Janda Bersegel

Janda Bersegel
Danu kembali


__ADS_3

Hallo Readers baik. Hari ini Mimin sengaja up lebih banyak, sebagai hadiah tahun baruan dari Mimim buat kalian semua. Ini bentuk terima kasih Mimin juga buat dukungan kalian semua. Untuk like, komen, vote dan lovenya.


Mon maaf yeee, kalau banyak bangeuuuud typo.. Ini nulisnya ngebuuuuud. Semoga kalian suka dengan kehaluan Mimin ini ya.


Ini juga jaga-jaga ya kalau besok Mimin gak up. Tapi Mimin usahain buat up deh demi kalian.


Selamat membaca.. semoga suka yaaa..


Baru saja satu hari Kalin pergi, Mia merasa sangat hampa. Bebannya terasa sangat besar saat Kalin tidak ada di kantor. Amanat dari Dev dan Kalin membuat Mia merasa berat. Mia yang tidak berpengalaman dalam kegiatan meeting, harus berjuang melawan kegugupannya saat berhadapan dengan beberapa mitranya tanpa didampingi oleh Kalin.


Kalin beberapa kali menghubungi Mia dan menanyakan kabar Mia dan kantor. Meskipun Mia merasa tidak enak badan karena beban kantor yang begitu besar, namun berusaha untuk menyembunyikannya. Mia menutupi semua itu, agar Kalin berlibur dengan happy tanpa memikirkan beban kantor.


"Mia, aku liburnya nambah lagi ya tiga hari ya. Gak apa-apa kan?" ucap Kalin.


"Boleh Kalin. Berliburlah. Happy holiday ya! Kamu tenang saja. Perusahaan baik-baik saja kok. Tidak usah dipikirkan," ucap Mia.


Setelah Kalin mengakhiri sambungan teleponnya, Mia merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Bukan hanya tubuh, pikirannya juga ikut lelah. Mia menjadi sangat kagum pada Kalin setelah berada di posisi Kalin selama tiga hari ini. Belum lagi Kalin sudah meminta pertambahan wkatu libur tiga hari lagi. Ya, kira-kira seminggu, Mia akan merasakan jadi Kalin.


Seminggu sudah berlalu. Hari ini Kalin dan Dev kembali setelah berlibur.


"Mia, kamu dimana?" tanya Kalin melalui sebuah panggilan telepon.


"Mia di kantor. Kalin dimana?" tanya Mia.


"Aku di depan ruanganmu Mia," ucap Kalin.


"Hah? Benarkah?" tanya Mia tak percaya.


Mia segera bangun dan segera membuka pintu ruangannya.


"Kaliiiiin," teriak Mia sambil memeluk erat tubuh Kalin.


"Miaaa, aku merindukanmu. Gimana liburannya?" tanya Mia.


"Sangat menyenangkan Mia. Terima kasih ya!" ucap Kalin.


"Loh, kok terima kasih sama Mia? Kan yang ngajak liburan Dev, bukan Mia." ucap Mia.


"Berkat kamu, kami bisa punya waktu untuk liburan. Begitu maksud Kalin," ucap Dev menjelaskan pada Mia.


"Oh begitu. Ah, aku yang merasa tersanjung karena kalian sudah mempercayaiku." ucap Mia.


"Aku tahu siapa kamu, makanya aku percaya padamu. Ku pikir tadi kamu tidak masuk kerja," ucap Kalin.


"Memangnya kenapa?" tanya Mia.


"Tadi aku mau membuat kejutan di ruanganku. Tapi pas aku ke sana, ruanganku dikunci. Sejak kapan ruanganku dikunci?" tanya Kalin.


"Sejak Kalin tidak ada. Mia tidak mau jika ada orang yang kelar masuk ke ruangan Kalin," ucap Mia.


"Ya ampun Mia, ini terlalu berlebihan. Seharusnya kamu tidak perlu mengunci ruanganku," ucap Kalin.


"Di ruangan Kalin, banyak berkas penting. Mia takut ada berkas yang hilang saat Kalin sedang liburan. Soalnya Kalin kan sudah mempercayakan semuanya pada Mia. Jadi Mia harus menjaga amanat itu," ucap Mia.


