Janda Bersegel

Janda Bersegel
Janda aneh


__ADS_3

Tanpa menunjukkan apapun, Mia mengembalikan motor Sindi. Tak lama, Mia kembali ke kontrakannya. Rasanya hari ini adalah hari yang sangat melelahkan untuknya. Lebih lelah dari biasanya. Pikirannya tak bisa lepas dari permintaan konyol Dion.


Dasar orang kaya, semaunya saja. Memangnya nikah itu apaan? Orang gila mungkin dia ya? Bisa-bisanya pernikahan dijadikan bahan taruhan.


Mia memukul-mukul bantal karena sangat geram. Merasa dirinya kembali dihadapkan dengan kepahitan hidup yang baru. Baru saja Mia merasa beban hidupnya sedikit ringan setelah rasa cintanya pada Danu terkikis sedikit demi sedikit. Namun kini masalah baru datang menghampirinya. Dengan orang yang berbeda tapi masalah yang sama.


Mia memegang kepalanya yang terasa hampir pecah. Rasanya Mia ingin mengakhiri hidupnya saat ini juga. Dalam waktu yang sama di tempat yang berbeda, Dion juga sedang merasa pusing. Namun ia justru pusing dengan perasaannya. Ada rasa yang membuatnya tak nyaman saat mengingat Mia.


Bagaimana seorang janda seperti Mia tidak tertarik untuk menikah dengannya? Sementara di luar, banyak sekali wanita yang menginginkannya.


Dia memang unik. Reza, pilihan kamu bikin aku ribet tapi bahagia.


Eh bahagia? Dion segera meralat ucapannya.


Reza, pilihan kamu bikin aku pusing, ruwet, ribet, ahh malas pokoknya.


Tapi bagaimanapun juga, perasaan tidak pernah bisa dibohongi. Dion yang tidak pernah percaya cinta pada pandangan pertama, mendadak merasa kalau Mia sudah mencuri hatinya. Dion merasa Mia berbeda.


Dion berkali-kali membuka ponselnya. Berulang kali membaca informasi yang disampaikan oleh kepala bagian itu. Menghabiskan semalam dengan perasaan tak menentu, membuat Dion merasa waktu sangat lambat.


Setelah penantian semalam yang terasa sangat panjang, membuat Danu tidak sabar untuk pergi ke kantor.


Ini pertama kalinya Dion berangkat lebih pagi. Karena kepala bagian sudah memberi tahu kalau Mia selalu datang sebelum jam masuk. Dion menunggu di dekat parkiran. Dion ingin melihat wajah Mia untuk kedua kalinya. Ia ingin memastikan sebenarnya, perasaan apa yang sudah membuat hatinya tidak karuan.


Wanita yang ditunggu akhirnya datang juga. Mia datang dengan menggunakan sepeda motor. Memarkirkan motornya dan berjalan terburu-buru menuju pabrik.


"Mia," panggil Dion.


Mia seketika menghentikan langkahnya dan menoleh ke samping.


"Tuan," ucap Mia meraih tangan Dion untuk mencium tangan.


Dion melongo melihat kelakuan Mia. merasa bingung dengan sikap karyawan cantik itu. Namun Dion berusaha menyembunyikan perasan kacaunya. Mengabaikan rasa bingung yang dibumbui dengan bahagia, Dion bertanya tentang hal yang sama dengan kemarin.


"Bagaimana?" tanya Dion.


"Eum, itu Tuan. Tapi Mia mau masuk dulu, nanti saja ya! Mia permisi," ucap Mia.


Dion meraih tangan Mia dan menatapnya dengan lekat.


Ada apa ini? Kenapa rasanya berbeda? Gila. Ini benar-benar gila.


"Aku tunggu kamu di ruanganku," ucap Dion.


"Tapi Tuan, Mia harus kerja. Takut kesiangan," ucap Mia.


"Aku akan menghukum kamu jika tidak ke ruanganku," ucap Dion.


"Mia izin dulu ke kepala bagian ya!" ucap Mia.


"Ke ruanganku sekarang," ucap Don dengan penuh penekanan.


"Ba-baik Tuan," ucap Mia gugup.


Mia mengikuti langkah kaki Dion. Mia harus berjalan lebih cepat agar ia tak ketinggalan dan kena omel oleh Dion. Tidak melakukan kesalahan saja, Mia selalu kena omel. Apalagi kalau Mia membuatnya marah. Bisa ngamuk-ngamuk dia.


