
Hanya menunggu hitungan detik, Mia segera keluar dari mobil dan berlari sangat kencang. Dengan air mata yang terus membasahi pipinya dan isak tangis yang kian terdengar nyata, Mia berteriak memanggil nama suaminya.
"A Dion, A Dion. Aa dimana?" teriak Mia.
Dokter mengejar Mia dan segera membantu saat Mia nyaris pingsan.
"Dimana suami Mia?" tanyanya dengan suara bergetar.
Tubuh Mia melemah dan gemetar.
"Tenang Nyonya," ucap Dokter.
Dengan perintah dokter, seorang perawat membawa kursi roda untuk membantu Mia agar bisa bertemu dengan Dion.
"Mia?" panggil Dion.
"Aa," teriak Mia.
Dion segera memeluk tubuh istrinya yang memang terlihat sangat lemas. Wajah Mia pucat seolah tidak ada aliran darah di sana. Dion dengan cepat menenangkan Mia. Memang tidak apa-apa. Hanya ada beberapa luka di tangan dan kakinya saja.
"Kenapa Aa gak bilang sama Mia? Jangan buat Mia panik begini," ucap Mia disela tangisnya yang belum kunjung mereda.
"Mia, aku hanya tidak ingin kamu khawatir. Karena aku memang baik-baik saja. Aku tidak apa-apa Mia," ucap Dion.
"Mama dan Papa gimana?" tanya Mia.
Tuan Wira dan Nyonya Helen yang barus saja datang, memasang wajah terkejut saat melihat kehadiran Mia.
"Mia?" tanya Nyonya Helen.
Mia menghambur memeluk Nyonya Helen.
"Mama gak apa-apa kan?" tanya Mia.
"Mama gak apa-apa," jawab Nyonya Helen.
Nyonya Helen tidak melepaskan Mia dalam pelukannya. Ia hanya mengusap punggung Mia agar ia merasa lebih tenang. Sementara matanya melihat ke arah Dion.
"Sudah aku bilang, berita ini akan sampai juga ke telinga Mia," ucap Dion.
Tanpa mengungkapkan pertanyaannya, Dion tahu maksud tatapan Nyonya Helen padanya.
"Mia, tenanglah. Kami tidak memberi tahumu karena ada Narendra dan Naura yang lebih membutuhkanmu. Ada Mama dan Papa yang mengurus Dion," ucap Nyonya Helen.
Narendra dan Naura? Mendengar nama itu Mia langsung membulatkan bola matanya. Benarkah apa yang ia lakukan? Ia benar-benar meninggalkan mereka.
"Tapi Mia khawatir sama A Dion Ma," ucap Mia.
"Mama tahu Mi. Tapi sekarang kamu udah lihat kan Dion baik-baik saja. Jadi lebih baik sekarang kamu pulang ya!" ucap Nyonya Helen.
Mia menatap Dion. Anggukan kepala suaminya turut mengiyakan ucapan Nyonya Helen. Mia pamit dan pergi. Walaupun wajahnya tidak sepucat tadi, tapi rasa cemas dan khawatir itu masih ia rasakan.
"Keluarga Tuan Felix," panggil seorang perawat.
__ADS_1
Mia yang sudah agak jauh dari ruangan, masih mendengar panggilan itu. Mia membalikkan badannya. Tidak mendekat, ia hanya mengamati apa yang terjadi pada Tuan Felix.
"Di sini," jawab Tuan Wira.
"Tuan Felix membutuhkan satu labu darah lagi," ucap perawat.
"Berikan saja. Administrasi semuanya saya yang tanggung," jawab Tuan Wira.
"Tapi maaf, stok golongan darah O sudah habis Tuan. Siapa tahu ada pihak keluarga yang bisa membantu," ucap perawat.
Golongan darah O? Mia golongan darahnya apa ya? Kalau gak salah O. Di KTP golongan darah Mia apa ya?
Kepanikan membuat Mia lupa akan golongan darah yang tidak penting menurutnya. Nalurinya merasa kalau ia harus membantu Tuan Felix.
"Golongan darah Mia O kalau gak salah. Bisa dicek dulu biar lebih yakin," ucap Mia.
"Kamu belum pulang?" tanya Dion.
"Hampir A," jawab Mia.
"Mari Nyonya biar kami periksa," ucap perawat itu.
"Mari," ucap Mia.
Langkah Mia terhenti saat Nyonya Helen menarik tangannya.
"Kenapa Ma?" tanya Mia.
"Suster, dia baru saja melahirkan." Informasi Nyonya Helen langsung menggagalkan niat Mia.
"Maaf Nyonya, sebaiknya Anda mencari keluarga yang lain." Perawat itu menolak Mia.
Mia diam. Ia melihat Tuan Felix dari balik kaca kecil. Nampak banyak sekali selang yang terhubung antara alat medis dengan tubuhnya. Napasnya yang kian tersenggal membuat dadanya sesak.
Iangatannya melayang pada kejadian tiga tahun silam saat ia menyaksikan ibunya meregang nyawa. Tangis Mia mulai pecah. Tubuhnya gemetar.
"A, tolong Tuan Felix. Tolong dia," ucap Mia.
Dion meraih tubuh gempal Mia dan menjatuhkannya di sampingnya.
"Tenanglah Mia. Dokter akan melakukan yang terbaik," ucap Dion menenangkan.