Kalin tersenyum lebar. Tidak salah ketika Kalin mempercayakan perusahaannya pada Mia.


"Mia, hari ini pulang lebih awal yuk!" ajak Kalin.


"Tapi ini belum jam pulang," ucap Mia.


"Ayolah. Aku rindu ingin bercerita denganmu. Aku juga mau membuka oleh-oleh untukmu," ucap Kalin.


Mia mengangguk dan segera membereskan mejanya. Merapikan berkas dan menutup laptopnya.


"Oh ya Mia, tadi di bandara aku bertemu dengan Tuan Ferdinan dan Nyonya Nathalie. Apakah mereka berulah lagi selama aku tidak di sini?" tanya Kalin.


Mia menggeleng. "Sudah dua minggu Mia tidak pernah bertemu lagi dengan mereka. Terkahir kali Mia bertemu dengan mereka malam itu di cafe. Setelah itu," ucap Mia yang kemudian menggelengkan kepalanya lagi.


"Harusnya kamu bahagia dong saat tidak ada mereka. Kan mereka jado tidak membuat masalah lagi denganmu. Kok malah sedih begini?" tanya Kalin. "Atau jangan-jangan kamu merindukan mereka?" goda Kalin.


Mia hanya tersenyum dan kembali menggelengkan kepalanya. Jujur saja, Mia memang sedang merindukan mertuanya itu. Tapi Mia berusaha menutupi semuanya. Rasanya tidak perlu ada yang tahu tentang kerinduannya yang tidak beralasan ini.


Ya, Tuan Ferdinan dan Nyonya Nathalie yang sudah tidak pernah menganggapnya lagi, membuat Mia merasa tidak pantas jika harus merindukan keduanya. Tapi apa boleh buat, hatinya merindukan semua kenangan indah saat mereka bersama. Rasa peduli mereka padanya yang sangat luar biasa, hingga mereka mengunjungi kampung halaman Mia. Berebut makan jengkol, ah masih terlalu banyak kenangan indah bersama mereka.


"Waw, ini suasana baru." Kalin mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan dan melihat perubahan tata letak di kamar Mia.


"Mia merasa bosan dengan hidup Mia yang begitu-begitu saja. Jadi Mia merubah posisi kamar saja, biar berasa ada suasana baru. Tapi bagus kan?" tanya Mia.


"Bagus," jawab Kalin.


"Suka?" tanya Mia.


"Suka," jawab Kalin.


Mia tersenyum senang saat mendengar pujian dari Kalin.

__ADS_1


"Oh ya, aku hampir lupa. Ini oleh-oleh buatmu," ucap Kalin memberikan beberapa tas belanjaan pada Mia.


Mia menerima dan membukanya satu per satu. Barang-barang mahal produk luar negeri dengan kualitas nomor satu. Bukan kaleng-kaleng. Mia memang belum pernah membeli barang dengan brand itu, tapi Mia tahu harganya.


Ada tas, sepatu, baju, make up dan masih banyak lagi barang lainnya.


"Kalin, ini terlalu berlebihan. Kamu janagn boros. Mending uangnya kamu tabung saja," ucap Mia.


"Tidak ada yang berlebihan untukmu Mia. Jika dibandingkan dengan apa yang sudah kamu lakukan pada perusahaan, itu semua tidak ada apa-apanya. Kamu suka kan?" tanya Kalin.


"Sangat suka Mia. Terima kasih ya," ucap Mia.


"Kalau suka nanti dipakai ya!" pinya Mia.


"Tentu. Nanti Mia pasti akan pakai semua ini," ucap Mia dengan sangat meyakinkan.


Kalin terlihat sangat senang mendengarnya. Mia merapikan oleh-oleh dari Kalin ke dalam lemari. Karena tidak mau mengganggu Mia, Kalin bangun dan pindah duduk di tei ranjang Mia.


Sambil menunggu Mia merapikan lemarinya, Kalin membantu merapikan ranjangnya. Kalin melihat ada sebuah figura yang memperlihatkan foto Mia dengan seorang pria.


