
"Pa," panggil Mia.
"Iya," jawab Tuan Wira.
"Papa sayang sama Mama?" tanya Mia.
Pertanyaan macam apa itu? Mia kau ini seperti anak balita saja. Cari pertanyaan lain mungkin lebih bagus.
"Pa, sayang Mama gak?" tanya Mia sekali lagi.
"Kalau gak sayang gak bakal Papa urus sampai sekarang, Mi. Kamu ngapain sih nanya begitu?" tanya Tuan Wira.
"Ya Mia mau tahu aja. Menurut Papa, apa Mama juga sayang sama Papa?" tanya Mia.
Hey, pertanyaan kamu semakin buruk Mia. Kamu tidak sedang oleng karena tumpukan kertas tadi kan?
"Ya mana mungkin dia gak sayang sama Papa? Papa sudah memberikan semuanya buat Mama. Kalau sampai Mama gak sayang sih kebangetan itu namanya Mi," jawab Tuan Wira.
"Menurut Papa, apa sih yang bikin Mama bertahan sama Papa?" tanya Mia.
"Ya karena Papa ini sayang sama Mama. Papa juga memberikan semua waktu dan semua yang Papa punya buat Mama. Mungkin itu sih," jawab Tuan Wira.
"Terus kenapa Papa masih bisa bertahan dengan Mama selama ini? Papa kan kaya, pasti banyak wanita yang mendekati Papa. Kok Papa bisa setia sih sama Mama?" tanya Mia.
Tuan Wira yang asalnya kesal dengan pertanyaan konyol Mia, tiba-tiba merasa kalau bahasan ini menarik. Ia menarik kursi dan duduk di hadapan Mia.
"Memang banyak wanita cantik dan muda yang mendekati Papa, mencari perhatian Papa. Tapi Papa tahu mereka hanya mengincar uang Papa. Sempat terpikir juga untuk berkhianat. Manusiawi mungkin, Papa merasa sanggup jika harus mengurus dua wanita sekaligus dalam waktu bersamaan. Namun pikiran buruk itu hilang sebelum terealisasi. Saat itu Papa sakit. Papa merasa itu akhir hidup Papa. Namun Mama dengan sabar merawat Papa dan meyakinkan Papa kalau semuanya akan berakhir," ucap Tuan Wira sambil tersenyum.
Tuan Wira menjeda ucapannya. Ia teringat saat itu. Saat ia benar-benar berdaya. Ketika ia menuhankan uang, namun saat itu uang tidak bisa membuatnya kuat. Hanya dukungan nyata dan kesabaran Nyonya Helen yang membuat Tuan Wira bangkit dan semangat. Sejak saat itu, hatinya hanya untuk Nyonya Helen. Ia mengunci rapat-rapat hati dan kepalanya. Menyingkirkan semua ide gila yang sempat singgah di kepalanya.
"Sampai kapan Papa akan setia sama Mama?" tanya Mia.
"Sampai akhir nafas Papa," jawab Tuan Wira.
"Kalau seandainya Mama meninggalkan Papa lebih dulu, wanita seperti apa yang akan Papa cari?" tanya Mia.
"Papa meminta agar Tuhan mengambil Papa lebih dulu. Papa gak yakin bisa sanggup kalau harus kehilangan Mama. Tapi kalaupun seandainya Mama yang pergi lebih dulu, Papa tidak akan mencari wanita manapun. Karena pengganti Mama ada sudah ada di rumah," jawab Tuan Wira.
"Maksudnya?" tanya Mia.
"Ada kamu. Asal kamu tahu, kamu itu fotocopy Mama saat muda dulu. Dion berhasil menemukan wanita sabar dan apa adanya seperti kamu. Papa yakin kamu bisa seperti Mama. Memperhatikan semua kebutuhan Papa. Dion sudah berhasil mendidik kamu Mi. Kamu selalu menganggap kami orang tua kamu. Hingga Papa gak perlu khawatir. Kalau Mama sudah tidak bisa mengurus Papa, ada kamu yang akan selalu siap mengurus Papa. Iya kan?" tanya Tuan Wira.
"Papa," ucap Mia terharu.
Matanya berkaca. Kepalanya kembali mengingat 22 tahun ke belakang. Saat ia tidak sekalipun mendapat kasih sayang seorang ayah. Sempat bertemu dengan Tuan Ferdinan dan menyayanginya sementara waktu. Namun tidak lama. Hingga akhirnya Mia bertemu dengan Tuan Wira.
