Janda Bersegel

Janda Bersegel
Tuan Wira narsis


__ADS_3

Tuan Wira nampak fokus di depan layar laptop, namun fikirannya sudah jauh berada di Jakarta. Bayangan cucu kembarnya menguasai kepalanya. Hal ini justru membuat pekerjaannya malah semakin lama.


"Aduh, ini kok salah terus sih?" gerutu Tuan Wira pada dirinya sendiri.


Berkali-kali Tuan Wira melihat jam pada pergelangan tangannya. Tangannya mengacak rambutnya yang sudah mulai memutih.


Frustasi mungkin. Keinginan untuk bertemu dengan cucunya sudah tidak bisa ia bendung. Tapi di sisi lain, Tuan Wira tidak bisa meninggalkan pekerjaannya begitu saja. Bukan tidak memprioritaskan cucu kembarnya, tapi ia melihat prospek ke depannya. Proyek ini bisa membuat perusahaannya lebih maju dan semua itu tentu untuk masa depan cucunya juga.


Pria yang baru saja menjadi seorang kakek itu duduk santai menyandarkan kepalanya pada kursi. Berputar dengan ponsel dalam genggamannya. Bibirnya tersenyum lebar saat layar ponselnya menampakkan foto yang dikirim istrinya.


Mia, terima kasih sudah melahirkan cucu kembarku. Kamu adalah wanita luar biasa yang Tuhan kirimkan dalam keluargaku. Semoga kebahagiaan senantiasa bersama denganmu.


Tak lama bibirnya mengerucut. Rasa irinya muncul tiba-tiba pada istrinya. Tuan Wira membayangkan Nyonya Helen dengan bahagianya tengah menimang cucu mereka.


"Mama puas-puasin aja sekarang. Nanti setelah Papa pulang, Mama gak boleh main sama cucu kembar kita. Jatah Papa pokoknya," gumam Tuan Wira.


Setelah menghabiskan waktunya hingga larut malam, akhirnya Tuan Wira berhasil menyelesaikan pekerjaannya. Ia menutup laptopnya dan beristirahat. Sebelum tidur, kembali dilihatnya foto cucu kembar yang sangat lucu. Senyum lebar tergambar dari wajah bahagianya sebelum akhirnya ia benar-benar terlelap.


Pagi hari mentari sudah membangunkannya. Dengan semangatnya Tuan Wira bersiap untuk pulang. Sesuai rencana, setibanya di Jakarta maka tempat yang pertama kali ia tuju adalah rumah sakit. Ketika mobil parkir di kawasan rumah sakit, Tuan Wira menginjakkan kakinya dengan sangat bahagia. Langkah demi langkah dipenuhi bayangan indah saat ia bisa menggendong bayi kembarnya.


"Ma," panggil Tuan Wira.


"Maaf, Tuan. Anda memanggil saya?" tanya seorang wanita.


"Oh maaf, saya salah orang." Tuan Wira melanjutkan perjalanannya.


Wajahnya memerah karena ia berfikir kalau wanita yang ia temui itu adalah istrinya.


Bisa-bisanya aku salah orang. Kalau Mama tahu semua ini, habis aku. Mama bisa ngamuk kalau tahu suaminya tidak bisa membedakan mana istri dan mana orang lain.


"Tuan?" tanya Reza.


"Eh, kamu Za. Istrimu masih dirawat di sini?" tanya Tuan Wira.


"Masih. Tuan mau kemana?" tanya Reza.


"Ya mau ketemu cucu kembarku lah. Aku kan sudah jadi Opa," jawab Tuan Wira dengan begitu bangganya.


"Ketemu cucu?" tanya Reza.


"Iya. Cucu kembarku. Kamu gak tahu kalau Mia sudah melahirkan? Apa jangan-jangan kamu gak tahu kalau Mia itu istri Dion?" tanya Tuan Wira.


"Oh tentu tahu Tuan. Hanya aku bingung, kenapa Anda berjalan ke sana?" tanya Reza.


