
"Mia, kamu telepon Dion, suruh tunggu di parkiran," ucap Nyonya Helen.
"Iya Ma," ucap Mia.
Belum sempat Mia mengirim pesan pada Dion, Dion sudah menghubunginya terlebih dulu.
"Siapa?" tanya Nyonya Helen saat mendengar dering ponsel Mia.
"A Dion Ma," jawab Mia.
"Panjang umur dia," ucap Nyonya Helen.
"Sebentar ya Ma," ucap Mia.
Mia segera menjawab panggilan dari suaminya. Belum juga Mia meminta Dion menunggunya di parkiran, Dion mengabari kalau ia sudah menunggunya di parkiran.
"Sudah sampai mana?" tanya Dion.
"Sudsh dekat A. Sebentar lagi juga sampai kok," jawab Mia.
Benar! Tidak menunggu lama, Dion sudah mendapati mobil Mia memasuki area parkir. Dengan sigap Dion menjemput Mia. Hal ini membuat Dion dan Mia menjadi pusat perhatian. Bagaimana Dion memperlakukan Mia seperti ratu, tanpa mengabaikan keberadaan Nyonya Helen.
"Ma, sini!" ucap Dion.
Dion berada di tengah. Menggandeng dua wanita yang paling ia cintai di dunia ini. Dua wanita yang membuatnya jadi manusia paling beruntung.
"Di, kamu sudah menghubungi dokternya kan? Mama gak mau kalau sampai ngantri-ngantri ya! Ingat Mia udah hamil besar. Dia pasti lelah kalau menunggu terlalu lama," ucap Nyonya Helen.
"Mama tenang aja. Aku udah janjian kok sama dokternya," ucap Dion.
"Baguslah. Kamu memang suami siaga sih kalau begini. Nilai kamu 99,99." Nyonya Helen menganggkat jempol tangannya.
"Ma, tanggung banget sih. Kenapa gak seratus aja nilainya?" tanya Dion.
"Hey, gak ada yang sempurna. Karena kesempurnaan hanya milik Sang Pencipta," ucap Nyonya Helen.
"Mama curang. Becandanya bawa-bawa Tuhan," ucap Dion.
"Eh Tuhan itu harus selalu dibawa dalam setiap kegiatan kita, hati kita, kepala kita," ucap Mia.
"Sayang, tadi kamu sarapan apa?" tanya Dion.
"Memangnya kenapa, A?" tanya Mia.
"Ini Mama kok bisa jadi mamah dedeh begini?" tanya Dion.
"Dasar kamu ya! Mama ingetin bukannya dengerin malah ngeledekin," ucap Nyonya Helen kesal.
"Iya nih Aa," ucap Mia.
Dion bukan berniat mengejek, ia hanya berusaha mengalihkan pembicaraan. Jujur saja, ketika Nyonya Helen sudah mengingatkan tentang kebesaran Tuhan padanya, ia selalu merasa sedih. Hatinya sakit. Saat Tuhan sudah memberikan segala kemudahan dan keindahan dalam hidupnya, tapi ia masih bisa lupa untuk bersyukur.
"Silahkan masuk!" ucap salah seorang perawat yang ada di depan ruangan pemeriksaan.
Sapaan dari perawat itu membuat bahasan tentang Mamah Dedeh terhenti sampai di sana. Ketiganya masuk dan disambut hangat oleh seorang dokter.
Beberapa pertanyaan menghujani Mia. Bahkan Mia merasa ini pertanyaan terbanyak selama hidupnya. Baginya pertanyaan dokter ini lebih banyak dari soal ujiannya dulu. Namun Mia menjawab semuanya dengan sabar karena pertanyaan itu berhubungan dengan bayi kembar kesayangannya.
Pertanyaan itu terhenti sebentar saat alat USG bergerak di perut Mia.
"Nyonya, apakah Anda sudah merasakan mules?" tanya Dokter.
DEG
Tiba-tiba jantung Mia terasa mau copot. Ia sungguh terkejut saat apa yang ia sembunyikan seolah-olah sudah terbongkar.
Ah tidak! Jangan panik Mia. Kenapa kamu harus menyembunyikan semua ini? Bukankah A Dion justru harus tahu? Biar lebih siaga.
