Janda Bersegel

Janda Bersegel
Martabak


__ADS_3

Pagi ini Mia dan Dion bangun lebih pagi. Mia. membantu Dion menyiapkan pakaian karena hari ini Dion harus berangkat lebih pagi.


"Yang ini A?" tanya Mia.


Mia mengangkat kemeja maroon lengkap dengan celana hitam dan dasi senada. Dion yang baru keluar dari kamar mandi, hanya mengangkat jempol tangannya. Apa yang Mia pilihkan selalu saja disukai oleh Dion.


"A, hari ini pulangnya telat gak?" tanya Mia.


"Kenapa? Kangen ya?" goda Dion.


"Ih Aa," ucap Mia.


Dion meraih tangan Mia. Ia menggenggamnya dengan erat.


"Kenapa? Kamu mau aku pulang cepat?" tanya Dion.


"Gak, Mia cuma nanya aja." Mia tersenyum.


"Ada apa?" desak Dion.


"Gak ada," jawab Mia.


"Mi, bilang aja." Dion terus membujuk Mia.


"Mia, boleh gak ketemu sama Kalin?" tanya Mia.


"Mau apa?" tanya Dion.


Dion yang menatap Mia dengan penuh tanya membuat Mia justru takut.


"Gak jadi A. Nanti aja ketemunya di acara lamaran Sindi," ucap Mia.


"Kenapa?" tanya Dion.


"Gak," jawab Mia sembari menggelengkan kepalanya.


Dion tersenyum saat melihat Mia takut dengan tatapan matanya. Ia senang. Selama ini membuat Mia takut adalah cara Dion agar Mia tidak bersikap macam-macam.


"Mau ketemu sama Dokter Leoni ya? Siapa dia?" tanya Dion.


"Aa kok tahu sih?" tanya Mia panik.


"Mi, kalau kamu mau apa-apa cerita sama aku. Gak semua yang berhubungan sama masa lalu kamu aku larang kok. Buktinya sama si Pak tua itu aku izinin. Kurang baik apa aku?" ucap Dion.


Mia tersenyum. Ia senang saat Dion mengizinkannya untuk bertemu dengan Dokter Leoni. Meskipun Dion tidak jujur jika ia tahu semua rencana itu dari ponsel Mia.


Mia tidak tahu kalau Dion begitu takut kehilangan dirinya. Semua berawal saat Dion melihat berita di media sosial. Seorang suami gantung diri karena ditinggal istrinya berselingkuh.


Dion yang sangat mencintai Mia tentu tidak mau hal itu terjadi. Mia hanya miliknya. Begitu pikiran Dion.


"Jadi boleh?" tanya Mia.


"Kalau ketemunya di sini bisa?" tanya Dion.


Mia menatap Dion.


"Boleh A?" tanya Mia.


"Kok nanya begitu sih? Ya boleh dong. Aku lebih suka kalau kamu membawa temanmu ke sini. Dari pada kamu harus keluar hanya untuk bertemu dengan mereka. Kalau di sini kan kamu bisa sambil nyusuin Narandra sama Naura," ucap Dion.


"Iya A. Nanti Mia kabari Kalin sama Dokter Leoni ya! Tapi Mama Helen bolehin gak ya?" tanya Mia ragu.


"Telepon aku kalau Mama gak bolehin mereka masuk," ucap Dion.


"Terima kasih A," ucap Mia.


Seperti biasa, Mia akan memeluk Dion sebagai hadiah atas kebaikan suaminya.


"Cuma itu? Gak ini?" tanya Dion.


Mia segera berjinjit dan mengecup lembut pipi Dion saat suaminya menunjuk pipi dengan telunjuknya.


"Yang ini gak? Gak adil ih," ucap Dion.


Mia segera mengecup kembali pipi yang belum dapat jatah.


"Nah kalau begini kan enak," ucap Dion.


Selama ini, Mia tidak pernah membuka akses untuk sahabatnya karena ia takut itu mengganggu keluarga Dion. Nyatanya, Dion yang selama ini mengamati Mia akhirnya menyerah.


Dion percaya Mia bergaul dengan masa lalunya. Saat ini, ketakutannya hanya Danu. Dion sengaja memberi Mia sedikit kebebasan karena nanti Sindi akan keluar dari rumahnya. Mi butuh teman.

__ADS_1


"Aku berangkat," ucap Dion.


Mia dengan segera meraih tangan Dion dan menciumnya. Mengantar Dion sampai ke depan rumahnya. Setelah Dion benar-benar pergi, Mia menghubungi Kalin dan Dokter Kalin.


Sudah waktunya bertemu mungkin, Kalin dan Dokter Leoni bisa menemui Mia di rumah Dion. Setelah sebelumnya minta izin pada Nyonya Helen dan Tuan Wira, Mia menunggu kedatangan dua sahabatnya itu dengan tidak sabar.


"Mi, mereka pasti baik. Kamu sampai sebegitu menanti mereka," ucap Sindi.


"Mereka sangat baik. Orang-orang yang sangat berjasa dalam hidup Mia," ucap Mia dengan semangat dan senang.


