
"Kamu kenapa sih Mas?" tanya Maya.
"Gak apa-apa May," jawab Reza sembari cemberut.
"Mas bikin ulah lagi sama Mas Dion ya?" tanya Maya.
Mata Reza terbelalak saat Maya tiba-tiba tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Kamu udah kayak paranormal aja," ucap Reza.
"Mas, kamu bikin ulah apa lagi?" tanya Maya.
"Gak ada. Ulah apa lagi sih. Aku gak ngapa-ngapain juga," ucap Reza sembari menjauh dari Maya.
Maya menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah laku suaminya.
"Mas, ingat kamu itu udah punya anak. Jangan kayak anak kecil dong," ucap Maya.
"Iya May, iya. Ini juga aku mau gendong anak bayi. Mana udah sarungan begini. Kurang bapak-bapak gimana aku?" ucap Reza.
Maya menahan tawanya. Ia tidak ingin berdebat terlalu jauh. Membiarkan Reza dengan tingkah dan sikapnya mungkin akan membuat suaminya kembali membaik dengan sendirinya.
"Mas," panggil Maya.
"Hemm," jawab Reza.
"Aku bahagia banget. Akhirnya doa kita dikabul sama Tuhan ya! Tuhan melembutkan hati keluarga kamu. Mereka ke sini dan mengakui anak kita," ucap Maya dengan mata berkaca-kaca.
Merasa obrolan Maya serius, Reza menidurkan kembali anaknya ke dalam box bayi. Ia mendekat dan mengusap kepala Maya.
"May, aku selalu bilang kalau semua akan ada masanya. Akan ada waktunya. Dan gak ada hasil yang mengkhianati usaha. Mungkin keluargaku juga melihat perjuangan kamu. Bagaimana sabarnya kamu menghadapi keluargaku. Maaf ya May," ucap Reza dengan penuh rasa bersalah.
"Maaf buat apa Mas?" tanya Maya.
"Maaf karena baru sekarang keluargaku menerima kenyataan ini. Aku tahu kamu sakit hati," ucap Reza.
"Tapi semua terbayar dengan apa yang terjadi hari ini Mas," ucap Maya.
"Kamu sesabar ini menghadapi keluargaku May. Aku gak tahu harus bilang sama kamu. Bahkan sekedar ucapan terima kasih aja gak ada apa-apanya," ucap Reza.
"Mas, aku sebaik itu. Masih banyak kekuranganku. Jangan memujiku berlebihan begitu," ucap Maya.
"Kekurangan kamu cuma satu," ucap Reza.
"Satu?" tanya Maya.
"Iya," jawab Reza.
"Apa?" tanya Maya bingung.
"Suka tidur kalau aku pulang lembur. Aku kan gak bisa anuan," ucap Reza.
__ADS_1
"Mas, aku kira apa." Maya mengusap wajah Dion.
"Mana sekarang cuti lama banget lagi," ucap Reza.
"Sabar ya! Nanti kita gaspol lagi," bisik Maya.
Reza tertawa bahagia mendengar ucapan istrinya. Berbeda dengan Mia dan Dion yang trauma dengan proses melahirkan, Maya dan Reza justru ingin segera menambah anak lagi.
"Pokoknya kita salip si Dion ya May," ucap Reza.
"Salip. Mas pikir kita lagi balapan," ucap Maya.
Mereka tertawa lepas dan saling bercerita satu sama lain, hingga akhirnya Reza meminta Maya untuk segera tidur. Setelah istrinya terlelap, Reza menatap Maya dengan penuh kasih sayang. Ia melihat istrinya sangat bahagia setelah kelahiran anaknya.
Reza menjauh dari istrinya. Ia membiarkan Maya beristirahat. Mendekat anaknya dan mengusap pipinya yang lembut.
Jagoan Papa, terima kasih sudah membawa kebahagiaan dan kedamaian buat kami. Berkat kamu nenek dan kakek serta saudara yang lainnya ke sini. Kehadiranmu benar-benar membawa berkah untuk kami, sayang.
Reza melihat pergelangan tangannya. Sudah terlalu malam jika ia harus menemui Sindi untuk mengucapkan selamat atas kehamilannya. Namun sayangnya ada kejadian yang lebih membuatnya terhibur hingga ia menunda apa yang seharusnya ia lakukan.
"Kalau tahu Dion gak marah, harusnya tadi aku ketemu Sindi aja." Reza menggerutu.
Rasa lelahnya membuat Reza tidur nyenyak meskipun ia hanya merebahkan tubuhnya di atas sofa. Bayinya yang juga tidur nyenyak membuat Reza tidur pulas.
"Sayang, kamu bangun sendirian?" tanya Reza panik saat melihat Maya tengah menyusui bayinya.
