
Tuan Wira menarik tangan Nyonya Helen.
"Apaan sih Pa?" tanya Nyonya Helen.
"Besan kita siapa?" tanya Tuan Wira.
"Ah, panjang ceritanya. Nanti aja. Sekarang Mama mau nganterin jenazahnya dulu," ucap Nyonya Helen.
"Mia dikasih tahu?" tanya Tuan Wira.
"Belum," jawab Nyonya Helen.
"Kasih tahu Mia. Dia mau datang atau gak yang penting Mama kan udah kasih tahu. Dari pada Mia kecewa?" ucap Tuan Wira.
Nyonya Helen diam, ia berpikir. Ya, sebenci apapun Mia pada bapaknya tapi ini adalah hari terakhir. Nyonya Helen berlari mengejar Dion untuk memintanya mengabari Mia.
"Ma, hey kok Papa ditinggal?" teriak Tuan Wira.
Merasa dirinya tidak diajak, Tuan Wira lebih memilih untuk masuk kembali ke ruangan Tuan Felix. Tidak enak juga jika ditinggal sendiri. Masalah Pak Baskoro, biarlah ada istri dan anaknya. Mungkin Mia juga akan ke sana.
"Ada apa teriak-teriak?" tanya Tuan Felix.
"Besanku meninggal," jawab Tuan Wira.
"Besan?" tanya Tuan Felix.
"Iya. Kamu tahu besan apa?" tanya Tuan Wira.
"Ya, tahu. Artinya dia ayahnya Mia kan?" selidik Tuan Felix.
"Syukurlah kamu tahu. Jadi aku gak perlu cerita panjang lebar," ucap Tuan Wira sembari mengusap dadanya.
"Kenapa kamu di sini?" tanya Tuan Felix.
"Ada istri dan anakku yang ke sana. Aku di sini saja," jawab Tuan Wira.
"No. Berangkat ke sana. Biarkan aku sendiri. Aku tidak masalah. Jangan buat Mia kecewa hanya karena berpikir tidak ada yang peduli pada keluarganya," ucap Tuan Felix.
"Ah, Mia aja belum tentu peduli sama bapaknya." ucap Tuan Wira.
Belum tentu peduli? Benarkah Mia setega itu? Kepala Tuan Felix tidak menerima dengan dugaan itu. Bila saja Mia bisa berteriak seperti orang gila hanya untuk membantunya, mana mungkin Mia bisa tidak peduli dengan kematian bapaknya sendiri?
"Loh, Mia itu kan anak yang baik. Mana mungkin ia tidak peduli? Lagi pula seburuk apapun orang tuanya, dia tetap orang tua Mia. Kamu pergi sana!" ucap Tuan Felix.
"Hiih, kamu gak tahu sih ceritanya." Tuan Wira berdecak kesal.
"Memangnya gimana?" tanya Tuan Felix.
"Sebenarnya aku belum tahu ceritanya. Aku gak ngerti kenapa ada besanku di sini. Tapi aku lihat anak yang kemarin donor darah juga ada di sana," ucap Tuan Wira.
"Apa mungkin dia adiknya Mia?" tanya Tuan Felix.
__ADS_1
"Masa gak mirip," sanggah Tuan Wira.
Iya, memang wajah Mia yang lebih kental seperti orang luar negeri, berbeda dengan Rian yang nampak sangat asli Indonesia.
"Eh tapi Mia bukan anak bapaknya sih," celetuk Tuan Wira.
"Hah?" tanya Tuan Felix antusias.
Aduh ini bibir kenapa lemes begini ya? Itu kan aib menantuku. Kenapa aku harus umbar di depan si Felix sih?
"Gak, bukan apa-apa. Eh aku keluar sebentar ya!" ucap Tuan Wira.
Begitulah cara ninja Tuan Wira. Saat ia tidak punya jawaban untuk menjelaskan pada Tuan Felix, maka yang ia lakukan adalah kabur.
Dalam kesendirian, Tuan Felix memutar kembali ucapan sahabatnya itu.
"Mia bukan anak bapaknya? Berarti Mia anak siapa? Jangan terlalu percaya diri, nanti kamu kecewa sendiri, Felix. Mia belum tentu siapa-siapa bagiku," gumam Tuan Felix.
Bibirnya memang berucap seperti itu, tapi jauh di lubuk hatinya, semua bertolak belakang. Tuan Felix benar-benar berharap jika apa yang ada di kepalanya menjadi kenyataan. Jika kemarin semua harapannya tertutup rapat, tapi kali ini semua terbuka lebar.
Sementara Tuan Felix masih terus berharap, Rian yang kehilangan justu tengah kehilangan harapannya. Ia sendiri. Benar-benar sendiri.
"Rian," panggil Mia.
"Kak Mia," panngil Rian dengan suara gemetar.
Entah memiliki keberanian dari mana, meskipun sudah tahu apa yang terjadi antara Mia dengan Pak Baskoro, Rian memeluk Mia begitu erat. Mia juga kembali memeluk Rian dengan banjir air mata. Entah apa yang Mia tangisi. Entah memang karena kepergian Pak Baskoro, atau menangisi nasib anak yang ada dalam pelukannya itu.
