
"Permisi, apa saya boleh masuk?" tanya seorang pria yang memakai jas putih itu.
Dokter yang ditunggu kini sudah datang. Keempat orang yang ada di kamar itu melihat ke arah sumber suara. Karena pintu kamar tidak tertutup, mereka langsung melihat kedatangan dokter pribadi yang sudah dinanti.
"Masuk!" ucap Tuan Wira.
Dokter itu memeriksa Dion. Beberapa pertanyaan mulai diajukan oleh Dokter, hingga akhirnya diagnosanya memang sesuai yang mereka duga. Gara-gara rujak.
Hanya saja, Dion merasa ada keanehan pada diagnosanya. Dion tidak sendiri, saat makan rujak ia bersama Mia. Tapi kenapa hanya Dion yang sakit perut.
Ini sungguh tidak adil.
Namun ya mau tidak mau, Dion harus rela. Kalau memang ada pengecualian bagi wanita hamil. Mia bahkan bisa seharian tidak makan nasi, tapi menghabiskan mangga muda yang sangat asam tanpa sakit perut.
Inilah kelebihan wanita hamil. Mungkin ini yang biasa disebut dengan yang namnya ngidam. Kadang ada jenis makanan atau kebiasaan yang tidak pernah dilakukan pada saat sebelum hamil, sekarang justru menajdi kebiasaan Mia.
"Kok malah jadi bahas Mia sih?" tanya Mia.
"Kan biar aku tahu tentang ibu hamil. Aku mau tahu semua perkembangan kamu. Aku takut ada yang membahayakan kamu dan anak kita," jawab Dion.
"Tapi Mas lagi sakit," ucap Mia.
"Aku akan jauh lebih sakit, kalau aku tidak tahu tentang kehamilanmu." Dion mengusap perut Mia.
Mia tersenyum senang, sekaligus malu karena Nyonya Helen, Tuan Wira dan Dokter itu tengah memperhatikan mereka.
Tapi memang begitulah Dion. Ia akan selalu antusias jika itu sudah membahas tentang kehamilan Mia. Dion akan selalu menjaga dan membuat istrinya tidak terbebani dengan kehamilannya. Saat istrinya mengeluh lemas, Dion memberikan Mia banyak waktu untuk berbaring. Namun Dion menyempatkan untuk mengajak Mia berjalan-jalan sebentar agar otot Mia tidak kaku.
"Aduh, Mama kok jadi mau hamil lagi sih." Nyonya Helen tersenyum gemas.
"Enak saja," ucap Dion.
"Dih, memangnya kenapa?" tanya Nyonya Helen.
"Mama waktunya jagain cucu. Aku gak mau punya ade lagi," ucap Dion.
"Jangan takut, lagian Mama kamu sudah lampu merah. Gak mungkin bisa punya anak lagi," timpal Tuan Wira.
Mereka semua tertawa kecuali Nyonya Helen. Ia hanya cemberut sambil memukul tangan suaminya.
"Ma, jangan marah dong. Itu kan kenyataan," ucap Tuan Wira.
Ya, memang Nyonya Helen sudah menopause sejak usianya empat puluh tahun. Hal ini juga terjadi pada orang tua Nyonya Helen.
"Tapi kan jangan dibahas di sini juga Papaaaa," ucap Nyonya Helen kesal.
Merasa terjebak dalam keharmonisan dan kekonyolan dalam keluarga Tuan Wira, dokter itu mempercepat pekerjaannya. Beberapa obat terbaik diberikan untuk Dion. Lalu ia pamit pulang setelah semuanya selesai.
Nyonya Helen dan Tuan Wira ikut keluar kamar saat dokter hendak pulang. Menyisakan Mia dan Dion di dalam kamar.
"Mas, maafin Mia ya!" ucap Mia memeluk Dion.
"Kamu ini kenapa sih? Aku gak pernah menyalahkan kamu, Mia. Aku juga memang menikmati rujak itu kok. Jadi kamu jangan merasa bersalah ya!" ucap Dion.
"Bukan itu. Mia merasa menyesal gak tempur dulu kemarin malam. Tadinya Mia mau ngajak malam ini, tapi Mas malah sakit. Belum tahu juga sembuhnya kapan," ucap Mia jadi cemberut.
