Janda Bersegel

Janda Bersegel
Salah jalan


__ADS_3

"Mi, kasih aku kerjaan dong di rumah ini," ucap Sindi.


"Kerjaan?" tanya Mia.


"Aku juga ya Kak," tambah Rian.


Belum juga Sindi menjelaskan apa yang dimaksud dengan pekerjaan itu, tiba-tiba Rian juga sudah meminta hal yang sama. Hal itu tentu membuat Mia semakin bingung.


"Kalian di sini bukan untuk kerja, tapi kalian adalah keluarga aku. Nikmati saja apa yang disediakan di rumah ini," ucap Mia.


Belum tuntas obrolan mereka tentang pekerjaan, Mia menyudahi obrolannya karena mendengar suara tangis Narendra.


"Nanti dilnjut ya! Mia mau ke ruangan si kembar dulu," ucap Mia.


"Mi, kita boleh ikut gak?" tanya Sindi.


"Ya boleh dong. Ayo! Rian mau ikut juga?" ajak Mia.


"Mau Kak," jawab Rian dengan antusias.


Ketiganya berjalan ke ruangan Narendra dan Naura. Nampak Naura yang mulai menggelisik karena terganggu dengan tangis Narendra. Agar Naura tidak ikut menangis, Mia segera menggendong Narendra dan menyusuinya.


"Maaf ya Rian!" ucap Mia.


Mia membelakangi Rian karena ia menyusui Narendra.


"Gak apa-apa Kak. Aku keluar dulu aja ya!" ucap Rian.


Rian keluar, sedangkan Sindi mendekat pada box bayi. Naura sudah tidur kembali. Sindi tersenyum gemas melihat bayi lucu itu. Dengan baju dan bando serba pink, membuat wajah bayi yang cantik itu semakin menggemaskan.


"Aku bisa request gak ya?" tanya Sindi.


"Request apa sih, Sin?" tanya Mia


"Kalau aku punya anak, mau yang kayak gini aja keluarnya. Hehe," Sindi nampak tersenyum geli dengan ucapannya sendiri.


"Haha... Tergantung bapaknya juga kali Sin," ucap Mia.


"Iya juga sih," ucap Sindi cemberut.


"Memangnya calonnya masih belum ada?" tanya Sindi.


Sindi menggeleng.


"Terus yang kemarin kemana, Sin?" tanya Mia.


Setahu Mia kalau Sindi memang sudah punya pacar. Namun saat itu usia pacarnya lebih muda lima tahun dibanding dirinya.


"Gak ada, digondol kucing." Seketika wajah Sindi memerah.


"Kok bisa?" tanya Mia.


"Udah ah Mi, jangan bahas dia lagi. Aku udah males banget," jawab Sindi.


"Lagian kamu, pacaran kok sama bocil sih?" goda Mia.


"Udah deh Mi. Itu kan khilaf," ucap Sindi.


Mia tertawa saat mendengar kata khilaf yang keluar dengan renyah dari bibirnya.


"Khilaf kok sampai bertahun-tahun sih?" goda Mia kembali.


Sepertinya Mia memang belum bisa move on dari cerita Sindi yang berpacaran dengan seorang berondong. Lagi dan lagi Sindi diselingkuhi namun ia tetap bertahan dengan alasan cinta. Namun kali ini Mia tidak melihat itu.


Sindi memang berusaha menghindar dari pembahasan tentang mantan pacarnya yang berondong itu. Walaupun Mia berkali-kali menggodanya, namun ia tetap berusaha keluar dari pembahasan itu.


"Mi, cariin dong calon bapak, buar nanti bayinya kayak gini," ucap Sindi.


"Nyari kemana? Gak ada yang buang soalnya," ucap Mia.


"Yang bener aja Mi. Masa cari di pembuangan sih?" ucap Sindi.


"Tadi katanya minta di cariin," ucap Mia.

__ADS_1


"Ya kali aja kamu mau kenalin aku sama temannya suami kamu. Temannya Tuan Dion pasti ganteng-ganteng. Katanya orang ganteng temenannya sama yang ganteng juga," ucap Sindi.


Mia diam. Ia tidak langsung merespon ucapan Sindi. Ia masih tidak mengerti kalau yang ganteng temannya juga ganteng. Lagi pula, teman Dion yang Mia tahu ya cuma Reza. Dia juga sudah menikah. Siapa lagi teman Dion yang ia tahu?


"Mi, ada gak?" tanya Sindi yang membuyarkan lamunan Mia.


