Janda Bersegel

Janda Bersegel
Peluncuran perdana


__ADS_3

"Nyonya, kamar ini terlalu besar untuk saya. Bisakah Anda pindahkan kamar saya?" tanya Rian.


"Oh, ini ukuran standar. Semuanya sama," ucap Nyonya Helen.


Rian menatap sekeliling ruangan yang disebut-sebut sebagai kamarnya. Tasnya masih melekat di punggungnya. Rian merasa ini terlalu mewah untuknya. Ia ingin masuk sebagai pekerja, bukan sebagai anak yang dikasihani.


"Saya bisa bekerja, Nyonya." Rian meyakinkan Nyonya Helen.


"Saya tahu. Kamu istirahat dulu ya!" ucap Nyonya Helen.


"Nyonya," panggil Rian.


Nyonya Helen yang akan keluar kamar tiba-tiba ditahan oleh Rian.


"Ada yang kamu butuhkan?" tanya Nyonya Helen.


"Nyonya, apa yang bisa saya kerjakan di rumah ini?" tanya Rian.


Nyonya Helen diam. Semua tugas di rumah sudah ada penanggung jawabnya. Ia pun memanggil Rian untuk diangkat menjadi anaknya, bukan sebagai pekerja. Tapi Rian tidak akan nyaman jika hanya diam di kamar.


"Bagaimana kalau sementara ini kamu membantu Tuan Felix? Menemaninya dan mengingatkan jadwal minum obatnya," ucap Nyonya Helen.


"Baiklah Nyonya," ucap Rian.


Setelah mendapat pembagian tugas, Rian baru menyimpan tasnya dengan senyum lebar.


"Saya mau ke kamar Tuan Felix, Nyonya. Permisi," ucap Rian.


Nyonya Helen hanya menatap punggung Rian yang kian menjauh dari pandangannya, hingga hilang tak terlihat.


"Anak itu selalu saja penuh semangat," gumama Nyonya Helen.


Karena ingin membuat Rian nyaman, hari ini Nyonya Helen tidak mengikutinya. Ia kembali ke kamarnya dan menyalakan layar yang menayangkan cctv di rumah itu. Ia mengamati beberapa tingkah Rian yang membuat Nyonya Helen kagum.


Rian benar-benar memperlakukan Tuan Felix dengan sangat baik. Ia dengan sabar membantu dan menemani Tuan Felix menghabiskan waktunya. Perubahan pun terjadi pada keduanya. Rian yang tampak lebih terbuka dan Tuan Felix yang tampak lebih ceria.


Beberapa hari berlalu, Mia pun mengamati keduanya semakin dekat. Bahkan Rian selalu membantu Tuan Felix untuk belajar berjalan. Rian yang selalu menyemangati Tuan Felix.


"Rian," panggil Mia.


Siang itu Rian baru keluar dari kamar Tuan Felix.


"Kak Mia," ucap Rian.


"Kamu sangat baik. Perlakuanmu pada Tuan Felix sungguh istimewa. Kenapa?" tanya Mia.


"Kakak cemburu?" tanya Rian.


Cemburu? Pertanyaan macam apa itu?


"Apa maksudmu?" tanya Mia.


"Maaf Kak, aku hanya becanda. Aku tidak merasa memperlakukan Tuan Felix dengan istimewa. Sama sekali tidak. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Aku hanya menyesal karena tidak sempat mengurus Bapak. Aku melakukan ini sebenarnya buat menebus kesalahanku pada Bapak," ucap Rian.


"Aku tidak percaya. Kamu sudah memperlakukan Bapak dengan sangat baik," ucap Mia.


"Apa yang Kakak lihat belum tentu apa yang terjadi sebenarnya. Bapak sudah lama sakit. Dan aku tidak sempat benar-benar merawat Bapak. Aku hanya menghabiskan waktuku untuk sekolah dan bekerja," ucap Rian menjeda ceritanya.


"Kamu mau menangis? Menangislah!" ucap Mia.


Rian memalingkan wajahnya. Menahan agar air matanya tidak jatuh di hadapan Mia. Sudah cukup rasanya ia terlihat lemah hingga keluarga Mia ingin mengangkatnya menjadi anak.


"Aku tidak punya banyak waktu untuk mengurus Bapak sampai akhirnya aku kehilangan Bapak untuk selamanya. Dan sekarang ada Tuan Felix. Mungkin ini cara Tuhan untuk membalas rasa penyesalanku," lanjut Rian.

__ADS_1


Dada Mia terasa sesak. Apa kabar dengan dirinya yang tidak mengurus Pak Baskoro sama sekali? Tapi kenapa hatinya tidak menyimpan sedikitpun penyesalan atas semua itu? Benarkah Mia sangat jahat?


Mia meninggalkan Rian. Ia tidak ingin melanjutkan apa yang sedang mereka bahas.


"Kak Mia," panggil Rian.


"Biarkan Mia sendiri," ucap Dion yang menghalangi langkah Rian.


"Aku sudah membuat Kak Mia sedih. Aku minta maaf Kak," ucap Rian.


"Kamu tidak bersalah. Istriku yang sedang sensitif," ucap Dion.


Rian melihat Dion yang mengerjar Mia. Jelas terlihat kasih sayang Dion yang begitu besar pada Mia. Rian melihat sisi lembut dan perhatian dari seorang Dion untuk Mia.


"Mi," panggil Dion.


"A, Mia jahat ya?" tanya Mia.


"Harus berapa kali aku bilang padamu. Kamu itu orang baik. Apapun yang kamu lakukan, semua ada alasannya. Dan aku paham semua itu," ucap Dion.