"Iya. Mau bangunin Mas gak enak. Keliatannya nyenyak banget. Pasti kamu kecapean," ucap Maya.
"Gak apa-apa Mas. Aku juga gak cape kok," ucap Maya.
"Aku ke kamar mandi dulu ya!" ucap Reza.
Saat Reza tengah di kamar mandi, ia mendengar suara orang sedang mengobrol. Ah, mungkin dokter, pikirnya. Ketika keluar dari kamar mandi, Reza dikejutkan dengan kedatangan keluarganya lagi. Kali ini mereka membawa buah-buahan untuk Maya.
Sempat tertegun karena merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Awalnya ia pikir kalau keluarganya hanya menerima kehadiran anaknya. Namun saat mereka datang membawa buah-buahan segar, ia merasa sngat bahagia. Karena itu artinya Maya juga sudah diterima oleh keluarganya.
"Mas," panggil Maya.
"Eh iya," ucap Reza sembari mengusap wajahnya yang masih basah.
Kebahagiaan Reza bertambah saat keluarganya meminta Reza dan Maya untuk tinggal di rumahnya. Ya, saat ini Reza dan Maya memang tinggal di rumah yang sudah disediakan oleh Dion. Setelah kembali dari Surabaya dan tinggal di Jakarta, mereka tidak kembali ke keluarga Reza. Namun akhirnya apa yang mereka impikan lagi-lagi terwujud.
"Kamu mau kan?" tanya ibunya Reza.
"Gimana May?" tanya Reza.
"Aku sih gimana Mas aja," jawab Maya.
"Iya Ma. Kita pulang ke rumah ya!" ucap Reza.
Hari ini benar-benar hari yang membahagiakan bagi Reza. Dari mulai anaknya yang tidak rewel. Lalu Maya yang sudah bisa berjalan dan menggendong anaknya sendiri. Dan sekarang, kedatangan keluarganya untuk memintanya kembali ke rumah.
__ADS_1
Waktunya dokter memeriksa keadaan Maya. Secara keseluruhan Mia dinyatakan sudah jauh membaik dan bisa pulang hari ini. Mereka bersiap untuk pulang. Namun sebelum pulang, Maya dan Reza ke ruangan Sindi dulu. Sementara bayinya sudah ke mobil duluan bersama orang tuanya.
"Nyonya," ucap Sindi dengan senyum bahagia.
"Panggil aku Maya saja," ucap Maya.
"I-iya," ucap Sindi gugup.
"Selamat ya buat kehamilannya," ucap Maya.
"Terima kasih. Selamat juga ya buat kelahiran baby boy nya," ucap Sindi.
"Iya. Kamu juga gak lama lagi bakal gendong bayi Sin," ucap Maya.
"Iya. Aku udah gak sabar," ucap Sindi. "Oh ya mana bayinya?" tanya Sindi.
"Sama nenek dan kakeknya," jawab Maya.
"Nenek dan kakek?" tanya Sindi.
Akhirnya Sindi ikut bahagia saat Maya menceritakan apa yang sudah terjadi dalam hidupnya. Sindi yang menjadi tempat curhat saat mereka sedang din Surabaya dulu, tahu betul bagaimana bahagianya Maya saat ini.
"Nanti aku lihat bayinya kalau udah pulang ya May," ucap Sindi.
"Udah kamu tenang aja. Sehat-sehat aja dulu," ucap Maya.
Sindi memang masih di rawat karena tekanan darahnya tang drop. Ia juga masih belum bisa masuk makan karena mual yang ia alami setiap kali makanan masuk ke tenggorokannya.
"Cepat sehat ya! Nanti aku antar kamu ke rumah Maya," ucap Danu setelah Maya dan Reza pulang.
"Memangnya kamu tahu dimana rumahnya?" tanya Sindi.
"Ya kan kamu punya nomornya. Kamu tanya dong sama dia," jawab Danu.
"Kirain kamu udah tahu dimana rumahnya," ucap Sindi.
"Kamu pikir aku tukang sensus penduduk," ucap Danu.
"Kali aja mantan tukang sensus penduduk," ucap Sindi.
"Sindiiiii," teriak Nyonya Nathalie.
"Ibu kok udah ke sini?" tanya Sindi.
"Udah kangen sama cucu kesayangan," jawab Nyonya Nathalie.
"Kan masih di perut Mi," ucap Danu.
"Walaupun masih di perut kan dia bisa dengar kalau omanya ke sini. Mami juga bawain makanan sehat buat cucu kesayangan Mami," ucap Nyonya Nathalie.
"Kayaknya aku makin tersisih deh. Dulu posisiku udah tergeser karena kehadiran Sindi sebagai menantu kesayangan. Sekarang, aku semakin terlempar saat hadirnya si cucu kesayangan. Nasib, nasib," ucap Danu.
__ADS_1