Janda Bersegel

Janda Bersegel
Kamu kuat, Mia.


__ADS_3

Tetes air mata itu terua berjatuhan. Bahkan kini sudah membentuk aliran sungai di pipinya. Berkali-kali Mia mengusapnya namun air mata itu belum juga berhenti. Sekarang, tangisnya menjadi tersedu-sedu.


Saat menerima email itu, rasanya bercampur aduk. Mia merasa bahagia dan takut. Bahagia karena Tuan Ferdinan masih mengingatnya. Bahkan dari bahasa yang mertuanya kirimkan itu, Mia tidak melihat kebencian. Tapi Mia juga takut jika ternyata Tuan Ferdinan menemuinya bersama Nyonya Nathalie.


"Mi, Pi, bukan Mia yang berubah. Kalian yang berubah. Mia masih sangat menyayangi kalian. Bahkan mungkin hingga Mia menghembuskan napas terakhir saja, rasa sayang Mia tidak pernah berubah. Kalian yang memaksa Mia untuk berubah. Hanya karena Mia belum memiliki anak, kalian selalu menyudutkan Mia. Padahal Mas Danu sudah mengakui kalau mas Danu yang salah," gumam Mia.


Mia menghela nafas panjang. Berpikir kalau ini belum apa-apa. Mungkin ke depannya akan banyak sekali hal yang lebih dari ini. Mia harus bisa menghadapi mereka berdua. Tidak dengan membentak atau bermain kasar. Tapi seperti yang Kalin katakan, ia harus bermain cantik. Tetap terlihat berkelas tanpa harus berteriak dan memaki.


Telepon di ruangan Mia berdering, Mia tersadar dari lamunannya. Ia segera mengusap air matanya dan menjawab panggilan itu.


"Baik, akan segera saya selesaikan." Kalin menutup kembali teleponnya.


Mia kembali fokus pada laptop dan berkasnya. Ia menyingkirkan semua masalahnya dan kembali berkutat dengan pekerjaannya. Tapi ia menyadari, ketika beraktivitas, justru pikiran buruk dan kesedihan Mia perlahan memudar.


Mia menyadari, ini bukan perusahaannya. Kalin hanya berbaik hati mempercayakan jabatan ini pada Mia. Yang harus Mia lakukan adalah memberikan yang terbaik, agar Kalin tidak kecewa padanya.


"Selesai," ucap Mia.


Mia segera merapikan berkas yang harus dilaporkan hari ini. Bukan Kalin, bagian lain yang meminta laporan itu. Bukan karena Mia adalah orang bawaan Kalin, mereka memang benar-benar puas dengan hasil kerja Kalin.


"Terima kasih, Pak. Saya akan tetap berusaha untuk selalu belajar. Banyak hal yang harus saya pelajari," ucap Mia setelah mendapat pujian dari orang yang meminta laporan itu.


Mia kembali ke ruangannya setelah semua urusannya selesai. Kembali ke dalam ruangan itu, bayangan kehidupan masa lalunya mengisi ruang kepalanya lagi.


Ah tidak! Mia menggelengkan kepalanya. Mia harus fokus pada pekerjaan dan belajar mobil. Setelah itu, Mia akan mencari Danu di setiap pulang dari kantor. Tidak enak jika setiap hari Mia harus merepotkan Kalin untuk membantunya mencari Danu.


"Mas, tunggu Mia ya! Mia pasti cari mas. Mia sayang sama mas," ucap Mia dengan senyum lebar yang menghiasi bibirnya.


Usai jam kerja, Mia pamit pada Kalin untuk pulang.


"Aku antar ya!" ucap Kalin.


"Tidak usah Mia kan harus belajar mandiri," ucap Mia.


"Tapi ak--,"


"Sudahlah Kalin. Jangan selalu menganggap Mia seperti anak kecil. Mia bisa kok. Mia janji gak nebeng lagi sama tetangga. Suerrr," ucap Mia meyakinkan Kalin.


Kalin mengangguk. Benar! Kalin tidak bisa selamanya mengawasi Mia. Biarkan kali ini Mia belajar untuk mandiri. Lagi pula jarak kantor ke apartemennya tidak terlalu jauh. Dan ini masih siang. Kalin tidak perlu khawatir.


"Dadah Kalin," ucap Mia sambil berlalu meninggalkan Kalin.


Kalin membalas lambaian tangan Mia sampai akhirnya Mia tak terlihat lagi. Untuk hari ini, Kalin pulang lebih telat. Ada pekerjaan yang urgent dan harus selesai hari ini juga. Malam ini, laporan akan di kirim dan jika deal, besok Kalin akan meeting di perusahaan lain. Ya, lebih tepatnya perusahaan Tuan Ferdinan.


