Janda Bersegel

Janda Bersegel
Upin ipin


__ADS_3

"Hey kalian kok ketawa-ketawa gak ngajak Mama sih?" ucap Nyonya Helen.


Mia dan Sindi diam. Mereka menoleh ke arah sumber suara.


"Mama," ucap Mia


"Nyonya," ucap Sindi.


"Kalian gak mau ngajak Mama?" tanya Nyonya Helen.


"Ya ampun Nyonya, silahkan masuk!" Sindi mempersilahkan Nyonya Helen untuk masuk ke kamarnya.


"Sini Ma!" ajak Mia.


Nyonya Helen masuk dan bergabung bersama mereka.


"Hai Nyonya, apa kabar?" tanya Rian.


"Hey, kamu. Kok gemukan?" tanya Nyonya Helen.


Ponsel Sindi yang sedang dipegang Mia, kini sudah berpindah tangan. Nyonya Helen memang sering berkomunikasi dengan Rian akhir-akhir ini, namun mereka tidak pernah video call. Nyonya Helen terkejut saat melihat tubuh Rian jauh lebih gemuk.


"Hehe, iya Nyonya." Rian malu-malu.


Tidak terasa sudah hampir tiga puluh menit mereka saling melepas rindu. Sampai akhirnya semua berteriak saat ponsel Sindi mati.


"Yaaaaaa," teriak Mia, Sindi, Nyonya Helen.


"Kamu ini gimana sih kok gak di charger?" tanya Nyonya Helen kesal.


Ini momen langka bagi Nyonya Helen. Ia begitu kecewa saat ponsel Sindi mati. Karena Rian jarang sekali bisa sesantai itu.


"Maaf Nyonya, aku lupa." Sindi berbohong.


Padahal sejak tadi pagi baterai ponselnya full, namun karena ia sibuk menghubungi Danu dan Rian, hingga ponselnya sudah mati.


"Ma, kita kan bisa nelepon lagi nanti. Atau Mia bawa ponsel dulu ya! Kita nelepon Rian lagi," ucap Mia.


"Gak usah," tolak Nyonya Helen menarik tangan Mia.


Mia yang sudah berdiri kembali duduk.


"Kenapa?" tanya Mia.


"Kapan-kapan aja. Sekarang Mama mau kita ngobrol bertiga," jawab Nyonya Helen.


"Mau ngobrol apa Ma?" tanya Mia.


"Soal Danu," jawab Nyonya Helen.


Dua wanita yang Nyonya Helen anggap sebagai anak kandungnya itu ditatap satu persatu. Bergantian dan dibandingkan. Ekspresi Mia jauh lebih santai. Bahkan Mia mengangguk dan tersenyum. Sedangkan Sindi hanya menunduk. Tangannya tidak diam. Bergerak tidak jelas. Terlihat begitu gugup.


Aduh kenapa Nyonya Helen bahas Danu sih?


"Mia, pendapat kamu tentang hubungan Danu sama Sindi gimana?" tanya Nyonya Helen.


"Tanggapan Mia?" tanya Mia.


"Iya," jawab Nyonya Helen.


Mia melihat ke arah Sindi. Sahabatnya itu masih terlihat gugup. Tetap menunduk dan tidak berani mengangkat wajahnya.


"Jujur aja awalnya Mia terkejut. Tapi Mia sih ikut seneng," ucap Mia.


Tangan Mia menggenggam tangan Sindi yang berkeringat dingin. Mia menenangkan Sindi. Ia ingin agar Mia lebih terbuka dan santai.


"Kamu percaya sama Danu?" tanya Nyonya Helen.


"Maksud Mama?" tanya Mia.


"Maaf ya Sin, tapi jujur aja Mama takut. Mama gak mau kalau anaknya si wewe gombel itu menyakiti Sindi. Mama gak mau Sindi dijadiin alat buat balas dendam," ucap Nyonya Helen.


"Mama," ucap Mia.


"Kenapa Mi? Wajar dong kalau Mama khawatir. Mama kan begini karena sayang sama Sindi. Mama gak mau Sindi kecewa dan sakit hati. Itu aja," ucap Nyonya Helen.


"Terima kasih Nyonya. Jujur sampai saat ini pun aku masih ragu," ucap Sindi.


"Sin, kamu jangan gitu dong. Modal awal dalam sebuah hubungan itu ya saling percaya," ucap Mia.