"Eh, gak ada." Mia menjawab refleks.


"Ya ampun, Mi. Masa pria sekelas Tuan Dion yang tampan dan mapan gak punya teman sih? Duda juga gak apa-apa yang penting tanggung jawab deh," ucap Sindi.


"Iya sih Sin. Yang penting itu dia tanggung jawab. Kalaupun duda, itu akan lebih terhormat dari pada bujangan yang tidak perjaka. Bener gak?" ucap Mia.


Suara tepuk tangan Sindi membangunkan Narendra yang hampir saja tertidur. Tapi karena Narendra sedang menyusu, Narendra tidak menangis. Naura lah yang menangis karena terkejut dengan suara tepiluk tangan Sindi yang tanpa aba-aba.


"Sindi," ucap Mia dengan suara pelan.


Sindi yang terkejut segera membungkam mulutnya dengan kedua tangannya. Saat perawat akan menggendong Naura, Sindi segera menahannya.


"Biar aku saja ya!" ucap Sindi.


Mata perawat itu mengisyaratkan tanya pada Mia. Setelah mendapat persetujuan, perawat itu mengangguk tanda ia sudah mengiyakan. Oa menjauh dan membiarkan Sindi menggendong Naura.


"Ah ya ampun Mia. Aku merasa jadi ibu. Udah cocok belum?" tanya Sindi dengan antusias.


Mia tidak menjawab. Ia hanya tertawa melihat tingkah sahabatnya itu.


"Kok malah ketawa sih Mi?" tanya Sindi kesal.


"Kamu cari calonnya aja dulu. Yang ganteng kayak Tuan Dion ya. Biar anaknya cakep kayak Naura sama Narendra. Cariin yang idungny kayak perosotan TK ya!" ucap Sindi.


"Perosotan kolam renang mau?" ucap Mia.


Sindi cemberut saat Mia merespon ucapannya dengan candaan. Padahal Sindi jujur dari hati yang paling dalam.


Selesai menidurkan bayi kembarnya, Mia dan Sindi keluar menemui Rian. Rian menunggu di kamarnya.


"Lama ya?" tanya Mia.


"Gak kok Kak. Bayi kembarnya udah pada tidur?" tanya Rian.


"Iya Kak? Wah Kak Sindi hebat," ucap Rian.


Mia memicingkan matanya saat melihat Rian dengan hebohnya merespon ucapan Sindi. Haruskah Rian memuji Sindi dengan seperti itu? Mia bahkan pusing melihat Sindi dan Rian yang terlihat satu frekuensi. Padahal dulu Sindi tidak seheboh ini.


"Kenapa Mi?" tanya Sindi.


"Gak," jawab Mia.


"Gak ikhlas banget kayaknya Rian bangga sama aku," ucap Sindi.


Mia tertawa melihat tingkah Sindi yang begitu heboh karena rasa bangganya sudah bisa membuat Naura tidur di pangkuannya.


Saat ini ponsel Mia berdering. Panggilan video dari Dion. Ia menanyakan kabar bayi kembarnya dan memastikan kondisi Mia.


"Kamu dimana itu?" tanya Dion.


Mia mengubah ke kamera belakang. Menampakkan suasana kamar Rian. Namun Mia heran saat melihat Rian dan Sindi tiba-tiba jadi pendiam. Bahkan sampai akhir panggilan video, tidak sepatah katapun keluar dari dua orang yang ada di hadapannya.


"Udah beres Mi?" tanya Sindi.


"Udah," jawab Mia.


"Ah, syukurlah." Sindi nampak mengusap dadanya dengan perasaan lega.


Mia mengerutkan dahinya. Ia tidak mengerti dengan tingkah Sindi.


"Kamu udah kayak bunglon aja," ucap Mia.


"Haha.. Ini namanya menyesuaikan diri, Mia. Kadang kita harus menjadi orang lain agar kita bisa diterima di suatu lingkungan," ucap Sindi.


"Loh, aku gak setuju. Harusnya kita tetep jadi diri kita sendiri dong. Ngapain kita jadi orang lain cuma buat diterima di lingkungan yang salah?" ucap Mia.


"Ya terserah kamu. Mau setuju atau gak, aku sih begitu. Boleh dong kita beda pendapat? Kalau semua manusia sama, dunia gak seru. Iya gak Ri?" ucap Sindi yang meminta dukungan Rian.

