat pemandangan buruk pagi ini," ucap Dion.


"Salah Aa juga kenapa gak ketuk pintu dulu," ucap Mia mengingatkan.


Ya, Dion mengakui kesalahannya. Ia tetap tidak terima melihat orang tuanya bersikap seperti itu. Alasannya? Mungkin karena ia merasa kalah romantis oleh Tuan Wira dan Nyonya Helen. Entahlah. Namun sepertinya pagi ini Dion sedang sangat sensitif.


"Dion," panggil Tuan Wira.


"Mending Papa pulang deh," ucap Dion.


"Aa," ucap Mia mencubit tangan Dion.

__ADS_1


"Halah kayak kamu gak pernah aja," ucap Tuan Wira.


"Kamu kenapa sih?" tanya Nyonya Helen.


"Gak," jawab Dion.


Mata Tuan Wira dan Nyonya Helen menatap Mia, mencari tahu apa yang terjadi dengan Dion. Mia yang mengerti keadaan suaminya memberi isyarat agar Tuan Wira dan Nyonya Helen memberinya waktu. Mengerti kode dari Mia, keduanya pamit untuk keluar dari ruangan Dion.


Setelah Nyonya Helen dan Tuan Wira keluar, Mia berusaha membuat Dion kembali mood. Mia meminta OB membuatkan segelas teh hangat. Mia juga selalu berada di samping Dion dan selalu memberikan senyum manisnya.


"A, jangan difikirin terus dong," ucap Mia.


Akhirnya Mia mulai menyinggung soal Reza.


"Ya tetap aja kepikirn lah Mi," ucap Dion.


"Itu kan baru kata orang. Aa sendiri kan gak tahu yang benar itu gimana," ucap Mia.


"Masalahnya gimana aku bisa tahu kalau dia gak balas pesan aku dan gak jawab panggilan aku," ucap Dion.


Raut wajah emosi sepertinya menguasai Dion untuk keduakalinya. Pasalnya, orang yang bertemu dengan Dion pagi tadi, mengatakan kalau Reza sudah menikah. Dion kecewa dan marah karena ia tidak mendapat informasi apapun dari Reza. Bahkan ia tidak bisa menghubungi sahabatnya itu.


"Kalaupun tidak dipublish, mungkin ada sesuatu yang memang privasi A. Setiap orang kan berhak menjaga privasi hidupnya," ucap Mia.


"Termasuk sama temannya sendiri?" tanya Dion.


Mia diam. Memang benar, sekalipun dengan sahabat terdekatnya ia berhak untuk menutupi hal privasi dalam hidupnya. Tapi Mia tahu kalau jawaban itu hanya akan membuat Dion semakin marah dan kecewa.


"Sayang, nanti kita dengar alasan dari Reza ya. Mia yakin Reza pasti cerita sama Aa. Mungkin sekarang waktunya aja yang belum tepat," ucap Mia.


"Mau sampai kapan?" tanya Dion.


Ih kok Aa marah sama Mia? Ya mana Mia tahu sampai kapan. Aa aja gak tahu, apalagi Mia. Sabar Mia, ini ujian.


Mia berusaha menutupi rasa kesalnya. Bukan hanya Dion, Mia sebenarnya juga merasa kesal pada Dion karena ia menjadi korban dari kekesalan suaminya pada Reza.


"Secepatnya. Mia yakin," jawab Mia meyakinkan.


Meskipun sebenarnya Mia sendiri tidak tahu kapan. Bahkan ia dan Reza juga tidak begitu mengenal. Bertemu pun hanya beberapa kali. Tapi bagaimanapun Mia berterima kasih ada Reza. Berkat taruhan gila itu, akhirnya Mia bisa menghabiskan sisa usianya dengan pria yang sangat dicintainya itu.


Kriiiing.. Kriiiing.. Kriiing


Dering ponsel Dion membuyarkan isi kepalanya.


"Siapa?" tanya Mia.


"Reza," jawab Dion dengan wajah tidak percaya.


"Iya," ucap Dion.


Mia menjauh. Ia duduk di sofa dan melihat suaminya mengobrol dengan Reza melalui sambungan telepon. Memperhatikan setiap kalimat yang keluar dari bibir suaminya.


Raut wajahnya sudah berbeda. Dari yang merah padam hingga panik dan pucat.


"Kirimin alamat kamu sekarang!" ucap Dion.


Itu adalah kalimat terakhir yang Mia dengar sebelum akhirnya panggilan itu berakhir.


