
Saat pintu ruangan terbuka, sudah ada Nyonya Nathalie dan Tuan Ferdinan yang menyambut.
"Sindi, terima kasih. Terima kasih sudah mau berjuang menaruhkan nyawamu demi cucuku," ucap Nyonya Nathalie sembari menangis.
"Bu, aku yang seharusnya berterima kasih. Terima kasih sudah menjadikan aku bagian dalam keluarga kalian," ucap Sindi dengan senyumnya.
"Kamu memang anak baik. Pilihan Mami memang tidak salah. Kamu lihat kan Danu? Makanya sama orang tua itu harus nurut," ucap Nyonya Nathalie.
"Permisi Nyonya, kami harus mengantar pasien ke ruangan inap." Perawat itu menyudahi perdebatan sebelum dimulai.
"Oh iya, iya, silahkan. Mana cucuku?" tanya Nyonya Nathalie.
"Masih di dalam Nyonya. Mungkin sebentar lagi keluar," ucap perawat.
"Ah iya," jawab Nyonya Nathalie. "Danu antar Sindi ke ruangannya. Biar Mami yang nungguin bayinya," ucap Nyonya Nathalie.
"Mi, jangan senyum-senyum sendiri begitu. Ngeri Papi liatnya," ucap Tuan Ferdinan.
"Ih Papi," ucap Nyonya Nathalie marah.
"Lagian ngapain senyum-senyum sendiri begitu? Sini ajak Papi dong," ucap Tuan Ferdinan.
"Ya udah Papi kalau mau ikutan senyum, senyum aja. Ngapain harus diajakin segala. Memangnya gak ada inisiatif buat senyum? Gak bahagia ya udah punya cucu?" tanya Nyonya Nathalie.
"Bahagia kan bukan berarti harus senyum sendiri Mi. Lagian bayinya juga belum kelihatan," jawab Tuan Ferdinan.
"Ini sebentar lagi juga keluar. Makanya Mami udah gak sabar nih," ucap Nyonya Nathalie.
Cucuku perempuan atau laki-laki ya?
Nyonya Nathalie nampak gelisah. Ia melihat kiri dan kanan bahkan mengetuk pintu ruang bersalin.
"Mami mau ngapain sih?" tanya Tuan Ferdinan.
"Pi, anaknya Sindi sama Danu perempuan atau laki-laki?" tanya Nyonya Nathalie.
"Mana Papi tahu," jawab Tuan Ferdinan.
"Ya udah kalau gak tahu biar Mami tanya sama dokternya. Dokternya pasti ada di dalam kan?" tanya Nyonya Nathalie.
"Gak ada Mi. Terbang lewat jendela," jawab Tuan Ferdinan.
"Papi kenapa sih? Sensi banget deh. Jangan marah-marah nanti cepat tua," ucap Nyonya Nathalie.
Perasaan yang suka marah-marah Mami deh. Pantesan Mami cepat...
Lamunan Tuan Ferdinan berhenti saat Nyonya Nathalie menatapnya penuh ancaman.
"Apa? Ngomong apa tuh di hati?" tanya Nyonya Nathalie.
"Gak ada Mi. Papi gak ngomong apa-apa," jawab Tuan Ferdinan.
Tuan Ferdinan diselamatkan oleh kehadiran Dokter yang membuka pintu ruangan. Kemarahan Nyonya Helen terhenti saat melihat bayi lucu keluar dari ruangan itu.
"Cucu saya? Apakah itu cucu saya?" tanya Nyonya Nathalie.
__ADS_1
Tuan Ferdinan nampak mengusap dadanya. Bukan hanya senang karena melihat cucunya. Namun ia juga senang saat terbebas dari tatapan maut istrinya.
"Iya Nyonya. Ini putra dari Tuan Danu dan Nyonya Sindi," jawab Dokter.
"Putra? Laki-laki?" tanya Nyonya Nathalie.
"Ita dokter," jawab Dokter.
"Pi, kita punya penerus perusahaan. Dia pasti tumbuh jadi anak yang pintar dan hebat," ucap Nyonya Nathalie.
"Permisi Nyonya, kami harus antarkan bayi ini kepada ibunya," ucap Dokter.
"Oh iya. Ayo kita ke sana!" ucap Nyonya Nathalie.
Saat Nyonya Nathalie melangkah gembira mengikuti dokter untuk ke ruangan Sindi, teriakan Nyonya Helen menghentikan langkahnya.
"Jangan teriak-teriak. Nanti cucuku bisa menangis," ucap Nyonya Nathalie.
"Cucuku?" tanya Nyonya Helen dengan nada mengancam.
"Iya, cucu kita. Makanya jangan berisik," jawab Nyonya Nathalie pelan.
Tuan Ferdinan dan Tuan Wira saling menatap dan menggelengkan kepalanya. Mereka masih saja tidak percaya jika keduanya sempat berdebat di saat seperti ini.
"Sindi," ucap Nyonya Helen.
Sebuah pelukan hangat mendarat di tubuh Sindi yang masih terbaring. Air mata Nyonya Helen jatuh. Rasa senangnya ia ekspresikan dengan air mata.
