
"Maaassss," teriak Mia sambil memeluk Danu yang masih mengucek matanya.
"Mia? Ini kamu?" tanya Danu yang merasa ini hanya sebuah halusinasinya saja.
"Ini hantuuuu," ucap Mia sambil menakut-nakuti Danu.
"Mia? Ini beneran kamu?" ucap Danu mengguncang bahu Mia.
"Aduh mas, mia pusing ini. Berhenti Mas," teriak Mia.
Danu berhenti mengguncang bahu Mia dan sekarang ia memutar-mutarkan tubuh Mia.
"Mas, udah mas. Mia pusing," ucap Mia.
Danu berhenti dan menatap Mia kembali. Ia memperhatikan Mia dari atas hingga bawah. Setelah sebulan lebih berada di kampung halamannya Mia terlihat lebih norak. Mungkin karena kebiasaan di kampungnya kembali melekat pada diri Mia.
"Ada yang aneh mas?" tanya Mia. "Hallo mas, hallo." Mia melambaikan tangannya ke depan wajah Danu karena Danu tidak menjawab pertanyaannya.
Danu terperanjat dan mencoba menyembunyikan perasaan gugupnya.
"Kapan kamu ke sini?" tanya Danu.
"Sekarang," jawab Mia.
"Jam berapa dari Bandung?" tanya Danu.
"Jam lima pagi," jawab Mia.
Danu menghitung dari jam lima sampai sekarang yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. 17 jam?
"Kamu berangkat dari Bandung atau dari London? Jarak Bandung Jakarta itu tidak terlalu jauh Mia," ucap Danu tidak percaya.
"Awalnya Mia ketiduran mas. Jadi Mia nyasar dulu. Terus pas Mia bangun, Mia bingung Mia ada dimana. Terus tambah bingung karena Mia kemalingan Mas. Jadi Mia cari dulu malingnya. Tapi Mia sampai muter-muter, copetnya gak ketemu mas," ucap Mia.
"Kamu kemalingan? Pantas saja kamu tidak meneleponku," ucap Danu.
"Apa hubungannya mas?" tanya Mia.
"Loh kok apa hubungnnya sih? Kamu kan kemalingan. Berarti ponsel kamu hilang kan?" tanya Danu.
"Siapa yang bilang begitu?" tanya Mia.
"Hah? Maksudnya?" tanya Danu.
"Mas tahu gosip ponsel Mia hilang itu dari mana?" tanya Mia.
"Kok gosip sih? Kamu kan kemalingan Mia," ucap Danu yang sudah mulai kesal.
"Tapi ponsel Mia ada kok Mas," ucap Mia menunjukkan ponselnya.
"Lalu kamu kemalingan apa?" tanya Danu.
Sebenarnya Danu ingin sekali menebak apa yang dimaksud kemalingan oleh Mia. Mungkinkah ponselnya? Atau kartu ATMnya yang berisi saldo puluhan juta bahkan ratusan juta? Tidak menutup kemungkinan juga bisa sampai milyaran rupiah. Eh tidak! Uang dari mana sebanyak itu? Tapi bisa jadi. Bisa saja itu adalah harta gono gini dari mantan suaminya yang disebut sebagai juragan sawah itu. Kalau isinya hanya uang jutaan rupiah, mana mungkin Mia mau mengejar maling itu sampai mengahabiskan waktu belasan jam ssperti ini.
"Mia kemalingan oleh-oleh buat Mami sama Papi. Buat Mas juga. Semuanya tidak ada mas. Hilang entah dibawa kemana sama maling itu.
Danu terharu mendengar ucapan Mia. Mia sengaja ke Jakarta dengan repot membawa oleh-oleh untuk keluarganya. Meskipun Danu tidak tahu oleh-oleh apa yang dimaksud oleh Mia. Bahkan kini oleh-oleh itu sudah hilang.
"Sudahlah Mia. Aku dan orang tuaku tidak mengharapkan oleh-olehmu. Kami hanya mengharapkan kehadiranmu," ucap Danu.
Mia tahu kalau keluarga Danu tidak mengahrapkan oleh-oleh apapun darinya. Tapi Mia merasa sangat kecewa saat apa yang ia bawa dari kampung ternyata tidak bisa ia berikan untk Danu dan orang tuanya.
"Memangnya kamu bawa apa?" tanya Danu penasaran.
