
"Miaaaa, kamu hebat sekaliii." Kalin terlihat sangat girang dan memeluk Mia.
Berbeda dengan Kalin, Mia justru merasa sedang tegang. Dadanya berdebar, tubuhnya berkeringat dingin, bahkan dengkulnya terasa gemetar. Entah punya kebearanian dari mana, hingga Mia bisa menghadapi Nyonya Nathalie.
"Mia, Mia," panggil Kalin dengan mengguncang tubuh Mia yang nampak sedang melamun.
"Hey, ada apa?" tanya Mia.
"Kau kenapa?" tanya Kalin.
"Mi-Mia," ucap Mia.
"Mia, kau kenapa?" tanya Kalin.
Mia memeluk Kalin. Bukannya menjawab, tapi Mia malah menangis. Kalin hanya mengusap-usap punggungnya. Berusaha menenangkannya walaupun mungkin itu sulit untuk Mia.
Kalin segera mengajak Mia masuk ke dalam mobil agar Tuan Ferdinan ataupun Nyonya Nathalie tidak melihat Mia sedang menangis. Bagi Kalin, pantang untuk Mia terlihat ekmag dan cengeng seperti itu.
Kalin membawa Mia ke kantor. Selain masih jam kantor, Kalin bisa menemaninya di sana. Jika Kalin membawa Mia pulang, maka Mia akan sendirian di sana.
"Tidak perlu bekerja. Istirahatlah! Aku ada urusan sebentar. Nanti aku ke sini lagi ya!" ucap Kalin saat mereka sudah sampai ke ruangan Mia.
Setelah melihat Mia mengangguk dan sedikit tenang, Kalin keluar dari ruangan Mia. Selain ada urusan kantor yang harus ia bahas dengan sekretarisnya, Kalin juga memberikan waktu untuk Mia menenangkannya. Nanti setelah tenang, Kalin akan mencari tahu apa yang menyebabkan Mia sampai menangis tersedu.
Dua jam berlalu, Kalin sudah kembali ke ruangan Mia.
"Mia," panggil Kalin.
Kalin sedikit terkejut saat melihat Mia sudah kembali bergelut dengan laptopnya.
"Hey, kau sudah kembali Kalin?" tanya Mia.
"Ya," jawab Kalin singkat.
"Silahkan duduk!" ucap Mia mempersilahkan Kalin untuk duduk.
"Terima kasih," ucap Kalin.
"Kenapa melihat Mia seperti itu Kalin? Apa ada yang salah dengan Mia?" tanya Mia sambil mengusap-usap wajahnya dan merapikan pakaiannya.
"Ya, ada yang salah denganmu." Kalin menatap Mia dengan lekat.
"Apa?" tanya Mia.
"Kau begitu cepat berubah. Tadi saat aku pergi, kau terlihat sangat lemah. Bahkan aku pikir kau sangat terluka dan tak berdaya. Tapi hanya selang dua jam, kau terlihat kembali berkutat dengan laptop. Sangat bersemangat," ucap Kalin.
"Karena hidup harus tetap berjalan. Bukan begitu?" tanya Mia.
Kalin tersenyum lebar. Mia mengingat betul ucapan Kalin yang beberapa kali ia ucapkan pada Mia.
"Apa yang menjadi moodbostermu Mia?" tanya Kalin.
"Mia harus berubah," jawab Mia.
"Benar!" jawab Kalin sambil mengangkat dua jempol tangannya.
"Mia sadar kalau uang dan jabatan itu bukan segalanya, tapi paling tidak jika Mia memiliki dua hal itu maka Mia akan lebih mudah untuk menemukan mas Danu." Mia menggeser laptopnya dan menatap bola mata Kalin.
"Hanya itu tujuanmu?" tanya Kalin.
"Ya. Sementara ini tujuan Mia memang untuk mencari mas Danu. Cinta pertama dan mungkin menjadi cinta terakhir untuk Mia. Pria yang mengenalkan Mia pada sebuah rasa yang selalu membuat hati Mia berbunga saat bersamanya. Dan mati rasa saat tak ada mas Danu di samping Mia," jawab Kalin dengan mata yang berlinang.
