
Saat sampai di kamarnya Mia segera menghubungi Kalin. Ia ingin sekali segera menyelesaikan semua ini.
"Aduh, Kalin kamu kenapa sih? Kok gak diangkat sih telepon Mia?" gumam Mia.
Setelah dua kali menghubungi Kalin dan masih belum mendapat jawaban, Mia akhirnya menyerah. Tanpa mengirim sebuah pesan, Mia yakin Kalin akan menghubunginya lagi jika sudah ada waktu luang.
Mia berjalanendekati jendela kamarnya. Ia menatap luas ke luar. Cerita Sindi memenuhi kepalanya. Ia tidak menyangka jika Sindi mengalami hal yang begitu pahit dalam hidupnya.
Saat itu Sindi sendiri. Sama halnya seperti dirinya saat itu. Waktu yang terpahit sepanjang hidupnya. Tiba-tiba kepalanya kembali memikirkan Danu. Kejujuran Danu sangat dipertanyakan oleh Mia.
"Mia gak mau kalau Sindi sampai kecewa lagi. Sudah cukup hidupnya berantakan. Kini saatnya Sindi harus bahagia. Mas Danu harus membahagiakan Sindi. Kejujuran adalah kunci utamanya," gumam Mia.
Dering ponsel membuat Mia terperanjat. Ia segera lari dan memburu ponselnya yang tergeletak di atas ranjang.
"Kalin," ucap Mia dengan sangat bahagia.
Mia segera menjawab panggilan Kalin.
"Mia," sapa Kalin dari balik panggilan telepon.
"Kalin," sapa Mia.
Basa basi pelepas rindu mereka lakukan cukup lama. Sekitar lima belas menit. Mereka yang sudah cukup lama tidak saling berkomunikasi, membuat keduanya memanfaatkan momen baik ini. Sampai akhirnya Mia bicara ke tujuan utamanya.
"Kalin, boleh gak Mia minta bantuan?" tanya Mia.
"Apa?" tanya Kalin.
"Tentang Mas Danu," jawab Mia.
"Mi, lupakan dia. Kamu sudah bahagia dengan keluarga barumu. Dia juga sudah mau menikah. Bahkan Tuan Ferdinan sudah memberi tahuku," ucap Kalin.
Mia hanya tertawa saat mendengar ucapan Kalin. Tentu hal itu membuat Kalin kebingungan.
"Kamu kok malah ketawa Mi? Kamu gak stres gara-gara Danu mau nikah lagi kan?" tanya Kalin.
"Amit-amit. Ya gak lah," jawab Mia.
"Terus kamu kenapa?" tanya Kalin.
"Lucu aja sama tuduhan kamu. Kamu pikir Mia belum move on? Enak saja," jawab Mia.
"Terus kamu ngapain nanya-nanya soal Danu?" tanya Kalin.
"Bukannya begitu. Kamu tahu kan riwayat penyakit Danu?" ucap Mia.
"Terus kenapa?" tanya Kalin.
"Dia udah jujur apa belum ya soal itu sama calon istrinya?" tanya Mia.
"Mia, kamu ngapain sih kepo banget. Udah biarin aja," jawab Kalin.
"Masalahnya calon istrinya Mas Danu itu sahabat Mia. Mia cuma gak mau kalau sahabat Mia itu kecewa," ucap Mia.
"Apa?" tanya Kalin terkejut.
"Apanya yang apa?" tanya Mia.
"Kamu bilang apa tadi?" tanya Kalin.
"Yang mana?" tanya Mia.
__ADS_1
Pertanyaan yang dijawab lagi dengan pertanyaan oleh Mia membuat Kalin kesal.
"Kumat penyakit lemot kamu, Mi." Kalin menggerutu kesal.
"Jangan marah dong. Ya udah jadi maksudnya apa?" tanya Mia.
"Kamu bilang calon istrinya Danu itu sahabat kamu?" tanya Kalin.
"Iya," jawab Mia santai.
"Kok bisa?" tanya Kalin.
"Ya bisa lah. Gak bisa kenapa memangnya?" tanya Mia.
"Astaga Miaaaa," ucap Kalin.
Jiwa keingintahuannya yang begitu besar akhirnya kalah hanya dengan jawaban Mia yang sangat menyebalkan bagi Kalin.
"Kalin, kamu kenapa sih jadi sering marah-marah begini?" tanya Mia.
"Kamu yang kenapa jadi makin lemot," ucap Kalin.
Akhirnya Kalin mengutarakan kembali arti kata 'kok bisa' yang dimaksud oleh Kalin. Mia pun hanya menjawab jika semua sudah diatur oleh Tuhan.
Saat Mia menceritakan kisah Sindi dengan Danu, Kalin hanya menggelengkan kepala. Ia tidak yakin masih ada manusia yang hatinya begitu tulus seperti Mia.
Kalin tahu bagaimana Mia mencintai Danu saat itu. Meskipun sempat kandas dan kini sudah ada Dion, namun rasanya aneh jika mantan suami Mia itu harus menikahi sahabat Mia sendiri.
"Kamu gak apa-apa Mi?" tanya Kalin memastikan.
"Ya gak dong. Mia sih ikut bahagia aja," jawab Mia.
Dari nada suaranya, Mia memang tidak terdengar tertekan atau sedih. Ia nampak sangat bahagia saat menceritakan hubungan mantan suaminya dan sahabat dekatnya sendiri.