"Masalahnya Danu udah meyakinkan Sindi belum? Gimana mau percaya kalau dianya aja cuek," ucap Nyonya Helen.


"Ma, tapi kan Mas Danu udah nyusul Sindi ke Surabaya. Mas Danu juga udah meminta orang tuanya untuk mempersiapkan pernikahan untuk Sindi. Buktinya Merry dikirim ke sini kan?" ucap Mia.


Mia tidak berani menyebut nama Nyonya Nathalie di hadapan Nyonya Helen. Bisa-bisa ibu mertuanya itu marah padanya.


"Ih, Mia. Kamu malah bahas si gemulai itu. Mama gak suka ah," ucap Nyonya Helen.


"Tapi mau tidak mau kedatangannya jadi bukti keseriusan Mas Danu sama Sindi kan?" ucap Mia.


Nyonya Helen diam. Mungkin benar kata Mia, kedatangan Merry adalah salah satu bentuk keseriusan Danu untuk Sindi.


"Tapi Mas Danu gak tahu kalau ibunya mengirim Merry ke sini," ucap Sindi sedih.


"Tuh kan Mia. Ini gak bisa dibiarin. Mama harus buat perhitungan sama wewe gombel itu. Apa maksudnya? Mereka mau mempermainkan keluarga kita? Jangan harap," ucap Nyonya Helen berapi-api.


Mia menahan Nyonya Helen yang sudah berdiri dan siap untuk bertempur. Ia berusaha untuk menenangkan ibu mertuanya.


"Ma, tenang dulu dong. Kita gak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Bisa jadi Nyonya Nathalie sengaja menyiapkan ini sendiri. Mungkin ini salah satu kejutan atau hadiah untuk Sindi," ucap Mia.

__ADS_1


"Ah, kamu selalu aja membela dia Mia." Nyonya Helen kesal saat Mia menyebut nama musuh bebuyutannya itu.


"Ma, tapi Mia pernah hidup dengan Mas Danu. Mia tahu kalau saat ini Mas Danu sedang serius memperjuangkan cintanya," ucap Mia.


"Sebegitu mengenalnya kamu, sampai begitu yakin. Apa kamu masih mencintainya?" tanya Nyonya Helen.


"Astaga Mama, gak seperti itu. Mia hanya berpendapat aja. Menurut Mia, saat ini yang harus kita lakukan adalah mendukung hubungan Sindi. Bukankah kita ingin melihat Sindi bahagia?" tanya Mia.


"Sudahlah Mi. Kamu jangan terlalu membela Mas Danu. Nyonya Helen benar, Danu juga memang belum bicara apapun padaku. Bahkan mungkin tidak akan bicara apapun padaku," ucap Sindi.


"Sin, kamu jangan begitu. Optimis dong. Cinta itu harus diperjuangkan," ucap Mia.


"Cinta yang seperti apa dulu yang harus diperjuangkan," ucap Nyonya Helen.


"Permisi Nyonya," ucap salah satu pekerja di rumah itu.


"Ada apa?" tanya Nyonya Helen.


"Ada tamu ingin bertemu dengan Anda," jawab pekerja itu.


"Si Merry lagi?" tanya Nyonya Helen.


Wajah trauma terlihat jelas di wajah Nyonya Helen. Mia sedikit tersenyum melihat reaksi Nyonya Helen saat menyebut nama pria gemulai itu.


"Bukan Nyonya," jawab pekerja itu.


"Bukan? Terus siapa?" tanya Nyonya Helen.


"Maaf Nyonya, tapi saya tidak mengenalnya. Saat saya bertanya namanya tamunya tidak memberi tahu saya," jawab pekerja itu.


"Ya Tuhaaaan. Tamu siapa lagi sih? Hari libur ini benar-benar tidak menyenangkan," gerutu Nyonya Helen.


Pekerja itu menunduk hormat saat Nyonya Helen melewati dirinya. Tak lama ia pamit pada Mia dan Sindi untuk kembali bekerja.


"Siapa ya Sin?" tanya Mia.


Sindi hanya menggeleng. Ia tidak tahu dan sepertinya ia juga tidak mau tahu soal siapa tamu itu.


"Sin, kamu masih kepikiran soal bahasan Mama ya?" tanya Mia.


"Gak kok Mi," jawab Sindi yang berusaha menutupi kebohongannya.


"Mia tahu siapa kamu. Kamu lagi sedih. Jangan marah sama Mama ya! Mama begitu hanya karena sayang sama kamu. Mama gak mau kamu disakiti. Tapi Mia yakin Mas Danu gak mungkin nyakitin kamu kok," ucap Mia.


