Janda Bersegel

Janda Bersegel
Penyesalan


__ADS_3

Pagi ini semua sudah mandi dan tengah membantu Mia menyusui bayi kembarnya bergantian. Karena ASI Mia yang tidak mencukupi untuk kebutuhan bayi kembarnya, waktu menyusui juga tidak lama. Bayi kembar itu akan diberikan susu formula untuk mengenyangkannya.


"Di, Dokter ke sini jam berapa?" tanya Tuan Wira.


Dion melihat jam pada pergelangan tangannya.


"Sebentar lagi Pa," jawab Dion.


"Jam berapa ya?" tanya Tuan Wira.


"Papa kalau mau ke kantor, duluan aja. Nanti Mia bisa aku urus kok," ucap Dion.


"Ah gak Di. Apa sudah ada orang yang handle kok. Eh kita ngobrol di luar sebentar, ada yang mau Papa bicarakan. Mia kan ada Mama," ucap Tuan Wira.


Setelah izin pada Mia dan Nyonya Helen, Dion mengangguk dan mengikuti Tuan Wira ke luar.


"Duduk di sini!" ucap Tuan Wira menepuk bangku di sebelahnya.


Dion berjalan mendekat dan duduk di samping Tuan Wira.


"Di, bukannya istri Reza juga pulang sekarang?" tanya Tuan Wira.


"Iya Pa. Sama seperti Mia, nunggu hasil pemeriksaan pagi ini. Kenapa?" tanya Dion.


"Dia mau pulang kemana?" tanya Tuan Wira.


"Aku udah siapin tempat kok Pa. Papa tenang aja. Cuma untuk sementara ini, aku belum siapin mobil buat Reza. Kasihan dia Pa," ucap Dion.


Tuan Wira menepuk bahu Dion dan mengangkat jempol tangannya. Ia bangga pada sikap anaknya yang sangat peduli pada Reza. Setelah Tuan Wira mendengar cerita tentang Reza, hatinyan ikut sakit. Tapi sebagai seorang ayah, ia juga tidak menyalahkan sikap orang tua Reza sepenuhnya. Mungkin ada alasan tersendiri bagi keluarganya menolak kehadiran Maya.


Dion sangat bersyukur atas kehadiran Mia yang diterima baik oleh orang tuanya. Beruntung Dion karena orang tuanya tidak pernah memandang siapa keluarga Mia dan bagaimana statusnya. Tuan Wira dan Nyonya Helen menerima Mia apa adanya Mia.


"Di, kamu udah omongin tentang penugasan Reza ke Surabaya?" tanya Tuan Wira.


Dion menggeleng. Ia melihat raut kecewa pada wajah Tuan Wira. Ayahnya yang sangat berharap segera ada yang menggantikan Dion di Surabaya, harus lebih bersabar lagi. Masih ia yang harus ke sana ke sini mengurus perusahaan itu.


"Gak apa-apa," ucap Tuan Wira setelah mendengar Dion meminta maaf.


"Pa, nanti kalau pengobatan Maya sudah benar-benar selesai, aku pasti bicara pada Reza. Sekarang Maya masih harus kontrol untuk pemulihannya. Aku harap Papa ngerti," ucap Dion


"Iya Di. Oh ya, urusan mobil biar nanti Papa atur. Biar Reza bisa lebih mudah saat kemana-mana," ucap Tuan Wira.


"Terima kasih Pa," ucap Dion


Dion dan Tuan Wira masih duduk di bangku depan ruangan Mia. Keduanya terlihat masih sedang mengobrol hangat, sampai akhirnya Dokter menyaksikan keasyikan keduanya.


Mereka bisa akur juga ya? Aku fikir mereka akan tetap berdebat dari pagi sampai pagi.


Dokter itu tersenyum menahan tawanya lalu menggelengkan kepalanya. Mengusap wajahnya dan segera menghampiri keduanya.


"Permisi," sapa Dokter.


"Eh iya Dokter. Kami sudah menunggu," ucap Dion.


Menunggu? Memangnya kalian tidak punya jam? Kan aku udah kasih tahu jadwal kontrolku jam berapa.


"Maaf sudah membuat Anda menunggu, Tuan." Dokter itu menunduk hormat.


"Ah, tidak apa. Ayo masuk Dok!" ucap Dion.


Ketika masuk ke dalam ruangan, nampak Mia sudah duduk bersandar di atas ranjangnya dengan selang infus masih terpasang di tangan kanannya.


"Dok," sapa Mia.


"Pagi Nyonya Mia. Bagaimana ada keluhan?" tanya Dokter.


