
"Jadi gimana?" tanya Danu.
"Apa sih," ucap Sindi salah tingkah.
"Loh, kok apa sih. Ini menunya gimana?" tanya Danu.
"Oh," ucap Sindi.
Wajah Sindi memerah. Ia menutup wjaahnya dengan buku menu yang ada di hadapannya. Sedangkan Danu tersenyum melihat Sindi yang menurutnya semakin menggemaskan.
"Aku mau ini," ucap Sindi.
Sindi menunjuk salah satu menu yang tertera di sana. Kali ini ia benar-benar memilih menu yang ia inginkan. Tidak sama dengan apa yang dipesan oleh Danu.
"Yang ini sama ini ya!" ucap Danu pada pelayan yang berdiri diantara dirinya dan Sindi.
"Ditunggu sebentar ya!" ucap pelayan itu.
Pelayan itu pergi meninggalkan Danu dan Sindi yang diam tak saling bicara. Danu masih terus menatap Sindi. Sesekali pandangannya beradu, namun keduanya saling membuang muka dengan kegugupan masing-masing.
Awalnya Danu tidak gugup sama sekali. Namun semakin lama menikmati wajah Sindi, Danu merasa kalau ia menjadi ikutan salah tingkah. Sampai akhirnya Sindi memberanikan diri memulai pembicaraan. Karena semakin ia diam, akan semakin banyak waktu yang ia habiskan.
"Jadi ada apa?" tanya Sindi.
"Gak ada apa-apa," jawab Danu.
"Terus ngapain ngajak ketemu?" tanya Sindi.
"Memangnya harus ada alasannya ya?" tanya Danu.
"Ih dasar orang aneh. Tahu begini, aku gak mau keluar rumah. Nyesel," gerutu Sindi.
Rasa kesalnya membuncah saat Sindi merasa waktunya sia-sia. Eh nanti dulu, kenapa harus sia-sia? Memangnya ia mengharapkan apa kok bisa sampai kecewa.
"Jadi kamu maunya aku ngapain?" tanya Danu.
Sindi berdecak dan menggelengkan kepalanya. Ia benar-benar tak habis pikir bisa menaruh hati pada pria seperti Danu.
"Silahkan," ucap pelayan.
Ucapan pelayan sembari menghidangkan makanan di atas meja membuat keduanya berusaha untuk bersikap biasa saja.
"Terima kasih," ucap Sindi dan Danu bersamaan.
"Kalian pasangan yang sangat kompak ya. Masih pengantin baru ya?" ucap pelayan itu.
"Kok Mbanya bisa tahu sih?" tanya Danu.
"Kelihatannya romantis kalau menurut saya," ucap pelayan.
Dahi Sindi mengernyit. Tidak paham dengan penggunaan kata romantis dari pelayan itu.
"Menurut Mbanya kami serasi gak?" tanya Danu.
"Serasi. Cantik dan ganteng. Anaknya pasti lucu," jawab pelayan itu.
Anak? Mendengar kata itu raut wajah Danu langsung berubah.
"Terima kasih ya!" ucap Danu dengan nada lesu.
Pelayan yang tahu maksud kalimat terakhir Danu segera pamit undur diri. Kembali meninggalkan Danu dan Sindi yang saling diam.
"Ayo dimakan," ucap Danu mempersilahkan. "Selamat makan," lanjutnya.
Sindi yang sempat akan memasukkan sendok ke dalam mulutnya, terjeda sebentar saat Danu mengucapkan selamat makan. Hal sederhana namun bermakna besar dalam hati Sindi.
"Iya," jawab Sindi canggung.
__ADS_1
Mereka berdua makan tanpa ada yang bicara sepatah katapun. Menikmati makanan dengan salah tingkah dan pikiran masing-masing. Sampai akhirnya keduanya selesai makan, Sindi terkejut saat melihat nama Mia muncul di layar ponselnya.
"Sebentar ya!" ucap Sindi.
Danu yang masih mengelap mulutnya hanya mengangguk meski kepalanya dipenuhi tanya. Ada rasa cemburu yang tiba-tiba menghujam dadanya. Kenapa Sindi harus pergi menjauh hanya untuk menjawab sebuah panggilan.
"Iya Mi," ucap Sindi dengan suara pelan.
"Sin, kok kamu suaranya kecil begitu. Kamu dimana?" tanya Mia.
"Ya masa aku harus teriak-teriak di tempat umum. Malu dong," ucap Sindi sambil tertawa.
Sebenarnya Sindi sedang mencoba mengalihkan perhatian Mia. Agar Mia tidak mengulang pertanyaan yang belum ia jawab. Dan berhasil, berkat basa basi Sindi, ia berhasil membuat Mia melupakan pertanyaannya.
"Ya sudah hati-hati ya! Happy shopping," ucap Mia.
"Terima kasih ya!" ucap Sindi.
Sindi kembali menghampiri Danu setelah panggilannya dengan Mia sudah berakhir. Pria itu nampak tengah memperhatikan Sindi dan membuat dirinya salah tingkah.
"Kenapa?" tanya Sindi.
"Siapa? Pacar kamu?" tanya Danu.
"Bukan. Teman aku," jawab Sindi.
"Teman atau teman nih," goda Danu.
"Memangny kalau dari pacar kenapa?" tanya Sindi.
"Oh, jadi kamu udah punya pacar?" tanya Danu.
"Punya atau gak juga bukan urusan kamu," jawab Sindi.
Ia berusaha bersikap santai dengan meneguk es jeruk yang ada di mejanya. Namun dibuat tidak berkutik dengan tingkah Danu. Duda yang sudah membuatnya jatuh cinta itu menggenggam tangan Sindi.
Jantung Sindi seakan berhenti berdegup saat merasakan hangatnya tangan Danu yang menggenggam tangannya.
