
Danu mondar mandir di kamarnya. Ia berpikir untuk mencari cara agar bisa menjemput Sindi ke rumahnya besok. Tapi jangankan menjemputnya, rumahnya saja Danu tidak tahu.
Danu menepuk kepalanya pelan.
Kenapa aku gak tanya alamat dia ya? Tadi juga kenapa aku gak nanya alasan dia ke kantor. Ada urusan apa dia di sana? Apa karena dia mencari tahu keberadaanku?
Bibirnya mulai mengembang saat menduga hal yang menyenangkan itu. Walaupun semuanya tidak mungkin, tapi rasa senang itu menguasai dirinya saat membayangkan jika semua dugaannya benar.
"Danu," panggil Tuan Ferdinan.
"Iya Pi," jawab Danu.
Danu menyudahi lamunan indahnya. Ia membuka pintu dan menemui Tuan Ferdinan.
"Minggir!" ucap Tuan Ferdinan.
Danu yang berdiri di ambang pintu harus menggeser paksa dirinya karena tubuh Tuan Ferdinan yang besar.
"Duduk kamu!" ucap Tuan Ferdinan.
Telunjuknya jelas mengarah pada Danu, lalu menunjuk kursi yang ada di hadapannya. Dengan heran, Danu hanya mengikuti perintah Tuan Ferdinan. Bak titah raja yang tidak bisa ditolak, Tuan Ferdinan menuntut Danu layaknya budak.
"Siapa Sindi?" tanya Tuan Ferdinan.
Danu mengernyitkan dahinya. Sindi? Kenapa wanita yang tengah mengisi kepalanya itu harus menjadi topik pembicaraan mereka saat ini.
"Mana aku tahu," jawab Danu.
BRAKKK.
Tuan Ferdinan menggebrak meja. Danu terkejut dan segera memegang dadanya. Ternyata bukan hanya Danu, Tuan Ferdinan sendiri terkejut dengan kerasnya suara dari gebrakan meja itu.
"Aduh maaf-maaf. Kelepasan," ucap Tuan Ferdinan sembari mengusap-usap mejanya.
"Papi kenapa sih?" tanya Danu.
"Makanya jawab. Jangan bikin Papi kesel," jawab Tuan Ferdinan.
"Aku harus jawab apa Pi?" tanya Danu.
"Ya soal Sindi. Siapa dia?" tanya Tuan Ferdinan lagi.
"Gak tahu Pi," jawab Danu.
"Bagaimana bisa gak tahu, Mami bilang itu calon menantunya. Jangn coba-coba bohong kamu ya!" ucap Tuan Ferdinan mengancam.
"Kan yang bilang Mami, bukan aku. Ya tanyain ke Mami. Kalau yang bilang aku, baru tanyain ke aku. Simple kan?" ucap Danu.
"Simple, simple. Kepalamu yang simple. Mami bilang itu calon menantunya. Artinya dia pacar kamu. Calon istri kamu," ucap Tuan Ferdinan sembari melempar bantal pada Danu.
"Belum tentu dong Pi," ucap Danu setelah menangkap bantal yang dilempar Tuan Ferdinan.
"Kok belum tentu? Gimana ceritanya?" tanya Tuan Ferdinan.
"Masalahnya aku gak kenal sama Sindi," jawab Danu.
"Ah, mana mungkin. Jadi ini maksudnya gimana?" tanya Tuan Ferdinan.
Danu mencari posisi duduk ternyaman. Ia mulai menceritakan semua yang terjadi antara Nyonya Nathalie dan Sindi. Tuan Ferdinan nampak mengangguk-anggukkan kepalanya. Menyimak dengan baik, hingga tidak ada satu kata pun yang lolos dari pendengaran Tuan Ferdinan.
__ADS_1
Tuan Ferdinan tersenyum saat mendengar cerita kalau keceriaan Nyonya Nathalie kembali saat bersama Sindi. Ia membayangkan betapa berartinya sosok Sindi untuk istrinya. Sudah lama ia melihat Nyonya Helen murung dan kurang bersemangat. Tidak jarang ia mengurung diri di kamar dan menangis sepanjang hari.
"Bawa dia ke sini! Nikahi dia!" ucap Tuan Ferdinan.
Mata Danu membulat sempurna. Mulutnya yang terbuka menandakan kalau Danu memang terkejut dengan apa yang ia dengar.
"Kenapa kamu?" tanya Tuan Ferdinan lagi.
Danu menutup mulutnya dan bersikap lebih tenang.
"Papi yang kenapa," ucap Danu kesal.
"Kamu lemot sekali hari ini Danu," ucap Tuan Ferdinan.
Tuan Ferdinan berdiri dan meninggalkan Danu. Menyudahi pembicaraan yang tak jelas ujungnya.
"Papi mau kemana?" tanya Danu.
"Mandi," jawab Tuan Ferdinan.
"Eh, ini belum selesai Pi. Kok udah main pergi aja?" tanya Danu.
"Kamu bawa Sindi ke rumah ini dan nikahi dia! Selesai," jawab Tuan Ferdinan.
Tidak ingin mendengarkan alasan apapun dari Danu, Tuan Ferdinan segera keluar dari kamar Danu dan kembali ke kamarnya.
Danu hanya bisa memegang kepalanya yang terasa cukup sakit.
"Kenapa urusan Sindi membuat kepalaku sakit begini?" gumam Danu.
Danu pusing bukan kepalang. Jangankan menikahinya, untuk membawa Sindi ke rumahnya saja Danu harus banyak berjuang. Karena ia tidak tahu dimana rumah Sindi. Bahkan nomor ponselnya saja ia tidak punya.