"Mia, jangan nangis. Nanti orang sangka Papa jahatin kamu. Ayo senyum ah. Apa Papa perlu begini?" tanya Tuan Wira.
Tuan Wira berjoget ala tiktok kekinian. Wajahnya yang senyum selebar-lebarnya gaya joker membuat Mia memalingkan wajah.
"Ih Papa. Amit-amit deh," ucap Mia.
Mia tertawa namun ia tak sanggup melihat wajah Tuan Wira.
"Bagus kan Mi? Kamu terhibur kan? Gak jadi nangis kan?" tanya Tuan Wira.
"Mia sih gak jadi nangis, tapi bayi kembar Mia bisa nangis kejer kalau lihat kakeknya begitu," jawab Mia sembari mengusap perutnya.
Seketika Tuan Wira menghentikan tingkah konyolnya. Dia menghela nafas dan tersenyum.
"Ini cuma cara Kakek buat bikin Mama kamu senang ya kembar. Nanti kalau kamu lahir, buat Mama kamu bahagia terus ya! Jangan biarkan dia sedih. Dia wanita tangguh namun akan ada masanya rapuh. Dan saat itu, yang ia butuhkan adalah kalian. Sehat-sehat ya!" ucap Tuan Wira menatap perut Mia yang semakin besar.
Mia tersenyum bahagia saat mendengar ucapan Tuan Wira. Entah keberapa kali Mia merasa kalau ia benar-benar mendapat kasih sayang seorang ayah dari Tuan Wira.
Kriiing.. Kriiing..Kriiing
Dering ponsel Mia menghentikan suasana haru Mia. Mia membuka ponselnya dan melihat nama pemanggil.
"Mama," panggil Mia saat panggilannya sudah terjawab.
"Kamu dimana?" tanya Nyonya Helen.
"Masih di kantor. Mama dimana?" tanya Mia.
"Di jalan. Mama mau ke kantor dulu. Jadi nanti kita ke cafe barengan ya dari sana aja," jawab Nyonya Helen.
"Oh iya Ma siap!" ucap Mia.
Mia menyimpan kembali ponselnya dan berniat untuk melanjutkan obrolannya.
"Apa katanya?" tanya Tuan Wira.
"Papa kepo deh," jawab Mia.
"Ih, gak kepo gak dapat info. Apa kata Mama?" tanya Tuan Wira.
"Katanya Mama mau ke sini," jawab Mia.
"Hah? Ayo keluar!" ajak Tuan Wira.
Mia menatap bingung Tuan Wira yang terlihat panik. Karena Mia lama, Tuan Wira menarik tangan Mia agar segera keluar dari ruangan itu.
"Pa, mau kemana sih?" tanya Mia.
__ADS_1
Tuan Wira tidak menjawab. Ia hanya memastikan kalau Mia sampai di ruangannya sebelum istrinya sampai ke kantor.
"Duduk!" pinta Tuan Wira.
Mia dengan wajah bingung duduk. Ia hanya menuruti apa permintaan Tuan Wira sembari menunggu jawaban atas pertanyaannya.
"Mia, kalau Mama tanya apapun tentang masa lalunya dan ruangan itu kamu bilang tidak tahu ya! Biarkan Mama yang menceritakan semuanya," ucap Tuan Wira.
"Memangnya kenapa?" tanya Mia.
"Mama pasti akan marah. Ia akan selalu marah saat masa lalu itu disinggung. Apalagi kalau Mama tahu kamu sudah tahu semua itu dari Papa. Aduh, tamat riwayat Papa. Kita bisa kerja sama kan Mi?" tanya Tuan Wira.
Tuan Wira harus memastikan Mia agar menjaga cerita ini rapat-rapat. Jangan sampai Nyonya Helen marah karena semua ini.
"Bisa asal ada royaltinya," jawab Mia.
"Kamu sudah semakin pandai berbisnis ya!" ucap Tuan Wira.
Tawa Mia dan Tuan Wira terdengar sangat nyaring. Hingga Nyonya Helen yang baru saja masuk harus bertanya apa yang membuat Mia dan Tuan Wira tertawa.
"apaan sih? Seri banget deh kayaknya," ucap Nyonya Helen.
Astaga! Mama. Untung saja aku bergerak cepat. Kalau terlambat, bahayaaaa.
"Mama?" ucap Tuan Wira panik.
"Kenapa sih Pa?" tanya Nyonya Helen.