"Maafkan Mama yang gak bisa nemenin masa-masa sulit kamu," ucap Nyonya Helen.
"Gak apa-apa Ma. Ada Danu yang selalu setia menemani aku," ucap Sindi.
"Sudah menjadi kewajibanku untuk selalu menjaga istriku," ucap Danu.
"Sindi beruntung memiliki kamu," ucap Nyonya Helen.
"Iya dong. Aku kan mendidik Danu biar jadi pria yang bertanggung jawab," ucap Nyonya Nathalie.
"Mami," ucap Tuan Wira.
"Iya, iya," ucap Nyonya Nathalie.
Merasa Tuan Wira tengah mengingatkannya, Nyonya Nathalie diam. Ia tidak ingin mengganggu Sindi yang harus banyak istirahat.
"Oh ya Sin, maaf Mia belum bisa ke sini. Nanti pulang kerja dia pasti langsung ke sini sama Dion," ucap Nyonya Helen.
"Iya Ma gak apa-apa. Aku ngerti kok," ucap Sindi.
Akhir-akhir ini Mia memang sedang kejar target. Ia ingin saat Tuan Felix kembali, apa yang ditargetkan sebelumnya memang sudah tercapai.
Saat Mia sedang bersiap untuk pulang, ponsel Mia berdering. Panggilan dari Tuan Felix menahannya untuk pulang sementara waktu.
"Nanti kalau sudah di rumah sakit, Papa mau video call sama Sindi ya! Sampaikan salam Papa buat Sindi dan suaminya. Nanti Papa sama Rian pasti pulang untuk melihat cucu Papa," ucap Tuan Felix.
"Iya Pah. Mia tunggu ya!" ucap Mia.
__ADS_1
"Kamu masih di kantor?" tanya Tuan Felix.
"Iya Pah," jawab Mia.
"Jangan terlalu memaksakan diri Mia. Bagi waktumu untuk istirahat. Papa gak mau kalau kamu terlalu mementingkan pekerjaan dibanding kesehatanmu sendiri," ucap Tuan Felix.
"Iya, Papa jangan khawatir. Mia pasti bagi waktu kok," ucap Mia.
Mia memang pintar membagi waktu. Di tengah kesibukannya, ia masih bisa mengurus kedua anak kembarnya. Kadang saat pekerjaan kantor sedang agak longgar, Mia menyempatkan istirahat sebentar. Namun saat pekerjaan sedang padat, Mia akan totalitas dalam bekerja.
"Ayo!" ajak Dion.
"Papa," ucap Mia sembari mengangkat ponselnya.
"Aku tunggu di luar ya!" ucap Dion.
Mia mengangkat jempol tangannya dan melanjutkan obrolannya. Setelah selesai, Mia menemui Danu dan meninggalkan kantor.
"Mau pulang dulu?" tanya Dion.
"Narendra sama Naura aku minta pulang sama perawat. Biar kita langsung ke rumah sakit. Mama sama Papa juga udah di sana," ucap Mia.
"Oke," jawab Dion.
Mia dan Dion ke rumah sakit tanpa kedua anak kembarnya. Mereka menemui Sindi setelah tahu ruangan Sindi.
"Sin," panggil Mia.
Mia berlari dan memeluk Sindi.
"Mia," ucap Sindi.
Danu yang melihat Mia dan Sindi segera keluar. Ia tidak ingin Dion menjadi salah sangka. Namun langkahnya terhenti saat Dion menahannya.
"Tetaplah di sini kalau kamu memang sudah tidak ada rasa pada istriku," bisik Dion.
Danu menghela napas panjang dan mengangguk. Ia kembali ke tempatnya semula. Berdiri melihat keduanya dengan tatapan kosong. Tidak lama ia memejamkan matanya.
Ini aku harus gimana ya? Liatin mereka atau jangan ya? Nanti si Dion salah sangka lagi.
Ketika Danu membuka matanya. Ia terkejut saat Dion menatapnya dengan dahi yang berkerut.
"Ngapain?" tanya Dion.
"Ngantuk," jawab Danu.
Tangis bayi membuat Dion berhenti bicara. Mia menggendong bayi itu. Tidak lama bayinya diam dalam gendongan Mia.
"Mi, kamu kurusan." Sindi melihat Mia dengan seksama.
"Mia sengaja diet. Katanya baju kerja pada gak muat," jawab Nyonya Helen.
Mia tertawa. Ia senang saat Nyonya Helen segera membelanya. Sebenarnya Mia sama sekali tidak diet. Ia hanya lelah dengan kesibukannya. Namun di sisi lain Mia sennag karena ia tidak perlu cape-cape untuk diet.
"Oh iya Papa Felix mau nelepon," ucap Mia.
__ADS_1
"Sini biar bayinya aku yang gendong," ucap Nyonya Nathalie.
Tuan Wira segera memberi kode pada Nyonya Helen agar bersikap tenang. Membiarkan bayi itu dalam gendongan Nyonya Nathalie meskipun ia juga ingin menggendongnya.