"Tapi Dokter, bukankah HPL nya masih dua minggu lagi?" tanya Mia.
"HPL nya memang dua minggu lagi Nyonya, tapi HPL itu hanyalah sebuah prediksi. Bisa saja maju atau justru mundur. Namun saya lihat, posisi bayi kembar Anda semakin turun. Apakah Anda belum merasakan mules?" tanya Dokter.
Aduh bagaimana ini?
Mia jadi tegang. Sekarang ketegangannya bukan karena Dion khawatir padanya, tapi justru ia khawatir pada dirinya sendiri. Mia takut menghadapi proses melahirkan.
"Nyonya, apakah Anda sudah merasakan mules?" tanya Dokter itu sekali lagi.
Karena terdesak, akhirnya Mia mengakui semuanya. Ia memang sempat mules pagi tadi. Dion sampai membulatkan bola matanya. Dion tidak percaya kalau Mia bisa menyembunyikan hal sepenting itu padanya.
"Apakah Nyonya tidak mau melakukan lahiran secara SC?" tanya Dokter.
Mia tetap pada pendiriannya. Meskipun beberapa kali ia ditawari untuk melahirkan secara SC, namun Mia ingin melahirkan secara normal.
Sebenarnya Mia memang takut, tapi bayangan SC lebih menakutkan dari lahiran secara normal.
"Baikah jika itu pilihan Anda, namun saya sarankan agar Anda selalu diawasi oleh tenaga medis. Agar jika terjadi kontraksi sewaktu-waktu, Anda akan tetap baik-baik saja," ucap Dokter itu.
Mia menatap miris. Seperti inikah orang kaya? Bukankah Mia akan semakin takut jika tenaga medis selalu mengikutinya kemanapun ia pergi? Namun apa boleh buat? Ini pasti yang terbaik untuknya. Mia lupa siapa dirinya. Anak yang dikandungnya adalah harapan terbesar dari keluarga Tuan Wira. Jadi tidak mungkin mereka membiatkan resiko sekecil apapun terjadi pada anak kembar yang ada dalam perut Mia.
Melihat Mia yang tidak terlalu suka, Dokter itu mencoba memberikan tawaran kedua.
"Atau Anda bisa tetap tinggal di ruangan ini agar kami bisa memantau Anda setiap hari," ucap Dokter.
Seperti dugaan Dokter, Mia memang menolak pilihan kedua. Meskipun berat, Mia memilih pilihan pertama.
"Baiklah, Anda bisa memilih siapa yang akan menemani Anda." Dokter itu memberi beberapa rekomendasi timnya yang bisa diandalkan.
"Sayang," ucap Dion.
__ADS_1
Ingin rasanya Dion mengingatkan Mia kalau ia sudah melakukan kesalahan besar. Dion masih tidak terima saat tahu kalau Mia sempat mules pagi tadi.
"A, Mia jelasin nanti ya!" ucap Mia.
"Kamu pilih siapa yang akan menjagamu?" tanya Dion.
"Siapa saja A. Yang penting baik," jawab Mia.
"Dokter, berikan aku perawat wanita yang sangat berpengalaman dan terbaik," pinta Dion.
"Baik, saya akan pilihkan untuk Anda Tuan," jawab Dokter.
Seorang perawat wanita itu resmi menjadi perawat pribadi Mia. Setelah pemeriksaan selesai, perawat itu sudah mulai membuntuti Mia. Tanggung jawabnya yang sangat besar membuat perawat itu nampak seperti seorang babysitter yang mengasuh anak bayi.
"Semoga Anda betah ya bersama Mia," ucap Mia.
"Panggil saya Susi, Nyonya." Perawat wanita ity mengenalkan dirinya.
"Baiklah. Susi, kalau ada apa-apa kamu bisa cerita semuanya. Jangan sungkan," ucap Mia ramah.
"Baik Nyonya. Sebaliknya, jika pelayanan saya tidak memuaskan Anda boleh menegur saya. Jangan sungkan," ucap Susi.
"Siap. Kamu bisa tunggu dulu di sini. Mia mau jenguk teman Mia dulu," ucap Mia.
"Apa?" tanya Dion.
