
Saat sedang asyik bercerita, Sindi melihat ponselnya. Sebuah panggilan dari suaminya.
"Siapa?" tanya Nyonya Helen.
"Danu. Sebentar ya, Ma!" ucap Sindi.
Sindi segera menjauh dari Nyonya Helen dan Mia untuk menjawab panggilan suaminya.
"Masih lama?" tanya Danu setelah panggilannya sudah dijawab.
"Kenapa?" tanya Sindi.
Dari jawaban Sindi yang malah balik bertanya, Danu tahu kalau istrinya masih betah.
"Gak, aku cuma nanya aja. Takut nanti sopir telat jemputnya," ucap Danu bohong.
"Nanti aku kabari ya kalau udah mau pulang," ucap Sindi.
Dengan perasaan kecewa, Danu menutup panggilanya. Ia sengaja tidak mengantar dan menjemput Sindi, padahal ia ada di rumah. Ia hanya tidak ingin Dion salah sangka padanya. Sebisa mungkin Danu tidak ingin membuat percikan permusuhan antara dirinya dengan Dion.
"Disuruh pulang ya?" tanya Nyonya Helen saat Sindi sudah kembali.
"Gak kok Ma. Cuma nanyain aja. Katanya takut sopir telat jemput," jawab Sindi.
"Memangnya Danu udah masuk kerja?" tanya Nyonya Helen.
Sindi nampak gugup. Ia bingung dengan jawabannya. Beruntung Mia mengerti kondisinya.
"Belum lah Ma. Kan pengantin baru," ucap Mia.
"Terus kenapa bukan dia yang antar jemput Sindi? Kok malah suruh sopir?" tanya Nyonya Helen.
Sindi sudah panik dengan pertanyaan dari Nyonya Helen.
"Sengaja Ma. Biar mainnya gak lama. Sindi pasti pulang cepet kalau gak sama suaminya. Maklum Ma, pengantin baru." Dengan begitu santai Mia menjelaskan pada Nyonya Helen.
"Emmm, si Danu memang pinter. Ada aja idenya," ucap Nyonya Helen sembari menggoda Sindi.
Sindi hanya bisa tersenyum malu, sekaligus merasa tenang. Ia senang saat Nyonya Helen tidak berpikir buruk dengan ketidakhadiran Danu hari ini.
Terima kasih ya Mi. Kamu memang selalu tahu saat aku butuh bantuan.
Mereka kembali bercerita. Saat sedang asyik, tiba-tiba suara Tuan Felix membuat mereka menoleh ke arah sumber suara. Kehadiran Tuan Felix membuat suasana semakin seru. Namun Mia melihat semakin lama Sindi semakin gelisah.
"Sin, kamu gak pulang sekarang? Nanti suami kamu kangen," goda Mia.
__ADS_1
"Ih, nanti dulu dong. Baru juga sebentar. Mama kan masih kangen," ucap Nyonya Helen.
"Ma, kan besok-besok Sindi main lagi ke sini. Iya kan Sin?" tanya Mia.
Itu adalah salah satu cara Mia memberi kode. Membantu Sindi agar segera pulang.
"Iya Ma. Nanti aku pasti ke sini lagi," ucap Sindi.
Meskipun perasaan Nyonya Helen sedih, namun Mia dan Sindi meyakinkannya kalau mereka tidak mungkin melupakan ibu terbaiknya.
"Meskipun aku udah punya ibu baru, tapi Mama gak akan tergantikan. Posisi Mama di hati dan hidup aku spesial. Lebih spesial dari martabak telor langganan Mia," ucap Sindi sebelum ia benar-benar pergi.
Nyonya Helen tertawa senang dengan ucapan Sindi. Ia juga menyadari peran Sindi kini sudah berbeda.
"Hati-hati ya!" ucap Nyonya Helen.
"Gak mau titip salam?" tanya Tuan Felix.
"Sama siapa?" Nyonya Helen balik bertanya.
"Besan," jawab Tuan Felix begitu datar.
Rupanya Tuan Felix tidak mengetahui adanya persetureruan diantara Nyonya Helen dan Nyonya Nathalie.
"Oh iya. Titip salam ya Sin," ucap Nyonya Helen dengan begitu canggung.
"Hati-hati ya Sin," ucap Nyonya Helen untuk kedua kalinya.
Pelukan hangat Nyonya Helen berhasil membuat Sindi semakin berat untuk meninggalkan rumah itu. Tapi ia sadar, diberi kesempatan untuk bisa berkunjung ke rumah itu saja sudah membuatnya senang. Ia tidak mau mengecewakan kepercayaan dari keluarga Danu.
"Baru pulang Sin?" tanya Nyonya Nathalie saat melihat Sindi sudah kembali.