"Gak ada Dok. Mia hanya sedih karena ASI Mia hanya sedikit," jawab Mia.


"Kita hanya bisa berusaha semaksimal mungkin Nyonya. Saya sudah memberikan resep terbaik untuk Anda," ucap Dokter.


"Iya Dok," ucap Mia.


Nyonya Helen mengusap kepala Mia. Menenangkan Mia setiap sedih saat ASInya tidak sebanyak yang Mia harapkan. Ia selalu mengingatkan Mia kalau ASI itu rejeki dari Tuhan. Tugas Mia hanya berusaha dan berdoa. Sisanya hanya syukur dan sabar. Saat ini saat apa yang Mia harapkan belum sesuai harapannya, hanya sabar yang harus Mia lakukan.


"minum susu formula juga bukan berarti kamu tidak bertanggung jawab pada anak-anakmu," timpal Tuan Wira.

__ADS_1


Mia mengangguk dan menunduk. Ia berusaha menyembunyikan air matanya yang nyaris jatuh saat mengingat kata tanggung jawab. Kebiasaannya di kampung membuat Mia merasa tidak bertangung jawab saat kedua bayi kembarnya sedang meminum susu formula.


"Mi, semakin kamu stres maka itu akan semakin memperburuk keadaan ASI kamu. Kamu harus tenang dan bahagia," ucap Dion.


"Iya Mi, lagi pula kamu bukan tidak menyusui anak-anakmu. Mereka tetap menyusu padamu," ucap Nyonya Helen.


"Lagi pula bukan cuma bayi kembar, tuh dia juga lagi nunggu giliran kayaknya." Mata Tuan Wira mengarah pada Dion yang sejak tadi berada di samping Mia.


"Papaaaaa," ucap Nyonya Helen sembari mencubit tngan Tuan Wira.


"Eh Mama, sakit tahu." Tuan Wira meringis sembari mengusap-usap tangannya yang kena cubit.


"Lagian Papa kalau ngomong suka sembarangan deh," ucap Nyonya Helen.


Mia hanya tersenyum malu mendengar kedua mertuanya. Sedangkan dokter yang tengah memeriksa Mia hanya menahan tawanya dan menggelengkan kepalanya. Entah sudah keberapa kali Dokter itu harus menggeleng-gelengkan kepalanya, dengan tingkah keluarga Tuan Wira.


Lama-lama leher aku longgar nih kalau terus-terusan mendengar kekonyolan keluarga ini. Ampuuuun!


"Hasil pemeriksaannya bagus. Nyonya Mia bisa pulng hari ini. Nanti saya kabari ya jadwal kontrolnya," ucap Dokter.


"Siap Dokter. Terima kasih ya untuk semua yang Dokter lakukan selama ini," ucap Mia.


"Sama-sama Nyonya. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan ya! Hubungi saya," ucap Dokter.


Mia tersenyum. Ya, selama ia mendapat tindakan dan perawatan di rumah sakit itu, Mia selalu puas dengan semuanya. Alat medis yang lengkap dan canggih serta orang-orang yang profesional. Mereka yang ramah dan sopan membuat Mia senang dengan proses persalinn bayi kembarnya.


Berkemas dan siap bawa dua orang perawat yang akan bekerja di rumah Dion. Ia akan pastikan kalau perawatan Mia dan bayi kembarnya dilakukan oleh orang yang tepat. Saat mereka akan keluar dari rumah sakit, Dion berpapasan dengan Reza.


"Di, pulang sekarang?" tanya Reza.


"Eh iya Za. Gimana Maya?" tanya Dion.


"Pulang. Ini aku baru nebus resep dari apotek. Mia sekali lagi selamat ya! Salam dari Maya," ucap Reza.


"Iya Za. Salam juga buat Maya. Maaf Mia gak sempat nengok lagi. Nanti kalau Mia udah benar-benar pulih, Mia main ya ke rumah kalian. Mia pulang duluan ya Za!" ucap Mia.


"Iya, hati-hati." Reza menepuk bahu Dion.


"Nanti sopir aku nunggu di sini. Kalian pulang diantar dia ya!" ucap Dion menunjuk salah satu sopirnya.


Sementara Dion pulang dengan sopir Tuan Wira.


Reza mengangguk hormat dan tersenyum. Mengantarkan keluarga Dion hingga parkiran dan memastikan mereka benar-benar pergi dari rumah sakit itu.


Sopir yang Dion siapkan untuk Reza mengangguk hormat dan mengikuti Reza ke ruangan Maya. Membantu Reza membawa barang-barang yang akan mereka bawa pulang.