__ADS_1


"Hehe," Rian tersenyum miris mendengar jawaban Sindi.


"Beda prinsip antar teman itu gak masalah. Yang masalah itu adalah memaksakan prinsip kita pada teman sendiri," ucap Mia.


"Nah itu pinter," ucap Sindi.


Rian dan Mia tertawa melihat tingkah Sindi yang sangat semangat. Itu adalah salah satu langkah yang Sindi lakukan agar Mia tetap bahagia.


Dion memintanya ke Jakarta untuk membuat Mia terhibur dan tidak merasa sendirian. Makanya Sindi selalu bebas saat tidak ada Dion di sana. Karena dengan cara seperti itu, Sindi bisa melihat Mia tertawa lepas. Namun jika ada Dion, Sindi akan sangat membatasi sikapnya.


Sindi tahu Dion sangat mencintai Mia. Ia akan sangat menjaga istrinya sebagai seorang ratu. Tidak mungkin Sindi bertindak seenak jidat jika ada Dion. Bisa-bisa ia dikurung dalam penjara bawah tanah seumur hidupnya.


"Sin, Rian, makasih ya!" ucap Mia.


"Buat apa?" tanya Rian dan Sindi bersamaan.


"Kompak bener," ucap Mia.


"Jawab dulu," ucap Sindi.


"Ya buat kehadiran kalian. Jujur aja, sekarang Mia merasa lebih bebas. Mia senang dan gak sendiri," ucap Mia.


"Yang ada juga kita ya Ri, yang berterima kasih. Karena dengan semua kebaikan kamu dan Tuan Dion, kita jadi bisa enak-enakan begini." Sindi dengan wajah malu-malu tapi senangnya terlihat begitu mengesalkan bagi Mia.


"Iya Kak. Aku juga jadi gak enak," ucap Rian.


"Ah, udah ah. Kalian kalau dibawa bicara serius begini suka ngeselin. Gak asik ah. Mia istirhat dulu ya di kamar. Kalian juga istirahat," ucap Mia.


Mia menarik tangan Sindi agar ikut keluar dari kamar Rian.


"Mi, aku di sini aja. Jenuh tahu di kamar sendirian," ucap Sindi.


"Biarkan Rian istirahat," ucap Mia.


Tangan Sindi terus diseret sampai akhirnya Mia menutup pintu kamar Rian. Sindi harus pasrah saat ia akan menikmati kesendiriannya di dalam kamar besar.


Kamarnya memang mewah, bahkan jauh lebih mewah dari kosannya yang nampak seperti kandang burung jika dibandingkan dengan kamarnya sekarang. Namun Sindi benci kesendirian. Ia merindukan suasana pabrik saat di Surabaya.


"Eh, salah jalan. Kamu masih nyasar ya di rumah suami sendiri?" tanya Sindi.


Mia tidak menjawab. Ia tetap menarik Sindi untuk ikut dengannya. Tentu salah jalan, karena beda arah antara kamarnya dengan kamar Mia. Sindi diseret ke kamar Mia.


Mata Sindi terbuka lebar saat melihat ruangan besar yang tampak megah seperti istana dalam negeri dongeng.


"Mi, ini ruangan apa? Berasa jadi sinderela deh aku," ucap Sindi saat pintu kamar Mia tertutup.


Mata Sindi belum selesai mengedar. Ia terus menjelajahi setiap sudut ruangan. Memastikan kalau ini semua benar-benar nyata. Tangannya menyentuh pelan barang mewah yang ada di depan matanya. Mulutnya sedikit terbuka dan sesekali justru terbuka lebar saat melihat barang mewah yang ada di ruangan itu.


"Duduk!" ucap Mia.


Mia menepuk sofa di sampingnya agar Sindi berhenti bertingkah konyol. Tapi Mia sadar, apa yang Sindi lakukan adalah gambaran Mia saat pertama kali ia masuk ke kamar Dion, yang kini sudah menjadi kamarnya juga.


"Iya Mi," jawab Sindi.


Sindi mendekat namun matanya masih tetap mengitari setiap inci di kamar itu. Benar-benar mewah dan sangat luas.


"Sin," panggil Mia


"Hemmm," jawab Sindi.


Mia mencoba membuat Sindi fokus meskipun ia tidak berhasil. Sindi memang menjawab panggilan Mia, namun matanya masih tetap memperhatikan kamar Mia.


Ternyata ada yang lebih norak dari pada Mia.


Mia hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


######################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..

__ADS_1


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


__ADS_2