Janda Bersegel

Janda Bersegel
Dipanggil kepala bagian


__ADS_3

"Sin, minjem motor ya!" ucap Mia.


"Oh iya, nih kuncinya. Maaf ya aku gak nganter kamu," ucap Sindi.


"Gak apa-apa Sin. Aku malah malu udah ngerepotin kamu," ucap Mia.


"Mia, ingat ya! Di sini kita ini saudara. Jadi jangan ada kata malu atau gak enak ya. Sudah cepat berangkat. Nanti kamu telat," ucap Sindi.


"Oh, iya. Mia berangkat ya Sin," ucap Mia.


Dengan bermodal motor pinjaman, Mia segera berangkat ke pabrik.


Agak merinding ya jam segini masih keluyuran. Ya Tuhan, lindungi Mia. Mia kan anak baik.


Akhirnya sampai juga ke pabrik. Rasa takut karena perjalanan yang sepi ternyata terganti dengan riuhnya suasana pabrik. Ini adalah pemandangan pertama untuk Mia. Karena biasanya, Mia bekerja dari jam delapan sampai jam empat sore saja. Jam delapan malam, biasanya Mia sudah tidur nyenyak.


Belum punya teman, Mia mencoba berbaur dengan yang lain. Bukan hal sulit, Mia itu jago kalau urusan beradaptasi. Hanya dalam waktu beberapa jam saja, Mia sudah banyak berkenalan dengan karyawan lain di shift malam.


Di saat Bu Ningrum tidur, Mia justru harus kerja untuk bayar kontarakan Bu Ningrum. Apa ini adil? Eh mikir apa Mia ini, ayo Mia semangat bekerja. Kamu harus ganti uang Pak Haji yang sudah kamu pakai. Semangaaaaat.


Jam empat pagi. Waktunya Mia pulang. Tidak begitu takut karena ada beberapa orang yang pulang ke arah yang sama.


"Besok berangkat jam berapa? Bareng dong, biar Mia ada teman di jalan." Mia mengajak dua orang teman yang satu shift dengannya.


"Boleh. Oh iya, kita tukeran nomor yu! Biar bisa saling info," ucap salah satu teman Mia.


"Boleh," Jawab Mia.


Mereka bertukar nomor. Selain untuk saling mengirim informasi, Mia juga merasa senang karena sekarang ponselnya akan berdering dari orang yang baru. Biasanya hanya Kalin atau dokter Leoni saja.


Jam setengah lima pagi Mia mengetuk pintu kontarakan Sindi. Tapi tidak ada jawaban. Akhirnya Mia menunggu di depan kontrakan Sindi.


"Mia, kamu ngapain di sini?" tanya Sindi.


"Eh, akhirnya kamu keluar juga. Ini kunci motornya. Terima kasih banyak ya. Nanti malam, Mia boleh minjam lagi gak? Ya paling tidak sampai Mia beli motor ya Sin," ucap Mia.


"Ya ampun Mi. Aku kan sudah bilang, kamu pakai saja. Kita kan beda shift," ucap Sindi.


"Waahh, terima kasih banyak ya. Ya sudah Mia ke kamar dulu ya," ucap Mia.


Mia segera membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaian. Mencuci pakaian kerjanya untuk dipakai kembali nanti malam. Memang ada dua stel pakaian kerja, namun Mia tidak suka kalau pakaian kotor menumpuk. Lagi pula, Mia akan tetap memakai satu stel saja, yang satunya akan Mia simpan untuk cadangan kalau ternyata pakaiannya tidak kering.


"Kok ngantuk ya?" gumam Mia.


Mia merebahkan tubuhnya. Ini pengalaman pertama Mia menghabiskan waktu semalaman untuk bekerja. Badannya terasa sangat pegal.


Cari uang ternyata begini ya. Padahal kan Mia lulusan sarjana. Tapi diterimanya masih saja di bagian produksi. Apa perlu pakai uang lagi ya biar bisa pindah bagian.


Merasa keluhannya hanya akan membuatnya pusing sendiri, Mia memilih untuk tidur saja. Karena hanya dengan tidur, Mia bisa melupakan beban hidupnya.


Kepala Mia sangat berat saat bangun. Lima jam Mia tidur, tapi rasanya tidur siang tidak mengobati Mia yang tidak tidur semalaman. Mia bangun karena perutnya terasa lapar. Pergi ke warung walau dengan tubuh yang lemas membuatnya merasa hidupnya tidak normal.


