
Malam yang lelah ini membuat keluarga Mia tidur nyenyak setelah melewati hari bahagia. Namun sepertinya tidak berlaku bagi pengantin baru yang tengah salah tingkah di kamar penuh bunga.
"Kamu kok gak tidur?" tanya Danu saat melihat Sindi sibuk bermain ponsel di sofa kamarnya.
"Belum ngantuk," jawab Sindi.
Sebenarnya Sindi masih gugup. Mana mungkin ia berani tidur di atas ranjang yang sama dengan Danu. Sementara jawaban Sindi justru terdengar sedikit menggelitik di telinga Danu.
Belum ngantuk? Apa aku harus membuatmu lelah malam ini agar kamu bisa tidur nyenyak?
Senyum nakal Danu membuat Sindi semakin tegang.
"Apa?" tanya Sindi.
"Belum ngantuk kan?" tanya Danu mengulang kalimat yang Sindi ucapkan.
Melihat Danu semakin mendekat, Sindi sudah pucat. Dadanya berdebar tak menentu. Dengan cepat ia mengambil langkah seribu untuk kabur.
"Ngantuk. Aku ngntuk," jawab Sindi.
Sayang sekali percobaannya untuk melarikan diri sia-sia. Danu berhasil menangkap Sindi. Kini tubuh Sindi sudah ada dalam dekapan Danu. Semakin lama semakin dekat. Pelukannya semakin erat hingga nyaris tidak ada jarak diantara mereka.
"Kamu mau ngapain?" tanya Sindi tegang.
Hembusan napas Danu berhasil membuat Sindi berkeringat dingin.
"Menjalankan kewajibanku sebagai seorang suami. Memberi nafkah batin padamu malam ini," ucap Danu.
Sindi bukan wanita polos. Ia jelas mengerti kemana arah bicara Danu. Dekat, dekat dan semakin dekat. Tidak ada lagi pertanyaan yan keluar dari mulut Sindi. Hanya terdengar hembusan napas yang semakin dalam. Sindi beberapa kali menutup matanya saat mata Danu bertemu dengan bola matanya.
Danu bergerak mendekati sakar lampu. Tentu tanpa melepaskan Sindi. Napas Sindi semakin tidak beraturan apalagi setelah lampu sudah berganti dengan lampu malam. Remang, hanya ada sedikit cahaya. Setidaknya Sindi bisa menyembunyikan wajah bahagianya.
"Sudah siap?" tanya Danu.
Pertanyaan yang enggan ia jawab namun Danu sudah tahu jawabannya. Diamnya Sindi adalah iya. Danu memulai kembali. Perlahan tapi pasti, Danu sudah membuktikan bahwa penyakitnha sudah benar-benar sembuh.
Tangan Sindi yang memegang erat punggung Danu adalah bukti bahwa ia berhasil menembus benteng pertahanan yang Sindi jaga selama ini. Suara pasrah Sindi terdengar sangat menantang di telinga Danu. Kian malam kian rusuh. Dari suara hingga gerakan semua menjadi lebih tidak beraturan sampai akhirnya keduanya tertidur lelap karena menghabiskan energi yang sangat banyak.
"Pagi," ucap Danu saat Sindi membuka matanya.
Kecupan lembut di bibir Sindi berhasil membuat Sindi harus susah payah menelan salivanya.
"Aku belum gosok gigi," ucap Sindi sembari menutup mulutnya.
"Aku mencium bibirmu. Bukan gigimu," jawab Dion dengan senyuman nakal.
Ada rasa bangga dan bahagia saat ia berhasil melihat noda kering di sprei putih itu.
"Aku mandi dulu," ucap Sindi.
"Aku mandiin ya!" ucap Danu.
"Jangan!" tolak Sindi.
"Kenapa?" tanya Danu.
"Aku bisa sendiri," jawab Sindi.
__ADS_1
"Aku juga bisa mandiin kamu kok," jawab Danu.
"Tapi aku mau sendiri," ucap Sindi.
"Kenapa?" tanya Danu.
"Aku malu," jawab Sindi.
"Malu? Bahkan saat aku sudah tahu semua tentangmu kamu masih malu?" tanya Danu.
Ya, walaupun cahaya lampu malam tidak terlalu terang, namun sepertinya Danu memang dapat melihat jelas semuanya. Melihat Sindi diam, Danu kembali berpikir nakal. Seperti asumsinya, jika diam itu artinya Sindi setuju.
"Biar aku gendong ya! Kita mandi," ucap Danu.
Saat Danu mengangkat tubuhnya Sindi nampak meringis.
"Kenapa? Apa yang sakit?" tanya Danu.
Tangan Sindi yang memegang bagian tubuhnya yang sakit itu membuat Danu merasa bersalah.