"Banyak mas. Ada jengkol, kangkung, kacang panjang, pisang, ubi, singkong. Semua hasil dari kebun Mia di Bandung," ucap Mia dengan sangat bangga.
Apa? Mia mencari maling sampai hampir 17 jam, dan yang dibawa maling itu adalah oleh-oleh dari kampung? Danu jadi penasaran, maling mana yang sangat bodoh itu.
"Mas, kok diam? Kecewa ya?" tanya Mia.
Danu bingung harus tertawa atau kasihan pada Mia. Demi mengejar oleh-oleh untuk keluarganya, Mia rela sampai menghabiskan waktu hampir 17 jam antara Bandung dan Jakarta. Sebenarnya yang lama itu bukan hanya mencari maling itu, tapi karena mengejar maling Mia sampai nyasar ke sana ke sini. Padahal Mia tidak perlu mengejar maling itu, karena oleh-olehnya bisa ia beli lagi di pasar. Itu lebih mudah daripada mengejar maling, menurut Danu. Sungguh aneh tapi nyata. Begitulah kehidupan Mia
__ADS_1
"Aku gak kecewa kok. Yang penting kamu sudah sampai dengan selamat," ucap Danu.
Lagipula bukannya kecewa, Danu malah merasa kalau ia sangat beruntung kalau oleh-oleh Mia sampai kemalingan begitu. Jadi keluarganya aman dari sakit perut seperti saat itu.
"Makasih ya mas. Nanti Mia janji kalau ke Bandung lagi, gak bakalan ketiduran di bis biar gak kemalingan lagi," ucap Mia.
Danu hanya mengangguk dan membawa Mia turun untuk bertemu dengan Nyonya Nathalie dan Tuan Ferdinan. Namun setelah Danu sampai ke lantai bawah, orang tuanya sudah tidak ada.
"Mami sama Papi kemana?" tanya Danu pada Mia.
"Ih, mana Mia tahu. Mia kan baru sampai mas," ucap Mia.
"Memangnya tadi pas kamu sampai belum bertemu mami sama papi?" tanya Danu.
Mia menggeleng. Jadi ketika sampai ke rumah Danu, Tuan Ferdinan dan Nyonya Nathalie sudah masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Salah satu asisten rumah tangga yang menyambut kedatangan Mia, akan mengantarkan Mia ke kamar Nyonya Natahalie dan Tuan Ferdinan. Mia menolaknya karena takut mengganggu waktu istirahat mereka. Mia lebih memilih untuk menemui Danu terlebih dahulu sebelum ia tidur.
"Kamu istirahat ya! Ini sudah malam. Kamu pasti lelah dan ingin segera beristirahat," ucap Danu.
"Iya sih mas. Mia lelah. Ngantuk," ucap Mia sambil menutup mulutnya saat menguap di depan Danu.
Danu menggeleng dan segera memanggil salah satu asistennya untuk menyiapakna kamar tamu untuk Mia.
"Tidur yang nyenyak ya!" ucap Danu sambil menutupi tubuh Mia dengan selimut sampai batas dadanya.
"Makasih banyak ya mas," ucap Mia.
Danu keluar dari kamar Mia dan segera kembali ke kamarnya. Ia benar-benar merasa sangat bahagia dengan kehadiran Mia saat ini. Danu bahkan nampak seperti ABG yang tengah kasmaran. Senyum yang merekah itu tak lepas menghiasi bibirnya walaupun ia tengah sendirian. Senyuman itu berhenti setelah ia terlelap.
Pagi sekali Danu sudah bangun dan segera membersihkan tubuhnya. Hari ini Danu bangun lebih awal karena ia merasa semangatnya sudah full. Danu segera turun untuk menemui Mia. Rasa rindu itu masih menggebu. Hingga menyingkirkan rasa ngantuknya. Padahal malam tadi Danu tidur lebih larut, namun karena ia ingin segera bertemu dengan Mia ia bisa bangun lebih pagi.
Danu yakin Mia pasti sudah bangun. Mia adalah wanita yang selalu semangat. Bangun lebih awal dan tidak pernah berhenti beraktivitas sampai semua pekerjaannya selesai. Tapi tidak untuk di rumah Danu. Ada banyak asisten rumah tangga dengan tugasnya masing-masing. Jadi Mia bisa menemani Danu untuk sekedar menghabiskan waktu pagi ini.