"Kalau seandainya mas Danu sudah meninggal?" tanya Kalin ragu.
"Mia ikhlas. Asal Mia bisa memegang dan mencium batu nisannya, Mia akan menerima kenyataan itu." Mia mengusap air mata yang mulai membanjiri pipinya.
"Kalau ternyata masih hidup?" tanya Kalin.
"Mia akan mencarinya dan tak akan pernah melepaskannya lagi," jawab Mia dengan senyum yang merekah di bibirnya.
"Aku mengerti perasaanmu Mia. Aku tahu ini sulit dan berat untukmu. Maafkan aku jika terlalu memaksamu sekeras ini," ucap Kalin.
Mia menggenggam tangan Kalin dan menggelengkan kepalanya. Justru Mia malah berterima kasih karena sudah mempertemukan Mia dengan Kalin. Berkat Kalin, kini Mia punya semangat hidup lagi. Paling tidak, semangat Mia sudah tumbuh kembali. Ada harapan agar ia bisa tetap bertahan melanjutkan hidupnya. Jika tidak ada Kalin, mungkin Mia hanya akan menjadi orang gila yang terlunta-linta di jalanan.
Kalin merasa tersanjung dengan ucapan Mia. Ia senang saat melihat wanita terpuruk bisa bangkit dan bersemangat. Wanita memang cengeng, mudah sekali menangis. Tapi wanita itu kuat. Tidak setiap air mata berarti kesedihan dan kelemahan untuk wanita, hanya saja wanita selalu menggunakan air mata untuk mengekspresikan setiap perasaannya.
Sedih, kecewa, sakit, bahagia, terharu, semua diekspresikan melalui air mata oleh seorang wanita. Sudah hal yang lumrah dan wajar baginya. Tapi wanita juga harus menunjukkan dan membuktikan kalau kini, air mata itu bukan lagi kesedihan dan keterpurukan. Mia harus membuktikan kalau ia bisa mengubah makna air mata yang keluar dari kedua matanya itu.
"Mia selalu ingat. Ketika merasa down, terpuruk, bahkan hancur sekalipun, kita harus tetap beraktivitas. Aktivitas apapun yang positif, tentu akan membuat perasaan itu lebih cepat berubah. Tentunya akan berubah menjadi lebih baik. Makanya ketika Mia merasa sedih, Mia tidak putus asa. Tapi Mia justru bekerja," ucap Mia.
__ADS_1
"Mia, kau adalah wanita kuat. Aku yakin bisa menerima semua kenyataan terburuk sekalipun. Walaupun kita masih selalu berharap kemungkinan terbaiknya. Aku hanya tidak ingin kau berangan terlalu tinggi. Kau khawatir jika ekspektasimu terlalu besar, maka kecewamu akn semakin besar juga." Kalin menggenggam erat tangan Mia, agar Mia tidak tersinggunh dengan ucapannya.
"Mia mengerti Kalin. Tenang saja. Mia tak akan kecewa seperti itu. Karena saat ini pun, saat hati Mia merasa kalau mas Danu itu masih hidup. tapi Mia berusaha untuk menerima kenyataan ini. Kenyataan yang membuat Mia sakit dan malu. Mia menjadi janda dua kali pada usia 22 tahun," ucap Mia.
"Mia, jangan malu. Itu takdir Tuhan untukmu. Ujian hidup setiap orang itu beda-beda. Dan itu ujianmu. Sedangkan Tuhan tidak akan memberikan ujian pada umatNya di luar batas kemampuannya. Kenapa Tuhan kasih ujian itu padamu? Karena Tuhan percaya kamu bisa. Kamu sanggup melewati ujian ini," ucap Kalin.
Mia tersenyum lepas. Kalin memang selalu bisa membuat Mia percaya diri. Kalin selalu mentransfer energi positif, hingga Mia merasa kalau badai ini akan berlalu. Akan selalu ada pelangi setelah hujan.
