
Masih di kamar mandi. Dion menggeleng-gelengkan kepalanya. Menatap wajahnya pada sebuah cermin. Antara kesal dan ingin tertawa. Ya lebih tepatnya menertawakan diri sendiri.
Sementara Mia yang sedang tertidur pulas, harus bangun karena ingin buang air kecil. Ia meraba kasur di sampingnya. Tidak ada siapapun. Mia menatap dinding kamarnya. Sudah hampir jam sebelas malam.
Mas Dion belum pulang?
Mia meraih ponselnya dari atas nakas. Tidak ada pesan apapun dari Dion.
"Mas kok begitu sih? Sejak kapan mas cuek begini sama Mia? Mas gak lupa kan kalau Mia itu lagi hamil anak mas? Kenapa gak ada satupun pesan buat ngabarin Mia? Apakah seasyik itu saat bertemu dengan Reza? Sampai mas lupa sama Mia?" gumam Mia.
Mata Mia mulai berkaca. Semenjak hamil Mia memang lebih sensitif. Perhatian Dion membuat Mia kecanduan, hingga saat Mia tidak mendapat perhatian itu ada hal yang kurang dalam hidupnya.
Mia turun sari ranjangnya dan segera ke kamar mandi.
"Aaaa," teriak Mia.
"Mia?" panggil Dion.
"Mas? Mia pikir mas belum pulang," ucap. Mia.
"Aku udah pulang dari tadi," jawab Dion.
"Terus ngapain di sini?" tanya Mia.
"Ngaca," jawab Dion sekenanya. Karena jujur saja kalau Dion bingung harus menjawab apa.
"Di kamar kaca lebih dari tujuh puluh inch, ngapain mas ngaca di kamar mandi?" tanya Mia.
Aduh, Mia semakin lama kamu itu sudah seperti dosen penguji saja. Pertanyaan kamu harus sampai ke akar. Bikin aku susah ngelesnya.
"Kamu mau ngapain?" tanya Dion.
"Mau pipis. Tuh kan hampir saja lupa. Awas mas keluar, Mia mau pipis dulu." Mia mendorong Dion untuk keluar dari kamar mandi.
Dion mengusap dadanya. Akhirnya ia bisa leas dari pertanyaan Mia.
"Mas, itu rujak?" tanya Mia.
"Iya, aku yang bikin. Asli buatan tanganku yang super ini," ucap Dion dengan bangga.
Demi rujak ini, adek aku sampai kepanasan.
"Ah, benarkah? Mia gak percaya kalau mas bisa bikin rujak," ucap Mia sambil mendekat ke arah rujak itu.
"Ya memang dibantu sama juru masak sih. Tapi asli aku yang ngulek," ucap Dion meyakinkan Mia.
"Makasih ya mas. Mia cobain ya!" ucap Mia yang sangat senang saat melihat rujak.
"Harus dong. ayo cepat dicoba dong Mi," ucap Dion.
Mia dengan sangat antusias mencoba rujak yang dibuat langsung oleh suaminya itu.
"Gimana?" tanya Dion.
Mia tidak menjawab. Ia hanya mengangkat jempol tangannya. Dion merasa sangat puas dengan wajah Mia yang terlihat bahagia saat makan rujak. Tapi dibalik itu, ada rasa bersalah yang Dion rasakan. Dion merasa bersalah karena tadi sampai lupa membelikan rujak untuk Mia. Padahal Mia memang sangat menginginkan rujak itu.
"Mia," panggil Dion.
"Hemm," jawab Mia yang masih sibuk mengunyah.
"Maafkan aku ya!" ucap Dion sambil mengusap kepala Mia.
"Untuk?" tanya Mia.
"Karena tadi aku lupa membelikanmu rujak. Tapi sudah aku ganti ya! Jadi nanti bayi kita gak boleh ngeces," ucap Dion.
"Ya ampun mas. Kalau saja mas gak bikinin rujak, Mia bahkan lupa kalau Mia mau makan rujak." Mia mencoba membuat Dion tidak merasa bersalah.
Padahal seperti dugaan Dion, kalau Mia memang sangat menantikan rujak yang ia pesan. Namun saat mendapati Dion tidak membawa apa yang ia harapkan, itu membuat Mia sedikitnya kecewa. Tapi ia juga tidak mau melihat Dion sedih dan bersalah. Hingga Mia berusaha melupakan semua keinginannya itu.
"Mas, ayo makan rujaknya bareng-bareng biar seru," ajak Mia.
"Aku kurang suka rujak Mia. Kamu saja yang makan ya!" ucap Dion.
"Yaaaa, padahal ini enak banget loh," jawab Mia.