"Ya ampun Mia, aku pikir kamu merasa bersalah karena rujak, tapi nyatanya karena tempur. Gak apa-apa kok sayang. Aku kuat kok nahannya," ucap Dion sambil mengusap pipi Mia.
"Tapi Mia yang gak kuat. Mas jangan lama-lama ya sakitnya! Cepat sembuh, Mia sudah kangen." ucap Mia sambil memeluk Dion.
Dion menatap Mia dengan sangat bingung.
Mia, gara-gara rujak aku mules. Itu masuk akal. Kenapa kamu jadi ganjen gara-gara rujak? Dari malam kamu bahasnya ituan terus deh. Awas ya nanti kalau aku udah sembuh, aku bikin dua babak pertempuran, kalau perlu tiga babak lah sekalian.
"Ya kalau kamu gak kuat sih ayo aja!" ajak Dion.
"Ish, gak mau. Nanti bisa-bisa salah keluar lagi. Aku mau keluar dari depan, eh yang belakang keluar duluan." Mia cemberut.
Dion tertawa keras mendengar jawaban Mia. Ia tidak bisa membayangkan saat tempur, ternyata salah keluar. Ternyata obat untuk Dion tidak perlu dari dokter, bergurau dengan Mia saja sudah cukup menaikkan energinya. Ya meskipun belum full, tapi sekarang Dion sudah ada tenaga buat tertawa.
"Mas, Mia kaget tahu tadi. Mas itu pucat banget. Terus gak ada tenaganya. Kayak kain lap basah di pojokan," ucap Mia.
Miaaaa, kamu ini kahwatir atau menghina sih? Gak ada perumpamaan yang lain apa? Kan bisa bagaikan bunga yang belum disiram gitu. Ini malah kayak kain lap. Ampun punya istri begini banget sih. Untung aja aku cinta sama kamu, Mi.
Dion kadang berpikir kenapa ia bisa mencintai Mia. Padahal jika menurut kriteria, Mia tidak termasuk kriteria Dion sama sekali. Namun kini Dion menyadari kalau cinta itu tanpa syarat. Tidak ada kriteria, namun Mia mampu membuatnya merasa nyaman. Tidak dengan kepura-puraannya, Mia justru membuat Dion jatuh cinta dengan apa adanya diri Mia.
Kalau ditanya sejak kapan cinta itu tumbuh, cinta Dion tumbuh lebih cepat dari kebiasaannya. Dion hanya perlu waktu dua sampai tiga kali untuk bertemu dengan Mia, hingga hatinya bergetar saat bertemu dengan wanita polos itu. Waktu yang membuat rasa itu semakin besar dan nyata. Dion pikir, mungkin saat itu menyukai Mia hanya karena ia sedang ditinggalkan. Merasa kalau Mia adalah pengisi kekosongan itu sementara waktu, namun Mia mampu mengisi tempat itu untuk selamanya.
Mia berhasil mendiami hati dan pikiran Dion. Puncaknya Dion semakin yakin saat ia mendapat kejutan di malam pernikahannya. Sejak saat itu, Dion menutup hati dan pikirannya untuk orang lain. Ia hanya menyimpan satu orang, yaitu Mia. Istri tercintanya.
"Mas, kapan balik ke Surabaya?" tanya Mia.
"Memangnya kenapa?" Dion malah bertanya balik.
__ADS_1
"Mia belum ketemu sama Kalin dan Dokter Leoni," jawab Mia.
"Kamu mau ketemu mereka kapan?" tanya Dion.
"Mereka masih sibuk. Tapi Mia takut keburu berangkat lagi ke Surabaya," jawab Mia.
"Kata mama kamu gak boleh ikut lagi ke Surabaya," ucap Mia.
"Loh kok gitu?" tanya Mia.
Mia memang betah di jakarta. Tapi jika harus berjauhan dengan Mia, rasanya sangat berat.
"Kamu masih hamil muda. Gak baik kalau pulang pergi Jakarta-Surabaya," jawab Dion sambil mengusap perut Mia.
"Tapi Mas lama gak di Surabayanya?" tanya Mia.
"Tergantung pekerjaan Mi. Tapi aku usahakan dua minggu sekali aku pulang. Ya paling tidak, tiga minggu lah. Aku usahain gak sampai satu bulan," jawab Dion.