"Memangnya ruangan Mia dimana?" tanya Tuan Wira dengan wajah bingung.


"Itu di sana!" ucap Reza.


Tuan Wira mengerutkan dahinya saat ia melihat Reza menunjuk ke arah yang berlawanan.


"Di sana?" tanya Tuan Wira meyakinkan.


"Iya," jawab Reza.


"Bisa tolong antarkan aku ke sana?" tanya Tuan Wira.


"Mari biar saya antar," ucap Reza.


Tuan Wira menatap setiap kamar yang ia lalui. Berbeda. Ia sama sekali tidak mengenali tempat itu. Lama sekali tidak menginjakkan kakinya di rumah sakit, membuat Tuan Wira melewatkan perubahan besar yang terjadi di rumah sakit itu.


"Papa?" tanya Dion.


"Mana cucu kembar Papa?" tanya Tuan Wira.


"Ada di ruang bayi Pa," jawab Dion.


"Mana ruangannya?" tanya Tuan Wira.


"Di sana, ayo!" ajak Dion.


Tuan Wira berjalan memgikuti Dion. Dion yang berada di luar ruangan Mia, membuat Tuan Wira bertemu dengan cucu kembarnya dulu sebelum bertemu Mia dan Nyonya Helen.


Sampai di ruangan bayi, mata Tuan Wira berkaca-kaca. Ia terharu melihat bayi kembar yang sedang dimandikan oleh perawat. Tuan Wira nampak menyentuh kaca ruangan dan memperhatikan wajah lucu mereka.


"Mereka cucuku?" tanya Tuan Wira.


"Iya Pa. Mereka anak ku," jawab Dion.


"Iya. Papa tahu dia anak mu. Berarti dia cucuku kan?" tanya Tuan Wira.


Sempat-sempatnya mereka berdebat saat suasana sedang haru seperti itu.


"Iya mungkin," jawab Dion.


"Kok mungkin?" tanya Tuan Wira.


"Ya kalau mereka mau mengakui Papa sebagai opanya. Kita kan belum nanya," jawab Dion.


"Anak durhaka," ucap Tuan Wira sambil memukul tangan Dion berkali-kali.


Dion sempat meringis saat pukulan demi pukulan mendarat di tangannya tanpa ampun. Pukulan itu berakhir setelah seorang perawat bayi keluar membawa dua bayi.


"Permisi Tuan," ucap salah seorang perawat.


"Cucuku," Tuan Wira.


"Pa, mau ngapain?" tanya Dion.


Tangan Tuan Wira yang hendak menyentuh salah satu bayinya, langsung ditarik oleh Dion.


"Mau gendong lah," jawab Tuan Wira.


"Mereka mau menyusu. Nanti aja ya gendongnya!" ucap Dion.


"Ya ampun Dion, boleh lah Papa gendong dulu. Papa sangat merindukan mereka," ucap Tuan Wira.

__ADS_1


"Papa belum mandi," bisik Dion.


Tuan Wira segera menjauhkan diri dari bayi kembarnya.


Ya, Tuan Wira akhirnya membiarkan dua bayi pergi ke ruangan Mia. Melihat mereka cukup membuatnya bahagia meskipun belum menggendongnya.


"Pa, mau kemana?" tanya Dion.


"Pulang," jawab Tuan Wira.


"Kok pulang?" tanya Dion.


"Mandi dan ganti baju. Papa gak bawa baju bersih," jawab Tuan Wira.


Tuan Wira tidak bermaksud untuk tidak menemui Mia, namun ia tidak ingin menghabiskan banyak waktu kalau ujungnya tidak boleh berbuat apa-apa.


Dion yang memanggil Tuan Wira diabaikan oleh ayahnya yang sudah ingin menggendong cucu kembarnya. Dion akhirnya pergi ke ruangan Mia.


"Di," panggil Nyonya Helen.


"Iya Ma," jawab Dion.