"Eh, maksudnya teman suami Mia," ucap Mia memperbaiki ucapannya.
"Gimana?" tanya Dion.
"Susi boleh ikut kemanapun Mia pergi. Sekarang Mia mau jenguk dulu teman suami Mia," ucap Mia.
Jawaban yang Mia keluarkan sesuai dengan apa yang diharapkan oleh Dion. Hingga pria itu menepuk pelan kepala Mia dengan senyuman manisnya.
"Anak pintar. Ayo ke Ruangan Maya dulu," ajak Dion.
Mia mengangguk dan mengikuti langkah Dion. Nyonya Helen dan seorang perawat itu mengikuti Mia dan Dion yang berjalan di depan mereka.
"Za," panggil Dion saat berada di depan ruangan Maya.
Hening, tidak ada jawaban. Dion membuka pintu ruangan dan kembali memanggil nama Reza. Reza tidak ada di ruangannya.
"Mana pasien yang ada di ruangan ini?" tanya Dion panik.
"A, tenang dulu. Kita cari Reza dan istrinya ya!" ucap Mia.
Dengan cepat perawat itu pergi mencari tahu pasien di kamar tersebut dan segera mengabarkan pada Dion. Dion nampak jauh lebih tenang saat mendapat jawaban dari perawat itu.
"Mau ke ruangan pemeriksaan atau menunggu di sini?" tanya Mia.
"Tunggu di sini saja. Nanti juga Reza kembali," jawab Dion.
PLUK.. PLUK.. PLUK..
Tepukan lembut di kepala Mia kembali dilayangkan oleh Dion. Mia mulai mengangkat wajahnya dan menatap reaksi wajah suaminya atas jawaban yang sudah ia keluarkan.
"Aa gak marah?" tanya Mia.
"Aku justru kecewa pada diriku sendiri," jawab Dion.
"Kenapa?" tanya Mia.
"Aku tidak peka saat kamu bangun jam tiga pagi. Aku tidak curiga saat kamu lama sekali di kamar mandi. Maafkan aku sudah gagal menjadi suami siaga untukmu," ucap Dion.
Genggaman erat tangan Dion dapat Mia artikan sebagai bentuk penyesalan, namun masih sedikit tersirat kemarahan untuknya. Mia masih ingat betul kalau Dion selalu mengingatkan untuk tidak menyembunyikan apapun dari Dion, terlebih tentang kehamilannya.
"A, maafin Mia ya. Mungkin cara berfikir Mia tidak sejalan dengan harapan Aa. Mia hanya tidak ingin membebani Aa. Mia tahu pagi tadi Aa pasti sangat lelah," ucap Mia.
Dion kembali menatap bola mata wanita yang dicintainya itu. Rasanya sedikit sakit saat Mia belajar untuk menghadapi semuanya sendiri. Dion justru menginginkan Mia agar selalu bergantung padanya. Dion ingin Mia menjadi wanita yang selalu menginginkannya memanjakan Mia.
"Aku lebih suka terbebani dengan setiap laporan dan manjanya kamu. Dari pada tidak tahu apa-apa seperti ini," ucap Mia.
"Sayang, maafin Mia." Mia memeluk Dion.
Pertama kalinya Mia memanggilnya sayang bahkan sampai memeluk Dion dihadapan Nyonya Helen. Bahkan Mia tidak peduli bahwa Susi, perawat barunya itu tengah menatapnya penuh dengan rasa iri. Mungkin setiap orang yang melihat dan mendengar percakapan mereka akan merasa iri.
"Susi, jangan lama-lama lihat mereka berdua. Bisa-bisa kamu timbilan," ucap Nyonya Helen.
"Maaf Nyonya," ucap Susi sembari menundukkan pandangannya.
Ucapan dari Nyonya Helen tentu membuat Mia tersadar akan sikapnya, namun Dion menahan Mia saat ingin melepaskan pelukannya.
"Mau kemana? Tetaplah di sini. Anggap saja ini sebagai sebuah permintaan maaf karena kamu sudah membohongiku," bisik Dion.
Membohongiku? Tidak! Kata-kata itu membuatnya merasa menjadi seorang istri yang sangat jahat. Tanpa ucapan, Mia semakin mengeratkan pelukannya.