Mia jadi ingat kebiasaannya di Bandung, untuk makan sehari-hari Mia pasti selalu masak sendiri. Pindah ke Jakarta saat bersama Kalin, meskipun Mia tidak memasak tapi Mia bisa menggunakan jasa gofood untuk bisa makan. Di sini belum ada. Hinggss kalau lapar, Mia harus berjalan dulu ke warung. Letaknya memang tidak terlalu jauh dari rumah kontrakannya. Tapi tetap saja membutuhkan energi untuk bisa ke sana.


Tempat Mia sekarang, bukanlah tempat yang ssngat terpencil. Namun belum begitu berkembang. Adanya pabrik baru, membuat beberapa kemajuan yang cukup pesat. Mini market dan pom bensin sudah ada sejak pabrik tersebut dibangun.


Apalagi sekarang, pembangunan pabrik terus berjalan dan digadang-gadang akan menjadi perusahaan nomor satu di sana. Katanya karyawan di sana akan sejahtera karena penghasilan per bulannya yang akan terus naik berdasarkan masa kerja dan kualitas karyawan.


Itu tidak penting bagi Mia. Karena jika posisi Mia masih sebagai karyawan produksi, sama sekali tidak akan membuatnya sukses. Dan itu bukan tujuannya, karena tidak bisa menunjukkan pada keluarga Danu kalau Mia bisa mandiri.


Kalau begini terus, Nyonya Nathalie hanya akan menghina Mia. Huffft..


Mia mulai berpikir, cukup enam bulan Mia di sana, nanti setelah itu Mia akan kembali ke Kalin. Mengembangkan perusahaan Kalin agar bisa bersaing dan mengalahkan perusahaan Tuan Ferdinan. Selama enam bulan ini, Mia cukup gunakan waktunya untuk mengubur perasaannya pada Danu.


Meskipun sampai saat ini Mia masih tidak yakin apakah ia bisa atau tidak melupakan cinta pertamanya itu, tapi paling tidak Mia masih berusaha. Ah, jika sudah membayangkan Danu, itu membuat Mia semakin sakit.


Hari-hari Mia lewati begitu saja. Masih datar dan tidak ada yang menarik. Hanya bersama Sindi, Mia merasa hidupnya lebih berwarna. Tapi sayangnya, shift mereka tidak sama. Hingga membuat Mia jarang bertemu dengan Sindi.


Enam bulan sudah Mia lewati di tempat barunya. Rasa itu masih ada, namun sedikit memudar. Mungkin karena Mia tidak punya waktu untuk memikirkan Danu. Tapi saat ada waktu senggang dan ingat pada cinta pertamnya itu, Mia masih tidak bisa menahan air matanya.


Ah nambah satu bulan lagi deh. Mia rasanya belum sanggup kalau harus bertemu mas Danu. Biarin deh Mia gak kaya, yang penting Mia bahagia.


"Mia, dipanggil sama kepala bagian tuh!" ucap salah seorang teman satu shift dengan Mia.


"Hah? Ada apa?" tanya Mia.


"Mana aku tahu. Cepat ke sana," ucap teman Mia.


Salah Mia apa ya? Kok bisa dipanggil kepala bagian sih? Perasaan Mia gak pernah bolos. Kerja Mia juga bagus. Aduh kok ini jadi gak enak hati begini sih.


"Permisi Pak," ucap Mia saat memasuki sebuah ruangan. Ternyata bukan hanya dirinya. Ada sekitar tujuh karyawan di ruangan itu.


"Silahkan duduk. Ini tolong di isi ya formulirnya," ucap kepala bagian.

__ADS_1


"Formulir apa pak?" tanya Mia.


"Kerjakan saja!" jawab kepala bagian.


"Ba-baik Pak," ucap Mia gugup.


Apa ini? Kenapa ada tanggal nikah dan tanggal cerai? Berapa kali bercerai? Apa alasannya? Kepo sekali pabrik ini.


"Pak," ucap Mia sambil mengangkat tangannya.


Mia sangat tidak mengerti dengan formulir yang harus diisi olehnya. Rasanya ini formulir teraneh sepanjang masa. Namun saat melihat sorot mata kepala bagian yang mengancam, Mia menurunkan tangannya. Mia mengubur rasa ketidak mengertiannya.


"Tidak jadi Pak. Maaf," ucap Mia.


Bodo amat deh ah. Mia isi semuanya. Nih ya biar kalian puas. Anggap saja Mia sedang curhat. Ah tapi apa alasan bercerai? Masa iya Mia harus membuka aib sesama. Maaf ya pak kepala bagian, untuk pertanyaan yang ini Mia bohong sedikit.


Mia kembali mengisi beberapa pertanyaan yang ada di kertas itu. Hatinya tiba-tiba sakit saat mendapati silsilah keluarga. Orang tua, jumlah saudara kandung, dan anak.