"Dari mana kamu?" tanya Nyonya Helen.


"Nganter Papa ketemu bayi kembar," jawab Dion.


"Papa?" tanya Nyonya Helen.


"Iya," jawab Dion singkat.


Karena perawat sedang menyusukan bayi kembar Dion dan Mia, Nyonya Helen menariktangan Dion untuk menunggu di luar.


"Mana Papa?" tanya Nyonya Helen saat mereka sudah di luar ruangan.


"Pulang," jawab Dion.


"Pulang? Dasat kakek sableng," gerutu Nyonya Helen.


Dion menutup mulutnya karena menahan tawanya.


"Papa mau mandi dan ganti baju dulu. Biar bersih kan mau gendong bayi kembar Ma," ucap Dion.


"Oh, iya. Papa pintar," jawab Dion. "Jadi belum gendong?" lanjutnya.


Dion menggeleng. Nyonya Helen tertawa puas.


"Aduh Papa masih kalah jauh nih," ucap Nyonya Helen.


Setelah selesai menyusukan bayi kembarnya, Dion dan Nyonya Helen kembali masuk ke dalam ruangan. Bayi kembar itu memang diberi susu formula. Tapi masih tetap diberi ASI. Hingga tetap ada jadwal untuk memberi ASI.


"A," ucap Mia.


"Iya Mi," ucap Dion sembari mengusap kepala Mia.


"Maafin Mia ya!" ucap Mia.


Mia mengangguk.


"Buat apa Mi?" tanya Dion.


"Mia udah bikin Aa gagal di proyek pertama Aa. Maaf," jawab Mia.


"Kamu apaan sih Mi? Aku aja gak pernah mempermasalahkan semua itu," ucap Dion.


"Mi, kamu jangan mikirin hal yang macem-macem ya. Beban kamu bisa menghambat ASI. Kamu sayang kan sama bayi kembar?" tanya Nyonya Helen.


"Sayang Ma. Tapi Mia merasa bersalah aja sama Aa," ucap Mia sedih.


"Kamu gak usah khawatir, kehilangan proyek tidak akan membuat kamu kekurangan uang belanja. Tenang aja. Kita masih bisa shopping kok," ucap Nyonya Helen.


Mia tersenyum mendengar jawaban Nyonya Helen. Memang benar, Dion tidak akan kekurangan uang hanya karena kehilangan sebuah proyek. Hanya saja Mia merasa tidak enak. Ini adalah proyek pertama Dion. Bisa dibilang ini adalah mimpi terbesar bagi Dion dalam dunia bisnisnya.


"Kamu tenang aja Mi. Harta dan impian terbesar aku adalah kamu dan anak-anak kita. Mungkin mimpiku untuk proyek itu harus pupus. Tapi cinta dan masa depanku tetap baik-baik saja," ucap Dion.


"Tapi kalau saja Mia gak ngabarin Aa siang itu, mungkin proyek itu akan berhasil. Maafin Mia ya A!" ucap Mia.


"Mia cukup. Jangan meminta maaf seperti itu. Kalau saja kamu gak ngabarin aku, justru aku akan marah sama kamu. Bagaimanapun kamu dan bayi kembar kita adalah prioritas utamaku. Jadi jangan pernah merasa bersalah," ucap Dion.


Dion mengeratkan genggaman tangannya agar Mia merasa tenang. Namun sepertinya Dion gagal. Bibir Mia memang tersenyum tapi sebenarnya ia masih menyembunyikan perasaan bersalahnya.


"Sudahlah ini masa-masa bahagia. Mia, kamu seharusnya fokus sama bayi kembar saja," ucap Nyonya Helen.


"Iya. Mama benar. Kamu dengar itu kan? Gak ada yang menyalahkan kamu kok," ucap Dion.