"Ekhem," Reza berdeham saat sudah kembali ke ruangannya.
"Hey Za," ucap Dion.
Perlahan Dion melepaskan pelukan Mia, namun tangannya tidak lepas dari bahu Mia. Ia tetap menjaga Mia agar tidak jauh darinya.
"Oh ya Maya, kenalkan ini Mia. Dia istriku," ucap Dion mengenalkan Mia.
Mia mengulurkan tangannya dan berkenalan. Usai mengenalkan Mia, Dion mengenalkan Nyonya Helen pada Maya. Maya terlihat sangat senang saat Mia dan Nyonya Helen menerimanya dengan hangat.
Dion membiarkan Maya agar lebih dekat dengan Mia dan Nyonya Helen. Sedangkan Reza diajak keluar oleh Dion.
"Gimana kondisi Maya sekarang Za?" tanya Dion.
__ADS_1
"Membaik. Terima kasih ya Di. Berkat kamu, sekarang aku lihat Maya semakin sehat dan baik," ucap Reza.
"Alah, kayak sama siapa aja. Yang penting sekarang, Maya sembuh. Eh, rencana nanti setelah Maya keluar dari sini gimana?" tanya Dion.
"Rencana?" tanya Reza.
Menatap sebentar wajah Dion dan menunduk. Bingung, mungkin itu yang dirasakan oleh Reza saat ini. Mau meminta bantuan? Malu rasanya. Dion sudah banyak sekali membantunya sampai saat ini.
"Za?" tanya Dion.
"Mungkin balik ke Lombok," jawab Reza tanpa kepastian.
"Mau apa di Lombok? Buka usaha?" tanya Dion.
Reza menggeleng. Dion tahu Reza belum punya rencana pasti ke depannya. Entah ini salah atau tidak, tapi saat Reza tidak punya rencana pasti, Dion justru merasa bahagia. Ia senang karena besar harapannya Reza mau menerima tawarannya bekerja di Surabaya.
"Mau ke Surabaya?" tanya Dion.
"Hah?" tanya Reza.
Reza mengangkat wajahnya. Jujur ia merasa sedang menemukan secercah cahaya terang dalam kegelapan hidupnya. Saat ia sedang tidak ada tujuan, seolah Tuhan memberinya jalan lebar lewat Dion.
"Dari pada di Lombok kamu belum tahu mau apa, mending bantuin aku aja. Mau?" tanya Dion.
Tanpa merendahkan, Dion seolah sangat membutuhkan Reza. Padahal kenyataannya, Reza jauh lebih membutuhkan bantuan Dion saat ini.
"Jangan sungkan. Aku siap bantu kamu Di. Anggap aja ini sebagai rasa terima kasih aku," ucap Reza.
"Aku mau kamu gantiin posisi aku di Surabaya," ucap Dion.
Reza tercengang dan sempat menolak. Rasanya itu bukan sebuah bantuan, tapi sebuah penghargaan.
"Aku terlalu banyak merepotkanmu Di," tolak Reza secara halus.
"Kita profesional saja Za. Aku tahu kamu berkompeten dalam hal ini. Jadi aku butuh kamu di sana bukan karena kamu teman aku, tapi karena memang perusahaan sedang membutuhkanmu. Kamu mau kan kerja sama?" tanya Dion.
Sempat ragu karena Reza menduga Dion hanya kasihan padanya. Namun penolakan itu pupus saat Dion menceritakan kalau keberhasilan Mia yang membuat Dion harus fokus di Jakarta. Sampai saat ini, Dion belum melepas penuh perusahaan di Surabaya meskipun ada orang yang dipercaya oleh Dion di sana.
"Mia?" tanya Reza.
Ya, tidak aneh jika Reza tidak percaya akan semua ucapan Dion. Memang Mia yang Reza tahu sebatas seorang janda yang bekerja sebagai buruh pabrik.
"Kamu tidak tahu banyak hal tentang Mia. Dia itu berlian diantara tumpukan jerami. Dan sekarang berlian itu sudah aku simpan di tempat yang tepat. Kamu akan lihat bagaimana Mia yang sebenarnya," ucap Dion dengan begitu bangganya.