"Aku belum terlalu mengenal Danu," ucap Sindi.


Mia melihat banyak sekali keraguan di hati Sindi. Tidak salah, karena mereka belum lama saling mengenal. Selain itu, mereka juga jarang sekali bertemu.


"Dia baik. Aku tahu itu," ucap Mia.


"Aku gak tahu apa aku bisa menggantikan kamu atau tidak di rumah itu," ucap Sindi pesimis.


"Hey, kamu kenapa? Jangan selalu membandingkan dirimu dengan siapapun. Termasuk aku. Setiap orang berbeda Sin. Sementara aku hanya masa lalu. Kamu tidak akan bisa menggantikan Mia. Tapi kamu akan punya tempat tersendiri di rumah itu, di keluarga itu." Mia terus meyakinkan Sindi.


"Iya, terima kasih." Mia tersenyum.


Setelah pekerja itu pergi, senyum itu menjadi kerutan di dahi. Ia secara tidak langsung bertanya pada Sindi. Sindi yang mengerti pertanyaan Mia hanya menggelengkan kepala dengan wajah bingung.


"Ayo!" ajak Mia.


Sindi hanya mengikuti Mia saat tangannya ditarik keluar kamar. Langkah demi langkah membuat hati Sindi berdebar. Saat langkahnya semakin dekat, Sindi menghentikan langkahnya. Ia melihat Nyonya Nathalie dan Tuan Ferdinan di sana.


"Ayo Sin!" ajak Mia.


"I-iya Mi," jawab Sindi gugup.


Tangannya sudah mulai berkeringat dingin. Perasaannya sudah kacau. Sindi menggigit bibir bawahnya. Ia menunduk tidak berani mengangkat wajahnya.


"Sindii. Aku kangen banget sama kamu," teriak Nyonya Nathalie.


Sindi masih mematung saat Nyonya Nathalie memeluknya.


Mia tersenyum melihat Nyonya Nathalie yang memeluk Sindi begitu tulus.


"Mia," sapa Nyonya Nathalie.


Mia segera menghampiri Nyonya Nathalie dan mencium tangannya. Seketika Nyonya Nathalie menangis saat melihat Mia begitu menghargainya.


"Terima kasih Mia," ucap Nyonya Nathalie.


"Silahkan duduk Nyonya," ucap Mia.


Mia tidak merespon arah pembicaraan Nyonya Nathalie yang akan membahas masa lalu. Mia lebih memilih mengarahkan Nyonya Nathalie membahas tentang hubungan Sindi dan Danu saja.


"Sindi, kami datang untuk memintamu menjadi bagian dari keluarga kami. Apa kamu mau?" tanya Tuan Ferdinan.


DEG


Jantung Sindi seakan mau berhenti. Ia sama sekali tidak menyangka jika Tuan Ferdinan akan mengucapkan kalimat itu. Sebuah kalimat yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.


"Sin," ucap Mia.


"Eh," ucap Sindi.


Sindi mengangkat wajahnya dan melihat Tuan Ferdinan.


"Kamu mau kan?" pinta Tuan Ferdinan.


"Tapi Pak," ucap Sindi.

__ADS_1


"Sindi aku mohon. Jangan sampai menolak. Kamu mau kan?" pinta Nyonya Nathalie.


"Bu, tapi aku tidak punya apa-apa." Sindi pesimis.


Nyonya Helen dan Tuan Wira saling menatap, saat mendengar Sindi dengan polosnya memanggil calon mertuanya dengan sebutan bapak dan ibu.


"Sindi, kamu punya hati yang tulus. Kami butuh itu," ucap Nyonya Nathalie.


"Kamu sendiri tulus gak bilang begitu sama Sindi?" tanya Nyonya Helen.


"Ma," ucap Tuan Wira.


"Pa, Mama kan gak mau Sindi sampai dikecewakan. Kalau sampai mereka macam-macam sama Sindi, Mama maju paling depan." Nyonya Helen mengancam Nyonya Nathalie.


Ada rasa kesal saat mendengar ancaman Nyonya Helen. Tapi di sisi lain Nyonya Helen senang. Ancaman Nyonya Helen adalah bukti bahwa Sindi memang anak baik. Nyonya Helen saja sampai mati-matian membela Sindi padahal Sindi bukan siapa-siapanya.