"Mia, siapa ini?" tanya Kalin sambil menunjukkan figura itu.


"Mas Danu," jawab Mia singkat.


"Kamu sedang Merindukanny ya?" tanya Kalin.


"Iya, sudah dua malam ini mas Danu selalu hadir dalam mimpi Mia. Katanya mas Danu rindu sama Mia. Makanya Mia memegang foto itu setiap kali bayangan mas Danu ada dalam ingatan Mia," jawab Mia.


"Sabar ya Mia. Aku yakin suamimu pasti sehat dan akan mencarimu. Aku yakin dan kau juga harus yakin ya!" ucap Kalin.


Kalin menatap foto itu, semakin lama Kalin merasa semakin aneh. Kalin merasa pernah melihat pria yang ada dalam foto itu. Tapi dimana ya? Kalin mengingat-ingat, tapi hasilnya nihil. Kalin tidak ingat dimana mereka bertemu. Atau mungkin juga itu bukan suami Mia. Bisa jadi hanya mirip saja. Ah tapi tidak. Kalin merasa pernah bertemu dengan pria ini.


"Sayang kamu pernah melihat orang ini tidak?" tanya Kalin sambil menunjukkan foto Mia dengan suaminya pada Dev.


"Yah, tidur." Kalin menyimpan kembali foto itu.


Mungkin karena Dev merasa lelah karena sudah melakukan perjalanan jauh dan merasa diacuhkan saat Kalin sudah bertemu dengan Mia.


Setelah Dev bangun, Kalin segera Mengajak Dev untuk pulang agar bisa istirahat di rumah.


"Sayang, maaf ya aku ketiduran tadi." Ucap Dev saat sedang menyetir.


"Tidak apa-apa. Aku mengerti kau pasti lelah," ucap Kalin.


"Sudahlah. Jangan dipikirkan," ucap Kalin.


Saat sampai ke rumahnya, baik Dev atau Kalin hanya mandi dan langsung tidur. Rasa lelahnya membuat Kalin melupakan foto pria itu.


Pagi hari, badan Kalin dan Mia terasa sangat remuk. Kalin dan Dev memanggil tukang pijat. Kebetulan hari ini tanggal merah, jadi Kalin dan Dev menghabiskan waktu bersama di rumah.


"Ah, enakan ya Dev kalau sudah dipijat begini." Kalin menggeliat saat merasakan tubuhnya sudah lebih enak.


"Iya jadi lebih segar ya!" ucap Dev.


Kalin duduk santai menghabiskan waktu liburnya dengan bersantai. Lama tidak bekerja membuatnya merasa cukup jenuh. Untuk mengalihkan rasa jenuhnya, Kalin memainkan ponselnya.


Membuka sosial media hanya untuk melihat berita terkini saja. Kalin memang mempunyai akun sosial media, namun tidak aktif. Tapi kali ini. Kalin merasa sedang bosan dan memanfaatkannya untuk membagikan beberapa foto liburannya.


Namun Kalin terperanjat saat melihat foto suaminya yang sedang berpose di bandara.


"Dev, Dev," panggil Kalin.


"Apa sih teriak-teriak?" tanya Dev sambil menghampiri Kalin.


"Ini! Lihat ini!" pinta Kalin sambil memberika. ponselnya pada Dev.


"Apa ini?" tanya Dev saat menerima ponselnya.


"Ini," ucap Kalin menunjukkan foto Dev yang berada di bandara.


"Iya, ini foto aku. Ada yang salah dengan gayanya? Atau bajunya mungkin?" tanya Dev sambil memperhatikan penampilannya dalam foto itu.


"Bukan itu," ucap Kalin.


"Ya terus apa?" tanya Dev.


"Ini," jawab Mia menunjuk seorang pria yamg sedang duduk di belakang Dev. Pria itu menggunakan kursi roda.


"Siapa ini?" tanya Dev sambil menyelidiki dengan seksama pria itu.


"Apakah dia yang bernama Danu?" tanya Kalin.


"Danu?" tanya Dev.


"Iya Danu," jawab Mia.

__ADS_1


"Danu mana?" tanya Dev.