Memang selalu bangga saat menceritakan Mia pada Reza. Ia seolah sedang bersyukur atas taruhan gila itu. Berkat ide gila Reza, ya semua berkat ide gila sahabatnya itu.
Reza yang saat itu fokus dengan istri dan anak tirinya, tidak memantau perkembangan dunia perusahaan. Ia bahkan tidak tahu kalau Mia tengah menjadi buah bjbir di setiap media.
"Hidup kamu nyaris sempurna. Dan penyempurnaan itu akan terjadi setelah bayi kalian lahir," ucap Reza.
"Terima kasih ya Za! Tapi sepertinya kata sempurna terlalu berlebihan. Yang pasti aku hanya merasa bahagia saat ini. Dan sebentar lagi, kebahagiaan itu akan semakin bertambah. Mia udah mules-mules. Ya walaupun HPL nya masih dua minggu lagi," ucap Dion.
Wajahnya selalu berseri saat membahas tentang Mia dan anak kembar yang masih ada dalam perut istrinya itu.
"Wah, kalau gitu kamu harus lebih siaga Di. Jaga perasaannya. Wanita yang mau melahirkan itu moodnya harus selalu bagus, biar proses lahirannya lancar. Semangat ya!" ucap Reza.
"Kata siapa mood ngaruh ke proses lahiran?" tanya Dion.
"Kata aku barusan ngomong," jawab Reza. "Ya logikanya Di, kalau mood Mia jelek, bisa-bisa dia gak mau ngeden. Gimana bayinya bayinya mau keluar kalau Mia lagi badmood?" lanjut Reza.
"Sialan," ucap Dion sambil terkekeh.
"Dion," teriak Nyonya Helen.
"Mama?" ucap Dion terkejut.
Dion dan Reza segera berlari masuk ke dalam ruangan Maya. Nampak Mia sedang memegang perutnya dengan wajah yang meringis.
"Mia, Mia kamu kenapa? Mules lagi?" tanya Dion panik.
Perawat itu menyarankan agar Mia segera dibawa ke ruang pemeriksaan. Dengan panik Dion dan Nyonya Helen mengantar Mia ke ruang pemeriksaan. Reza juga berniat untuk mengantar Mia, namun Dion melarangnya. Dion meminta agar Reza tetap di sana menemani istrinya.
"Bagaimana keadaan Mia? Apa bayi kembarnya sudah mau keluar sekarang?" tanya Dion pada dokter.
"Melihat hasil pemeriksaan, Nyonya Mia sedang mengalami kontraksi palsu. Ini hal wang wajar namun harus tetap siaga," papar dokter itu.
"Palsu? Jadi mules yang aslinya belum?" tanya Mia penuh rasa takut.
"Jangan takut Mia. Ada aku. Aku akan selalu ada buat kamu," ucap Dion mengusap kepala Mia.
Tuhaaaan, yang palsu aja mulesnya begini. Gimna nanti mules yang asli ya? Mia jadi inget sama Ibu. Ibu pasti sakit banget waktu melahirkan Mia. Maafin Mia yang tidak sempat membahagiakan ibu.
Mata Mia mulai berkaca. Bukan kerena rasa sakit, karena kini mules itu sudah tidak terasa. Kini ia hanya sedih karena membayangkan perjuangan ibunya dulu saat melahirkannya. Mia yang beruntung karena diberikan fasilitas yang mewah dan suami serta mertua yang begitu menyayanginya, masih merasa tegang saat akan menghadapi detik-detik melahirkan. Bagaimana dengan ibunya yang berjuang sendiri? Tanpa kasih sayang dari suami dan fasilitas yang serba terbatas di kampungnya dulu?
Ibuuu, maafkan Mia. Kalau saja diberi kesematan. Mia akan menghabiskan waktu Mia untuk membahagiakan Ibu.
Bu Ningsih memang sudah tidak ada. Namun ia masih memiliki Nyonya Helen. Mertua rasa ibu kandung. Wanita yang menyayanginya seperti Bu Ningsih dulu. Maka apa yang ingin Mia lakukan pada Bu Ningsih, akan ia lakukan pada Nyonya Helen.
######################
Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
__ADS_1
Terima kasih..