Mia aku tahu rujak ini pasti enak, karena aku buat dengan cinta dan kasih sayang serta kerinduan.
"Mas ayo dong!" ajak Mia.
"Kamu aja ya!" ucap Dion.
"Gak seru. Mia mau kayak di kampung Mia, makan rujak itu barengan sama tetangga. Seru mas," ucap Mia.
"Serunya apa?" tanya Dion.
"Kan sambil ngomongin tetangga yang gak ikut ngerujak. Hehe," jawab Mia.
"Berarti yang seru bukan makan rujaknya, tapi gosipin tetangganya. Iya kan?" ucap Dion.
Mia tertawa keras. Kepalanya kembali mengingat suasana di kampungnya. Ya, meskipun yang ia bicarakan itu bukan pengalamannya. Karena ia tidak punya waktu untuk berkumpul dan menggosipkan orang lain. Waktunya habis untuk mencari uang dan uang.
Setelah alasan yang pertama tidak berhasil, Mia mencari alasan yang kedua. Mia ingin merasakan apa yang mereka rasakan saat dulu. Mia hanya bisa melihat tanpa tahu bagaimana asyiknya ngerujak bareng.
Ah aku ada ide.
__ADS_1
"Maass, tapi kata bayinya mau ngerujak bareng papanya. Kalau di kampung Mia juga yang namanya ngerujak itu makannya bareng-bareng. Masa Mia sendirian?" rengek Mia.
Ya ampun Mia, mau makan rujak aja harus rame-rame. Udah kayak bubaran pabrik aja.
"Kan aku temenin, Mi. Jadi kamu gak sendirian, ada aku. Ayo lanjut makannya!" ucap Dion.
"Tapi Mas kan gak ikut makan. Mia mau sama mas," rengek Mia.
"Mia, tapi ini sudah malam. Aku gak bisa makan rujak jam segini," ucap Dion.
"Oh, jadi mas takut sakit perut? Terus ngapain mas bikin rujak ini buat Mia? Biar Mia sakit perut gitu? Atau jangan-jangan rujaknya pakai racun ya? Makanya mas gak mau makan. Iya kan?" tanya Mia kesal.
Loh kok bisa jadi begini sih urusannya. Padahal tapi tadi ekspektasinya kan romantis gitu. Eh, realitanya boro-boro romantis. Berasa penuh kesengsaraan deh. Tahu begini, mending pura-pura lupa aja seumur hidup. Kayaknya lebih aman deh.
"Mia, bukan begitu. Tapi aku kan sudah makan. Lagi pula kenapa aku bikin rujak, karena tadi kamu kan mau rujak. Makanya aku bikinin. Itung-itung aku menebus kesalahanku," ucap Dion.
"Ya sudah kalau gitu ayo makan bareng! Apa salahnya sih kalau cuma makan rujak?" tanya Mia kesal.
Tanpa jawaban Dion langsung mengambil salah satu irisan buah mangga dan dicocol pakai bumbu rujak.
"Yeaaaay," ucap Mia senang hingga ia bertepuk tangan.
Membahagiakanmu itu sangat mudah Mia. Hanya seperti ini saja kamu sudah tertawa lepas dan terlihat sangat bahagia. Tetaplah seperti ini, istriku.
Setelah merasakan satu kali suapan, Dion justru merasa ketagihan. Ia sendiri tidak menyangka kalau rujak buatannya bisa seenak itu. Matanya melirik ke arah dinding.
Makan rujak jam segini ada efeknya gak ya? Aduh, semoga perut ini bisa bersahabat ya. Eh cacing, baik-baik ya, jangan sampai aku sakit perut. Kalau harus sakit perut, kamu wakilin aku ya cing. Kamu aja yang sakit perut. Nanti aku kasih makanan enak deh kalau kamu mau kerja sama.
"Mas, gimana kabar Reza?" tanya Mia.
"Ngapain kamu nanyain Reza? Kangen kamu sama dia?" tanya Dion cemburu.
"Loh, kok mas marah? Kan Mas tadi sudah ketemu sama Reza. Ya wajar dong kalau Mia nanyain kabarnya dia," jawab Mia.
Ah, aku sampai lupa kalau tadi aku berbohong pada Mia.
"Mi, sebenarnya tadi aku gak ketemu sama Reza. Tapi aku ke supermarket. Maaf ya aku udah bohong sama kamu," ucap Dion.
"Ngapain kamu ke supermarket?" tanya Mia.
