
"Ma, makasih ya." Mia menggenggam tangan Nyonya Helen.
"Buat?" tanya Nyonya Helen.
"Buat kehadiran Mama di sini," ucap Mia.
Mia mencium tangan Nyonya Helen kemudian menggenggamnya erat. Nyonya Helen hanya mengangguk dan tersenyum pada Mia. Mata Mia yang bekaca-kaca membuat Nyonya Helen merasa iba.
"Harus berapa kali Mama ingatkan sama kamu, ada Mama di sini. Jangan pernah merasa sendiri," ucap Nyonya Helen.
Mia melepaskan tangan Nyonya Helen. Ia menyeka sudut matanya. Benar, ucapan itu sangat sering Mia dengar dari mulut Nyonya Helen. Namun entah mengapa, setiap mendengar ucapan itu membuat Mia ingin menangis. Mia selalu tersentuh dengan ucapan itu. Merasa kalau Nyonya Helen benar-benar menyayangi dan menerimanya dengan tulus.
Dion yang sedang menikmati secangkir kopi, beberapa kali mencuri pandang pada Mia. Meskipun Dion tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang dibicarakan oleh Mia dan Nyonya Helen, namun Dion melihat ada raut senang di balik tangis Mia.
Mia, aku bahkan cemburu saat melihat ibuku menyayangimu. Ia benar-benar memperlakukanmu dengan luar biasa. Mungkin lebih perhatian dan lembut. Kalian adalah dua wanita yang sangat aku cintai dalam hidupku. Aku menyayangi kalian.
"Ma, nih Ma. Dion marah sama Mama," teriak Tuan Wira.
Dion yang sedang menatap Nyonya Helen dan Mia, langsung mengalihkan pandangannya. Kini ia menatap Tuan Wira. Apa maksudnya? Mungkin itu yang ada di kepala Dion saat ini.
"Apa sih Pa?" tanya Dion.
"Papa jangan teriak-teriak begitu. Mama belum budeg kok," teriak Nyonya Helen.
Mama juga teriak lebih keras dari pada Papa. Ini Papa mau ngomong apa lagi sih?
"Tahu nih Papa," jawab Dion.
"Dia marah Ma," ucap Tuan Wira.
Telunjuk Tuan Wira yang mengarah pada Dion, membuat Dion menatapnya penuh tanda tanya.
"Apaan sih?" tanya Dion.
"Kamu marahkan karena Mama bisa peluk cium Mia, tapi kamu gak bisa. Ngaku!" ucap Tuan Wira.
"Astaga, Papa. Gak Ma, gak begitu kok. Fitnah nih Papa," ucap Dion.
"Siapa yang fitnah? Itu buktinya dari tadi tatapan mata kamu gak lepas sama mereka. Kamu jujur aja. Jangan malu-malu Di," ucap Tuan Wira.
Mungkin akhir-akhir ini, hobby Tuan Wira adalah membuat Dion malu. Nampak seperti ada kepuasan tersendiri. Ah, tapi tidak! Tuan Wira hanya ingin membuat suasana menjadi lebih tenang dan senang. Ia tidak suka saat melihat suasana rumah menjadi melow. Terlebih saat melihat Mia menangis. Rasanya Tuan Wira tidak rela saat menantunya itu meneteskan air mata.
Ayo dong, ketawa. Kenapa sih ini orang-orang pada sedih begini? Mikir yuk kepala. Ngomong apa lagi ya biar Mia gak sedih?
Belum sempat Tuan Wira mendapat ide, Dion menghentikan acara berpikirnya.
"Oh, kalau begitu papa juga marah ya sama Mia?" tanya Dion.
"Loh kok jadi begitu?" tanya Tuan Wira.
Wajah bingung Tuan Wira adalah kemenangan bagi Dion.
"Ya karena aku terus menatap Mia. Papa pengennya aku menatap Papa kan? Buktinya Papa dari tadi lihat aku terus. Udah ngaku aja, jangan malu-malu. Aku tahu bertepuk sebelah tangan itu sakit," ucap Dion.
Saat tak diberi kesempatan untuk membela diri, Tuan Wira langsung menyeruput kopi hitamnya. Setelah habis, ia berdiri dan melambaikan tangannya. Ia berjalan ke kamar yang sudah Mia siapkan untuknya.
"Udah gak kuat ya Pa? Sini Pa, lambaikan tangannya ke kamera saja." Dion tertawa puas saat melihat Tuan Wira pergi tanpa menoleh lagi.
