Janda Bersegel

Janda Bersegel
Besar dan panjang?


__ADS_3

"Kamu sudah baikan Mia?" tanya Nyonya Nathalie saat siang hari Mia turun dan menemaninya makan siang.


"Sudah Mi," jawab Mia.


Sebenarnya Mia masih pusing dan lemas. Hanya saja Mia tidak mau jika terus-terusan diam di dalam kamar. Itu akan membuatnya malah semakin lama untuk sembuh.


"Makan yang banyak ya!" ucap Nyonya Nathalie sambil mengambilkan makanan untuk menantu kesayangannya itu.


Dalam meja makan, Nyonya Nathalie terus-terusan membahas tentang anak. Mia harus bungkam saat ditanya kapan rencana kehamilannya. Bahkan Mia sendiri tidak tahu kapan perutnya akan membesar karena terisi janin. Bukankah semua itu hanya rahasia Tuhan? tapi bukan saatnya untuk didebat. Nyonya Nathalie paling tidak suka saat ada yang mendebatnya ketika membahas tentang kehamilan Mia.


"Tapi kamu tidak pakai KB kan Mia?" selidik Nyonya Nathalie.


Mia menggeleng dengan cepat. Melihat Mia yang terlihat masih pucat, Nyonya Nathalie mengantar Mia ke kamarnya.


"Istirahat ya! Katakan pada Danu untuk tidak memintamu melayaninya hingga kamu sembuh," ucap Nyonya Nathalie.


"Tapi Mi, melayani mas Danu itu kewajiban Mia." Dengan polosnya Mia mendebat mertuanya.


"Tapi kan kamu lagi sakit," ucap Nyonya Nathalie.


"Tapi Mia masih kuat kok Mi," jawab Mia.


"Libur dulu kenapa sih?" ucap Nyonya Nathalie.


"Tapi melayani suami itu kewajiban. Kasian kalau mas Danu harus melayani dirinya sendiri," ucap Mia.


"Terserah. Emang doyan dua-duanya. Pantas saja sampai sakit," ucap Nyonya Nathalie sambil menggelengkan kepalanya lalu keluar dari kamar Mia.


Sepertinya terjadi kesalahpahaman antara Mia dan Nyonya Nathalie. Dimana seorang mertua mengingatkan agar menantunya menolak untuk melayani anaknya, karena rasa pedulinya pada menantu yang sedang sakit. Sedangkan si menantu menganggap kata melayani itu adalah menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya. Karena selama menikah, yang Mia anggap sebagai melayani adalah memenuhi kebutuhan fisiknya. Namun saat menikah dengan Danu, semua tugasnya diambil alih oleh asisten rumah tangga di rumah Danu. Hingga yang bisa Mia lakukan adalah melayani Danu saat di kamar, apalagi kalau bukan menyiapkan baju ganti untuk suaminya. Makanya Mia bilang ia masih kuat walaupun ia nampak pucat dan lemas.


Saat pulang dari kantor, Tuan Ferdinan melihat istrinya sedang cemberut. Ketika ditanya tentang penyebab cemberutnya, Tuan Ferdinan justru malah tersenyum bahagia.


"Bagus dong Mi, jadi anak kita kebutuhannya terpenuhi. Biar seneng terus Danu," ucap Tuan Ferdinan dengan santai sambil membuka dasi dan kemejanya.


"Bagus apanya? Mia itu lagi sakit, Danu gak boleh porsir Mia terus-terusan dong. Kasian anak orang, kalau sampai sakitnya tambah parah kan Mami juga yang repot. Kan mami malu kalau nanti ditanya sakit apa sama dokter," ucap Nyonya Nathalie kesal.


"Loh, ngapaian Mami malu? Kan yang ditanya Mia sama Danu. Lagian mami maklum dong. Mereka itu kan pengantin baru. Jadi ya wajar lah kalau masih saling rindu meskipun bertemu setiap hari," ucap Tuan Ferdinan.


"Ah Papi gak asyik, kita gak satu server. Gak suka ah. Pokoknya mami gak mau tahu papi harus ke mamar Danu dan bilangin anaknya biar libur dulu. Masa gak bisa libur cuma sehari aja sih?" ucap Nyonya Nathalie.


Tuan Ferdinan menolak. Karena baginya Danu bukan anak kecil yang harus diingatkan, apalagi urusan begitu. Ia yakin kalau anaknya juga punya pertimbangan. Mana mungkin kalau Danu memaksa Mia untuk melayaninya jika tahu Mia sakit. Kalaupun mereka melakukan semua itu, maka artinya Mia juga siap melayaninya. Bukan karena paksaan dari Danu.