"Sebenarnya aku gak niat ke supermarket, tapi aku niatnya cari rujak. Aku gak enak pas kamu bilang mual makan nasi. Aku langsung inget kalau kamu pesan rujak tadi. Aku mau bikin kejutan makanya aku bohong sama kamu. Pas udah muter-muter, gak ada yang jualan rujak. Makanya aku inisiatif buat beli bahan-bahannya dan bikin sendiri rujaknya," jawab Dion.
"Mas, makasih ya! Mas baik banget sama Mia. Benar apa kata orang. Kalau wanita akan diperlakukan bagaikan ratu jika bertemu dengan pria tepat. Dan Mas pria yang sangat tepat untuk kita. Mas bisa membuat Mia selalu tersanjung dengan semua yang Mas lakukan. Padahal Mia hanya seorang buruh pabrik," ucap Mia.
Sebenarnya ini bukan ide aku sih, tapi yang penting apa yang sudah aku lakuin sweer kan?
"Ssssst," ucap Dion sambil mengangkat telunjuknya tepat di bibir Mia. "Aku paling tidak suka kalau kamu sudah bawa-bawa strata sosial begitu. Semua orang itu sama. Sama-sama bernafas pake gas, sama-sama makan nasi, sama-sama merasakan ingin tidur dan ingin pup," lanjut Dion.
Mia hanya tertawa mendengar jawaban suaminya.
Mana ada romantis bawa-bawa pup segala.
"Iya Mas. Kamu semakin ke sini semakin romantis. Mia makin sayang deh sama Mas," ucap Mia.
Pelukan dan ciuman Mia yang mendarat di pipi kanan Dion, membuat pria yang tengah marah itu menjadi luluh seketika. Dion kembali memeluk Mia dan mencium kepala istrinya.
"Mas," panggil Mia manja.
"Hemm," jawab Dion.
"Tempur yuk!" ajak Mia.
Hah? Mia? Ngajak tempur? Tahu begini aku gak niat tempur sendiri tadi. Kalau sekarang, mana bisa tempur? Adeknya lagi demam. Panas banget ini. Masa iya harus nolak sih? Tapi kalau ajakannya diterima, rasanya juga gak mantap dong.
"Mas, kok bengong?" tanya Mia.
"Eh, gak. Jam itu kalau aku sama kamu, berasa cepet banget ya! Baru aja tadi jam sebelas, ini udah mau jam dua belas lagi. Bayinya pasti mau istirahat," ucap Dion sembari mengusap perut Mia.
Mia melihat perutnya. Benar apa kata Dion, bayinya harus istirahat. Mia tidak boleh mengabaikan kesehatannya, karena bayinya juga akan merasakan dampaknya.
"Mas, gak jadi tempur deh. Tidur aja ya?" pinta Mia.
Yesss, akhirnya. Aku gak nolak ya Mi. Malam ini boleh gagal, semua gara-gara rujak. Tapi besok, aku pastikan tidak ada kegagalan dalam sebuah pertempuran. Haha
"Gak jadi ya?" tanya Dion dengan raut wajah sedih.
"Mas kecewa ya?" tanya Mia.
"Sangat kecewa, tapi kalau demi bayi kita gak apa-apa deh aku mengalah. Masih bisa besok kan?" ucap Dion meyakinkan.
"Iya mas," jawab Mia pasti.
Yeaaaay, akhirnya adek aku bisa terselamatkan.
Dion membawa Mia untuk berbaring di atas ranjang. Dalam posisi tidur yang nampak sangat santai, Dion menyembunyikan rasa panas yang belum juga sirna.
Pelukan dan usapan lembut Dion di kepala Mia, membuatnya lebih cepat nyenyak. Perlahan, panas si adek juga semakin turun. Namun belum hilang seratus persen.
Mata Dion ikut terpejam. Mungkin setelah bangun tidur si adek bisa kembali normal. Tanpa harus panas yang membuatnya tersiksa.
Aduh, kenapa ini?
Dion memegang perutnya yang terasa sakit. Perlahan Dion menggeser kepala istrinya agar tangannya bisa terlepas. Setelah tangannya lepas, Dion segera turun dari ranjang dan berlari ke kamar mandi. Dorongan super power dari perutnya membuat muka Dion pucat. Lututnya gemetar setelah bolak balik kamar mandi sekitar lima kali.
Cacing, kamu benar-benar gak biaa aku ajak kerja sama ya! Aku kan udah bilang, kamu aja yang sakit perutnya, jangan aku. Awas ya! Aku gak bakal ngasih makanan yang enak-enak deh buat kamu.
__ADS_1
Melihat jarum jam di dinding sudah menunjuk angka enam, membuat Dion tidak kembali ke atas ranjangnya. Dion memilih sofa untuk beristirahat. Dari jam enam, Dion masih harus kembali ke kamar mandi beberapa kali. Meskipun jaraknya memang tidak sesering tadi.