"Salut kenapa?" tanya Mia.
"Kamu bisa sesantai itu. Padahal calon istri Danu adalah sahabat kamu sendiri," jawab Kalin.
"Terus Mia harus gimana? Lagi pula Mia udah punya A Dion. Meskipun keduanya gak bisa dibandingkan, tapi saat ini A Dion adalah milik Mia. Selain itu, gak ada yang harus Mia khawatirkan. Kebahagiaan Mia udah diberikan sama A Dion," ucap Mia.
Sesederhana itu cara Mia menjawab dan menyikapi semua kenyataan dalam hidupnya. Di saat Kalin yang bukan siapa-siapa, tapi Mia terlihat lebih santai dan tenang.
"Terus maksud kamu hubungin aku maksudnya apa?" tanya Kalin.
"Oh, ya ampun. Mia hampir saja lupa. Mia mau minta tolong sama kamu. Tolong tanyakan sama Danu ya," pinta Mia.
"Tanyakan apa?" tanya Kalin.
"Dia udah jujur belum tentang penyakitnya? Soalnya kejujuran dan keterbukaan itu pondasi rumah tangga," jawab Mia.
"Hah? Gila kamu Mi," ucap Kalin.
"Loh kok gila sih?" tanya Mia terkejut.
"Gimana gak gila, aku harus nanyain hal pribadi begitu." Kalin menggerutu.
"Ayolah bantuin Mia. Soalnya kalau Mia yang ngomong, Mia takut A Dion atau Mas Danu jadi salah paham. Kamu bisa kan bantuin Mia?" bujuk Mia.
Setelah beberapa kali Mia memohon dan merengek, akhirnya Kalin mengiyakan apa yang menjadi permintaan Mia.
"Terima kasih Kaliiiiin," ucap Mia dengan sangat bahagia.
__ADS_1
Kalin tersenyum mendengar teriakan Mia. Bayangan wajah Mia yang begitu ceria nampak jelas di pelupuk matanya.
"Aku udah gak sabar buat ketemu sama kamu di acara tunangan mantan suamimu," ucap Kalin.
"Mas Danu. Jangan bilang suami Mia. Dia kan punya nama," ucap Mia.
"Iya, maaf. Jangan marah," ucap Mia.
"Gak, cuma kesel aja. Jangan lupa ajak Dev ya!" ucap Mia.
"Iya, nanti aku bilangin ya kalau Dev udah pulang." ucap Kalin.
"Dev masih di luar kota?" tanya Mia.
"Di luar negeri," jawab Kalin.
"Wah, Dev hebat ya udah buka cabang perusahaan di luar negeri. Mia memuji keberhasilan Dev.
"Bukan. Dev ke sana untuk menjenguk dan memberi dukungan moril buat Haji Hamid," ucap Kalin kesal.
"Haji Hamid?" tanya Mia.
"Eh, iya. Maaf aku lupa. Dia mantan suami kamu juga kan?" tanya Kalin.
"Memangnya Haji Hamid kenapa?" tanya Mia.
"Dia sakit parah Mi. Sekarang lagi pengobatan di luar negeri. Makanya Dev ke sana. Padahal aku udah larang. Aku cuma khawatir aja," ucap Kalin.
Wajar jika Kalin mengkhawatirkan Dev. Mengingat status Dev dan Haji Hamid yang cukup kelam di masa lalunya, tentu Kalin sangat tidak ingin ada pertemuan lagi antara keduanya.
"Memangnya istrinya gak ada?" tanya Mia.
"Kan istrinya udah meninggal sebulan yang lalu," jawab Kalin.
"Inalilahi, kok Mia gak tahu ya? Kasihan sekali Pak Haji," ucap Mia sedih.
Mia memang orang yang tidak pernah menyimpan benci dan dendam pada Haji Hamid. Seburuk apapun masa lalunya dengan Haji Hamid, ia hanya mengingat sisi positifnya. Berkat Haji Hamid ia bisa lulus kuliah dan ada di Jakarta. Mungkin jika Mia menikah dengan orang lain, ia hanya akan jadi ibu rumah tangga di perkampungan kawasan Bandung.
"Dev gak ngasih tahu kamu?" tanya Kalin.
"Gak. Gak ada yang ngasih tahu Mia," jawab Mia.
"Mungkin karena Dev merasa kamu tidak perlu terbebani dengan keadaan Haji Hamid," ucap Kalin.
Nanti kalau Dev udah pulang, bilangin salam dari aku dan kabari aku perkembangan Pak Haji ya!" ucap Mia.
"Iya Mi," jawab Kalin.
Setelah itu panggilan pun berakhir. Mia duduk di tepi ranjang dengan pandangan yang kosong. Ponsel itu masih ia genggam erat di tangannya. Pikirannya melayang pada banyak kenangan antara dirinya dengan Haji Hamid.
Air matanya mulai menetes. Ia sedih dan kecewa saat Haji Hamid sakit, bahkan ia tidak tahu hal itu. Padahal dulu, banyak sekali kebaikan Haji Hamid padanya.
"Pak Haji, cepat sehat. Maafin Mia gak bisa jenguk Pak Haji. Mia yakin Pak Haji itu orang yang kuat. Semangat Pak Haji," ucap Mia sembari mengusap kedua pipinya yang sudah mulai basah dengan air matanya.
#####################
Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
__ADS_1
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.