"Suami Mia. Masa kamu tidak tahu nama suami Mia?" tanya Kalin.


Danu? Suami Mia? Ah ya! Dev ingat. Ia pernah bertemu dengan Danu saat menghadiri pernikahan Mia. Dev kembali menatap layar ponsel Kalin dan memastikan kalau itu adalah Danu.


"Memang mirip. Tapi Danu tidak kurus begini," ucap Dev.


"Ya, dia kan sakit. Jadi wajar kalau Danu jadi lebih kurus. Tapi mirip kan mas?" tanya Kalin.


"Bisa jadi sih sayang. Soalnya memang mirip," jawab Dev.


"Ah, aku ingat. Aku yakin itu memang Danu," ucap Kalin sangat yakin.


"Kenapa kau bisa seyakin itu hah?" tanya Dev.


"Kamu ingat kalau kita bertemu dengan Tuan Ferdinan dan Nyonya Nathalie saat di bandara?" tanya Kalin.


"Ah iya. Meskipun saat kita bertemu dengan mereka tanpa Danu, bisa jadi mereka memang ke sana untuk menjemput Danu." Ucap Dev.


"Setuju. Bagaimana kalau kita bantu Mia sayang?" ucap Kalin.


"Bantu apa?" tanya Dev.


"Kita ke bandara. Kita bertanya apakah ada penerbangan atas nama Danu hari kemarin atau tidak. Kita juga harus pastikan jika itu memang benar Danu, penerbangan kemana atau penerbanga dari mana. Ini akan sangat membantu kita," ucap Kalin.


"Ide bagus. Ayo kita berangkat sekarang!" ajak Dev.


Dengan sangat semangat, Kalin mengikuti Dev. Dev mulai bertanya tentang penumpang atas nama Danu.


Dan akhirnya semua kecurigaannya sudah menemukan titik terang. Dia memang Danu yang terbang dari Jerman ke Jakarta.


"Mia, akhirnya doamu terjawab. Buah kesabaranmu sudah ada hasilnya," ucap Kalin dengan mata berkaca saking menahan harunya.


"Apa langkah kita selanjutnya?" tanya Dev.


"Kamu cape tidak?" tanya Kalin.


"Memangnya kenapa?" tanya Dev.


"Aku ingin kau mengantarku ke apartemen Mia. Bisa?" tanya Kalin.


"Tentu. Ayo berangkat!" ucap Dev.


Jika membahas cape, tentu Dev merasa sangat cape. Namun demi melihat dua wanita yang berarti dalam hidupnya terlihat bahagia, apa artinya kata cape bagi Dev.


"Mia, Mia," panggil Kalin sambil menggedor pintu apartemen Mia.


Mia yang sedang menyetrika segera mencabut setrikanya dan menjawab Kalin.


"Iya, Kalin. Sebentar!" ucap Mia.


Suara Kalin sudah sangat pamiliar di telinga Mia, hingga Mia langsung mengenali suara Kalin.


"Cepat buka pintunya Mia," ucap Kalin yang sudah tidak sabar.


"Sabar dong sayang," ucap Dev menenangkan istrinya.


"Aku sudah tidak sabar Dev," ucap Kalin.


"Kalin? Ada apa? Kenapa tidak mengabari Mia kalau mau bertemu. Kan bisa Mia yang ke sana. Kalian pasti masih sangat cape," ucap Mia.


"Mia, ada kabar gembira untukmu. Kabar gembira," ucap Kalin yang heboh sendiri.


"Kabar gembira apa?" tanya Mia.


"Danu Mia, suamimu." Kalin malah sudah berkaca-kaca saat akan menceritakan berita bahagia ini.


"Iya. Nama suami Mia memang mas Danu. Memangnya kenapa Kalin?" tanya Mia.


"Dia masih hidup Mia. Dia ada di Jakarta. Danu sudah kembali. Selamat Mia. Kejar kebahagiaanmu," ucap Kalin sambil memeluk Mia.


"Benarkah?" tanya Mia sambil menangis dakma pelukan Kalin.


Dev mengangguk menjawab ketidakpercayaan Mia.


###################


Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.


Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


Terima kasih..

__ADS_1


__ADS_2