"Selesai," ucap Kalin sambil menggeliat karena badannya terasa sangat lelah.


Saat Kalin menggeliat, tak sengaja mata Kali. melihat jam yang menempel di dinding ruangannya.


"Jam enam?" ucap Kalin terkejut.


Kalin segera meraih ponselnya dan menghubungi Dev.


"Sayang, maaf ya aku belum sempat mengabarimu. Ada file yang harus aku kirim hari ini juga. Mau aku bawakan apa untuk makan malam?" tanya Kalin pada Dev.


Akhir-akhir ini Dev memang sudah tidak pernah mengunjungi kantor. Dev yang melihat Kalin sudah siap mengelola kantor tanpanya, mempercayakan semuanya pada Kalin. Sedangkan Dev sendiri tengah fokus mengurus bisnis barunya di luar kota. Seminggu sekali Dev akan pergi ke luar kota untuk melihatnya secara langsung. Namun jika sedang di sini, Dev akan memantau pekerjaannya melalui laptopnya.


"Sayang, sudahlah. Aku ingin mengajakmu makan malam di luar. Mau ya? Kamu tidak cape kan?" tanya Dev.


"Makan malam di luar?" tanya Kalin.


"Ya, tapi kalau kamu merasa lelah tidak usah. Lain kali saja," jawab Dev.


"Bukan begitu. Tapi ini malam selasa," ucap Kalin.


"Memangnya ada yang salah dengan malam selasa?" tanya Dev.


"Ti-tidak salah. Hanya saja kita tidak biasa makan malam di luar, pas malam selasa. Biasanya kan malam minggu," jawab Kalin.


"Sayang, aku maunya sekarang. Kamu juga mau kan?" tanya Dev.


"Mau dong," ucap Kalin senang. "Ajak Mia?" tanya Kalin.


"Tidak perlu. Lain kali saja. Sekarang, aku hanya ingin berdua denganmu," ucap Dev.


"Ah, Dev. Kamu apaan sih?" ucap Kalin merasa terharu.


Dev menyadari kalau semenjak membangun bisnis barunya, waktu bersama Kalin menjadi berkurang. Agar tetap harmonis, Dev harus pintar membuat momen indah bersama istrinya.


Kalin memang tidak pernah mengeluh tentang kesibukan Dev. Wanita yang terbiasa hidup sendiri itu, selalu terlihat tegar. Walaupun Dev tahu, sebagai wanita pasti ada sisi kesepian pada Kalin. Namun ia selalu bisa berusaha untuk menyembunyikannya.


Dengan hati yang bahagia, Kalin pulang menemui Dev. Mandi dan bersiap, karena Dev sudah menunggunya.


"Kamu cantik sekali," puji Dev.


"Dev, sudahlah. Jangan terus membuatku melayang tinggi begini. Kamu ada maunya ya?" tanya Kalin.


"Jangan buruk sangka begitu dong sayang. Aku hanya sedang merindukanmu saja," jawab Dev sambil memeluk Kalin.


"Dev," panggil Kalin.


"Hmmm," jawab Dev dengan masih memeluk tubuh Kalin.


"Ayo berangkat! Nanti kemalaman," ucap Kalin.

__ADS_1


"Oh ya ampun, waktu terasa begitu cepat. Ayo sayang!" ajak Dev sambil menggenggam tangan Kalin.


Kalin merasa ini bahagia, sangat bahagia. Ya meskipun agak aneh bagi Kalin. Tapi Kalin mengesampingkan itu, ia hanya merasa sedang sangat bahagia dengan sikap Dev yang sangat hangat.


"Sayang, mau makan dimana?" tanya Dev.


"Cafe X ya!" jawab Kalin.


"Boleh," jawab Dev.


Mobil terparkir di parkiran cafe X. Kalin menunjuk salah satu meja yang ingin ia tempati. Dev mengangguk dan mengikuti langkah Mia.


"Mau pesan apa?" tanya Dev.


Kalin menunjuk salah satu nama pada daftar menu. "Yang ini saja," ucap Kalin.


"Yang ini ya mba dua porsi," ucap Dev pada seorang pelayan di sana.


Pelayan itu mengangguk dan pergi. Tak lama, makanan yang dipesan sudah datang. Kalin menatap Dev dengan senyum yang merekah.


"Makasih ya!" ucap Kalin.