"Duduk!" ucap Dion.


Mia duduk dan menunduk. Rasanya tak sanggup kalau harus bertatapan dengan pria galak yang baru ia lihat sejak kemarin itu.


"Bagaimana?" tanya Dion.


"Mia belum yakin Tuan," jawab Mia.


BRAAAK


"Lihat wajahku kalau aku sedang bicara, Mia." teriak Dion.


Mia tersentak dan segera menatap wajah Dion dengan gemetar. Dadanya berdebar tak karuan.


"Ma-maaf Tuan," ucap Mia dengan gugup.


"Aku tidak butuh permintaan maaf. Yang aku butuhkan adalah jawaban yang menyenangkan untukku," ucap Dion.


"Tuan, tapi Mia belum yakin." ucap Mia.


"Apa yang membuatmu tidak yakin? Kau merasa aku tidak mampu memenuhi permintaanmu?" tanya Dion.


"Bukan begitu Tuan," ucap Mia.


"Lalu apa yang membuatmu ragu?" tanya Dion.


"Mia ragu dengan perasaan Mia sendiri," jawab Mia.


Ragu dengan perasaannya sendiri? Aku sudah yakin kalau dia akan mencintaiku. Makanya jangan berpura-pura jual mahal sama aku. Akhirnya kamu tidak bisa menahan perasaan kamu juga kan?

__ADS_1


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang perasaanmu. Kamu cukup siapkan persaratan apa yang kamu inginkan untuk perjanjian kita," ucap Dion.


"Mia tidak bisa melakukan pernikahan karena taruhan ini. Lebih baik Tuan mencari wanita lain saja," ucap Mia.


"Kamu tidak bisa? Apa itu artinya kamu menolakku? Baiklah, sekarang aku akan buktikan kalau aku tidak main-main dengan ancamanku," ucap Dion sambil membuka jas dan mendekati Mia.


"Apa maksud Anda, Tuan?" tanya Mia panik.


"Aku orang yang tidak akan pernah ingkar dengan ucapanku. Seperti kataku kemarin, apa aku perlu menidurimu dan membeberkan semuanya pada seluruh karyawan pabrik? Kamu bukan hanya akan dipecat. Tapi akan diarak keliling kampung dan dilempari batu oleh semua karyawan. Kamu mau seperti itu? Iya?" tanya Dion dengan mencengkaram kuat dagu Mia dan mulai mendekatkan wajahnya pada Mia.


Mia mendorong tubuh Dion dengan cepat.


"Iya, Tuan. Mia mau menikah dengan Tuan. Tapi dengan satu syarat," ucap Mia dengan menyilangkan tangannya di dadanya.


"Bagus, seharusnya kau menjawab ini dari kemarin Mia. Merepotkan saja. Sebutkan semua permintaanmu. Jangan cuma satu, ini kesempatanmu yang akan aku turuti karena akan kita buat di atas materai. Sebutkan semua keinginanmu Mia. Apapun itu," ucap Dion dengan sangat percaya diri.


Eh, sultan gila. Mia cuma mau satu. Mia mau ini semua hanya mimpi. Sudah itu saja. Tapi apa boleh buat. Apalah daya rakyat jelata sepertiku yang hanya akan nampak seperti butiran debu saja. Huhu


"Tidak perlu, Tuan. Mia hanya butuh satu saja Tapi boleh apapun, kan?" tanya Mia.


"APAPUN, ucapkap saja. Jangan pernah sekalipun kamu berpikir kalau aku tidak bisa mewujudkan semua itu," jawab Dion.


"Mia mau, meskipun pernikahan ini hanya karena sebuah taruhan tapi Mia tidak ada perceraian dalam pernikahan ini. Bisa?" tanya Mia.


DEG


Permintaan macam apa ini? Dion tidak menyangka kalau Mia bisa meminta hal di luar dugaannya. Ah tapi tidak. Dion merasa ini sangat wajar.


Wajar saja kalau kamu menginginkan itu, karena kamu pasti tidak mau kan kehilangan aku?


"Apa alasannya? Kenapa kamu tidak meminta uang atau mobil atau bahkan perusahaan untuk menjadi jaminan setelah perceraian kita?" ucap Dion. "Ah, tapi aku mengerti. Kamu pasti tidak rela kan kalau harus melepaskan aku?" tanya Dion dengan sangat percaya diri.


"Bukan begitu Tuan," jawab Mia.