"Tapi Tuan Felix butuh donor darah. Dokter tidak bisa melakukan apapun tanpa satu labu darah golongan O," ucap Mia.
"Pihak rumah sakit sedang menghubungi PMI. Kamu tenang saja," ucap Dion.
Mia menggelengkan kepalanya dengan kuat. Bayangan ibunya semakin kuat dalam kepalanya. Mia merasa tidak bisa hanya menangis dan menunggu. Mia harus mencari dan berusaha. Saat ini doa saja tidak cukup. Harus ada aksi nyata yang membarengi doanya. Darah, harus ada golongan darah O.
Mia berdiri dan berjalan menyusyuri lorong rumah sakit. Berteriak disela isak tangisnya. Berlomba dengan sesak yang semakin terasa dalam dadanya.
"Tolong bantu aku. Aku butuh golongan darah O. Aku mohon," teriak Mia dengan deraian air mata yang membasahi pipinya.
Sesekali ia usap pipinya namun beberapa detik kemudian harus basah kembali karena tangisnya tak kunjung reda.
__ADS_1
Mia terus mengulang kalimatnya. Ia berteriak meminta tolong hingga ke kantin. Teriakan Mia tentu mengundang perhatian. Apalagi Mia diikuti dan coba ditenangkan oleh tiga orang yang sejak tadi mengikuti langkahnya.
"Bolehkah saya mencobanya?" tanya remaja laki-laki yang berdiri sedang menunggu antrian di kantin.
"Terima kasih dek, terima kasih." Mia mengusap punggung anak laki-laki itu dan mengajaknya pergi.
Petugas memeriksa golongan darah dan kesehatan calon pendonor itu.
"Cocok," ucap petugas.
Mia menghela napas lega dan berterima kasih pada remaja itu. Ia tidak jadi pulang, menunggu hasil akhir dari keadaan Tuan Felix.
"Kamu pulang saja, nanti anak itu aku kasih imbalan. Kamu tenang saja ya!" ucap Dion.
"A, kasih Mia waktu ya! Mia bakal pulang kalau semuanya sudah baik-baik saja. Mia janji setelah itu Mia pulang," ucap Mia.
Dion belum tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan istrinya. Ia hanya melihat Mia lebih tenang dibanding saat belum mendapat pendonor.
"Bagaimana Dok?" tanya Tuan Wira saat seorang Dokter keluar dari ruangan.
"Semuanya sudah selesai. Tuan Felix juga sudah melewati masa krisisnya. Beruntunglah kalian mendapatkan donor di waktu yang tepat," ucap Dokter.
"Semuanya sudah baik-baik saja. Kamu pulang ya! Istirahat," ucap Dion.
"Mia belum bilang terima kasih sama adek yang tadi," ucap Mia.
"Nanti aku sampaikan. Lagi pula anak itu masih di ruangan. Mungkin sedang istirahat dulu," ucap Dion.
Meskipun berat tapi akhirnya Mia nurut juga. Ia pulang karena memang Narendra dan Naura lebih membutuhkannya. Dalam perjalanan pulang, ASI Mia keluar. Dadanya terasa sakit. Mungkin karena Narendra dan Naura sedang menginginkan ASInya. Hari ini Mia juga baru memompanya sedikit.
Sabar ya sayang. Mama pulang. Nanti kalian mimi yang banyak ya! Mama harap kalian gak marah sama Mama. Mama sayang sama kalian. Tapi Mama gak bisa diam saja kalau lihat orang begitu membutuhkan. Meskipun Mama gagal membantu orang itu, tapi Mama bisa menyaksikan bagaimana kuasa Tuhan bekerja. Ada orang yang membantunya, bahkan kita semua gak tahu siapa orang itu. Mungkin dia adalah orang yang Tuhan titipkan untuk menyelesaikan satu masalah di keluarga ini.
"Nyonya," ucap sopir pribadi Tuan Wira.
"Eh iya," jawab Mia.
Setelah dua kali menaikkan nada suaranya, akhirnya Mia sadar kalau ia sudah sampai di rumah. Mia segera keluar dari mobil dan memburu Narendra dan Naura. Ia segera menyusui Narendra yang memang kebetulan tengah menangis. Beruntunglah Mia karena produksi ASInya banyak, ia bisa menyusui dan memompa ASI di waktu bersamaan. Hingga pada saat Naura bangun, Mia menyusui Naura dan mengganti Narendra untuk menyusu dengan dot birunya.
Begitulah Mia saat menikmati jadi pejuang ASI. Mia memang benar-benar mengusahakan yang terbaik untuk anak kembarnya. Bukan tidak percaya susu formula, tapi dalam kepalanya, Mia tetap berpikir kalau hanya ASI yang terbaik untuk kedua anak kembarnya.
Selama ia bisa memberikan ASInya dengan cukup, Mia tidak akan memberikan susu formula pada kedua anaknya. Kecuali jika nanti usia anak kembarnya sudah enam bulan, ia baru akan memberikan susu formula untuk tambahan.
Saat Naura menyusu, mata jernihnya menatapnya penuh cinta. Begitu membuat Mia damai dan tenang.
Terima kasih untuk semua ketenangan dan cinta yang kalian hadirkan, Narendra, Naura.
######################
Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
__ADS_1
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.