Kalau Sindi bukan anak yang baik, tidak mungkin Nyonya Helen bisa membela Sindi seperti itu.


"Tidak perlu khawatir. Aku akan menjaga Sindi dengan baik. Aku akan membawanya ke rumahku dan menyayanginya sepenuh hati," ucap Nyonya Nathalie.


"Kamu mau mencuri Sindi dariku?" tanya Nyonya Helen.


"Siapa yang mencuri?" tanya Nyonya Nathalie.


"Kamu mau membawa Sindi seenaknya. Sudah jelas-jelas dia bersamaku lebih dulu," jawab Nyonya Helen.


"Aku hanya ingin memboyongnya sebagai menantuku," ucap Nyonya Nathalie.


"Sama saja. Itu hanya alasanmu untuk membawa Sindi menjauh dariku," ucap Nyonya Helen.


"Eh sudah-sudah. Ini kenapa jadi bertengkar begini sih?" ucap Tuan Wira.


"Dia nuduh Mami macam-macam Pi," ucap Nyonya Nathalie.


"Eh, dia yang duluan bikin gara-gara. Masa mau misahin Sindi sama aku," ucap Nyonya Helen.


Tuan Wira dan Tuan Ferdinan hanya saling menatap dan menggelengkan kepalanya. Kepalanya pusing melihat tingkah keduanya.


Ini gimana mau besanan kalau belum apa-apa udah ribut begini?


Danu gelisah melihat ibunya yang terus beradu pendapat dengan Nyonya Helen.


"Mi, kita kan ke sini niatnya mau melamar Sindi." Danu mencoba menengahi keduanya.


"Iya Mi. Jangan sampai Sindi menolak Danu karena takut punya ibu mertua galak," ucap Tuan Ferdinan.


Nyonya Helen tertawa mendengar ucapan Tuan Ferdinan. Mata Nyonya Nathalie menatap tidak suka pada Nyonya Helen.


"Apa? Mau marah? Tuan Ferdinan yang bilang, bukan aku." Nyonya Helen tersenyum puas.


"Papi sih," ucap Nyonya Nathalie kesal.


Dion meringis melihat kejadian ini. Baginya ini lamaran terunik sepanjang sejarah. Dimana calon besan berdebat tak kunjung usai. Dion hanya bergidik saat membayangkan ketika Danu dan Sindi menikah nanti.


Nanti mereka akan seperti upin ipin. Memakai baju yang sama dan duduk bersama. Tapi mereka tidak akan berhenti berdebat meskipun di hari spesial nanti.


"Aa kenapa?" tanya Mia.


"Gak," jawab Dion.


"Lagi bayangin Mama Helen dan Nyonya Nathalie berantem di hari pernikahan Sindi ya?" tanya Mia sembari berbisik.


"Ih, kok kamu tahu sih?" tanya Dion.


"Soalnya Mia juga mikirnya begitu sih A," jawab Sindi sembari tertawa pelan.


"Jadi gimana Sin?" tanya Tuan Wira.


"Aku, aku gak tahu Tuan." Sindi bingung.


Jujur saja Sindi masih ragu. Terlebih saat melihat Nyonya Nathalie yang terus berdebat dengan Nyonya Helen. Sisi Nyonya Nathalie yang belum Sindi ketahui sebelumnya.


"Kamu illfeel sama aku ya?" tanya Nyonya Nathalie saat melihat keraguan Sindi.


"Iya lah pasti," jawab Nyonya Helen.


"Ma," ucap Tuan Wira.


"Mia, bisa tolong bawa istriku untuk jalan-jalan mengelilingi rumah ini?" pinta Tuan Ferdinan.


"Papi," ucap Nyonya Nathalie.


"Makanya diam dong Mi," ucap Tuan Ferdinan.


"Mia, lebih baik kamu bawa Mama aja ya! Mungkin Mama mau belanja ke mall," ucap Wira.


Nyonya Helen yang sedang tertawa langsung memutar bola matanya dengan tidak suka. Sebuah cubitan mendarat di paha Tuan Wira.


"Aduh. Mama makanya diam dong. Mama mau lamaran Sindi gagal? Katanya mau lihat Sindi bahagia. Buktiin dong," ucap Tuan Wira.


Gagal? Mendengar kata itu membuat suasana hening. Bukan hanya Nyonya Helen. Nyonya Nathalie pun ikut bungkam. Ia takut mendengar kata itu.


#####################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..

__ADS_1


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


__ADS_2