"Bukan begitu? Apa maksudmu?" tanya Dion kesal.


"Mia hanya tidak ingin menjadi janda untuk yang ketiga kalinya. Tapi Mia juga sadar diri kok, Tuan juga pasti ingin menikahi wanita yang benar-benar Tuan cintai. Tuan boleh menikah lagi asal tidak menceraikan Mia. Kalau sampai Tuan menceraikan Mia, Mia akan bunuh diri tapi Tuan harus menyerahkan diri ke polisi karena Mia binuh diri atas ulah Tuan. Deal?" ucap Mia sembari mengulurkan tangannya.


Hah? Apa ini? Apa maksudnya? Gila kamu. Masa kamu yang bunuh diri, aku yang dipenjara. Dasar janda aneh. Ah tidak aneh, itu karena kamu tidak mau kehilangan aku. Jujur saja Mia, kamu tidak perlu gengsi begitu.


"Deal!" ucap Dion menyambut uluran tangan Mia.


Mia kembali mencium tangan Dion.


"Kenapa kau mencium tanganku?" tanya Dion yang merasa geli dan aneh.


Kurang ajar ya kamu janda aneh dan menyebalkan.


"Apa kamu bilang?" tanya Dion.


Mampus. Salah jawab kan Mia. Aduh, kepala ayo dong berpikir yang jernih. Cari alasan. Ayo cari alasan.


"Eumm, maksud Mia karena Tuan adalah pemilik perusahaan ini," jawab Mia.


Dion mengangguk. Ya paling tidak jawaban Mia kali ini lebih menyenangkan bagi Dion.


Ah, untunglah, akhirnya aku selamat. Pintar kamu Mia, hebat, cerdas. Mia memuji dirinya sendiri yang berhasil menyelamatkan diri dari Dion.


"Oh ya, kamu yakin hanya itu saja persyaratanmu?" tanya Dion.


"Ya karena Mia hanya tidak mau menjadi janda untuk yang ketiga kalinya," jawab Mia.


"Lalu kenapa kamu tidak ingin diceraikan tapi kamu justru membolehkan aku untuk menikah lagi?" tanya Dion.


"Karena Mia tahu, setiap orang pasti ingin menghabiskan waktunya dengan orang yang sangat ia cintai. Sedangkan pernikahan kita hanya karena sebuah taruhan. Jadi Tuan berhak mendapat kebahagiaan dengan wanita yang Tuan cintai," jawab Mia.


Kenapa jawaban Mia malah membuatku jadi merasa berdosa begini ya?


"Oh ya, kamu juga boleh menambah syarat sesuai keinginanmu. Mobil, rumah, atau apapun itu," tanya Dion.


"Kenapa Mia harus meminta mobil atau rumah? Bukankah kalau Mia menikah dengan Tuan, Mia akan tinggal di rumah Tuan dan bisa menggunakan semua fasilitas yang ada di sana? Mia yakin kok semua pasti akan serba mewah. Benarkan?" ucap Mia dengan polosnya.


Baru saja aku berpikir dia benar-benar baik, eh sekarang malah belum apa-apa sudah ketahuan belangnya. Kamu sama saja Mia. Awas ya, aku akan membuatmu memohon untuk menjadikanmu istri satu-satunya dalam hidupku Mia.


"Jangan terlalu senang. Aku punya banyak sekali peraturan untukmu sebagai seorang istri di rumahku. Duduklah dulu! Aku akan menulisnya, agar kamu tidak lupa," ucap Dion.


Wah, pasti mau ngerjain Mia lagi nih bos gila. Dasar ya sultan sableng.


"Ini!" ucap Dion menyerahkan selembar kertas yang berisi peraturan itu.


Mia menerimanya dan matanya terbelalak dengan point yang sangat banyak.


"Baca yang benar. Jangan sampai terlewat dan jangan sampai lupa. Kalau perlu hafalkan semuanya! Otakmu masih bisa dipakai untuk menghafal semua itu kan?" ejek Dion.


Mia tidak menjawab. Ia hanya fokus membaca poin demi poin yang tertulis di kertas itu.

__ADS_1


Ini bukan peraturan bos gila. Ini lebih terlihat daftar tugas pembantu.


Bagi Mia, itu tidak lebih dari peraturan hidup Mia saat hidup di rumah Dion. Dari mulai bangun hingga tidur, Mia harus melayani Dion layaknya seorang pembantu. Dari membangunkan tidur hingga jangan tidur sebelum Dion tidur, semua sudah diatur dalam kertas itu.