Gelak tawa dari mereka, membuat Tuan Wira tersenyum.
Tetaplah seperti itu. Tak masalah jika sekalipun aku yang kalian tertawakan. Semuanya terbayar sudah saat melihat kalian bahagia begini. Akhirnya aku bisa jadi pria penghibur. Eh kok pria penghibur? Maksudnya pria yang bisa menghibur gitu loh.
Malam yang dingin ditemani rintik hujan. Suhu Bandung yang berbeda dengan di Jakarta seharusnya membuat Dion dan Mia menikmati malam ini, untuk menjenguk bayi kembarnya. Namun rasa lelah yang dirasakan oleh Dion membuatnya tidur lebih cepat dari Mia.
Begitupun dengan Nyonya Helen dan Tuan Wira. Mereka menghabiskan waktu untuk istirahat. Perjalanan ke rumah Mia membuat keduanya sangat lelah. Namun terobati saat melihat Mia dan Dion bahagia dengan kehadiran mereka.
Ya, Nyonya Helen yang tidak ikut karena suaminya sedang sibuk, akhirnya memutuskan untuk menyusul anak dan menantunya ke Bandung. Meskipu. Kedatangannya telat, namun mereka bisa menemani dan menghibur Mia.
"Pagi, Ma." Mia menyapa Nyonya Helen.
__ADS_1
"Kamu masak?" tanya Nyonya Helen.
"Iya. Mama harus coba masakan buatan Mia," jawab Mia.
Nyonya Helen mendekat dan melihat beberapa masakan yang ada di meja makan.
Mia memasak semua ini? Dengan perut besarnya, ia masih bisa seaktif ini? Padahal dulu saat aku hamil, aku hanya diam dan tidak ingin banyak beraktivitas.
"Mama mau makan sekarang?" tanya Mia.
"Siapa yang belanja?" tanya Nyonya Helen.
"Tadi Mia ke warung depan Ma," jawab Mia.
"Sendiri?" tanya Nyonya Helen panik.
"Tadi diantar Dokter sama sopir juga Ma," jawab Mia.
"Maafkan Mama ya!" ucap Nyonya Helen.
Sedikit lega, namun tidak menghilangkan rasa kesalnya. Nyonya Helen kecewa pada dirinya sendiri saat melupakan salah seorang asisten rumah tangga. Ia tidak tahu kalau Mia tinggal di Bandung pelosok. Ia yang berpikir bisa dengan mudah memesan makanan melalui aplinasi di ponselnya, nyatanya hanya sebuah ekspektasi belaka. Realitanya, tidak ada makanan yang bisa dipesan melalui aplikasi ke tempat tinggal Mia di Bandung.
"Selalu ambil hikmahnya, Ma. Kan sekarang Mama jadi bisa makan masakan Mia. Kalau di Jakarta, gak mungkin Mama biarin Mia masak. Iya kan?" tanya Mia.
Nyonya Helen tersenyum, mengangguk pelan dan memeluk Mia.
"Mama kalah sama kamu," ucap Nyonya Helen.
"Kalah?" tanya Mia.
"Mama gak bisa masak," jawab Nyonya Helen.
"Nanti kita belajar ya Ma! Mia juga masih belajar kok. Makanya nanti maafin Mia ya kalau masakannya gak seenak buatan Mba," ucap Mia.
Selama memasak, Nyonya Helen menemani dan melihat apa yang Mia lakukan. Ia benar-benar tidak menyangka kalau Mia begitu luwes di dapur.
Kamu menemukan wanita yang tepat, Dion. Mia wanita hebat.
Kedua sopir itu sempat beberapa kali menolak, namun Mia tetap memaksanya. Nyonya Helen juga awalnya merasa risih saat harus makan dengan kedua sopirnya. Tapi Mia merubah semua itu.
"Kenapa gak mau makan bareng? Karena kalian sopir? Tapi kalian masih bernafas kan?" tanya Mia.
Kedua sopir itu saling menatap. Pertanyaan macam apa itu? Tidak bisakah Mia bertanya dengan pertanyaan yang lebih estetik?
"Mia, biarlah mereka makannya berpisah saja. Ayo kita makan!" ucap Nyonya Helen.
"Iya, Nyonya. Lagi pula kami belum lapar," ucap salah satu sopir itu.