"Gimana?" tanya Mia.


"Reza lagi berkabung," jawab Dion.


Dion duduk di samping Mia. Ia menundukkan kepalanya, dengan disangga oleh kedua tangannya. Tak lama Dion mengacak rambut hitamnya dengan kasar.


"Siapa?" tanya Mia.


"Anak tirinya," jawab Dion pelan.


Seperti rencananya semula, Reza mengajak taruhan gila pada Dion dengan tujuan tertentu. Ia ingin menikahi seorang wanita dengan status janda, namun takut menjadi bahan bullyan Dion. Hingga Reza mencari cara agar Dion menikah dengan seorang janda. Agar kelak jika Reza menikahi wanita yang dicintainya itu, statusnya sama dengan Dion.


Tapi berbeda dengan Dion yang mendapatkan Mia. Walaupun Mia janda, Dion adalah pria pertama yang mendapat kehormatannya. Sedangkan wanita yang Reza cintai sudah memiliki anak. Namun paking tidak, status dalam sosialnya sama.


"Terus sekarang Aa mau apa?" tanya Mia.


"Aku harus nyusul dia. Reza selalu ada kalau aku lagi butuh, tapi sekarang saat Reza susah aku malah gak tahu sama sekali. Sahabat macam apa aku," ucap Dion frustasi.


Mia menatap Dion. Terlihat sangat sedih. Mia bisa menangkap gurat sedih yang nampak daru wajah suaminya itu. Mia tidak menyangka kalau Dion sesayang itu pada Reza.


"Memangnya Reza dimana?" tanya Mia.


"Lombok," jawab Dion.


"Mas mau ke sana? Udah bilang sama Papa? Bukannya besok ada meeting penting?" tanya Mia.


"Entahlah Mi," jawab Dion.


Dion menyandarkan tubuhnya. Menatap luas langit-langit ruangannya. Mencoba mencari jalan keluar. Ia merasa terjepit.

__ADS_1


"Apakah Reza tidak punya keluarga?" tanya Mia.


Setelah mendengar jawaban Dion, Mia diam. Ia bungkam dan menelan salivanya dengan susah. Sampai begitu jauh perjuangan seorang Reza demi mendapatkan istrinya.


Keputusan Reza saat menjalin cinta dengan kekasihnya, tidak mendapat respon dari keluarganya. Awalnya Reza akan menunda pernikahannya dan berjuang sampai keluarganya menerima wanita yang dicintainya. Namun takdir berkata lain, anak dari wanita yang sangat ia cintai itu memohon agar Reza menikahi ibunya. Anak yang sudah lama sakit-sakitan itu ingin pergi tenang setelah ada pria yang benar-benar menjaganya.


Sampai akhirnya setelah Reza menikahi ibunya, selang seminggu anak itu benar-benar pergi untuk selamanya. Senyum bahagia anak itu nampak jelas saat terakhir kali menatap wajah Reza.


Dan baru malam tadi, istrinya itu masuk rumah sakit. Kondisi keuangan Reza juga sedang tidak stabil. Dion yang merasa sakit saat mendengar kabar itu langsung mentransfer sejumlah uang untuk kebutuhan Reza sampai akhirnya ia akan membawa Reza dan istrinya kembali ke Jakarta.


"Aa ke Lombok aja," ucap Mia.


"Aku masih ada pekerjaan. Sepertinya aku ke sana setelah semua urusan pekerjaan selesai," ucap Dion.


"Pekerjaan masih bisa dicari. Tapi sahabat baik sangat sulit. Apalagi Reza adalah orang yang sudah mempertemukan kita. Secara tidak langsung karena Reza lah kita bisa bersama seperti ini," ucap Mia.


Mia yang hatinya lembut, sangat merasa tersentuh saat Dion menceritakan semua yang terjadi pada Reza. Dion sempat menolak, karena proyek kecil-kecilannya kali ini adalah proyek pertamanya tanpa ayahnya. Ini proyek mandirinya. Tapi sepertinya Dion tengah dilema antara melanjutkan proyek itu atau justru kehilangan proyek kebanggaannya itu.


Berkat masukan dari Mia, Dion akhirnya memutuskan untuk pergi ke Lombok. Menyusul dan menguatkan sahabatnya dan meninggalkan harapan besarnya.


"Aku berangkat nanti sore ya!" ucap Dion.