"Papa kaget Ma. Soalnya Mia gak bilang kalau Mama mau ke sini," jawab Mia.
"Papa terkejut ya?" tanya Nyonya Helen.
"Pasti dong Ma. Kedatangan Mama tuh surprise tersendiri loh buat Papa," jawab Mia.
Meskipun jawaban itu buka. keluar dari mulut Tuan Wira, namun ternyata berhasil membuat Nyonya Helen tersipu malu.
Terima kasih Mia. Kamu memang menantu the best.
"Ah, Mia jangan dibongkar begitu dong. Papa kan jadi malu," ucap Tuan Wira.
Ya, Tuan Wira kini sedang mengikuti permainan Mia. Mia memang pintar mengalihkan perhatian. Nyonya Helen sampai lupa kalau tadi ia bertanya tentang alasan mereka tertawa. Kali ini Mia benar-benar menyelamatkan Tuan Wira.
"Oh ya Mia, gimana tadi?" tanya Nyonya Helen.
"Mantap Ma. Mia benar-bemar hebat. Mereka puas dengan ide Mia," jawab Tuan Wira.
"Ah, Papa berlebihan. Biasa aja kok Ma. Mereka cukup puas. Semoga ke depannya Mia bisa membuat mereka semakin puas lagi," ucap Mia.
"Mama bangga sama kamu Mia. Kamu emang hebat," ucap Nyonya Helen sembari memeluk Mia.
Lama mengobrol banyak hal di ruangan Tuan Wira, Mia sama sekali tidak membahas tentang masa lalu Nyonya Helen. Sampai akhirnya Dion menghentikan obrolan ibu dan menantu yang tengah asyik-asyiknya.
"Halo A," ucap Mia.
"Dion mengganggu saja," gerutu Nyonya Helen.
Mia hanya tersenyum mendengar Nyonya Helen yang merasa keberatan dengan panggilan masuk dari anak kandungnya sendiri.
"Kamu dimana?" tanya Dion.
"Di kantor. Ini ada Mama sama Papa juga," jawab Mia.
"Sini! Biar Mama yang ngomong," ucap Nyonya Helen.
Nyonya Helen meminta ponsel yang ada di genggaman Mia. Dengan ragu, Mia memberikan ponselnya pada Nyonya Helen.
"Ada apa sih Dion?" tanya Nyonya Helen.
"Mana Mia?" tanya Dion.
Rupanya Dion sedang tidak ingin berdebat dengan ibunya. Dion tahu kalau akhir-akhir ini Nyonya Helen sangat menomorsatukan Mia.
"Kamu cuma kangen sama Mia? Sama Mama gak?" tanya Nyonya Helen.
"Bukan begitu Ma, aku hanya ingin mengingatkan Mia jangan sampai lupa makan siang," ucap Dion.
"Ya ampun Dion. Ini masih jam sebelas. Kamu tenang aja dong," ucap Nyonya Helen.
"Jam sebelas kan udah siang Ma," jawab Dion.
"Yang bilang subuh juga siapa. Maksud Mama, satu jam lagi baru makan siang," ucap Nyonya Helen. "Nih Mia, bisa darah tinggi Mama kalau ngobrol terus-terusan sama Dion," lanjutnya.
Mia mengambil kembali ponselnya dan kembali mengobrol dengan Dion. Setelah jam setengah dua belas, Nyonya Helen mengajak Mia untuk ke cafe di dekat kantor Tuan Wira.
Diantar sopir, mereka berdua pergi ke cafe. Di waktu yang bersamaan, ternyata Nyonya Nathalie juga berada di tempat yang sama.
"Nyonya?" tanya Mia.
"Ayo Mia!" ajak Nyonya Helen.
Nyonya Helen tidak ingin kalau Mia dan Nyonya Nathalie adu mulut. Bukan takut kalah, namun sekarang prioritas utamanya adalah kandungan Mia.
"Permisi Nyonya!" ucap Mia.
__ADS_1
Walaupun selalu saja diperlakukan dengan tidak baik oleh Nyonya Nathalie, namun Mia berusaha untuk tetap bersikap baik.
"Silahkan Nyonya," jawab Nyonya Nathalie.
Seketika Nyonya Helen dan Mia menghentikan langkahnya.
"Nyonya?" tanya Nyonya Helen.
Nyonya Helen ingin memastikan kalau pendengarannya masih baik-baik saja.
Apa maksudmu wewe gombel? Atau justru itu adalah sebuah ucapan sindiran? Kamu benar-benar memancing amarahku Nathalie.