Mia mengangguk. Kembali rasa syukur itu tumbuh semakin besar saat melihat perlakuan suami dan ibu mertuanya. Ketulusannya terasa nyata. Mia bahkan tidak pernah membayangkan jika hidupnya akan sesempurna ini. Sempurna? Ya, memang tidak ada yang sempurna di dunia ini. Hanya saja, jika dibandingkan dengan kehidupannya dulu, Mia merasa kini ia sangat sempurna.


Mia yang dulu serba kekurangan, kurang dalam hal finansial maupun kasih sayang. Tapi setelah menikah dengan Dion, Mia merasa hidupnya sangat berbanding terbalik. Bertemu dengan Nyonya Helen dan Tuan Wira memberinya kehidupan yang amat mewah. Mewah dari sisi finansial maupun kasih sayang.


Orang tua Dion memang memperlakukan Mia dengan sangat mewah. Mia yang berasal dari keluarga tidak mampu dan sebatang kara, diperlakukan sangat istimewa oleh Nyonya Helen dan Tuan Wira. Tidak sekalipun melihat dari mana Mia asal, mereka menyayangi Mia seperti anaknya sendiri.


Lamunan Mia tersadar saat suara Tuan Wira memecah keheningan ruangan.


"Cucu kembarku," ucap Tuan Wira.


"Owaaaa, owaaa," bayi kembar itu menangis bersamaan.


"Ya ampun, sebegitu rindunya kalian sama Opa sampai kalian menyambutku?" ucap Tuan Wira dengan begitu bangganya.


"Papaaaaa," ucap Nyonya Helen kesal sembari memukul tangan Tuan Wira.


"Kenapa Ma?" tanya Tuan Wira dengan wajah bingungnya.


"Mereka bukan menyambut Papa, tapi mereka itu kaget mendengar suara Papa. Untung aja Mama juga gak punya penyakit jantung," gerutu Nyonya Helen.


Tuan Wira menatap Dion. Dion menggeleng dengan wajah menahan tawa.

__ADS_1


"Jangan marah dong Ma. Cucu Papa aja gak marah, kok Mama marah-marah begitu sih?" tanya Tuan Wira.


"Kalau mereka udah bisa marah, abis Papa diomelin sama mereka. Orang lagi enak-enak tidur, teriak seenaknya. Lain kali kalau masuk salam dulu. Volume suara diatur. Masa begitu aja harus diajarin sih?" ucap Nyonya Helen.


"Mama jangan marah-marah dong. Itu cucu kita makin keras nangisnya. Katanya Oma berisik," ucap Tuan Wira.


"Enak aja," ucap Nyonya Helen.


Dua perawat yang menggendong bayi kembar itu saling menatap dan tertunduk. Mereka menahan tawa melihat kelakuan Tuan Wira dan Nyonya Helen.


"Aduh kalian ini, masa perawat gak bisa nenangin bayi sih?" ucap Tuan Wira saat cucu kembarnya masih menangis.


"Maaf Tuan," ucap kedua perawat itu sembari menunduk hormat.


"Sini biar aku yang gendong!" pinta Tuan Wira.


"Memangnya Papa bisa?" tanya Nyonya Helen penuh keraguan.


"Bisa. Mama tenang aja," jawab Tuan Wira.


Perawat itu melihat ke arah Nyonya Helen untuk meminta jawaban.


"Biar kami saja Tuan. Ini tugas kami," jawab salah seorang perawat saat melihat Nyonya Helen menggeleng.


"Kamu tidak percaya padaku?" tanya Tuan Wira dengan nada yang tinggi.


"Ma-maaf Tuan," jawab perawat itu dengan gugup.


Kembali perawat itu menatap Nyonya Helen. Tangis bayi kembar yang semakin kencang membuat Nyonya Helen mengangguk agar Tuan Wira berhenti membentak.


"Kemarikan cucuku!" pinta Tuan Wira.


"Ba-baik Tuan. Ini," ucap salah satu perawat.


Bayi laki-laki yang sangat tampan itu berpindah ke pangkuan Tuan Wira. Dengan tepukan pelan, tak lama bayi itu berhenti menangis.