Ini kenapa sih pertanyaannya sentimen begini sama Mia? Mia kan sebatang kara. Berasa makin sedih deh diingatkan sama pertanyaan begini. Terkutuklah heyy kamu pembuat pertanyaan iseng ini. Mentang-mentang sama karyawan rendahan, nanya seenaknya. Dikira kami tidak punya hati apa? Kami cuma tidak punya duit aja pak. Euuh kesel deh.


"Ada masalah?" tanya kepala bagian saat melihat Mia menekan-nekan pulpennya pada meja.


"Ah, tidak ada Pak. Maaf," ucap Mia.


"Kalau sudah selesai, kumpulkan kertasnya dan kembali ke pabrik." Dengan nada yang datar, kepala bagian itu berkeliling mengitari tujuh orang yang ada di sana.


"Ini pak, sudah." Mia maju untuk mengumpulkan kertas itu.


"Sudah?" tanya kepala bagian.


"Sudah pak," jawab Mia.


"Periksa lagi. Jangan sampai ada yang terlewat," ucap kepala bagian.


Hah? Kata-katanya mengingatkan Mia pada saat ujian di kampus dulu. Tapi biarlah. Suka-suka penguasa saja lah.


Mia masih berdiri dan memeriksa jawabannya. Memastikan tidak ada pertanyaan yang terlewat.


"Sudah pak," ucap Mia.


Kepala bagian menerima kertas itu dan meminta Mia kembali ke pabrik.


Padahal Mia seharusnya kerja di kantor tadi. Mia kan lulusan sarjana. Ah, rasanya sia-sia hasil kuliah Mia kalau kerja di pabrik.


Mia menghela napas sedalam-dalamnya. Menerima semua kenyataan ini. Hidup memang kadang tidak melulu sesuai keinginannya. Tapi menjalani semuanya dengan ikhlas, mungkin sedikit akan meringankan beban hidupnya.


Sementara di kantor yang sangat diidam-idamkan oleh Mia, kepala bagian membereskan kertas formulir yang akan diberikan kepada pemilik perusahaan ini.


Meskipun bukan hanya Mia, tapi kepala bagian Mia juga ikut merasa tidak mengerti dengan perintah yang sampai ke tangannya itu.


"Ini Tuan," ucap kepala bagian dengan menunduk hormat memberikan tujuh lembar kertas yang sudah diisi oleh tujuh orang karyawan.


Lebih tepatnya mungkin tujuh orang karyawan yang berstatus janda. Dengan malas, Dion menerima kertas itu dan membawanya ke dalam mobil. Melemparkannya di jok sampingnya.


"Aaarrrghhh, sial! Kenapa harus kalah sih?" ucap Dion kesal.


Dering ponsel membuatnya semakin kesal. Siapa lagi kalau bukan Reza. Sahabat yang memenangkan taruhan itu dan membuat Dion harus masuk ke dalam permainan gilanya.


"Iya, aku ke sana sekarang." Hanya berkata seperti itu dan segera memutuskan kembali sambungan teleponnya.


Malas rasanya jika harus panjang lebar membahas kalah taruhan. Mobil melaju dengan sangat cepat.


"Nih," ucap Dion melemparkan tujuh lembar kertas yang diperolehnya dari kantor cabang.


"Biar aku yang memilih, seperti perjanjian kita kan Anak muda," ucap Reza dengan tawa bahagianya.


"Terserah," ucapnya malas dan memilih untuk merebahkan tubuhnya.


Dion yang bertugas untuk mengurus kantor cabang yang baru berdiri di Surabaya, membuatnya harus bolak balik dari Jakarta. Tidak mau tinggal di Surabaya karena tak ingin jauh dari kekasihnya di Jakarta. Namun nyatanya, karena keisengannya kini Dion harus menikah dengan seorang janda yang tidak dikenalnya.


Dion dan Reza adalah dua orang pria yang bersahabat sejak kecil. Kegilaan demi kegilaan mereka sering lakukan dari kecil bahkan hingga sekarang. Terakhir kali, mereka tarihan main PS dan Dion kalah.


Sebulan lalu..


"Main PS yuk! Gabut nih," ucap Reza.


"Boleh. Aku juga kesel sama papa. Masa harus tinggal di Surabaya dan mengurus perusahaan baru di sana," ucap Dion.


"Asik dong, kan bisa dapat cewek-cewek bening di sana." Reza menggoda Dion.


"Ish, cinta ini mentok sama Nikita." Dion dengan begitu bahagia menunjukkan kebucinannya.