Dua minggu? Itu waktu yang sangat lama bagi Mia. Mia yang sudah biasa menghabiskan waktunya dengan Dion, merasa tidak nyaman saat Dion tidak ada di sampingnya. Dion yang selalu memanjakannya, akan membuat Mia merasa sangat kehilangan saat sosok itu jauh darinya.
"Lama mas," jawab Mia.
"Ya kan aku harus kerja buat keluarga kita. Sebagai laki-laki aku harus punya tanggung buat anak sama istriku. Buat kamu sama bayi yang ada di sini," jawab Dion sambil mengusap perut Mia.
"Tapi kan Mas udah kaya. Uang Mas juga banyak," jawab Mia.
"Loh, sebanyak apapun uang, ya pasti akan habis juga dong Mi. Jadi aku harus tetap kerja," jawab Dion.
"Papa kan juga tabungannya banyak," jawab Mia.
"Masa mau minta sama papa?" tanya Dion.
"Ya gak minta sih Mas. Tapi sekarang aja kamu kerja papa masih ngasih uang kok ke Mia. Apalagi kalau Mas gak kerja," jawab Mia.
Mia kamu ini kenapa sih? Kok aneh? Perempuan itu akan dengan gigihnya memberi semangat, biar suaminya kerja. Kamu, aku mau kerja kok malah jangan. Gimana sih?
"Kan kamu yang bilang kalau harga diri seorang laki-laki itu bekerja. Kalau aku gak kerja, aku gak punya harga diri dong," ucap Dion.
"Tapi kalau kangen gimana?" rengek Mia manja.
"Kalau kamu kangen kan bisa telepon atau video call. Zaman sekarang sudah canggih Mi," jawab Dion.
"Ish, Mas gak ngerti banget sih. Terus kalau kangen tempur? Mana bisa lewat video call? Air kemenangannya mau Mas paket lewat Pos gitu?" ucap Mia kesal.
Kini giliran Mia yang tertawa keras. Setelah tawanya berhenti tiba-tiba Mia bergidik.
"Kenapa kamu?" tanya Dion.
"Mia lagi bayangin yang luber-luber," jawab Mia.
"Dih, ngeres juga otak kamu ya!" ucap Dion.
"Haha.. Ngeres sama suami sendiri sih SAH. Yang gak boleh itu ngeres sama suami atau istri orang," ucap Mia.
"Berarti kalau sama gak punya suami boleh ya?" goda Dion.
"Maaaas," teriak Mia kesal.
"Hahah, becanda sayang. Mana mungkin aku macam-macam. Aku setia sama kamu. Aku sudah berjanji psda diriku sendiri untuk hanya mencintai kamu saja. Kamu Satu-satuny Wnit yang akan selalu membuatku jatuh cinta lagi dan lagi," ucap Dion.
Dion mengeluarkan kata-kata yang ia rangkai agar Mia bisa tenang dan memeluknya. Namun Mia malah cemberut dan tetap marah.
"Awas saja kalau kamu sampai macam-macam, aku sunat lagi kamu ya! Mau?" ancam Mia.
"Hey, abis dong. Memangnya kamu mau jimatku ini hilang?" tanya Dion.
"Aku sisain nanti seperempatnya," jawab Mia.
"Enak saja," ucap Dion kesal.
Mia memang banyak sekali berubah. Dari fisik hingga psikis. Badannya yang semakin membesar, sebanding dengan emosi yang juga ikutan membesar. Mia yang dulu selalu mandiri, sabar dan mengalah, setelah hamil dia menjadi wanita manja dan mudah sekali marah.
Awalnya Dion jengah dengan sikap Mia yang tidak biasa ini. Namun setelah konsultasi dengan dokter, Dion tahu kalau semua ini memang masanya. Semua akan berlalu jika Mia sudah melewati fase itu. Dan yang kini Dion lakukan adalah belajar untuk menikmati semua itu. Karena suatu saat nanti, mungkin Dion akan merindukan sikap Mia yang seperti ini.
Obat mujarab bagi Dion, tidak hanya butiran-butiran pil yang bagus dan mahal dari dokter. Tapi justru kehadiran Mia membuat Dion semakin cepat pulih.
"Mi, kamu sudah menghubungi Kalin dan Dokter Leoni itu?" tanya Dion.
"Belum, memangnya kenapa?" tanya Mia.
"Dua hari lagi aku balik ke Surabaya. Aku mau nemenin kamu ketemu sama mereka sebelum balik ke sana," jawab Dion.