Waktunya makan malam, Danu tidak banyak bicara karena ia tahu apapun yang ia ucapkan saat ini akan salah. Kemauan kedua orang tuanya yang tidak bisa ia kabulkan, tentu akan membuat bom yang bisa meledak kapan saja.
Danu memanfaatkan momen ini untuk mencari nomor ponsel Sindi. Ia menghampiri Tuan Ferdinan dan ngobrol basa basi dengan ayahnya itu.
"Ank kurang ajar!" ucap Tuan Ferdinan.
"Papi kenapa sih marah-marah terus?" tanya Danu.
"Kamu yang bikin Papi marah-marah sama kamu. Bikin kesel aja," jawab Tuan Ferdinan.
"Ah, aku gak ngerti sama Papi," ucap Danu.
"Kamu bilang gak ngerti? Kamu mikir Danu. Sindi itu calon istri kamu. Mana mungkin kamu gak punya nomornya?" ucap Tuan Ferdinan kesal.
"Ya udah intinya Papi mau aku bawa Sindi ke sini gak?" tanya Danu.
"Harus," jawab Tuan Ferdinan.
"Ya udah bantu aku dong. Minta nomor Sindi di ponsel Mami," ucap Danu.
"Usaha aja sendiri," ucap Tuan Ferdinan.
Danu harus bengong sendiri di tepi kolam saat melihat Tuan Ferdinan pergi meninggalkannya.
Sindi, rumah kamu dimana sih? Bikin pusing aja.
Orang yang sedang ia panggil dalam hatinya tengah asyik bercerita dengan keluarga Dion. Sindi mulai berbaur dengan yang lain. Semakin hari keakraban mereka semakin terjalin. Keluarga Dion yang selalu menerima tanpa membedakan orang baru membuat Sindi dan Rian nyaman berada di rumah itu.
__ADS_1
"Sin, besok kamu ada acara gak? Kebetulan kita mau ada acara jalan-jalan. Ya itung-itung perpisahan karena aku dan Rian mau balik ke Jerman," ucap Tuan Felix.
Besok? Hah? Kok bisa beneran begini sih? Aku jadi gak bohong dong sama Ibu Natahlie.
"Siap Tuan. Aku boleh pesan makanan yang banyak ya nanti?" pinta Sindi.
"Kamu ini makanan terus yang ada di kepala. Kali-kali minta di hajatin gitu," ucap Tuan Wira.
"Ya ampun Tuan, belum ada calonnya." Sindi menutup wajahnya.
"Bukannya udah ada ya Kak?" goda Rian.
"Gak ada," ucap Sindi menggelengkan kepalanya.
Matanya membulat sempurna pada Rian. Ia takut kalau Rian membocorkan rahasianya.
"Siapa nih?" tanya Dion.
"Monster ganteng Kak," jawab Rian sembari tertawa.
"Rian," ucap Sindi membungkam mulut Rian.
Semua tertawa melihat sikap Sindi yang salah tingkah. Semuanya terhenti saat mendengar dering ponsel milik Sindi.
"Monster ganteng ya?" tanya Nyonya Helen.
"Bu-bukan Nyonya," jawab Sindi gugup.
Sindi melihat ponselnya. Nomor baru. Seperti biasanya, Sindi tidak akan menjawab panggilan dari nomor baru. Karena panggilan itu berkali-kali dan Sindi ditertawakan, akhirnya Sindi menolak panggilan itu.
Dibalik Sindi yang gugup dan tidak enak, ada Danu yang tengah marah-marah saat panggilannya ditolak oleh Sindi.
"Dasar ya! Kamu ini gak berubah. Sepenting apa sih kamu sampai-sampai menolak panggilanku?" gerutu Danu.
Danu yang awalnya pasrah karena tidak memiliki nomor Sindi, akhirnya memberanikan diri untuk menghubunginya karena tiba-tiba Tuan Ferdinan mengirimkan nomor Sindi.
Walaupun awalnya Tuan Ferdinan enggan memberikan nomor Sindi, tapi berdasarkan beberapa pertimbangan nomor itu sampai pada Danu.
'Nih, nomor Sindi. Kalau sampai Sindi tidak datang besok, kamu jangan pulang ke rumah.'
Sebuah pesan yang dikirim Tuan Ferdinan awalnya membuat Danu tertawa. Ia merasa ini berlebihan. Ancaman yang tidak masuk akal. Ia tidak terima saat dirinya dinomorduakan hanya karena Sindi. Wanita yang baru saja dikenal oleh Nyonya Nathalie.
'Perkara gampang sih ini.'
Begitu awalnya ucap Danu saat nomor itu sudah sampai ke ponselnya. Namun saat ia mencoba menghubungi Sindi dan panggilannya ditolak, ada rasa khawatir tersendiri.
Danu takut kalau ancaman Tuan Ferdinan itu benar-benar berlaku. Bukan takut karena mau kemana dia jika diusir, namun gengsi. Ia harus keluar rumah hanya karena tidak bisa membawa Sindi ke rumahnya. Ah tidak! Ini tidak bisa dibiarkan.
Danu bertekad akan melakukan apapun agar Sindi bisa datang ke rumah itu. Beberapa rencana sudah ia susun agar Sindi tidak punya pilihan lain selain datang ke rumahnya.
Kamu jangan macam-macam denganku, Sindi. Kamu pikir kamu siapa? Kamu salah orang kalau bermain-main denganku. Akan aku buat kamu bertekuk lutut padaku. Lihat saja nanti!
######################
Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
__ADS_1
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.