"Padahal aku hati-hati banget loh semalam. Pelan-pelan kok," ucap Danu.
"Iya. Mungkin akunya aja yang manja," ucap Sindi.
"Sini biar aku bantu!" ucap Danu.
Danu menggendong Sindi ke kamar mandi. Ia juga membantu Sindi membuka bajunya dan bersiap untuk mandi. Beberapa jejak yang ia tinggalkan semalam menjadi magnet tersendiri bagi Danu.
Pemberontakan sudah terjadi tanpa adanya komando. Namun ia mengurungkan niatnya saat melihat Sindi kembali merintih.
"Sedikit," jawab Sindi.
"Ya sudah kamu mandi saja. Aku keluar dulu!" ucap Danu.
Danu tidak sanggup jika harus memandikan Sindi dengan keadaan tidak bisa mengontrol dirinya. Sindi sendiri bingung mengartikan sikap Danu.
Apa Danu marah ya? Mungkin aku terlalu manja.
Sindi segera mandi dan keluar. Danu sudah berdiri di depan pintu. Rupanya Danu menunggu Sindi, ia khawatir jika terjadi apa-apa pada Sindi.
"Kamu gak apa-apa kan?" tanya Danu.
Sindi menggelengkan kepalanya.
"Mau aku gendong?" tanya Danu.
"Gak usah. Aku bisa sendiri," ucap Sindi.
Danu menggeser dan membiarkan Sindi berjalan. Memang sudah tidak meringis. Tapi dari cara Sindi berjalan, Danu tahu jika ia sedang tidak baik-baik saja.
"Aku baik-baik aja kok," ucap Sindi saat melihat Danu masih menatapnya.
"Aku mandi ya!" ucap Danu sembari tersenyum.
Di bawah guyuran air, Danu memejamkan matanya. Membersihkan tubuhnya, tapi tidak dengan pikirannya. Saat ini pikirannya masih kotor saat mengingat apa yang sudah terjadi padanya semalam.
Ini mandi terlama yang pernah Danu alami sepanjang hidupnya. Hingga ia tersadar saat Sindi mengetuk pintu kamar mandi.
__ADS_1
"Iya," jawab Danu.
"Ada telepon," ucap Sindi.
"Biarkan saja. Nanti aku akan menghubunginya lagi," ucap Danu.
Setelah selesai mandi, Danu meraih ponselnya dan melihat panggilan yang sudah ia lewatkan.
"Dari kantor? Gak ngerti pengantin baru nih orang kantor," gerutu Danu.
Danu kembali menghubunginya dan bicara beberapa menit. Tidak lama setelah panggilannya berakhir, pintu kamar diketuk. Sindi menatap Danu.
"Biar aku yang buka," ucap Danu.
Danu paham kalau Sindi tidak mau membuka pintu kamarnya.
"Apa ini?" tanya Danu saat melihat asisten rumah tangganya membawakan sarapan.
"Nyonya Nathalie bilang, Tuan dan Nyonya sarapan di kamar saja." Asisten rumah tangga itu menunduk hormat.
"Mamiiii," ucap Danu. "Ya sudah sini! Terima kasih ya!" ucap Danu sembari menerima sarapannya.
Danu menutup pintu dan menyimpan sarapannya di atas nakas.
"Sarapan dulu ya. Biar aku suapin," ucap Danu.
"Kok sarapan di kamar sih? Kayak pasien DBD tahu gak?" ucap Sindi.
"Jadi aku aedes aegypti-nya gitu? Mentang-mentang banyak tanda hisapan aku," goda Danu.
Sindi seketika memerah. Ia merasa malu sekali.
"Kamu harus tahu, Mami itu sangat perhatian sama kita. Buktinya sarapan aja sampai dibawa ke kamar begini. Itu artinya Mami mau biar bibit unggulku cepat tumbuh dengan baik," ucap Danu sembari mengusap perut rata Sindi.
Bibit unggul? Sindi teringat saat bibit unggul itu berhasil disemai.
"Sin, terima kasih ya! Semalam aku kooperatif banget. Nanti kalau udah gak sakit, lagi ya!" ucap Danu.
Sindi jadi salah tingkah saat mendengar ucapan Danu.
"Aku lapar," ucap Sindi yang mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Aku tahu kamu kehilangan banyak sekali energi malam tadi. Ayo makan yang banyak!" ucap Danu sembari menyuapi Sindi.
Sindi sangat bahagia. Ia benar-benar diperlakukan sangat spesial oleh Danu. Ingin rasanya Sindi menceritakan dengan bangga apa yang sudah ia alami setelah menjadi Nyonya Danu.
#####################
Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
__ADS_1