
Tidak sesuai ekspektasi. Jalan-jalan pagi ini membuat Nyonya Helen cemberut karena pertemuannya dengan Nyonya Nathalie. Benar kata Dion, Nyonya Nathalie bagaikan bayangan bagi dirinya. Entah sudah berapa kali ia bertemu dengan wanita yang ia sebut dengan wewe gombel itu. Dari mulai ngajak ribut setiap bertemunya, sampai akhirnya kini Nyonya Nathalie bersikap begitu lembut.
Eh tapi bukn hanya itu, kekesalan Nyonya Helen juga karena ucapan Tuan Wira yang menyebutnya harus belajar jadi pawang suster ngesot dan kawan-kawan.
"Jangan cemberut dong. Kan abis jalan-jalan," ucap Tuan Wira.
"Gara-gara Papa nih," jawab Nyonya Helen ketus.
"Ma, Pa, udah dong. Gak malu sama Mia?" tanya Dion.
"Gak. Biar Mia tahu kelakuan Papa itu ya kayak begitu. Jadi nanti kalau Dion menyebalkan, itu turunan bapaknya. Bukan dari Mama," jawab Nyonya Helen.
Karena rasa kesal yang belum reda, Nyonya Helen berjalan lebih cepat dan sampai ke mobil lebih awal.
"Lama banget sih Dion jalannya. Udah kayak siput aja. Buka mobilnya!" ucap Nyonya Helen.
Jarak dari rumah ke taman bunga cukup jauh. Mengingat Mia yang tengah hamil, Dion membawa mobil dan memilih jalan pagi di sekitar taman saja. Kali ini Dion hanya ingin menghabiskan waktu dengan orang tua dan istrinya, hingga ia memutuskan untuk tidak membawa sopir.
"Maaf ya Ma," jawab Mia.
Mia yang peka merada bersalah karena jalannya yang lambat.
"Eh bukan kamu. Tuh Dion. Kalau ibu hamil itu memang jalannya harus pelan-pelan. Hati-hati," ucap Nyonya Helen.
"Giliran sama Mia aja, manis banget. Padahal aku loh yang anak kandung Mama," ucap Dion.
"Ya kalau kamu mau spesial kayak Mia, kamu hamil dong. Mama jamin Mama akan jauh lebih perhatian sama kamu," ucap Mia.
Dion berdecak kesal. Karena apa yang ibunya bilang adalah sebuah kemustahilan. Suatu saat ada masanya Dion merasa cemburu atas perhatian ibunya yang berlebihan pada Mia. Namun di sisi lain, ia bahagia dan bangga. Bahagia saat melihat Mia mendapat pengganti Bu Ningsih yang sudah tiada. Bangga karena Dion berhasil menemukan wanita yang bisa menghargai dan menyayangi Nyonya Helen seperti ibu kandungnya sendiri.
Sesampainya di rumah, Nyonya Helen mengantarkan Mia ke kamarnya dan memastikan kalau Mia benar-benar istirahat. Meskipun ada Dion di sana, namun Nyonya Helen sudah terbiasa dengan perhatiannya yng besar untuk Mia.
"Terima kasih Ma," ucap Mia.
"Sama-sama sayang," jawab Nyonya Helen.
Setelah Nyonya Helen keluar dari kamar, Mia merengek karena masih ingin jalan-jalan. Mood Nyonya Helen yang berubah drastis membuat jalan-jalan paginya tidak lama.
"Nanti sore kita jalan-jalan lagi ya! Sekarang kamu istirahat dulu. Mama pasti marah kalau kita keluar kamar sekarang," ucap Dion.
"Janji ya!" ucap Mia.
"Iya," jawab Dion.
Sementara Mia memilih untuk tiduran di atas ranjang, Dion izin untuk ke ruangan kerjanya. Ini memang hari libur, namun ada beberapa kerjaan yang harus Dion kerjakan.
Sesuai janji Dion, sore hari ia bersiap untuk menemani Mia jalan-jalan.
"Mau kemana lagi?" tanya Nyonya Helen.
"Mau jalan-jalan lagi. Mama dan Papa mau ikut lagi?" tanya Dion.
"Ikut," jawab Tuan Wira.
"Enak saja," ucap Nyonya Helen.
Tuan Wira sampai meringis ketika Nyonya Helen menjewer telinganya.
"Ah, sakit Ma. Memangnya kenapa sih kalau Papa ikut?" tanya Tuan Wira.