"Mas," panggil Mia saat melihat Dion berbaring di atas sofa.
"Kenapa Mi? Kamu mules juga?" tanya Dion.
"Mules? Gak kok. Memangnya mas mules ya?" tanya Mia.
"Kamu gak lihat aku udah lemes begini? Aku udah kayak kehilangan setengah cairan tubuh aku? Lemes banget Mi," ucap Dion.
"Yang penting kan gak kehilangan separuh nafas kamu. Karena Mia masih ada di sini. Eyaaaa," ucap Mia sambil tertawa.
"Hehe," Dion mencoba tertawa agar Mia merasa senang, meskipun ia hampir tidak ada kekuatan untuk tertawa lagi.
Miaaaa, kamu kenapa sih kalau romantis itu gak tepat waktu? Semalam, kamu ngajak aku tempur pas si adek lagi kepanasan. Nah sekarang, kamu gombalin aku pas aku lagi mules dan lemes gini? Mana ada energi aku buat baper Mia? Ampuuun.
Mia turun dari ranjangnya dan masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Dion memejamkan matanya untuk beristirahat, ketika perutnya bisa diajak kompromi.
"Mas, kamu kenapa? Kok pucat gitu?" tanya Mia.
Mia seger mendekat dan memegang dahi suaminya dengan punggung tangannya.
"Aku Mules Mi. Lemes banget," jawab Dion.
"Sejak kapan?" tanya Mia panik.
"Bangun tidur," jawab Dion singkat. "Adududuh, awas sayang. Aku mules lagi ini," ucap Dion.
Dengan tenaga sisa, Dion kembali ke kamar mandi entah untuk ke sekian kalinya.
"Sayang, kamu gak apa-apa kan?" tanya Mia.
Mia menggedor pintu kamar mandi setelah Dion cukup lama tidak kembali.
"Iyaaaa," jawab Dion dengan suara yang semakin lemas.
Mia meminta Mba untuk membereskan bekas rujak. Lalu meminta sarapan di antar ke kamarnya.
"Mama mana?" tanya Mia.
"Masih di kamar, Nyonya. Mau saya panggilkan?" ucap Mba.
"Tidak usah. Biar Mia sendiri yang panggil Mama. Terima kasih," jawab Mia.
"Sama-sama Nyonya," jawab Mba.
"Permisi Maaa, ini Mia. Mama sudah bangun?" ucap Mia sambil mengetuk pintu kamar mertuanya.
"Iya Mia. Sebentar," ucap Nyonya Helen.
Tak lama pintu kamar Nyonya Helen terbuka. Tampak Nyonya Helen dan Tuan Wira keluar dari dalam kamar.
"Ada apa?" tanya Tuan Wira panik.
Wajar saja, karena Mia tidak pernah sampai mencari mereka hingga menyusul ke kamar.
"Minta nomor telepon dokter, Pa." Mia memberikan ponselnya.
"Kamu kenapa? Apa perut kamu sakit? Apa yang terjadi dengan bayiku?" tanya Nyonya Helen panik.
"Bukan Mia, Ma. Mia baik-baik saja. Tapi Mas Dion," jawab Mia.
"Dion? Kenapa dia? Apa jangan-jangan Dion sama Reza ke club sampai pulang larut malam?" tanya Nyonya Helen.
Mia menggeleng. "Mas Dion sakit perut," jawab Mia.
"Apa jangan-jangan Dion kebanyakan minum?" tanya Tuan Wira.
Mia menggeleng.
Tuan Wira segera masuk ke dalam kamarnya dan menelepon dokter.
"Ayo kita lihat Dion! Papa sudah menelepon dokter. Kita tunggu di kamar kamu," ajak Tuan Wira.
Pintu kamar Mia terbuka dan nampak Dion yang sedang terbaring lemas di atas ranjangnya. Sarapan sudah tersedia di atas meja.
"Sabar ya Mas. Papa sudah panggil dokter. Maafin Mia karena udah paksa Mas makan rujak malam-malam," ucap Mia penuh sesal.
"Gak apa-apa Mi. Semua demi kamu dan anak kita," jawab Dion.
Tuan Wira dan Nyonya Helen saling menatap dan menahan tawa mendengar kekonyolan ini. Namun semuanya berubah saat melihat bagaimana Mia memperlakukan Dion. Bagaimana Mia begitu khawatir dan dengan penuh cinta menyuapi Dion.
"Mia, terima kasih sudah hadir di keluarga kami ya!" ucap Nyonya Helen.
Mia mengangguk dan tersenyum manis.
#################
Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.
Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
__ADS_1
Terima kasih..