Nyonya Nathalie tidak bisa menerima pendapat suaminya dan tetap memaksanya untuk segera keluar. Ia tidak mau tahu kalau suaminya harus meminta Danu untuk tidak meminta dilayani oleh Mia.


"Mi, tapi mi masa papi ngomong begitu sama Danu?" ucap Tuan Ferdinan yang merasa keberatan dengan permintaan istrinya.


"Mami gak mau tahu. Pokoknya papi harus ke kamar Danu sekarang juga! Cepaaaat," ucap Nyonya Nathalie sambil mendorong suaminya agar segera keluar dari kamarnya.


Tuan Ferdinan masih bertahan dengan menahan pintu kamarnya. Namun Nyonya Nathalie terus mendorong pintu kamarnya.


"Ah, ah, ah, Mi. Sakit ini kejepit." Tuan Ferdinan berteriak karena jari tangannya terjepit pintu.


"Salah siapa nemplok di pintu?" jawab Nyonya Nathalie.


"Iya, iya ini papi mau ke kamar Danu. Tapi ini buka dulu pintunya," ucap Tuan Ferdinan.

__ADS_1


Nyonya Nathalie membuka pintunya dan tersenyum bahagia mendengar ucapan suaminya. Tak lupa ia melambaikan tangannya pada Tuan Ferdinan


"Good job papi," ucap Nyonya Nathalie dari celah pintu.


Tuan Ferdinan tidak merespon sama sekali ucapan istrinya. Ia terus berjalan sambil memegang tangannya yang terasa panas karena terjepit pintu.


Saat mendekati kamar Danu, Tuan Ferdinan menghentikan langkahnya dan berbelok ke arah ruang kerja. Rasanya bukan ranahnya untuk mengatur jasa pelayanan dalam rumah tangga anaknya.


Dalam waktu yang sama, Danu dan Mia juga tengah membahas hal yang sama. Danu tertawa saat mendengar ucapan Mia kalau ibunya menyebut keduanya doyan. Danu juga tak lupa untuk menjelaskan definisi melayani suami itu ada dua jenis. Ada lahir dan batin yang harus dilayani oleh seorang istri pada suaminya. Melayani lahir artinya semua yang berhubungan dengan fisiknya.


"Kalau batin?" tanya Mia.


"Iya tentang itu," jawab Danu.


"Belajar?" tanya Mia.


"Iya," jawab Danu.


Aduh, Mia menepuk dahinya saat tahu maksud ucapan mertuanya. Mia berniat untuk menemui Nyonya Nathalie untuk menjelaskan kesalahpahaman itu, namun Danu melarangnya. Bagi Danu, biarlah ibunya dengan pikiran joroknya.


Jam makan malam sudah tiba. Baik dan Danu tidak keluar untuk makan malam di ruang makan. Danu meminta Bibi untuk menyiapkan makan malam di kamarnya. Sementara Nyonya Nathalie menunggu di ruang makan, namun anak dan menantunya.


"Panggilkan Danu," ucap Nyonya Nathalie saat melihat jam terus berdetak namun ruang makan masih saja sepi.


"Maaf Nyonya, tapi Tuan Danu meminta agar makan malamnya diantar ke kamar," ucap Bibi.


Apa? Pikiran Nyonya Nathalie sudah mulai buruk lagi. Ia berpikir kalau Danu akan memaksa agar melayaninya hingga Mia tidak boleh makan malam di ruang makan. Dengan kesal Nyonya Nathalie meninggalkan ruang makan untuk mengingatkan Danu secara langsung. Kekesalannya memuncak saat ia juga tidak mendapati suaminya.


Tangannya sudah hampir mengetuk pintu namun ia tahan karena mendengar suara mencurigakan dari dalam kamar Danu.


"Yang ini?" tanya Mia.


"Iya itu. Ke bawah sedikit lagi," pinta Danu.


"Gimana mas? Enak?" tanya Mia.


"Aduh enak Mia. Lebih kuat lagi dong. Gak kuat ini ah," ucap Danu.


"Siap mas!" ucap Mia.


"Dasar anak kurang ajar. Pengantin baru ya pengantin baru. Tapi istri lagi sakit masih saja tega kamu ya! Kayak gak pernah belajar PKn saja. Kan ada materi tenggang rasa. Mami aja masih ingat. Masa kamu sudah lupa?" gerutu Nyonya Nathalie dari balik pintu.