"Aku bahkan sudah lupa, ini ucapan terima kasih yang ke berapa kalinya untuk hari ini. Makanlah!" ucap Dev sambil mengusap kepala Kalin dengan penuh kasih sayang.


Mia dan Dev menikmati makan malam romantis di malam selasa. Mereka merasa ini adalah momen yang sangat istimewa. Saat mereka hampir selesai, tiba-tiba Kalin menutup mulutnya dengan kedua tangannya lalu menunduk. Setelah menguasai dirinya, Kalin memundukkan kepala Dev.


"Ada ap-,"


"Diam. Aku melihat Mia," bisik Kalin.


"Dimana?" ucap Dev dengan suara yang lebih pelan.


"Di samping meja kita," bisik Kalin. "Jangan dilihat sekarang. Jangan sampai Mia curiga pada kita. Aku hanya ingin tahu apa yang Mia sembunyikan dariku. Kenapa Mia tidak bilang padaku kalau dia akan makan malam di sini?" ucap Kalin.


"Sama siapa dia?" tanya Dev.


"Entahlah!" jawab Kalin.


"Apa dia sudah move on?" tanya Dev.


Mia menggelengkan kepalanya. "Apa mungkin dia janjian dengan tetangganya?" tanya Kalin.


"Tetangga yang mana?" tanya Dev.


Kalin menceritakan kalau Mia beberapa kali ikut bersama tetangga apartemennya. Kalin tidak terlalu menyukai pria itu, ia takut Mia dimanfaatkan oleh tetangganya.


"Aku harus hajar orang itu," ucap Dev kesal.


"Hey, jangan bodoh Dev. Ini tempat umum," cegah Kalin.


Mata Kalin membulat sempurna. Apa lagi saat melihat Tuan Ferdinan mendekati bahkan duduk dalam satu meja yang sama dengan Mia. Pandangan Dev dan Kalin beradu, seolah keduanya saling bertanya tentang apa maksud mereka janjian di sana.


Kalin segera mengeluarkan ponselnya dan merekam apa yang Mia dan Tuan Ferdinan bicarakan.


"Mia," sapa Tuan Ferdinan.


"Tuan," balas Mia sambil berdiri dan menunduk hormat.


"Silahkan duduk," ucap Tuan Ferdinan mempersilahkan Mia untuk kembali.


"Mau pesan apa Tuan?" tanya salah seorang pelayan yang menghampiri meja Tuan Ferdinan.


"Ini," tunjuk Tuan Ferdinan.


Tak lama pelayan itu sudah datang kembali dengan membawa segelas minuman. Hanya minuman? Kalin berpikir kalau Tuan Ferdinan tidak akan lama di sana.


"Mia, apa pikir kamu tidak akan datang," ucap Tuan Ferdinan.


"Selama Mia bisa, Mia akan memenuhi undangan dari siapapun." Mia menunduk tak berani menatap wajah mertuanya.


"Kenapa kamu tidak membalas emailku?" tanya Tuan Ferdinan.


"Mia saat itu bingung bingung harus membalas apa," jawab Mia.


"Ternyata kamu masih mengingatkanmu pada Mia yang pertama kali aku kenal. Datang selalu lebih awal dari jam yang sudah kita sepakati. Meskipun kadang aku tidak mengenali sosok dirimu yang sekarang," ucap Tuan Ferdinan.


"Maafkan Mia, Tuan. Mia sudah banyak mengalami perjalanan terjal dalam hidup. Bersikap terlalu lugu dan polos hanya membuat Mia dimanfaatkan dan dihina banyak orang," ucap Mia.


"Kamu merasa kami memanfaatkanmu Mia?" tanya Tuan Ferdinan dengan suara meninggi.


"Apakah kalian merasa memanfaatkan Mia?" tanya Mia.


Sial! Wanita yang duduk di hadapan Tuan Ferdinan itu kini bukan lagi Mia yang dulu. Yang hanya akan mengiyakan dan setuju dengan semua ucapan Tuan Ferdinan.


"Apa rencanamu ke depan?" tanya Tuan Ferdinan.


"Aku akan mencari Mas Danu," jawab Mia.


"Danu? Kau cari? Untuk apa?" tanya Tuan Fedinan dengan sinis.


"Karena Mia mencintainya. Dia suami Mia. Mia berhak mencarinya," jawab Mia.


"Bukankah dia tidak berguna untukmu?" tanya Tuan Ferdinan.

__ADS_1


"Jadi Tuan percaya dengan kenyataan itu? Tuan percaya kalau mas Danu yang bermasalah, bukan Mia?" tanya Mia.