"Jangan dong Pa. Mama kan ada arisan sebentar lagi. Masa Papa malah ikut sama Dion? Papa mau nanti Mama dibilang janda sama teman-teman Mama?" tanya Nyonya Helen.
"Ma, kan yang arisan itu Mama. Bukan Papa. Kenapa Papa juga harus ikutan sih?" tanya Tuan Wira.
Malas rasanya saat Tuan Wira harus menemani istrinya dalam acara seperti ini. Apalagi acara itu di rumahnya sendiri. Ia bisa tahu pasti kalau ia hanya akan menjadi pendengar setia dengan tingkat kebosanan mencapai seratus persen.
"Ya kan tugas Papa harus bersikap romantis sama Mama. Buat mereka iri sama Mama. Tunjukkan kalau kita itu suami istri yang sangat harmonis," ucap Nyonya Helen.
Apa? Ternyata bukan hanya sebagai oendengar setia, tapi kali ini ia juga harus menjadi aktor yang sangat romantis di hadapan para wanita glamor itu.
"Ya sudah kalau begitu aku sama Mia berangkat dulu ya! Mama dan Papa selamat menikmati acaranya," ucap Dion.
Dion merangkul Mia untuk segera pergi dari sana. Lambaian tangan dan senyuman mengejeknya membuat Tuan Wira merasa kesal di level puncak.
Anak sama emaknya sama-sama ngeselin dan nyebelin. Kalau sudah turunan sih memang kuat. Sepertinya sebelum datang teman-teman istriku, aku harus wudhu dulu. Biar tenang. Jangan sampai aku yang kesal karena ulah Dion, semakin kesal lagi dengan kedatangan teman sosialita Mama itu.
Dion dan Mia pergi ke sebuah mall. Niat Dion adalah membelikan Mia sebuah tas lucu keluaran brand terkenal dengan harga yang sangat tinggi. Tapi ekspektasi Dion tidak sesuai dengan kenyataan. Mata Mia lebih tertarik saat melihat kebutuhan bayi.
"Sayang beli itu yuk!"ajak Mia.
__ADS_1
Mia menunjuk sebuah sepeda untuk anak-anak.
"Sepeda?" tanya Dion.
"Iya. Bagus kan? Lucu sayang. Beli satu aja, nanti biar mereka gantian mainnya. Gimana? Boleh ya?" bujuk Mia.
Hah? mainnya gantian? Aku beli sama tokonya aja masih sanggup, Mi.
"Kenapa? Keberatan ya? Harganya pasti mahal sih. Tapi kan itu bagus. Eh, kita cari harga yang lebih murah aja ya! Biar lebih hemat," ucap Mia.
Aduh. Bukan masalah hemat Mia. Tapi sepeda itu baru bisa dipakai kalau si kembar udah berumur setahun. Kelamaan Mia. Kenapa kamu gak cari barang lain aja sih? Yang bisa langsung dipakai kalau si kembar udah lahir gitu.
"A, kok malah bengong?" tanya Mia.
"Eh gak. Kenapa kamu mau beli sepeda? Kita kan bisa cari barang lain," ucap Dion.
"Bisa sih A. Tapi sepeda itu lucu. Mia dari dulu pengen banget beli sepeda. Waktu di kampung, Mia kalau mau naik sepeda, itu minjem punya anak bu RT. Mia gak mau anak Mia nanti seperti Mia. Masa sepeda aja gak punya? Bapak sama kakeknya kan banyak uang," ucap Mia.
Sebentar tersiratbrasa sedih saat Mia membayangkan masa lalunya. Sepeda yang ia pakai saat di kampung dulu, adalah pemberian dari Bu RT. Bekas anaknya karena anaknya sudah membeli motor baru dan tidak menggunakan sepedanya lagi.
"Ya sudah, kamu pilih saja mana yang kamu suka," jawab Dion.
Mia bersorak atas kebahagiaan yang sederhana itu. Rasanya terlalu mudah bagi seorang Dion untuk membuat Mia bahagia. Dion tidak ikut memilih. Ia hanya mengikuti Mia yang berjalan mengitari sepeda anak yang berjejer sangat rapi itu. Nampak wajah Mia sangat bahagia. Telunjuknya yang sibuk menunjuk sepeda-sepeda di sana, membuat Dion geli sendiri.
"Yang ini bagus kan?" tanya Mia.
Mia menunjuk dua sepeda yang berwarna biru dan pink. Karena menurut hasil USG, anak kembar itu berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Mia memang dari kampung, tapi kali ini selera Mia sangat bagus. Mia memilih dua buah sepeda termahal yang ada di toko itu.