"Kamu tahu saja kalau aku adalah Opamu," ucap Tuan Wira pelan.


Seakan bicara dengan anak yang sudah mengerti, Tuan Wira mengenalkan dirinya. Dengan bangganya ia mengenalkan diri sebagai pemilik perusahaan besar yang tengah berkembang. Hal yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya pada siapapun.


"Ngapain sih Pa, narsis banget sih?" tanya Nyonya Helen.


"Apaan sih Ma?" tanya Tuan Wira.


"Narsis," jawab Nyonya Helen.


"Memangnya Mama bisa dengar apa yang Papa bilang?" tanya Tuan Wira.


"Iya lah. Telinga Mama masih berfungsi," jawab Nyonya Helen.


"Padahal Papa ngomongnya pelan-pelan loh," ucap Tuan Wira.


"Masih kurang pelan. Lain kali belajar ngomong pelan. Lagian ngapain sih narsis begitu? Maksud Papa apa? Mau ngajarin cucunya biar jadi orang yang sombong? Begitu?" tanya Nyonya Helen.


"Eh, Mama kok suudhon terus sih? Dosa tahu Ma," ucap Tuan Wira.


Kali ini suara Tuan Wira jauh lebih pelan dari sebelumnya.


"Terus buat apa?" tanya Nyonya Helen.


"Eh, tadi kan cucu kembar kita nangis, Papa khawatir kalau mereka itu sedih memikirkan masa depannya. Jadi Papa menjelaskan siapa Papa, biar mereka tenang. Jadi mereka gak perlu nangis-nangis lagi mikirin masa depan," jawab Tuan Wira.


"Hah? Papa fikir anak bayi sudah mikirin masa depan?" tanya Nyonya Helen.


"Ya mana Papa tahu. Papa kan cuma nebak-nebak aja. Tapi ini buktinya mereka langsung berhenti nangisnya dan langsung tidur," jawab Tuan Wira.


"Papaaaaa, itu karena tadi Papa berisik. Papa teriak-teriak. Kenapa sekarang mereka tidur? Itu bukan karena mereka tenang dengan penjelasan masa depan yang Papa jelaskan, tapi karena sekarang Papa udah gak berisik lagi. Ngerti Pa?" ucap Nyonya Helen dengan kesal.


"Iya," jawab Tuan Wira singkat dengan wajah tak kalah kesal.


"Permisi," ucap Dokter.


"Dokter, silahkan!" ucap Dion.


Sesuai jadwal, sekarang adalah waktunya pemeriksaan Mia. Namun sayangnya pemeriksaan dokter kali ini harus diiringi dengan perdebatan Tuan Wira dan Nyonya Helen yang belum juga usai.


"Ma, Pa, udah dong. Dokter kan lagi memeriksa Mia. Kalau mau debat, mending simpen bayinya dan lanjut debatnya di luar aja ya!" ucap Dion.


"Papa kamu tuh," ucap Nyonya Helen.


"Mama yang duluan," ucap Tuan Wira.


"Ma, Pa," ucap Dion dengan tatapan mengancam.


"Iya, iya. Udah jadi bapak bukannya lebih sabar, malah emosian," ucap Tuan Wira.


"Papaaaa," ucap Dion.


"Iya. Ini juga udah diem kok," ucap Tuan Wira menutup mulutnya.


Dokter itu menatap Tuan Wira dan Nyonya Helen bergantian lalu menunduk hormat dan tersenyum ramah. Padahal dalam hatinya Dokter itu tengah ngedumel.


Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Pantas saja anaknya waktu proses persalinan heboh. Ternyata bapaknya jauh lebih heboh. Untung saja pas lahiran kemarin cuma ada Tuan Dion. Kalau sampai Tuan Wira ikutan, bisa-bisa aku ikutan mules lihat kelakuan mereka.


######################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.

__ADS_1


Terima kasih..


__ADS_2