Danu mengedarkan pandangannya ke setiap ruangan yang dilaluinya. Dimana Mia? Wanita itu tidak terlihat batang hidungnya. Danu melihat ke dapur, biasanya Mia akan masak atau mencuci piring. Tidak ada? Apa mungkin dia belum bangun? Rasanya Danu tidak percaya kalau Mia belum bangun.
Apa mungkin kejadian yang ia alami semalam adalah sebuah mimpi? Tapi Danu yakin betul kalau semua itu adalah kenyataan. Danu tidak tahu bagaimana kecewanya ia jika saja semua itu hanyalah sebuah mimpi.
Rasa penasarannya sangat besar hingga ia menyingkirkan gengsinya yang besar itu, untuk bertanay tentang keberadaan Mia pada asisten rumah tangganya.
Yes! Semuanya nyata. Mia memang ada di rumahnya. Tapi kenapa dia belum bangun? Tidak seperti biasanya. Danu mencoba memasang wajah datar meskipun hatinya dipenuhi rasa penasaran.
Tiga puluh menit sudah berlalu namun Danu masih belum juga melihat Mia keluar dari kamarnya. Rasa penasaran itu kini berubah menjadi rasa khawatir yang mendalam. Danu harus melihat kondisi Mia.
Danu sudah berjalan mendekat ke arah kamar Mia. Tangannya sudah menyentuh gagang pintu, namun nyalinya hilang seketika. Bagaimanapun ia tidak mau harga dirinya runtuh di hadapan Mia. Danu tidak ingin melihat Mia menang saat melihat ia sedang merindukannya.
Danu mengurungkan niatnya dan kembali duduk di sofa yang tak jauh dari kamar Mia. Danu sengaja duduk di bagian sofa yang menghadap ke kamar Mia. Jadi Danu bisa tahu saat Mia sudah keluar dari kamarnya.
Danu memainkan ponselnya untuk menghilangkan kejenuhannya. Sesekali matanya melihat ke arah pintu kamar Mia yang masih tertutup rapat.
Danu melihat layar ponselnya. Sudah jam enam, tapi Mia masih belum bangun? Danu ingat kalau Mia sudah melakukan perjalanan selama tujuh belas jam dari Bandung ke Jakarta hanya gara-gara kemalingan jengkol.
Danu merasa perutnya mendadak mules. Ia segera kembali ke kamarnya untuk menuntaskan panggilan alam pagi itu. Setelah selesai, Danu berniat untuk kembali lagi ke bawah. Ia akan menunggu agar menjadi orang pertama yang Mia lihat saat bangun tidur.
Saat ia turun, salah satu asisten rumah tangga itu tiba-tiba saja memberikan jawaban atas pertanyaan yang ia simpan dalam hatinya, walaupun Danu tidak mengutarakannya.
"Maaf Tuan, tapi sepertinya Nona Mia belum bangun. Pintunya masih tertutup," ucap salah satu asisten rumah tangganya.
Danu merasa sangat gengsi saat mendengar semua itu. Apakah wajahnya terlihat sangat merindukan Mia? Tidak! Ini tidak boleh terjadi.
"Siapa yang nanya Mia? Aku turun untuk mengecek kondisi mobilku," jawab Danu sambil melenggang meninggalkan asisten rumah tangganya.
Permintaan maaf belum sempat terucap dari salah satu asisten rumah tangga itu, karena Danu berjalan lebih cepat meninggalkannya. Mengecek kondisi mobil? Sejak kapan Danu melakukan tugas itu? Itu bukan kebiasaan Danu sama sekali.
Danu bingung ketika masuk ke dalam mobilnya. Apa yang harus ia lakukan? Tiba-tiba saja Pak Herman sopir pribadinya mengetuk kaca mobilnya yang gelap. Danu membuka kaca mobil itu, "Ada apa?" tanya Danu.
"Maaf Tuan mau kemana? Biar saya yang antar. Ini masih pagi. Saya khawatir Tuan masih nagntuk," ucap Pak Herman.
Ya, jam setengah tujuh itu memang masih pagi bagi Danu. Biasanya Danu akan bangun jam tujuh pagi. Itupun kalau sudah Nyonya Nathalie yang turun tangan.
"Aku gak kemana-mana Pak. Aku hanya ingin mengambil sesuatu di sini," jawab Danu yang mencoba mengeles.
JEDAK
__ADS_1
"Aw,, sakit." Danu menggosok kepalanya yang kejedot mobilnya saat ia akan keluar karena menengar teriakan ibunya.