"Bagus dong," jawab Dion.
"Tapi harganya mahal," ucap Mia.
"Sesekali kamu bisa kan kalau beli sesuatu itu gak lihat harga? Harga itu bisa menentukan kualitas. Jadi wajar kalau harganya mahal, karena kualitas barangnya juga memang bagus. Ngerti ya?" tanya Dion.
Mia mengangguk. Mia juga sudah faham sejak dulu kalau ada harga, ada kualitas. Begitupun sebaliknya. Tapi masalahnya, harga yang Dion sebut wajar itu diluar tingkat wajar Mia selama ini.
Dengan mudahnya, Dion membayar sepeda mahal itu. Mia hanya menatap suaminya. Ternyata Mia memang berbeda dengan Dion. Namun Mia juga memang harus membiasakan semua kebiasaan suaminya itu. Karena Dion tidak pernah membawanya ke tempat yang murah.
Selesai di toko sepeda, Dion mengajak Mia berkeliling lagi. Kembali toko anak yang Mia kunjungi. Kali ini toko pakaian. Mia membuka matanya lebar-lebar.
Bahkan baju bayi saja harganya lebih mahal dari harga mukena Mia kalau lebaran.
"Pilih saja semua yang kamu suka!" ucap Dion.
"Kalau kamu gak suka dengan barang-barang di sini, kita bisa pindah ke toko yang lain." Dion berbisik di telinga Mia.
"Suka kok. Barangnya bagus-bagus. Tapi Mia cek harga dulu. Mia seleksi mana yang paling pas," ucap Mia.
Pas? Miaaa, kenapa lagi-lagi masalah harga bisa membuat kamu pusing sendiri?
"Khusus hari ini, ada diskon sembilan puluh persen. Jadi kamu bisa memilih semua yang kamu suka. Kapan lagi ada diskon sebesar itu?" ucap Dion.
Berhasil. Mata Mia terbelalak mendengar kata diskon.
Sebahagia itukah kamu Mia? Astaga, kamu norak sekali. Untung saja kamu cantik.
"Yang benar A? Tapi kok gak ada pemberi tahuan sih? Biasanya kalau ada diskon, ada tulisannya gitu loh A. Kok di sini gak ada ya?" tanya Mia.
Mata Mia mengedar mencari tulisan diskon di toko itu. Tidak ada. Mia tidak menemukan tulisan diskon di sana.
"Katanya diskon ini khusus untuk wanita hamil yang belanjanya ditemani suaminya. Bersifat rahasia. Makanya gak ada tulisan diskon," jawab Dion.
"Wah, senengnyaaaa. Rejeki memang gak kemana," ucap Mia.
Langkah Mia lebih cepat dari sebelumnya. Tangannya sibuk mengambil puluhan baju yang memang sudah ia incar sejak tadi. Dion menahan tawa dan menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah Mia.
"Ini sudah cukup belum A?" tanya Mia.
Dion melihat pakaian baju yang Mia pilih. Lalu ia melihat wajah Mia. Nampak belum puas.
"Masih kurang. Mumpung diskon. Ayo di pilih lagi," ucap. Dion.
"Ah iya. Aa benar. Ayo A cari lagi," ajak Mia.
Dengan sabar Dion mengikuti Mia yang masih terus mengambil beberapa pakaian bayi. Baru kali ini Dion melihat Mia sangat antusias saat sedang berbelanja.
"A, udah dulu deh. Nanti Aa susah bawa ke mobilnya. Besok-besok kita belanja lagi ya!" ajak Mia.
Dion menatap wajah Mia. Memang belum puas, namun ia terlihat sudah lelah.
__ADS_1
"Iya. Kapan-kapan kita belanja lagi ya! Kamu duduk di sini. Aku mau bayar dulu ya!" ucap Dion.
Mia mengangguk dan menunggu. Mia juga nampak menggerak-gerakkan kakinya. Dion menyadari kalau Mia merasa sangat pegal. Dion meninggalkan kasir menghitung belanjaannya dan menunggu bersama Mia.
"Sini! Biar aku pijat kakinya. Kamu pasti pegal ya?" tanya Dion.
Tanpa malu, Dion mengangkat kaki Mia ke atas pangkuannya dan memijatnya lembut. Mia berusaha menolak dan menarik kakinya. Mia merasa malu karena sikapnya yang tidak sopan. Namun Dion memegang kaki Mia agar bertahan dalam pangkuannya.