"Terima kasih sudah selalu ada untuk Mia A," ucap Mia.


"Berhentilah bersikap seperti itu," ucap Dion.


Mia mengangguk dalam pelukan Dion.


"A, kenapa pihak rumah sakit belum menghubungi Mia ya?" tanya Mia.


"Mungkin belum selesai," jawab Dion.


"Tapi sampai kapan A?" tanya Mia.


"Sabar ya! Mereka pasti akan segera menghubungi kamu kalau hasilnya sudah keluar," ucap Dion.


Dering ponsel membuat Mia melepaskan pelukannya dan melihat layar ponselnya.


"Siapa? Dari rumah sakit?" tanya Dion.


Mia menggeleng.


"Sindi," jawab Mia.


Mia menjawab panggilan dari Sindi. Perlahan Mia mulai tersenyum kembali. Dion masih memantau keadaan Mia. Semakin lama Mia berkomunikasi dengan Sindi, Mia semakin membaik. Dan itu yang membuat Dion senang.


"Aku keluar ya!" bisik Dion.


Mia mengangguk dan melanjutkan obrolannya dengan Sindi. Di saat yang bersamaan, Dion menghubungi Reza. Awalnya ia basa basi dan membahas tentang perusahaan. Setelah tahu kalau perusahaannya baik-baik saja dan cenderung semakin berkembang, Dion mengubah pokok pembahasan.


"Sindi?" tanya Reza.


"Kamu gak kenal?" tanya Dion.


"Tahu. Dia bahkan sering menemani Maya kalau aku lagi lembur. Cuma masalahnya kenapa kamu nanyain dia, Di?" tanya Reza.


Dion menceritakan apa maksud dirinya tentang Sindi. Ia meminta Reza untuk mengantar Sindi ke Jakarta dan menemani Mia. Tidak harus olehnya, ia bisa meminta siapapun di sana untuk mengantarkan Sindi.


"Tapi Maya gak apa-apa kan kalau Sindi di suruh ke Jakarta?" tanya Dion memastikan.


"Gak apa-apa. Nanti aku cari orang lain buat nemenin Maya. Lagi pula di sini orangnya juga baik-baik kok Di," ucap Reza.


"Terima kasih ya Za," ucap Dion.


"A, dari mana?" tanya Mia.

__ADS_1


"Telepon Reza," jawab Mia.


"Kenapa? Ada masalah di Surabaya?" tanya Mia panik.


"Gak kok Mi," jawab Dion.


"Maya sakit lagi?" tanya Mia.


"Gak, Maya juga sehat." Dion mengusap kepala Mia.


Dion begitu kagum pada Mia. Ia masih saja peduli pada Maya padahal dia sendiri tengah ada masalah. Begitulah Mia, kadang ia nampak baik-baik saja padahal menyimpan luka. Sekua itu hanya karena kepeduliannya pada orang lain.


"Terus ada apa A?" tanya Mia.


"Memangnya gak boleh akalu aku telepon sama Reza? Kamu juga teleponan sama Sindi ada apa? Ada yang penting gak?" tanya Dion.


"Ih, Aa cemburu?" tanya Mia.


Dion tersenyum dan pura-pura mengiyakan. Namun Dion merasa senang dengan perubahan Mia. Seketika ia menjadi kembali ceria. Seolah melupakan apa yang terjadi antara Mia dan Rian.


"Kalau cemburu kenapa?" tanya Dion.


"Ya gak boleh. Mia kan teleponnya sama Sindi bukan sama cowok," ucap Mia.


"Aku juga balasnya juga sama Reza bukan sama cowok," jawab Dion.


Mia tertawa saat mendengar jawaban Dion.


"Aa pintar sekali membalikan ucapan Mia. Curang ih. Aa kok gak mau mikir?" tanya Mia.


"Eh, buat apa aku cape-cape mikir kalau punya istri cerdas kayak kamu," ucap Dion.


Senyum Mia menjadi kaku. Ia salah tingkah dengan sikap Dion yang mencurigakan. Tiba-tiba mengunci pintu dan membuka kaos putih yang melekat pada tubuhnya. Berjalan mendekat dengan tatapan tajam yang tidak lepas dari Mia.


Mia menghela napas panjang. Ia berusaha tersenyum meskpun hatinya tak karuan. Debaran jantungnya semakin tak beraturan, kala Dion semakin mendekat.


Sentuhan Dion pada pipi Mia membuat Mia memejamkan matanya. Tak sanggup melihat wajah Dion yang semakin mendekat padanya. Terlebih saat deru napas Dion semakin terasa nyata.


CUP.


Kecupan lembut di dahi Mia menjadi awal yang menegangkan bagi Mia. Tidak berhenti sampai di sana, kecupan itu beralih mendarat ke beberapa tempat yang memang menjadi landasan bibir Dion.


"Mi, boleh ya?" tanya Dion.


Mia mengangguk. Sorak sorai di hati Dion menggema. Akhirnya Dion akan memulai peluncuran perdananya setelah sempat terhenti beberapa waktu lalu.


Lampu di kamarnya sudah mulai remang. Suasana sudah semakin mencekam. Kain mulai beterbangan ke sembarang arah. Semakin lama, suara hening itu kini berubah. Rintihan suara indah menjadi pengantar malam indah di kamar itu.


"Terima kasih," ucap Dion mengecup dahi Mia.


Tanpa suara, karena Mia masih mengatur napasnya yang tidak beraturan.


######################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.

__ADS_1


__ADS_2