"Jadi untuk apa kamu mencarinya?" tanya Tuan Ferdinan.


"Mia mencintainya," jawab Mia.


"Cinta?" tanya Tuan Ferdinan tidak percaya.


"Kenapa? Mas Danu suami Mia. Mia rasa tidak ada yang salah," jawab Mia.


"Kamu tidak tahu arti cinta Mia," ucap Tuan Ferdinan.


"Tuan yang tidak mengerti arti cinta. Cinta itu rasa yang tidak bersyarat. Meskipun kadang logika ikut berperan, tapi cinta selalu menggunakan rasa. Sedangkan Anda? Hanya selalu membahas logika. Anda menyayangi mas Danu. Dengan segala kekurangan mas Danu, Mia merasa itu tidak mengganggu perasaan Mia sama sekali," ucap Mia.


"Jangan munafik kamu Mia. Semua orang juga tahu kalau kamu meninginkan harta Danu bukan?" tanya Tuan Ferdinan.


"Harta? Picik sekali Anda. Jangan pernah samakan Mia dengan kalian. Mia kasihan sama mas Danu, hidupnya penuh tekanan. Meskipun Mia belum tahu dengan pasti tentang kematian mas Danu, tapi Mia pikir mungkin dengan mas Danu meninggal, dia akan jauh lebih bahagia." Mia tidak mau kalah.


"Berani kamu padaku Mia? Orang kampung," bentak Tuan Ferdinan.


Bentakan Tuan Ferdian cukup menarik beberapa orang yang ada di sana, termasuk Dev dan Kalin. Hampir saja Dev menghajar Tuan Ferdinan jika saja Kalin tidak menahannya.


"Ya, Mia memang orang kampung. Mia berani jika Mia benar. Kenapa Mia harus takut?" tantang Mia.


"Kamu lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan padamu," ancam Tuan Ferdinan.


"Dengarkan Mia, Tuan! Mia hanya akan bersikap seperti cermin. Jauh di dalam hati Mia, Mia sangat menyayangi Tuan dan Nyonya. Namun sikap kalian yang berubah, memaksa Mia untuk berubah. Mas Danu pasti tidak akan senang jika melihat Mia terus-terusan dihina dan ditindas. Jadi maafkan Mia, jika mulai hari ini Mia akan melakukan seperti apa yang kalian lakukan." Mia berusaha menahan emosinya.


Sebenarnya Mia takut jika saja Tuan Ferdinan yang emosi itu akan menyakitinya. Tapi Mia kembali berpikir kalau ini tempat umum dan ramai. Tidak mungkin Tuan Ferdinan akan melakukan hal yang mengancam keselamatannya. Lagi pula Mia mengenal Tuan Ferdinan. Mertuanya itu tidak pernah sekalipun terlibat dalam kasus kekerasan.


"Apa maumu sebenarnya?" tanya Tuan Ferdinan yang sudah geram.


"Kembalikan mas Danu pada Mia. Hidup atau mati. Mia permisi," ucap Mia sambil berlalu meninggalkan Tuan Ferdinan.


Tuan Ferdinan tidak percaya kalau ia bisa terpancing emosi. Sedangkan Mia terlihat begitu santai. Tuan Wang menggelengkan kepalanya dan mengusap kasar wajahnya.


"Miaaaaa," ucapn Tuan Ferdinan geram.


Bukan hanya Tuan Ferdinan, Dev dan Kalin juga tidak percaya kalau Mia bersikap seperti itu. Dev menatap Kalin penuh tanya. Kalin menggeleng. Ia tidak mau kalau Dev mengikuti Mia dan menenangkannya.


"Mia akan bercerita apapun padaku, jika memang itu ingin ia ceritakan. Kalau sekarang Mia tidak menceritakannya, itu artinya ada sesuatu yang memang Mia sembunyikan. Apa lagi kalau bukan karena Mia sangat menghormati mertuanya itu," ucap Kalin.


Ya, Mia memang pernah bercerita kalau seburuk apapun suami dan mertuanya, mereka adalah saudara Mia. Hingga Mia tidak harus membeberkan semua keburukannya. Mia seharusnya menutupi semua itu.


Dev hanya menggelengkan kepalanya untuk ke sekian kalinya. Ini Mia yang benar-benar tidak Dev kenal.


"Kalin, apa yang kamu ajarkan pada Mia?" tanya Dev sambil tertawa.