Mia mengangguk dan menggenggam tangan suaminya. Meyakinkan Dion kalau keputusan yang diambilnya adalah keputusan terbaik dan tak perlu disesali.


Sebelum berangkat ke Lombok, Dion meminta izin pada Nyonya Helen dan Tuan Wira.


"Kamu yakin dengan keputusanmu?" tanya Tuan Wira.


Dion bingung. Jujur hatinya masih ragu. Namun dorongan dari Mia lebih membuatnya cenderung memilih keputusannya itu. Ia tidak bisa menjawab. Hanya mengangguk, tanda mengiyakan pertanyaan dari ayahnya.


"Papa hanya tidak mau kamu menyesal suatu hari nanti," ucap Tuan Wira.


"Tidak Pa. Mia yakin itu keputusan terbaik. Urusan pekerjaan, Mia yang akan handle." Mia meyakinkan Tuan Wira.


"Gak," jawab Dion.


"Kenapa?" tanya Mia.


Dion memang tahu konsekuensi saat ia membatalkan meeting besok. Nama baiknya mungkin akan dipertaruhkan. Tapi kalau Mia harus menggantikannya, rasanya Dion juga tidak suka.


"Pokoknya kamu gak boleh gantiin aku," jawab Dion.


"Iya, kamu istirahat saja Mia. Biarkan saja," ucap Nyonya Helen.


"Reza memang penting. Tapi dalam hati, Aa juga mengakui kan kalau pekerjaan ini penting?" tanya Mia.


"Mia, kamu jangan membuatku bimbang begini. Aku jadi bingung," ucap Dion.


"Makanya jangan egois. Kita kerja sama ya!" ucap Mia.


Dion diam. Ia tidak menjawab.


"Sudah ayo berangkat! Ini sudah sore," ucap Mia.


Mia menarik tangan Dion dan mengantarkannya ke dalam mobil. Meskipun masih ada keraguan dalam hati Dion, namun Mia terus meyakinkan suaminya.


"Mi, jangan ya!" ucap Dion sebelum menutup pintu mobil.


"Reza itu sahabat Aa. Dan sekarang dia lagi terpuruk. Kalau proyek mandiri Aa sukses, Aa bisa pakai uang itu buat bantu Reza. Uang memang bukan segalanya, tapi segalanya harus ada uang. Aa ngerti kan?" tanya Mia.


Benar. Saat ini Reza memang butuh uang. Keuntungan proyek ini selain menyelamatkan nama baiknya, juga akan memberi keuntungan secara finansial. Dan Reza butuh itu.


"I Love You," ucap Dion mengecup pipi Mia.


Itu adalah sebuah jawaban atas pernyataan Mia. Dion yakin Mia bisa mengatasi semua ini. Istrinya yang cerdas adalah wanita tangguh meskipun ia sedang hamil.


"Kirimkan nomor orang itu. Biar besok Mia yang menghubunginya," ucap Mia.


Dion mengangguk. Membalas lambaian tangan Mia yang mengantarkannya sampai mobil tidak nampak lagi.


"Mia, Dion beruntung memiliki kamu." Entah untuk keberapa kalinya Nyonya Helen mengatakan hal seperti itu.


"Bukan hanya Dion Ma. Kita juga beruntung karena Mia menjadi bagian dari keluarga kita," ucap Tuan Wira.


"Iya sih Pa. Mia sudah membuat perusahaan kita menjadi jauh lebih baik lagi. Makasih ya Mi," ucap Nyonya Helen.


Lagi, Mia kembali mendengar ucapan itu. Kalimat yang sangat membuat Mia selalu merasa menjadi manusia. Akhirnya ia merasakan dihargai dan dipuji. Ya walaupun menurutnya itu terlalu berlebihan. Karena sebelumnya, Mia lebih sering mendapat cacian dan hinaan dalam hidupnya.


Mia kini meyakini kalau hidup itu bak roda yang terus berputar. Mungkin selama ini ia selalu merasa di bawah, tapi sekarang ia benar-benar merasa hidupnya berada di atas. Bagaimana tidak, Mia bisa diterima di keluarga kaya dengan attitude yang luar biasa. Mempunyai suami tampan, anak kembar yang kini masih ada dalam rahimnya, dan bisa mewujudkan cita-citanya meskipun sedang hamil. Bahkan didukung juga oleh mertuanya. Bagi Mia semua ini sudah lebih dari cukup.


####################


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍

__ADS_1


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


Terima kasih..


__ADS_2