"Kalau kalian gak makan, Mia juga gak makan." Mia menjauhkan piringnya.
"Tapi Nyonya harus makan," ucap salah satu sopir.
"Berarti kalian jug harus makan. Masa kalian gak mau nyicipin masakan Mia? Ini Mia sendiri loh yang masak," ucap Mia.
Kedua sopir itu melihat Dion dan Nyonya Helen. Setelah mereka menganggukkan kepalanya, kedua sopir itu membawa piring mereka. Raut wajah Mia berubah seketika.
"Sekarang tugas kalian adalah lakukan apa yang membuat istriku bahagia," ucap Dion.
Mia tersenyum senang mendengar ucapan suaminya. Nyonya Helen mengamati menantunya itu. Sesimple itu hidup Mia? Hanya dengan makan lesehan bersama sopirnya saja bisa membuat Mia bahagia. Nyonya Helen merasa Mia adalah manusia paling simple yang ia temui.
"Ayo makan!" ajak Tuan Wira.
Selesai makan, kedua sopir itu yang bertugas untuk membereskan sisa makanan dan piring-piring kotornya. Awalnya Mia menolak, namun dengan alasan bayi kembar yang ada di perutnya, membuat Mia membiarkan kedua pria bertubuh tinggi itu menyapu dan mencuci piring.
Selama kedua sopirnya mencuci piring, Mia beberapa kali melihat ke arah dapur. Ia merasa tidak tega saat melihat mereka melakukan hal itu.
"Mia, sudah dong. Mereka pasti bersih kok cuci piringnya," ucap Nyonya Helen.
"Maaf Ma. Tapi aku gak tega aja. Aku gak biasa melihat pria mengerjakan pekerjaan itu," ucap Mia.
__ADS_1
Ya, mencuci piring bukan sepenuhnya tugas perempuan. Pria juga bisa melakukan tugas itu. Namun selama Mia hidup bersama Pak Baskoro, ia tidak pernah melihat semua itu. Baru kali ini Mia melihat kejadian yang menurutnya aneh. Mungkin karena Mia sudah terbiasa hidup susah, hingga ia terbiasa untuk hidup mandiri.
Sudah waktunya pulang, Mia menitipkan kunci rumahnya. Namun ternyata banyak pasang mata yang menatap Mia dan keluarga barunya.
"Mia, ini suaminya sudah ganti lagi?" tanya salah seorang tetangga.
DEG
Mia memegang dadanya. Pertanyaan macam apa itu? Rasanya Mia lemas dan nyaris jatuh. Untung Dion begitu sigap menangkap tubuh Mia.
"Mia, kamu tidak apa-apa?" tanya Dion.
"Gak A. Mia gak kenapa-kenapa kok," jawab Mia.
Ini ibu-ibu udah tua tapi kok kalau ngomong gak pakai otak ya? Atau jangan-jangan dia gak punya otak.
"Bu, kalau ngomong ya dipikir dulu dong." Nyonya Helen turut kesal mendengar pertanyaan tetangga Mia.
"Ma, sudahlah." Mia terlihat sangat sedih.
"Maaf ya Bu, tapi kan saya cuma nanya. Soalnya yang terakhir ke sini bukan yang ini loh," ucap tetangga Mia.
Sebentar mendadak hening. Emosi nampak jelas di mata Dion. Kalau saja yang bertanya itu adalah seorang pria, Dion pastikan kepalan tangannya akan mendarat di tubuh tetangga Mia itu. Sedangkan Mia nampak malu dan sakit hati.
"Eh bu, kami ini memang bukan yang waktu itu. Kalau Mia ganti suami lagi, bukan salah Mia dong. Yang namanya hidup itu harus terus maju dan lebih baik lagi. Kalau Mia cari yang baru, itu karena yang kemarin gak baik. Jadi Mia cari yang lebih baik. Itu namanya wanita cerdas. Gak terpuruk berkepanjangan. Sekarang, saya balik nanya sama ibu. Ibu gak niat ganti suami? Kalau saya lihat-lihat sih ibu gak bahagia deh, makanya masih sibuk urusin hidup orang. Tapi kalau gak ada lagi yang mau sih jangan maksan. Ibu kan beda sama Mia," ucap Nyonya Helen.
Hayoh mau ngomong apa lagi kamu? Gak bisa jawab pertanyaan aku kan? Lagian mau macam-macam sama Mia. Kalau mau berurusan sama Mia, mau tidak mau kamu harus berurusan sama aku.