"Terima kasih," ucap Maya dan Reza bersamaan saat mobil terparkir di depan rumah asing yang tidak Reza ketahui sebelumnya.


"Sama-sama. Saya permisi," ucap sopir.


Reza dan Maya memasuki sebuah rumah yang tidak terlalu besar dan tidak begitu mewah jika dibandingkan dengan rumah Dion.


"Ini rumah siapa?" tanya Maya.


"Rumah kita. Kamu gak suka?" tanya Reza.


"Suka. Rumahnya bagus," ucap Maya.


Maya yang memang berasal dari keluarga sederhana memang satu tipe dengan Mia. Rumah itu tidak semewah rumah Dion dan Reza namun sangat istimewa bagi Mia dan Maya.


Bahkan Reza tidak tahu kalau rumah itu adalah rumah impian bagi Mia. Dion terlihat gelisah saat mobil yang membawa mereka semakin dekat menuju rumah.


Mia. Bagaimanapun istrinya pasti akan ingat tentang rumah itu. Dion sudah bersiap jika Mia akan memarahinya saat ingat kembali rumah itu. Rumah yang sudah ia berikan pada Reza tanpa berunding dulu dengan Mia.


Mobil terparkir di depan rumah mewah milik Tuan Wira. Beberapa pelayan dan pekerja lainnya berbaris menyambut kedatangan anggota baru di keluarga mereka.


Mia mengangguk dengan senyum manis saat melewati beberapa pekerja dan pelayan yang menyambutnya. Dion masih mengamati sikap Mia. Ia menerka apa yang ada di kepala istrinya. Tidak ada yang mencurigakan sebenarnya. Hanya perasaan bersalah Dion membuatnya tidak enak hati pada Mia.


Sesampainya di kamar, Dion membantu Mia untuk merebahkan tubuhnya. Untuk saat ini, Dion memisahkan kamar bayi kembarnya. Ia ingin agar Mia benar-benar pulih dulu. Untuk jadwal menyusu, perawat akan mengantarnya ketika waktunya sudah tiba.


"A, kenapa bayi kembarnya gak tidur di sini sih?" tanya Mia.


"Kamu belum pulih benar Mi. Biarkan perawat menjaga bayi kembar kita. Kalau bayi kembar tidur di sini, maka perawat juga akan tidur di sini. Kamu mau kita semua satu kamar? Nanti aku kayak kanjeng doso yang punya tiga istri," ucap Dion.


"Aaaaaa," teriak Mia sembari memukul tangan Dion.

__ADS_1


"Aduh sakit Mi," ucap Dion.


"Makanya kalau ngomong itu hati-hati. Jangan seenak jidat," ucap Mia kesal.


Becanda Dion dianggap serius oleh Mia saat hormon Mia sedang tidak stabil. Ia yang sensitif merasa sakit hati saat mendengar ucapan Dion.


"Ya ampun Mi. Aku kan cuma becanda. Kamu kok serius banget sih?" ucap Dion.


Mia tidak merespon ucapan Dion. Ia malah memejamkan matanya dan menarik selimutnya Dion menghela nafas panjang dan beranjak dari ranjang. Ia duduk di atas sofa. Sebentar ia mengamati Mia, namun Mia masih belum melunak. Akhirnya Dion memainkan ponselnya dan mengecek email masuk. Ada beberapa jadwal dan pekerjaan yang sudah diagendakan untuknya.


Untuk menyicil pekerjaannya, Dion keluar dari kamarnya dan menuju ruang kerja. Ia membuka laptop dan mengerjakan sebagian pekerjaan yang bisa ia kerjakan di rumah.


Dion menghentikan pekerjaannya saat mendengar suara ribut-ribut dari ruangan depan. Menggeser laptop dan mencoba mencari tahu apa yang terjadi.


"Ma, ada apa?" tanya Dion.


Dion terkejut saat melihat ibunya sedang berdebat dengan Nyonya Nathalie.


"Dia benar-benar lancang! Suruh dia keluar sekarang juga!" teriak Nyonya Helen.


"Tapi saya tidak bermaksud seperti itu," ucap Nyonya Nathalie membela diri.


Kabar kelahiran bayi kembar Mia dan Dion sampai juga ke telinga Nyonya Nathalie. Ia dengan niat baik pergi ke rumah sakit. Namun karena Mia sudah pulang, akhirnya ia pergi ke rumah Nyonya Helen untuk menjenguk Mia.


Kesalahfahaman terjadi saat Nyonya Nathalie mengucapkan cucuku. Nyonya Helen yang tidak sempat bertanya apa maksud ucapan Nyonya Nathalie sudah terlanjur tersinggung dengan ucapan Nyonya Nathalie.