"Tidak masalah," jawab Mia.


Apa? Tidak masalah? Masih berani dia menantangku. Awas saja kau Mia. Aku akan membuat hidupmu menderita nanti.


"Kau yakin?" tanya Dion.


"Ini bukan hal sulit untuk Mia, Tuan." Mia berusaha terlihat tenang di hadapan Dion.


Permainan dimulai Tuan. Kita lihat saja nanti. Anda salah kalau berpikir Mia akan kalah dengan semua permainan Anda.


"Baguslah. Karena setiap kali kamu melakukan sebuah kesalahan, maka kamu akan dihukum. Hukuman akan sebanyak kesalahan yang kamu lakukan. Maka, berhati-hatilah!" ucap Dion mengingatkan.


"Tidak masalah Tuan," jawab Mia begitu tenang.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Dion.


"Tuan yang meminta Mia untuk menatap Anda jika sedang berbicara. Apa Tuan sudah lupa? Menurut Mia Tuan belum terlalu tua kok. Masa sudah lupa?" ucap Mia.


Ah sial! Kenapa jadi begini? Pintar sekali dia memainkan kata-katanya hingga aku harus terpojok seperti ini.


"Keluar! Urusan kita sudah selesai. Ingat! Minggu depan kita menikah," ucap Dion.


"Minggu depan?" tanya Mia panik.


"Memangnya kenapa?" tanya Dion.


"Tapi kan menikah itu butuh persiapan. Tuan tidak masalah dengan pernikahan dadakan ini. Tapi bagaimana dengan orang tua Anda? Mereka pasti akan sangat terkejut kan?" ucap Mia yang berusaha mengulur waktu.


Benar apa yang dikatakan Mia. Ia harus mengenalkan Mia dulu pada orang tuanya agar tidak curiga dengan pernikahan ini.


"Baiklah, satu bulan lagi." ucap Dion.


Mia bernapas lega dan tersenyum lebar. "Terima kasih Tuan," ucap Mia.


"Tapi minggu depan kamu ikut denganku untuk kukenalkan dengan orang tuaku," ucap Dion.


Raut wajah Mia berubah seketika.


"Tapi Tuan," ucap Mia.


"Tidak ada tapi-tapian. Minggu depan kamu akan ikut denganku," ucap Danu.


Emmm mampus. Kena kamu Mia. Siap-saja ya.


"Baik Tuan," jawab Mia malas.


"Dan satu lagi. Jangan sampai kamu mengatakan kalau pernikahan ini karena taruhan pada orang tuaku. Karena kamu akan aku hukum kalau berani macam-macam," ancam Dion.


"Mia sih kondisional dan situasional saja Tuan. Maka bersikaplah baik pada Mia. Jangan membuat Mia kesal. Tuan tidak mau kan kalau Mia sampai keceplosan?" ancam Mia.


Hayooooo.. Mia sudah punya kartu As Anda Tuan. Jangan macam-macam Anda.


Kini giliran Dion yang raut wajahnya berubah seketika. Ia tidak menyangka kalau Mia benar-benar pintar menyudutkannya. Mungkin Dion harus berhati-hati pada wanita yang disebutnya sebagai janda aneh itu.


"Jangan coba-coba mengancamku! Aku tidak suka diperlakukan seperti itu," ucap Dion.


"Mia tidak mengancam Anda, Tuan. Mia hanya meminta Tuan untuk bekerja sama agar rahasia ini aman terjaga hingga akhir hayat. Begitu Tuan," ucap Mia.


Sial! Lagi-lagi janda aneh ini membuatku kesal.


"Ah apapun itu. Sudah sana keluar!" ucap Dion.


Mia segera berdiri dan mengangguk.


"Mia permisi, Tuan." Tanpa mendengar respon Dion, Mia segera keluar dan berlari menuju pabrik.


Ini sudah telat dua jam. Mia sangat takut, ia pasti akan dimarahi oleh kepala bagian.


"Permisi pak, maaf Mia kesiangan. Tadi Mia ada," ucapan Mia terhenti saat dipotong oleh kepala bagiannya.


"Silahkan masuk dan segera bekerja.


Apa? Tidak dihukum? Bahkan kepala bagian tidak marah sama sekali. Ini mukjizat Mia. Ah, senangnyaaaa.


"Baik pak," ucap Mia.


###################


Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.


Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..

__ADS_1


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


Terima kasih..


__ADS_2