"Aku hubungi sekarang ya mas," ucap Mia.
__ADS_1
"Iya. Aku mandi dulu ya!" ucap Dion.
Mia mengangguk dan segera mengambil ponselnya. Menghubungi dua wanita yang sangat berarti dalam hidupnya. Dua wanita yang mengantarkannya menjadi wanita kuat hingga bertemu dengan kebahagian yang luar biasa.
"Gimana?" tanya Dion saat keluar dari kamar mandi.
"Gak bisa. Dokter Leoni ada jadwal piket," jawab Mia sedih.
"Kalin gak bisa juga?" tanya Dion.
"Kalin sih bisa. Tapi kan dokter Leoni gak bisa," jawab Mia.
"Ya sudah janjian sama Kalin saja dulu. Lain kali baru sama Dokter Leoni," ucap Dion.
"Tapi kan mau ketemu sama dua-duanya," jawab Mia.
"Dari pada gak ketemu dua-duanya? Mending ketemu sama Kalin dulu kan? Lagian kalau sama Dokter Leoni, kamu bisa ketemu kalau kamu periksa kehamilan." Dion mengusap kepala Mia.
"Tapi dokter Leoni bukan dokter kandungan Mas," rengek Mia.
"Tapi paling tidak, dia bekerja di rumah sakit. Ayolah! Aku sekalian mau jalan-jalan sama kamu sebelum ke Surabaya.
Benar juga ya! Iya deh, sekarang sama Kalin aja dulu. Kapan-kapan bisa sama Dokter Leoni.
"Iya mas. Aku janjian sama Kalin dulu ya!" ucap Mia.
Sesuai dengan perjanjian, Kalin dan Mia akan bertemu siang ini di cafe dekat kantor Kalin. Dion mengajak Mia berangkat lebih awal karena mau ke mall dulu. Dion Ingin Mia membelikan sesuatu untuk Kalin. Ya itung-itung sebagai tanda terima kasih karena sudah menemani Mia selama ini.
Dion menghela nafas panjang saat melihat sosok Danu di mall. Dengan sigap Dion menarik tangan istrinya dan berniat mengajaknya untuk keluar. Namun Danu memanggil nama Mia.
"Mas Danu?" ucap Mia.
Mas? Kamu memanggil dia dengan sebutan Mas? Kamu samakan aku dengan dia? Kamu keterlaluan Mia.
"Ayo pergi!" ajak Dion.
Mia menyadari kesalahannya dan segera mengikuti Dion untuk keluar dari mall itu.
"Mia, mulai sekarang jangan panggil aku mas lagi," ucap Dion.
"Loh, kenapa?" tanya Mia bingung.
"Aku gak mau. Kamu samakan aku dengan mantan suamimu Itu. Gak sudi aku," jawab Dion kesal.
"Terus Mas mau dipanggil apa? Sayang? Cinta?" tanya Mia.
Dion menatap wajah Mia. Sepertinya Mia memang tidak menginginkan panggilan itu untuk dirinya. Mia sering memanggilnya dengan sebutan sayang atau cinta. Tapi semua itu hanya Mia lakukan saat mereka berdua saja.
"Ya, kalau di tempat umum kamu panggil aku yang lain." Bahkan Dion sendiri tidak tahu mau dipanggil apa ia sebenarnya.
"Bapak?" tanya Mia.
"Kamu pikir aku tukang parkir?" jawab Dion.
"Abang?" tanya Mia.
"Hey, aku bukan tukang bakso," jawab Dion.
"Ya sudah mas maunya dipanggil apa?" tanya Mia kesal.
Apa ya? Bentar dong Mia. Kamu ini emosian deh. Untung aja lagi hamil. Kalau gak hamil, aku hamilin juga nih kamu. Heheh
"Kamu kan orang Bandung nih. Biasanya panggilan istri ke suami kalau di Bandung itu apa sih?" tanya Dion.
Benar, kenapa Mia gak kepikiran ya?
"Aa. Aaaaaah A Dion. Mia panggil Aa aja ya?" ucap Mia.
Aa? Boleh deh dari pada di sama-samain sama mantan suaminya.
"Iya Mi. Aku mau. Aa aja," ucap Dion sambil tersenyum.
#################
Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.
Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
Terima kasih..
__ADS_1