Usai pemakaman, Mia ikut ke rumah Rian. Sakit, saat melihat foto Rian dengan Pak Baskiro terpampang jelas di tembok rumahnya.
"Bapak memang sering mabuk dan judi, tapi Bapak selalu baik padaku," jawab Rian.
"Apa kamu menyayangi Bapak?" tanya Mia.
"Apapun yang terjadi, Bapak adalah bapaknya Rian Kak. Darah daging Rian, tidak ada alasan bagi Rian untuk tidak menyayangi Bapak," ucap Rian.
Ucapan Rian terasa menghujam hatinya yang semakin sakit. Mia berpikir kalau memang benar Mia bukan anak kandung Pak Baskoro.
Lalu kalau bukan Bapak, siapa bapak kandung Mia?
Mia yang segera datang saat diberi tahu oleh Dion, ikut ke pemakaman Pak baskoro. Pria yang selama tujuh belas tahun hidup satu rumah dengannya. Namun tidak sekalipun menunjukkan kasih sayangnya pada Mia.
"Mi, kalau Rian Mama bawa pulang boleh?" tanya Nyonya Helen.
Nyonya Helen yang menginginkan banyak anak, rasanya akan senang jika Rian masuk ke dalam rumahnya. Namun sepertinya Mia tidak merespon keinginan Nyonya Helen.
"Mama," ucap Dion.
"Gak jadi," ucap Nyonya Helen.
Setelah Mia mencari tahu tentang semua yang terjadi antara Rian dan Pak Baskoro, Mia segera pamit untuk pulang. Tidak peduli apa yang akan dilakukan oleh Nyonya Helen pada Rian. Yang ia tahu saat ini hatinya sangat sakit. Betapa ia sama sekali tidak mendapat keadilan dari Pak Baskoro.
__ADS_1
"Kenapa Bapak gak bisa sayang sama Mia? Sementara Bapak bisa menyayangi Rian? Kenapa Bapak gak adil A?" teriak Mia.
Dion yang tengah menyetir dibuat panik dengan tangis Mia yang semakin menjadi-jadi. Dion menghentikan mobilnya dan memeluk Mia. Menenangkan istrinya.
"Mi, semua sudah terjadi. Akan ada alasan kenapa Bapakmu bersikap seperti itu," ucap Dion.
"Kenapa? Apa alasannya? Karena Mia anak haram? Begitu A?" teriak Mia.
"Mi, yang aku tahu kamu wanita baik. Berhenti bersikap seperti ini. Kamu gak sendiri. Ada aku di sini," ucap Dion.
Mia berusaha menenangkan dirinya sendiri. Mengiyakan apa yang diucapkan oleh suaminya kalau ia memang tidak sendiri. Biarlah Pak Baskoro tidak menyayangi dirinya, tapi sekarang ia mendapat kasih sayang dari keluarga barunya.
Melihat Mia semakin tenang, Dion kembali melajukan mobilnya. Ia memapah Mia untuk masuk ke dalam rumahnya. Tidak membawanya ke dalam kamar, Dion membawa Mia ke kamar Narendra dan Naura.
"Mereka butuh kamu. Senyum yang cantik ya?" ucap Dion.
Mia menatap Dion dan tesrsenyum. Ia tahu kalau ini adalah obat yang mujarab untuk semua rasa sedih. Menatap bola mata jernih yang selalu menatapnya penuh cinta.
"Kamu punya mereka Mia. Jangan pernah merasa sedih dan sendiri. Ingat ada dua malaikat kecil yang selalu menunggumu di rumah," ucap Dion mengingatkan.
"Terima kasih banyak ya A," ucap Mia.
Dion mengangguk dan keluar sebentar untuk mengganti baju. Sudah ada Nyonya Helen yang akan masuk ke dalam ruangan bayi. Namun Dion menahannya.
"Kenapa Mama gak boleh ketemu sama Mia? Mia masih marah sama Mama?" tanya Nyonya Helen.
"Gak begitu Ma. Tapi biarin aja dulu Mia tenang. Emosi Mia belum stabil," ucap Dion.
Nyonya Helen mengikuti Dion sampai ke depan pintu kamarnya.
"Mama mau ngapain?" tanya Dion.
"Mama salah ya Di? Aduh Mama tadi spontan aja kasian lihat Rian," ucap Nyonya Helen.
"Iya tapi Mama juga harus tahu gimana perasaan Mia. Dia lagi rapuh Ma. Kasih dia waktu ya!" ucap Dion.
"Mama mau minta maaf. Mama gak enak sama Mia. Mama juga janji gak bakal bawa Rian ke rumah ini kok," ucap Nyonya Helen.
"Ya tapi gak sekarang Ma. Mia baru aja tenang. Biarin aja dulu. Aku gak mau Mia kembali emosi. Kasihan dia," ucap Dion.
Nyonya Helen mengangguk dan kembali ke kamarnya. Ia duduk di sebuah kursi kecoklatan di sebuah ruangan besar. Ingatannya melayang pada semua kejadian di rumah sakit. Saat Rian memeluknya dengan tangisan.
"Dia pasti sendiri," gumam Nyonya Helen.
######################
Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
__ADS_1
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.