Bagi Dion, tidak ada alasan untuk malu. Saat banyak mata menatap tindakannya, ia merasa bangga karena bisa mendampingi istrinya dalam setiap keadaan. Dion yang sempat kehilangan waktu untuk bersama istrinya, tidak ingin menyia-nyiakan waktu seperti ini.
Mia tersipu malu. Ia benar-benar merasa sangat bahagia. Benar kalau wanita akan menjadi ratu saat bersama pria yang tepat. Mia tidak pernah menyangka kalau wanita dari kampung seperti dirinya bisa diperlakukan begitu istimewa oleh seorang Dion.
"Makasih ya A!" ucap Mia.
Diom hanya mengangguk, tersenyum, lalu melanjutkan pijatannya.
"Sebentar ya!" ucap Dion.
Dion pergi ke kasir saat namanya sudah dipanggil.
"Berapa totalnya A?" tanya Mia saat Dion sudah kembali.
"Murah dong. Kan diskon sembilan puluh persen. Kaki kamu sudah kuat dipakai jalan lagi? Atau mau aku gendong?" tanya Dion yang berusaha untuk mengalihkan perhatian Mia soal harga.
"Masih kuat jalan kok A," jawab Mia.
Mia berdiri. Tangannya bergelayun manja pada tangan Dion. Seolah Mia sedang menunjukkan kalau ia begitu beruntung karena memiliki suami seperti Dion.
"A, kok belanjaannya gak dibawa?" tanya Mia.
"Nanti diantar sama petugasnya ke mobil. Kamu mau makan dimana?" tanya Dion.
"Makan di rumah aja. Tadi kan Mama masak banyak. Ibu-ibu sosialita itu pasti makannya sedikit. Mubadzir kan kalau makanannya gak diabisin? Ayo pulang aja A!" ucap Mia.
Padahal perut aku udah demo. Bisa-bisanya ku bilang makannya nanti aja.
Mungkin karena lelah, yang Mia inginkan sekarang adalah berbaring di atas ranjang. Melihat Mia yang sudah lelah, Dion mengiyakan tanpa mengajukan negosiasi apapun.
"Mia," panggil seorang pria yang tak jauh darinya.
"Mas Danu?" panggil Mia.
Dion memalingkan wajahnya. Berusaha menyembunyikan rasa cemburunya yang teramat dalam.
"Halo Tuan Dion," sapa Danu.
"Hai," jawab Dion singkat dan ketus.
Ini gak emaknya gak anaknya selalu saja mengganggu hari-hari aku sama Mia. Heran deh. Apa jangan-jangan keluarga ini memasang alat deteksi kali ya?
"Selamat ya buat kehamilannya. Aku juga mau minta maaf atas semua sikap Mami," ucap Danu.
Mami? Kepala Mia mengingat semua sikap Nyonya Nathalie yang berubah secara tiba-tiba. Ingin rasanya Mia menanyakan semua itu pada Danu. Apa alasan Nyonya Nathalie menjadi baik padanya. Namun semua itu rasanya tidak mungkin karena Mia melihat sikap Dion yang begitu ketus. Mia tahu apa yang Dion rasakan.
"Terima kasih. Iya gak apa-apa mas," jawab Mia.
Mia berusaha sebisa mungkin untuk tidak terlalu merespon Danu. Ia amat sangat menjaga perasaan suaminya. Mia bahkan tidak melepaskan gandengan tangannya pada Dion.
"Mia, kalau sampai Mami masih kasar dan jahat sama kamu, kamu bisa kabari aku ya!" ucap Danu.
Hah? Jadi ini alasan Nyonya Nathalie berbuat baik sama Mia? Ini semua karena kamu mas?
"Iya. Kami permisi dulu ya Mas," ucap Mia.
Mia menarik tangan Dion dan berlalu meninggalkan Danu yang masih berdiri menatap punggung Mia dan Dion yang semakin menjauh.
Iya? Hanya itu respon kamu? Mia, kamu benar-benar sangat membenciku. Aku harus tanya sama Mami. Apa mungkin Mami masih jahat sama Mia sampai Mia sedingin itu padaku?
Sementara Danu merasa sedih karena sikap dingin Mia, Dion justru nampak senang. Dion merasa kalau Mia tahu apa yang memang seharusnya ia lakukan. Rasa kesalnya karena bertemu dengan Danu terbayar dengan sikap Mia ketika menyikapi Danu.
Terima kasih Mia. Kamu memang istri terbaik. Kamu mengerti apa yang aku mau.
####################
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
__ADS_1
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
Terima kasih..