Setelah melihat Tuan Ferdinan pergi, Dev dan Kalin pulang. Tanpa ke apartemen Mia dulu. Mereka sengaja memberi ruang untuk Mia. Mungkin Mia tidak ingin membagi semua ceritanya pada Kalin dan Dev. Tapi mereka sudah tahu apa yang terjadi pada Mia.


Semua kebetulan di cafe itu, membuat Kalin semakin percaya kalau Mia bisa mengahadapi semua itu sendiri.


Malam kini sudah berganti pagi. Kalin yang punya jadwal meeting di perusahaan Tuan Ferdinan, menyempatkan untuk ke kantor dulu. Kalin penasaran dengan sikap Mia terhadapnya, setelah semalam mengalami keributan dengan Tuan Ferdinan.


"Mia, pagi sekali kamu?" ucap Kalin saat berpapasan dengan Mia di parkiran.


"Iya. Kebetulan hari ini tidak ada gangguan. Jadi bisa ke kantor tepat waktu," ucap Mia dengan senyum ringannya.


"Oh ya Mia, pagi ini aku ada meeting di perusahaan Tuan Ferdinan. Kamu selesaikan berkas untuk besok ya! Mungkin setelah meeting di sana, aku mau langsung pulang. Ada Dev di rumah," ucap Kalin.


"Ok. Kalin tenang ya, semuanya pasti beres. Selamat meeting terus selamat bersenang-senang sama Dev ya!" ucap Mia.


"Terima kasih," ucap Kalin.


Mereka terpisah menuju rruangan masing-masing. Dalam ruangannya, Kalin duduk dan mengingat bagaimana ekspresi Mia saat mendengar nama Tuan Ferdinan. Dingin, seperti tidak terjadi apapun Mia nampak baik-baik saja. Mungkin Mia sudah berubah. Kalin tersenyum bahagia atas keberhasilan Mia menguasai ketakutannya dan emosinya.


Tanpa Kalin tahu bahwa di ruangan lain, Mia nampak duduk menunduk. Kepalanya menyentuh meja kerjanya. Menahan sakit dan sesak yang mendalam. Rasanya Mia ingin menyerah dan mengalah. Ingin menjadi Mia yang dulu. Bisa menangis kapanpun dan dimanapun.


Sekarang Mia harus berpura-pura tegar. Mereka tidak tahu bagaimana Mia bergelut dengan dirinya sendiri. Membuat kepala dan hatinya satu frekuensi itu bukan perkara mudah. Seringkali hatinya berontak karena sudah merasa lelah. Namun kepalanya selalu menolak. Berpikir dan berharap Danu akan bahagia dengan apa yang ia lakukan sekarang.


Mia beberapa kali menyeka sudut matanya yang selalu basah karena kalah oleh rasa sakitnya. Setiap kali mendengar nama keluarga Tuan Ferdinan, Mia tak bisa menguasai emosinya. Mia masih tidak percaya kalau nasibnya akan berujung seperti ini. Mia yang merasa sangat bahagia dan beruntung karena memiliki keluarga baru, harus menelan pil pahit. Saat mereka mulai meninggalkan Mia satu per satu bahkan mulai membencinya.


"Kamu kuat Mia, kamu kuat!" Mia mengangkat kepalanya dan menepuk dadanya berkali-kali.


Menghapus air mata dan merapikan make up pada wajahnya. Membuka laptop dan berkas yang harus ia kerjakan. Tidak akan pernah ada ujungnya jika suatu masalah terus di ratapi. Mia merasa harus bekerja. Ini bisa jadi salah satu jalan agar ia bisa menyingkirkan rasa sakit yang mengusai dirinya itu.


"Mia," panggil Kalin dari balik pintu.


Kalin membuka pintu itu dan melihat Mia sedang bekerja.


"Kalin, belum berangkat?" tanya Mia.


"Ini baru saja mau berangkat. Aku pergi ya!" ucap Kalin melambaikan tangannya pada Mia.


"Hati-hati Kalin," ucap Mia membalas lambaian tangan Kalin, hingga Kalin tidak terlihat lagi oleh Mia.


Mia menghela napas panjang. Berusaha untuk menenangkan dirinya agar bisa kembali fokus. Selain Daju Tuan Ferdinan dan Nyonya Nathalie adalah salah satu pemacu semangat Mia dalam bekerja. Mia ingin membuktikan kalau ia tidak pernah mengemis harta dari mereka. Bukan harta, cinta Danu lah yang membuat Mia masih setia pada Danu. Meskipun keberadaan Danu masih belum jelas sampai saat ini.


###################


Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.


Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..

__ADS_1


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


Terima kasih..


__ADS_2