"Maksudnya?" tanya Sindi.
Sindi berusaha menarik tangannya dari genggaman Danu, namun Danu menahan genggamannya.
"Kenapa? Kamu keberatan?" tanya Danu.
Sindi diam. Ia tidak menjawab pertanyaan Danu. Bukan masalah keberatan atau tidak. Tapi rasanya Sindi sudah kehabisan oksigen. Tubuhnya lemas hingga tak bisa mengendalikan perasaannya.
"Malu," jawab Sindi.
"Sebentar saja. Aku hanya butuh bukti buat Mami kalau kita bisa sedekat ini," ucap Danu.
Sindi terantak. Dadanya terasa sakit. Benarkah apa yang ia dengar?
Danu, kamu jahat sekali.
"Sindi, senyum sedikit dong. Biar Mami yakin kamu bahagia sama aku," ucap Danu.
Danu yang terlalu jujur tentang permintaan Nyonya Nathalie justru membuat citranya buruk di hadapan Sindi. Bagi Sindi, Danu tak lebih dari pria yang hanya ingin memanfaatkan dirinya saja.
"Terima kasih ya! Mami pasti senang," ucap Danu.
Sindi menarik tangannya hingga berhasil lepas dari genggaman Danu.
"Sudah selesai kan?" tanya Sindi.
Raut wajah Sindi yang berubah seketika membuat Danu bingung. Ketidak pekaan atas sikap dirinya yang memanfaatkan nama Nyonya Nathalie untuk menyembunyikan perasaannya, membuat Sindi semakin kecewa.
"Su-sudah," jawab Danu gugup.
__ADS_1
Melihat Sindi yang semakin berubah ternyata bisa membuat Danu yang tidak peka, menjadi tidak enak dengan sikap Sindi.
"Kalau begitu aku pulang duluan. Permisi," ucap Sindi.
Sindi dengan cepat berdiri dan meninggalkan mejanya. Berjalan lebih cepat agar semakin jauh dari tempat itu. Suara Danu yang memanggil namanya dan memintanya menunggu, tidak Sindi hiraukan.
Sindi hanya berusaha menahan agar air matanya tidak jatuh di hadapan Danu. Hatinya sakit saat menerima kenyataan pahit ini.
Sejahat itu kamu sama aku? Kamu memintaku bertemu denganku hanya untuk sebuah foto untuk menyenangkan ibumu?
Langkahnya semakin cepat. Rasa sakitnya semakin bertambah saat Danu tidak berusaha menjelaskan apapun padanya. Namun Sindi harus jatuh dalam pelukan Danu saat ia melihat seekor ulat yang ada di hadapannya.
"Aaaaaaa," teriak Sindi.
Danu merengkuh tubuh Sindi yang menabrak keras tubuhnya. Teriakan Sindi berhenti saat jarak wajahnya dengan Danu hanya terpisah beberapa senti saja. Bahkan tubuhnya sudah tidak berjarak sama sekali.
Mata mereka yang saling beradu pandang dengan jarak yang sangat dekat, membuat jantung keduanya berdegup kencang.
Aku tidak menyangka kamu ada di belakangku. Untung saja bukan tukang parkir.
"Kenapa?" tanya Danu saat mulai menyadari Sindi berusaha lepas dari pelukannya.
"Ada ulat," ucap Sindi sembari bergidik.
"Kamu takut ulat?" tanya Danu terkejut.
"Ada yang aneh?" protes Sindi.
"Oh tidak. Kamu mirip sekali dengan Mami. Kalian memiliki cukup banyak kesamaan ya," ucap Danu.
Kembali membahas Nyonya Nathalie membuat Sindi harus benar-benar pergi meninggalkan Danu. Namun Danu menahan tangan Sindi.
"Aku antar pulang," ucap Danu.
"Tidak usah," jawab Sindi.
"Tolong jangan tolak niat baikku," ucap Danu.
"Aku tidak bisa membawa lelaki sembarangan ke rumahku," ucap Sindi.
"Aku bukan lelaki sembarangan," ucap Danu.
"Tidak biasa membawa pria yang bukan siapa-siapa ke rumah," ucap Sindi mempertegas tolakannya.
"Kalau aku ke rumah untuk menjadikanmu siapa-siapaku boleh?" tanya Danu.
Sindi bergetar mendengar kalimat itu. Namun ia kembali berusaha agar tetap normal di hadapan Danu. Namun semuanya buyar saat Mia kembali menghubunginya.
"Aku pulang duluan. Orang rumah sudah menungguku," ucap Sindi.
Danu tidak menahan Sindi lagi. Karena ia hanya akan mengikutinya agar bisa tahu dimana rumah Sindi. Sepertinya Danu mulai meyakinkan dirinya untuk menjadikan Sindi sebagai istrinya.
"Silahkan pergi Sindi. Sebelum nanti aku melarangmu menjauh dariku ketika kamu sudah menjadi istriku," gumam Danu.
Senyumnya yang mengembang indah menghias bibirnya, menggambarkan perasaannya yang tengah berbahagia. Ini pertama kalinya ia merasakan keberhasilan terapinya. Benda pusakanya terangkat untuk yang pertama kali saat ia mendekap Sindi.
Aku sembuh Dokter. Mi, Pi, aku siap ngasih cucu buat kalian. Terima kasih Sindi, terima kasih. Tunggu aku. Aku pasti akan menikahimu secepatnya. Tuhaaaan terima kasih untuk semua ini. Aku benar-benar sangat bahagia. *Mami sama Papi pasti seneng kalau punya Danu junior. Sabar ya Mi, Pi! Aku siapin pabriknya dulu buat mencetak Danu junior. Kok jadi aku yang gak sabarnya ya?
######################
Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
__ADS_1
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR*.