Sebagai seorang ibu, nampaknya ucapan Nyonya Helen benar-benar membela anaknya. Ya, Mia. Mia yang sudah ia anggap sebagai anak kandungnya sendiri, di hina di hadapannya. Tentu naluri ibu itu muncul begitu saja. Membungkam mulut semua ibu-ibu yang ada di sana. Jangan tanya Mia. Karena Mia merasa ia sangat bahagia dengan pembelaan Nyonya Helen.
"Ayo Mia!" ajak Nyonya Helen.
Awalnya Nyonya Helen dan Mia akan pulang dengan mobil yang berbeda. Namun karena kejadian tadi, Nyonya Helen merubah semua itu. Ia naik mobil yang sama dengan Mia. Ia harus berada di samping Mia. Mia butuh penenang. Bukan hanya Dion, kali ini ia merasa kehadirannya dibutuhkan oleh Mia.
"Mia, kampung kamu enak ya! Kapan-kapan kita main lagi," ucap Nyonya Helen memecah keheningan.
Nyonya Helen mencoba mencairkan suasana. Hatinya ikut sakit saat melihat Mia kehilangan keceriaannya.
"Jangan Ma," jawab Mia.
"Kenapa? Kamu takut sama mereka?" tanya Nyonya Helen.
Bukan takut sama mereka. Mia hanya takut kalau Mama termakan omongan mereka. Mia takut Dion meninggalkan Mia. Mia tidak mau terjadi hal yang buruk pada pernikahan Mia. Mia tidak bisa kehilangan kalian.
"Mia, jangan dengarkan omongan mereka. Jangan biarkan ucapan yang tidak penting itu masuk begitu saja ke dalam hatimu. Biarkan ocehan-ocehan itu masuk ke telinga kanan dan keluar lewat telinga kiri. Buatlah hati kamu tetap tenang. Ada Mama," ucap Nyonya Helen menenangkan Mia.
Mia menatap Nyonya Helen. Bagaikan membaca ungkapan hatinya, tiba-tiba saja Nyonya Helen seolah menjawab kegelisahan yang tidak ia ungkapkan.
"Terima kasih untuk semuanya Ma. Mama sangat baik sama Mia. Jujur saja, ada rasa takut dalam diri Mia. Mia takut kehilangan kasih sayang Mama," ucap Mia.
Dion tidak berkata apapun. Ia hanya menyimak obrolan ibu dan istrinya. Namun walaupun ia tidak merespon dengan ucapan, genggaman tangan Dion merupakan respon nyata kalau ia tengah mengiyakan kata-kata ibunya. Bukan hanya Nyonya Helen, tapi Dion akan selalu ada untuk Mia.
"Jangan takut!" ucap Nyonya Helen mengusap kepala Mia dengan lembut. "Sekalipun Dion sampai meninggalkanmu, kamu harus ingat kalau Mama tidak akan pernah meninggalkanmu. Mama menyayangimu sebagai anak Mama. Bukan sebagai menantu. Jadi tidak ada alasan untuk Mama berhenti menyayangimu," lanjut Nyonya Helen.
"Satu hal yang harus kamu tahu Juga, Mia. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu apapun alasannya. Karena cinta itu tanpa alasan bukan? Jadi aku juga tidak butuh alasan apapun untuk meninggalkan kamu. Aku hanya ingin menghabiskan sisa umurku dengan kamu. Aku sangat mencintaimu. Saat itu, sekarang dan nanti." Dion menguatkan jawaban Nyonya Helen.
Mia hanya bisa menangis. Kali ini tangisnya pecah karena rasa bahagianya. Entah berapa kali, ucapan terima kasih itu diucapkan oleh Mia.
Tuhaaaan, Mia menyesal pernah menyesali takdir Mia saat itu. Seandainya Mia tahu semuanya akan berakhir seperti ini, Mia justru akan bersyukur dan berterima kasih pada Nyonya Nathalie. Berkat Nyonya Nathalie, Mia bertemu dengan kebahagiaan Mia yang sesungguhnya.
Ya, begitulah hidup. Layaknya sebuah roda yang bergerak. Ia akan selalu berputar. Tidak akan selamanya sedih, begitupun sebaliknya. Sedih dan bahagialah secukupnya dan sewajarnya, tapi bersyukurlah sebanyak-banyaknya.
#################
Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.
Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
__ADS_1
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
Terima kasih..