"Mia," panggil kalin.
"Ya," jawab Mia.
"Aku boleh bertanya satu hal?" tanya Kalin.
"Kau boleh bertanya apapun pada Mia," jawab Mia.
"Kenapa kau menangis tadi? Padahal kau terlihat sangat kuat dan santai dan kuat di depan Tuan Ferdinan dan Nyonya Nathalie," ucap Kalin.
"Mia merasa berdosa pada mami dan papi. Mia ingat kenangan Mia bersama mereka. Sangat indah. Mereka sangat menyayangi Mia. Mia tidak pernah menyangka kalau mereka bisa berubah seperti itu," ucap Mia.
Hampir saja Mia keceplosan mengatakan semua penyebab perubahan sikap Tuan Ferdinan dan Nyonya Nathalie. Mia tidak berhak menceritakan kekurangan suaminya pada siapapun, termasuk pada Kalin.
Sebagai seorang istri, Mia harus menutup rapat segala masalah dengan suaminya. Ya, sampai saat ini, Mia masih menganggap dirinya adalah seorang istri dari Danu. Mia belum tahu pasti apakah Danu sudah meninggal atau belum, karena ia belum melihat makam suaminya.
Jam kantor sudah usai. Kalin mengantar Mia untuk pulang. Dalam kamarnya, di atas ranjang besar itu Mia kembali mengingat ucapan Kalin.
Mia merenungi setiap ucapan Kalin. Benar, ini ujian hidupnya. Ia harus bisa melewati ujian itu agar bisa naik kelas. Kalau ia tidak kuat, artinya ia akan tinggal kelas.
Mia semakin semangat untuk merubah dirinya secara perlahan. Bukan hanya dari segi penampilan saja, tapi Mia juga ingin menata hatinya untuk bisa lebih kuat lagi. Ia harus bersiap untuk mengahadapi Tuan Ferdinan dan Nyonya Nathalie. Mereka berdua pasti masih menyimpan dendam padanya, atas apa yang sudah ia lakukan.
"Mi, Pi, jauh di lubuk hati Mia yang paling dalam, Mia masih menyayangi kalian. Kalian adalah orang tua Mia, sekalipun mas Danu sudah tidak ada lagi. Tapi jika kalian masih bersikap seperti itu, maafkan Mia jika melawan. Semut saja jika diinjak pasti menggigit, apalagi Mia. Masa Mia kalah sama semut?" gumam Mia.
Tak lama dering ponsel membuat Mia berhenti bergumam.
"Kalin?" ucap Mia.
Mia sedikit terkejut saat Kalin menghubunginya. Seharian ini mereka bersama tapi Kalin sudah menghubunginya lagi? Ada apa? Mia segera menjawab panggilan Kalin.
Mia bisa bernapas lega saat tahu kalau Kalin hanya ingin memastikan keadaan Mia. Mia mendekap ponselnya saat panggilan itu sudah berakhir. Mia bersyukur dan merasa beruntung saat kehilangan Danu, ia dipertemukan dengan Kalin. Orang menyayanginya dengan tulus. Padahal Kalin baru mengenal Mia, tapi Kalin memperlakukan Mia seperti saudaranya sendiri.
Kalin menceritakan apa yang terjadi pada Mia tadi siang. Dev bahagia dan bangga. Bukan untuk Mia, tapi untuk Kalin. Bahagia dan bangganya Dev untuk istrinya yang mampu mengubah Mia menjadi wanita kuat. Padahal Dev yakin tanpa Kalin, Mia tidak mungkin bisa melakukan hal seperti itu.
"Aku hanya tidak ingin melihat wanita itu terus-terusan terpuruk. Setiap orang berhak memiliki masa depan yang baik walaupun masa lalunya sangat kelam," ucap Kalin.
Ya, itu bukan hanya harapan Kalin untuk Mia. Tapi itu adalah curahan hati Kalin tentang dia yang mampu melewati masa lalunya yang kelam. Tidak sendiri. Kalin pun bisa berubah, karena saat itu ada Dev. Maka Kalin ingin mengubah Mia sama seperti Dev mengubahnya.