"Hmmmm, berapa aku bilang. Dia itu cewek gak bener. Mending nikah sama janda jelas statusnya, dari pada dia yang parabola." Reza mendengus kesal.

__ADS_1


"Apaan tuh parabola?" tanya Dion.


"Perawan bolong duluan," jawab Reza dengan gelak tawa.


"Sialan Lo," ucap Dion.


Reza memang tahu kalau Dion begitu mencintai Niki. Tapi Niki bukan wanita yang tepat buat Dion. Dion itu pria baik di mata Reza. Rasanya tidak tega bahwa Reza sendiri pernah meniduri Niki. Bahkan saat Reza bersama Niki, Reza bukanlah yang pertama untuk wanita cantik itu.


Sampai akhirnya, Dion melihat sendiri kalau Niki baru keluar dari kamar hotel bersama pria yang tidak dikenal oleh Dion. Sejak saat itu, Dion merasa tidak percaya dengan yang namanya cinta.


"Aku udah gak percaya cinta dan gak mau nikah. Malas aku, wanita itu menyebalkan." Ucap Dion kesal.


"Tapi apapun yang terjadi nikah itu harus lah. Memangnya mau jadi bujangan lapuk?" ejek Reza.


"Bodo amat," jawab Dion.


"Begini saja, main PS yuk. Tapi taruhah dong tetep," ucap Reza.


"Mau berapaan?" tanya Dion.


"Gak butuh duit ah. Aku punya tantangan oke nih. Gimana?" ucap Reza.


"Apaan? Jangan aneh-aneh ah males," ucap Reza.


Wajar jika Dion curiga, karena biasanya Reza selalu saja membuat taruhan yang gila. Kadang yang kalah harus nyamar jadi pengamen, jadi badut dan masih banyak lagi taruhan gila dari Reza. Meskipun memang seringnya Reza yang kalah.


Untuk kali ini Reza membuat taruhan paling gila.


"Nanti yang kalah wajib nikah sama janda. Deal ya?" ucap Reza mengulurkan tangannya.


"Dih, taruhan macam apa. Ogah," jawab Dion.


"Ayolah Di," ucap Reza sambil terus mengulurkan tangannya.


"Gak mau ah. Ini gila," ucap Dion.


"Tapi kan bisa saja aku yang kalah Di. Lagipula, mending nikah sam janda dari pada nikah sama Niki," ucap Reza.


"Bisa gak sih jangan bahas dia?" ucap Dion kesal.


"Belum move on ya?" ejek Reza.


"Dih, sotoy banget." jawab Dion.


"Ya sudah ayo taruhan lagi," ucap Reza memaksa.


Sebenarnya ini bukan hanya rencana untuk mengerjai Dion, ini hanya bentuk penyelamatan dirinya saja. Saat ini, Reza sedang jatuh cinta pada seorang janda. Tapi jujur saja, Dion pasti akan mengejeknya, makanya Reza memutuskan untuk melakukan taruhan ini.


Kalau Reza menang, ia akan menikahi janda pujaannya dan selamat dari ejekan Dion, karena akan menganggapnya kalah taruhan. Kalaupun Dion yang menang, paling tidak Reza akan menggunakan alasan solidaritas hingga ia juga memilih janda sebagai pasangan hidupnya.


"Di, gimana? Deal dong ah. Ayo maen ah," bujuk Reza.


"Gak mau. Taruhannya gak masuk akal," jawab Dion.


"Jadi gak berani lawan aku nih? Ngaku kalah aja nih?" desak Reza.


Kalah? Tidak ada dalam kamus Dion harus kalah dari Reza. Apalagi soal PS. Dion yakin kalau kali ini Reza akan kalah.


"Deal," jawab Dion.


"Bener ya?" tanya Reza senang.


"Tapi ada syaratnya," ucap Dion.


"Apa? Kan aku yang ngasih taruhan," ucap Reza.


"Yang menang, berhak memilih janda mana yang harus dinikahi sama yang kalah. Gimana?" tantang Dion.


Reza tersentak. Bukan ini tujuannya. Tapi tak apa, urusan memilih, Reza bisa membujuk Dion yang penting nikah sama janda. Itu aja lah dulu pikir Dion.


"Deal," ucap Reza menyambut uluran tangan Dion.


Dab ide gila itu bermula dari sana. Dion yang begitu percaya diri akan memenangkan permainan, ternyata harus menerima kenyataan kalau dia kalah dari Reza.


Masa depanku akhirnya terselamatkan. Tunggu aku sayang, kita akan menikah setelah Dion. Reza.


###################


Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.


Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.

__ADS_1


Terima kasih..


__ADS_2