"Ada yang salah?" tanya Nyonya Nathalie.
"Apa maksud Anda?" tanya Nyonya Helen.
"Ma, sudahlah!" ucap Mia menarik tangan Nyonya Helen.
"Bukankah sudah sewajarnya ketika saya memanggil Anda Nyonya Dion?" tanya Nyonya Nathalie.
Mia menatap wajah Nyonya Nathalie. Ia mencari tahu apa maksud atas ucapannya.
"Mungkin alangkah baiknya Anda memanggil saya dengan sebutan Mia saja," pinta Mia.
"Tidak, Nyonya. Ketika setiap orang sudah banyak mengenal Anda, saya tidak mungkin merendahkan Anda seperti itu." ucap Nyonya Nathalie.
"Bukankah saya ini memang wanita rendahan?" pancing Mia.
"Anda wanita terhormat, cerdas, dan baik. Maafkan sikap saya selama ini," ucap Nyonya Nathalie.
"Saya sedang tidak membuka casting. Anda salah tempat," ucap Nyonya Helen.
"Terserah Anda Nyonya. Saya hanya ingin mengucapkan selamat untuk Nyonya Dion. Anda memang pantas berada di perusahaan Tuan Wira. Sekali lagi selamat, Nyonya. Saya permisi," ucap Nyonya Nathalie.
Nyonya Nathalie mengangguk hormat dan meninggalkan Mia yang masih mematung.
Apa yang terjadi dengan Nyonya Nathalie?
Mia masih tak habis pikir dengan semua ucapan dan sikap Nyonya Nathalie yang berbanding terbalik dengan sikapnya sebelumnya.
"Mia, tolong cek dong dia habis makan apa?" ucap Nyonya Helen.
"Memangnya kenapa Ma?" tanya Mia.
"Kali aja dia salah makan. Mab*k gurame mungkin," ucap Nyonya Helen.
"Ah, Mama ini ada-ada saja," ucap Mia.
"Habisnya dia itu berubah seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya. Atau jangan-jangan dia baru selesai di rukiyah kali ya?" ucap Nyonya Helen.
Mia hanya bisa menahan tawanya mendengar ucapan Nyonya Helen. Tapi jauh di dalam hatinya, Mia juga merasakan hal yang sama. Memang ada yang berbeda dengan Nyonya Nathalie.
"Mungkin Nyonya Nathalie sudah berubah kali Ma," ucap Mia.
"Terus kalau dia berubah, kamu mau kembali sama dia? begitu?" tanya Nyonya Helen.
"Ma, kok begitu?" tanya Mia.
"Kamu harus tahu kalau Mama jauh lebih baik, lebih cantik dan lebih segalanya dari wewe gombel itu. Kamu menyadari itu kan?" tanya Nyonya Helen.
Hah? Aduh, ternyata bukan cuma Aa dan Papa. Mama juga sama. Percaya dirinya rombongan sih ini. Narsisnya udah mendarah daging.
"Mia, kamu dengar apa yang Mama bilang kan?" tanya Nyonya Helen saat melihat Mia hanya bengong.
"Eh iya dong Ma. Mama itu segalanya buat Mia. Ayo makan Ma!" ajak Mia.
Tidak ingin terlalu banyak membahas tentang Nyonya Nathalie, Mia memilih untuk menarik tangan Nyonya Helen. Mia mencari tempat duduk agar ibu mertuanya itu bisa lebih tenang.
"Mama mau pesan apa?" tanya Mia.
"Apa saja. Asal jangan makanan yang sama kayak si wewe gombel," jawab Nyonya Helen.
"Aduh. Tapi Mia kan gak tahu Nyonya Nathalie makan apa," jawab Mia.
"Aduh Mia, kamu itu kan cerdas. Ya kamu tanya dong sama pelayannya. Pokoknya Mama gak mau makanan yang sama kayak dia. Gak mau. Gak suka Mama," ucap Nyonya Helen.
Cuma gak mau? Gak suka? Gak pake gelay kayak yang lagi viral itu Ma? Hehe
"Ya sudah. Mia tanya dulu. Tapi Mama jangan marah-marah ya, nanti..." ucapan Mia terhenti karena Nyonya Helen memotongnya.
"Cepat tua? Begitu?" tanya Nyonya Helen.
"Bukan. Nanti cantik Mama pudar kalau marah-marah. Ingat keep smile Ma," ucap Mia mengingatkan.
####################
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
__ADS_1
Terima kasih..