Entah kebetulan atau mungkin ini rencana Tuhan, hari minggu ada undangan untuk perusahaan Kalin. Perusahaan Tuan Ferdinan juga termasuk salah satu tamu undangan dalam pesta itu. Kalin sempat bingung untuk mengajak Mia atau tidak.
"Ajak saja," ucap Dev.
"Aku takut Mia tidak kuat menghadapi Nyonya Nathalie," ucap Kalin.
"Tanyakan saja pada Mia, dia mau ikut atau tidak. Biarkan dia sendiri yang menentukan. Kalau dia ikut, berarti dia siap dengan konsekuensinya. Jika tidak, berarti Mia masih butuh waktu. Kita tahu ini tidak mudah, sayang." Dev menggenggam tangan Kalin.
Kalin menelepon Mia, namun tidak ada jawaban.
"Mungkin sudah tidur," ucap Dev.
Kalin melihat jam di dinding, masih jam sembilan.
"Mungkin Mia lelah dengan beban hidupnya hari ini, makanya sudah tidur jam segini. Kirim pesan saja, nanti juga dibaca sama Mia," ucap Dev.
Kalin mengangguk dan mengirim pesan pada Mia.
Pagi sekali saat membuka matanya, Kalin dengan cepat membuka ponselnya. Tidak ada jawaban, padahal pesannya sudah dibaca Mia.
"Jangan kecewa begitu. Mia berhak untuk menentukan pilihan," ucap Dev.
"Iya," jawab Kalin menutupi rasa kecewanya.
Karena undangan itu dilaksanakan hari minggu, Kalin tidak ke kantor dulu. Hingga Kalin tidak bisa memastikan Mia ke kantor atau tidak. Ia langsung menuju gedung undangan. Namun Kalin sangat terkejut saat melihat seorang wanita, dengan gaun warna biru menenteng tas senada mengenakan heels hitam. Wanita itu melambaikan tangannya pada Kalin.
"Mia?" ucapnya tidak percaya.
"Kalin," panggil Mia dan menghampirinya.
"Aku pikir kau tidak datang," ucap Kalin.
"Kenapa berpikir begitu?" tanya Mia.
__ADS_1
"Kau tidak membalas pesanku," jawab Kalin.
"Mia kehabisan pulsa," bisik Mia pada Kalin.
Kalin menepuk lengan Mia. Di saat seperti ini, ada saja ucapan Mia yang membuatnya menahan tawa.
"Kalau tahu mau ke sini, aku bisa jemput kamu. Kamu ke sini sama siapa?" tanya Kalin.
"Nebeng sama tetangga apartemen," jawab Mia dengan polos.
"Nebeng?" tanya Kalin.
"Iya. Kenapa memangnya?" tanya Mia.
"Gak," jawab Kalin.
Kalin tiba-tiba saja memeluk Mia. rasanya ini kejutan untuknya karena Mia berani datang meskipun tidak tahu resiko yang akan dihadapinya.
Saat berpesta, Kalin menjaga jarak dengan Mia. Sengaja, Kalin ingin membuat Mia mandiri. Selain itu, ia juga memberi kesempatan pada Nyonya Nathalie untuk mendekati Mia. Bukannya Kalin tega, tapi Kalin harus terbiasa dengan keadaan ini.
Selama pesta, Kalin memperhatikan Tuan Ferdinan dan Nyonya Nathalie. Keduanya kerap mencuri pandang bahkan cenderung memperhatikan gerak gerik Mia. Mia yang cantik dan humble, dengan mudah menarik beberapa tamu undangan untuk sekedar berkenalan dan mengobrol basa basi dengannya.
Setelah pesta selesai, Nyonya Nathalie menarik tangan Mia dan membawanya ke taman. Kalin terlihat panik dan mengikuti Mia, tapi ia masih tetap menjaga jarak. Kalin ingin tahu sampai mana keberanian yang Mia miliki. Untuk berjaga-jaga, Kalin merekam semua kejadian itu.