"Kamu fikir Mia wanita seperti apa? Jelas-jelas Mia itu mengandung anak Dion, bukan anak Danu. Jangan macam-macam kamu," ucap Nyonya Helen dengan berapi-api.


Dion juga sama. Tersinggung, bahkan lebih tersinggung dari Nyonya Helen. Namun saat ini ia sedang berusaha menenangkan ibunya, hingga sebisa mungkin ia menyingkirkan segala rasa yang berkecamuk dalam dirinya.


"Ma, sudahlah. Jangan teriak-teriak. Ingat bayi kembar lagi tidur. Mia juga lagi istirahat. Dan Anda Nyonya (Tunjuk Dion pada Nyonya Nathalie) lebih baik Anda pulang saja," ucap Dion.


"Tapi saya mau bertemu dengan Mia dan bayi kembarnya. Saya sama sekali tidak bermaksud seperti itu. Saya hanya menganggap mereka cucu saya juga. Maaf jika ucapan saya menyinggung Nyonya Helen. Tapi saya mohon izinkan saya untuk melihat bayi kembar kalian. Pasti sangat lucu," ucap Nyonya Nathalie.


Wajar mungkin jika Nyonya Helen yang menyayangi Mia, tersinggung hanya dengan ucapan 'cucuku' pada bayi kembar Mia dan Dion. Bagi Nyonya Helen, kata itu seolah diartikan kalau bayi kembar itu cucu Nyonya Nathalie, bukan cucunya. Artinya Mia mengandung anak Danu, bukan anak Dion. Kesimpulan Nyonya Helen bukan tanpa alasan. Dulu Nyonya Nathalie bahkan sempat meragukan bayi yang Mia kandung adalah anak Dion.


"Mereka memang sangat lucu. Saya yakin Anda pasti iri kan dengan kebahagiaan Mia dan Dion. Lebih baik Anda urus saja anak Anda yang belum move on itu. Bilang padanya berhenti mengharapkan Mia. Mia sudah Bahagia dengan Dion," ucap Nyonya Helen.


Nyonya Nathalie menggenggam erat parsel buah yang da di tangannya. Bagaimanapun juga Danu adalah anaknya. Ia tersinggung saat Nyonya Helen menyudutkan anaknya. Danu memang belum menikah lagi sampai saat ini Mungkin juga Danu memang belum move on, tapi anaknya tidak mungkin mengganggu rumah tangga Mia.


Debat keduanya kembali memanas saat Nyonya Nathalie membela diri dan anaknya. Hingga suasana kembali memanas. Dion berusaha melerai keduanya meskipun kepalanya sakit saat melihat dan mendengar ocehan dua wanita yang ada di hadapannya.


"Nyonya," panggil Mia.


Saat mendengar keributan di luar, Mia segera melihat keadaan di sana. Memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Mia terkejut saat melihat kehadiran Nyonya Nathalie di rumah itu.


"Mia, selamat buat kelahiran bayi kembarnya!" ucap Nyonya Nathalie.


"Terima kasih," ucap Mia.


Nyonya Nathalie menyimpan parselnya di atas meja sedangkan ia memeluk Mia dengan erat. mia semakin terkejut dengan sikap Nyonya Nathalie yang berubah seratus delapan puluh derajat. Entah kenapa Mia justru merasa pelukan itu sangat tulus. Tak terasa batin Mia rapuh. Ia sangat bahagia saat Nyonya Nathalie kembali menjadi Nyonya Nathalie pertama kali mereka bertemu.


"Sudah!" ucap Nyonya Helen melepaskan pelukan Mia.


Mia ditarik dari pelukan Nyonya Nathalie. Rasanya Nyonya Helen tidak rela jika kasih sayang Mia terbagi dengan Nyonya Nathalie.


"Ma," ucap Mia.


"Kamu pilih dia atau Mama?" tanya Nyonya Helen.


"Ma, kok nanyanya begitu?" tanya Mia.


Melihat Mia merasa tertekan, Nyonya Nathalie pamit untuk pulang meskipun ia belum bertemu dengan bayi kembar Mia.


Aku tahu sulit untuk membuat orang lain percaya kembali pada kita. Kini aku sadar kalau kepercayaan itu sangat mahal. Mia, selamat ya! Aku yakin bayi kalian pasti lucu. Seandainya dulu aku tidak egois, mungkin saat ini yang bahagia itu aku dan Danu. Mi, maafin aku. Aku benar-benar menyesal.


######################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍

__ADS_1


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


Terima kasih..


__ADS_2