"Mas, sekarang gantian ya!" ucap Mia.


"Boleh. Yang mana?" tanya Danu.


"Ke atas sedikit mas," ucap Mia.


"Ini?"


"Ya mas. Aduh enak mas. Mas ke bawah sedikit dong tolong!" pinta Mia.


"Ini?" tanya Danu.


"Iya mas. Aduh aw, pelan-pelan mas. Punya mas panjang ah, perih tahu." Mia terdengar kesal.

__ADS_1


Panjang? Perih? Nyonya Nathalie membelalakkan matanya. Ia kembali mengingat ucapan suaminya saat menceritakan Danu yang tidak mau pipis di dalam mobil karena botolnya tidak cukup.


"Waktu itu Danu bilang ke papi besar, sekarang Mia bilang panjang. Berarti besar dan panjang?" ucap Nyonya Nathalie yang bergidik membayangkan apa yang tidak seharusnya ia bayangkan.


Nyonya Natahalie sudah geram mendengar semuanya. Ke atas ke bawah, panjang. Ah, kepalanya sudah kotor. Dengan cepat ia membuka pintu kamar Danu.


"Mia sudah mami bi--," teriakan Nyonya terhenti saat melihat apa yang terjadi di dalam kamar.


"Mami?" ucap Mia dan Danu bersamaan.


"Sudah mami bilang, kalau waktunya makan ya makan dong." Nyonya Nathalie menutupi rasa malunya karena pikiran kotornya.


Ternyata Danu terlihat sedang menggaruk punggung Mia. Nyonya Nathalie juga melihat jari tangan Danu, ternyata kukunya panjang yang menyebabkan rasa perih. Setelah Danu meminta izin untuk makan malam di kamarnya, Nyonya Nathalie pamit untuk keluar.


Nyonya Nathalie kembali ke ruang makan dengan wajah yang memerah. Ia mendapati suaminya sedang makan malam.


"Papi kok makan duluan sih?" tanya Nyonya Nathalie kesal.


"Lapar Mi," jawab Tuan Ferdinan.


"Papi tahu gak mami lagi malu banget. Tadi mami itu kan ke--," lagi-lagi ucapan Nyonya Nathalie terhenti saat Tuan Ferdinan memotong ucapannya.


"Gak usah cerita Mi. Papi juga sudah tahu semuanya," ucap Tuan Ferdinan.


"Sudah tahu?" tanya Nyonya Nathalie bingung.


Tuan Ferdinan masih terus mengunyah hingga ia menjawab pertanyaan istrinya hanya dengan anggukan kepalanya.


"Kok bisa?" tanya Nyonya Nathalie.


Tuan Ferdinan menghabiskan dulu makan malamnya dan mencuci tangannya. Setelah itu ia minum. Nyonya Nathalie masih menatap suaminya agar menjawab pertanyaanya.


Saat Tuan Ferdinan akan ke ruang makan, ternyata melihat Nyonya Natahalie justru meninggalkan ruang makan. Akhirnya ia mengikuti istrinya, sampai akhirnya ia melihat istrinya tengah menguping di kamar Danu. Tak lama, Nyonya Nathalie masuk ke dalam kamar Danu dan berteriak untuk memaki anak menantunya itu. Tuan Ferdinan sudah menutup telinganya karena ia yakin akan terjadi kehebohan di kamar Danu. Namun saat mendengar teriakan itu terhenti, Tuan Ferdinan mendekati kamar Danu dan menyaksikan semua kesalahpahaman istrinya dengan anak dan menantunya.


Dengan menahan tawa, Tuan Ferdinan segera kembali ke ruang makan dan memulai makan malamnya.


"Makanya jadi orang janga kepo dan berburuk sangka. Apalagi sama anak sendiri. Kena batunya kan?" ucap Tuan Ferdinan.


"Awas ya papi. Nanti mami bilangin sama Danu kalau papi juga ikutan nguping," ucap Nyonya Nathalie kesal.


"Gak peduli," ucap Tuan Ferdinan sambil berlari meninggalkan istrinya.


"Papiiiii," teriak Nyonya Nathalie geram.


Setelah suaminya pergi, Nyonya Nathalie hanya bisa menutup wajah dengan kedua tangannya. Rasa malu itu kembali menyeruak kala mengingat apa yang terjadi padanya tadi.


######################


Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.


Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


Terima kasih..

__ADS_1


__ADS_2