"Mana yang katanya cinta mati sama Danu? Baru ditinggal sebulan saja kamu sudah gandeng sana gandeng sini dengan pria lain," bentak Nyonya Nathalie.
"Loh, apa yang salah? Mas Danu sudah meninggal. Tidak ada gunanya untuk meratapi kesedihan. Mia masih selalu mendoakan agar almarhum Mas Danu bahagia di surga. Masalah pria lain, mereka hanya sebatas teman. Tidak mungkin Mia mengganti mas Danu secepat itu," jawab Mia.
"Apa itu teman? Aku tak percaya," ucap Nyonya Nathalie.
"Percaya ataupun tidak, itu hak Anda Nyonya. Mia tidak perlu menjelaskan tentang Mia pada siapapun, terlebih kepada orang yang membenci Mia. Itu tidak ada gunanya," ucap Mia.
"Sudah berani melawan kamu, ya!" ucap Nyonya Nathalie.
"Mia tidak bermaksud melawan Anda. Mia hanya membela diri saja," ucap Mia.
"Membela diri? Termasuk kamu membela diri dengan tidak bertanggung jawab atas kematian anakku?" bentak Nyonya Nathalie.
"Kenapa aku yang harus bertanggung jawab?" tanya Mia.
"Gara-gara anak sial sepertimu, Danu mengalami kecelakaan. Kau harus tahu itu," ucap Nyonya Nathalie.
"Gara-gara Mia?" tanya Mia.
"Ya, tentu." jawab Nyonya Nathalie.
"Apa Anda yakin Nyonya?" tanya Mia dengan tatapan tajam.
"Apa maksudmu?" tanya Nyonya Nathalie.
"Kalau ada yang harus bertanggung jawab atas kepergian mas Danu, itu Anda. Bukan Mia," ucap Mia.
"Hey bicara apa kamu?" tanya Nyonya Nathalie kesal.
"Ok. Anda yang memaksa Mia untuk mengucapkan semua ini. Kalau saja Anda tidak berbohong tentang Tuan Ferdinan yang sedang di rumah sakit, Mas Danu tidak akan kecelakaan. Anda tidak tahu bagaimana mas Danu memacu mobilnya karena panik, hingga ia harus mengalami kecelakaan di jalan. Jangan Anda pikir Mia tidak tahu kebohongan Anda, karena Mia melihat sendiri Tuan Ferdinan datang ke rumah sakit saat kecelakaan itu." Mia berhasil membuat Nyonya Nathalie mati kutu.
"Jangan pernah sekalipun menyudutkanku seperti itu," ucap Nyonya Nathalie.
"Tunjukkan dimana makam mas Danu, atau Mia ceritakan semua ini pada Tuan Ferdinan. Mia yakin Tuan Ferdinan tidak tahu semua ini kan?" bisik Mia pada Nyonya Nathalie.
"Ada apa ini?" tanya Tuan Ferdinan yang menghampiri Mia dan Nyonya Nathalie.
"Tidak ada apa-apa Pi," jawab Nyonya Nathalie.
"Saya permisi Tuan," ucap Mia.
Mia melangkah meninggalkan mertuanya dengan senyum bahagia. Akhirnya ia bisa mengalahkan rasa takutnya untuk menghadapi Nyonya Nathalie.
Kalin yang menyaksikan semua itu terlihat sangat senang dengan perubahan Mia yang sangat luar biasa. Kalin tidak perlu memberi tahu Mia kalau ia merekamnya. Tapi ia akan menyimpannya. Kalin merasa rekaman itu akan diperlukan suatu saat nanti.
Kalin tahu kalau Nyonya Nathalie dan Tuan Ferdinan bukan orang yang licik. Tapi kalau sudah terpojokkan, semua kemungkinan bisa saja terjadi. Dan Kalin harus mengantisipasi semua itu dari sekarang. Mia masih polos jika dibiarkan menghadapi Nyonya Nathalie sendirian.
###################
Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.
Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
__ADS_1
Terima kasih..