"I-iya Bu," ucap Sindi.
"Betah ya?" tanya Nyonya Nathalie.
Pertanyaan macam apa itu? Sindi dibuat bungkam. Ia bingung harus menjawab apa. Sampai akhirnya Danu yang membantunya.
"Mi, siapa sih yang gak betah tinggal di rumah sendiri," ucap Danu sembari merangkul Sindi.
Tangan Danu yang mengusap bahu Sindi adalah salah satu bentuk perhatiannya. Caranya menenangkan istrinya dari kecemburuan Nyonya Nathalie.
"Tapi kan itu bukan rumah Sindi," ucap Nyonya Nathalie.
Danu menghela napas panjang sebelum menjelaskan semuanya pada Nyonya Nathalie. Sementara Sindi sudah memucat. Tangannya dingin. Ia khawatir kalau hal ini membuat permusuhan diantara keduanya kembali mencuat. Padahal yang Sindi tahu kalau mereka berdua sudah mulai sedikit berdamai.
__ADS_1
"Mi, rumah itu memang bukan rumah Sindi. Tapi rumah itu adalah tempat dimana Sindi ke Jakarta. Di rumah itu Sindi pertama kali merasakan kembali kasih sayang dari orang tua. Mami harusnya berterima kasih pada Nyonya Helen," ucap Danu.
Bukan hanya Nyonya Nathalie, tapi Sindi juga ikut menatap Danu. Mereka tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Danu.
"Maksud kamu apa?" tanya Nyonya Nathalie dengan suara lebih tinggi.
Sindi mengeratkan genggaman tangannya pada Danu. Ia tahu kalau keadaan sedang tidak baik. Dan yang membuatnya panik adalah saat keadaan tidak baik itu terjadi akibat ulahnya.
"Kalau bukan karena Nyonya Helen yang membawa Sindi ke Jakarta, kita gak akan ketemu sama Sindi. Mungkin saat ini aku belum menikah lagi, karena aku yakin hanya Sindi yang benar-benar bisa menerima aku apa adanya." Danu menatap Sindi dan memberikan senyumnya.
"Mama mau ke kamar dulu. Istirahat," ucap Nyonya Nathalie.
Tidak ingin berdebat panjang lebar, Nyonya Nathalie menyudahi obrolan secara tiba-tiba. Hal itu membuat Sindi semakin khawatir.
"Kamu kalau ngomong ya jangan begitu dong. Bu Nathalie jadi marah kan sama aku," ucap Sindi dengan raut wajah sedih.
"Mami gak marah kok. Kalaupun marah pasti marah sama aku. Mana mungkin Mami bisa marah sama kamu," ucap Danu.
Danu segera menenangkan Sindi dan membawanya ke kamar. Meskipun langkah Sindi mengikuti Danu, tapi kepalanya masih memikirkan tentang dugaannya pada Nyonya Nathalie.
Aduh jangan sampai Bu Nathalie jadi benci sama aku. Masa baru nikah dua hari udah dibenci mertua.
Namun sepertinya Sindi tidak perlu mengkhawatirkan Nyonya Nathalie. Justru dengan ucapan Danu, ia Nyonya Nathalie menjadi berpikir lebih baik lagi.
Apa aku harus baikan sama dia ya? Ah tapi selama ini aku memang udah berusaha baik sama dia. Dianya aja yang belum bisa move on sama masalah kita yang dulu.
Sementara di waktu yang sama Nyonya Helen juga sedang merenungi hal yang sama.
'Mama itu gak harus terus-terusan berseteru sama Nyonya Nathalie. Apapun yang dilakukannya biarkan saja. Kalau ditanggapi nanti Mama malah membuat Sindi sedih.'
Kalimat itu yang terngiang di telinga Nyonya Helen.
"Sin, maafin Mama belum bisa lupa bahkan mungkin gak mungkin bisa ngelupain semua itu. Mama janji akan bersikap sebaik mungkin. Mama gak mau bikin kamu sedih. Mama mau kamu selalu bahagia," gumam Nyonya Helen.
Wanita yang sudah menganggap Sindi sebagai anak kandungnya itu, kini bertekad untuk memperbaiki semuanya. Bahkan besok ia berniat untuk menemui Sindi di rumah besannya.
"Tapi aku harus tetap bawa bodyguard. Biar kalau dia macam-macam, ada yang belain aku. Mau gimanapun juga itu kan rumahnya, wilayah kekuasaannya. Jadi aku harus tetap hati-hati. Namanya masuk ke kandang macan kan harus tetap bawa senjata. Biar kalau dia ngamuk, kita bisa langsung tembak di tempat." Nyonya Helen kembali bergumam.
#####################
Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
__ADS_1
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.