"Aaaaa,, hantuuuu. Papi toloooong. Ada hantuuuu," teriak Nyonya Nathalie yang berhasil menghebohkan seisi rumah pagi itu.
Tidak terkecuali Danu. Masih dengan tangan yang menggosok kepalanya, Danu menghampiri ibunya untuk melihat apa yang terjadi.
Nampak Nyonya Nathalie sedang memeluk Tuan Ferdinan dalam kondisi menjerit histeris. Tuan Ferdinan masih berusaha untuk menenangkan istrinya yang terlihat sangat pucat.
"Mami, ini Mia." Mia berusaha menenangkan Nyonya Nathalie.
Nyonya Nathalie diam seketika saat mendengar nama Mia.
"Mia?" ucap Nyonya Nathalie tidak percaya.
"Iya, ini Mia." Mia menepuk dadanya untuk meyakinkan Nyonya Nathalie.
"Mia, kamu ngapain mukanya putih begitu? Kamu maskeran?" tanya Nyonya Nathalie.
"Iya Mi. Kemarin seharian Mia udah ngejar maling, Mia yakin wajah Mia pasti penuh debu. Jadi Mia maskeran biar bersih lagi mukanya," ucap Mia dengan santai.
Wajar saja jika Nyonya Nahalie ketakutan melihat keadaan Mia. Wajahnya yang masih putih karena masker, belum lagi rambutnya yang acak-acakkan. Nyonya Nathalie juga tidak tahu kedatangan Mia ke rumahnya hingga tidak berpikir kalau Mia memang ada di sana.
"Ngejar maling dimana Mia? Kamu kemalingan? Tapi kamu gak di apa-apain, kan?" tanya Nyonya Nathalie sambil memutar tubuh Mia, untuk memastikan tidak terjadi apapun ada Mia.
Mia hanya menggeleng, menahan pusing karena ulah Nyonya Nathalie.
"Mia? ini beneran kamu?" tanya Nyonya Nathalie meyakinkan dirinya lagi.
"Iya, ini Mia." Mia mengulurkan tangannya untuk salaman.
Dengan ragu, Nyonya Nathalie mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Mia.
"Kamu kalau udah pakai masker ya cuci muka dulu. Di dalam kan ada kamar mandi. Kenapa kamu malah keluar?" tanya Nyonya Nathalie kesal.
"Mia haus Mi. Tenggorokan Mia kering. Mia lupa pas mau tidur gak minum dulu. Makanya Mia mau ke dapur," jawab Mia.
Nyonya Nathalie langsung memeluk Mia untuk melepaskan kerinduan di hatinya. Mia segera melepaskan pelukan Nyonya Nathalie saat melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 06.50.
"Mia kesiangan ya?" tanya Mia panik.
"Memangnya kenapa? Kamu mau kemana lagi?" tanya Danu.
"Harusnya jam tujuh, Mia sudah ada di kantor," ucap Mia.
"Kamu baru sampai. Istirahat saja, jangan mikirin kerjaan dulu!" ucap Nyonya Nathalie.
Lagipula ada hal yang belum Mia ceritakan padanya. Kenapa Mia bisa sampai kemalingan dan jam berapa Mia sampai ke rumahnya.
"Jadi Mia libur?" tanya Mia.
"Iya. Tapi kamu jawab dulu pertanyaan Mami," pinta Nyonya Nathalie.
"Mia boleh minum dulu gak? Mia haus Mi," ucap Mia memegang tenggorokannya.
"Boleh. Biiii, ambilkan minum!" ucap Nyonya Nathalie setengah berteriak.
Mia langsung meneguk habis air dalam gelas yang diberikan padanya.
"Jadi gini Mi --" ucapan Mia terhenti saat Tuan Ferdinan memotongnya.
"Mandi dulu! Paling tidak bersikah dulu wajahmu," ucap Tuan Ferdinan.
Mia mengatupkan bibirnya dan mengangguk. Kemudian ia mandi dan segera menemui nyonya Nathalie kembali untuk menjawab semua pertanyaan yang masih menjadi PR baginya.
###################
Hayuuukkk jempolnya tap like, love, vote, rate bintang 5 ya..
Jempolmu, semangatku.
Terima kasih yang sudah membaca novel ini. Kalau ada waktu boleh mampir ke novelku yang lain. Klik profil aku aja ya!
__ADS_1
Happy reading...