Bibir Sindi memang tersenyum lebar, tapi Mi melihat raut sedih dibalik senyum sahabatnya itu.


"Sin, kamu dan mereka berbeda. Kamu adalah salah satu orang yang berjasa juga buat Mia," ucap Mia.


"Aku tidak mau kamu anggap berjasa. Aku hanya ingin kamu tetap seperti ini Mi. Jangan lupakan aku apapun yang terjadi," ucap Sindi.


"Sin, sampai kapanpun kita ini bersahabat. Jangan pernah berpikir buruk tentang kita. Mia akan selalu menjadikan kamu sahabat baik Mia," ucap Mia.


"Terima kasih ya Mi," ucap Sindi.


Ada rasa cemburu saat Mia akan bertemu dengan sahabatnya. Ia sedih dengan dirinya sendiri yang saat ini hanya memiliki Mia.


Waktu yang ditunggu sudah tiba, Kalin dan Dokter Leoni datang hampir bersamaan. Hanya beda sekitar lima menit saja. Teriakan dan pelukan terdengar menyayat hati bagi Sindi.


Dari kejauhan, Sindi mengamati Mia yang begitu bahagia dengan kedatangan dua orang sahabatnya itu. Sindi tidak berani mendekat. Bahkan untuk mengambilkan minum saja, Sindi membiarkan pelayan di sana yang mengerjakan.


Minder? Mungkin. Tapi yang lebih membuatnya takut adalah tanggapan mereka terhadap dirinya. Karena bagaimanapun, Danu adalah mantan suami Mia. Sedangkan Sindi? Mia selalu menyebutnya sahabat baik.


Kepalanya sudah memikirkan hal buruk yang membuat ia sakit sendiri. Tidak mau sakit itu semakin menghujam dirinya, Sindi pergi ke kamarnya. Membiarkan Mia bahagia dengan sahabatnya. Sementaranya diriny berteman dengan iri dan sepi.


"Calon istri Danu gak ada ya Mi?" tanya Kalin.


"Namanya Sindi. Dia ada, tapi mungkin lagi istirahat. Mau ketemu?" tanya Mia.


"Gak usah. Aku cuma nanya aja," ucap Kalin.


Kalin yang tahu bagaimana Mia mencintai Danugh saat itu, masih merasa kesal saat kenyataan yang terjadi Danu akan menikahi sahabat Mia sendiri. Mia yang menangkap raut tidak suka itu segera berusaha untuk mengubah pikiran Kalin.


"Urusan jodoh udah ada yang ngatur. Mia udah bahagia sama A Dion. Jadi apapun diluar itu, Mia gak ambil pusing." Mia berusaha menggiring Kalin agar keluar dari zona benci pada Sindi.


"Bener banget Mi. Kalau kita udah bahagia, semuanya akan terasa ringan. Mudah sekali untuk dijalani," ucap Dokter Leoni.


"Jadi Pak Haji gak bisa sembuh?" tanya Mia.


"Bisa. Hanya saja, sebagian besar memang tidak sanggup bertahan." Dokter Leoni menegaskan.


Mia tiba-tiba saja menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Pundaknya mulai bergetar. Kalin yang menyadari tangis Mia, segera memeluk sahabatnya itu.


"Mi, semua akan baik-baik saja. Tugas kita hanya mendoakan," ucap Kalin.


Mia hanya meneruskan tangisnya. Dadanya semakin sesak saat mendengar kabar dari Dev. Saat ini kondisi Haji Hamid terus menurun dari sebelumnya.


"Tapi medis hanyalah medis. Ada hal yang paling ajaib. Kuasa Tuhan. Semua bisa mungkin jika Tuhan sudah berkehendak. Kita hanya bisa meminta," ucap Dokter Leoni.


Mia menghapus air matanya. Memang benar, semua sudah digariskan oleh Tuhan. Mia hanya bisa meminta dan menjalani takdir yang Tuhan berikan.


Selesai melepas rindu, Kalin dan Dokter Leoni pulang. Mia memang sedih, tapi mereka berdua akan datang di acara lamaran Sindi dan Danu. Dan itu bukan waktu yang lama. Mia akan kembali bertemu dengan mereka berdua.


Saat Mia sedih dengan kepulangan Kalin dan Dokter Leoni, Sindi tengah bahagia karena Danu meneleponnya. Danu mengabari Sindi kalau Nyonya Nathalie dan Tuan Ferdinan sama sekali tidak keberatan dengan masa lalu Sindi.


Sebenarnya mereka sempat shock, namun akhirnya Nyonya Nathalie menyadari bahwa kehidupan orang itu berbeda. Tidak ada yang sempurna, namun Nyonya Nathalie yakin Sindi anak yang baik.


"Terima kasih kamu udah meyakinkan Ibu Nathalie dan Pak Ferdinan," ucap Sindi dengan sangat bahagia.


"Aku sama seki tidak meyakinkan Mami dan Papi. Mereka memang sudah yakin padamu. Kamu memang sudah menarik hati Mami dan Papi," ucap Danu.


Dalam panggilan itu, Danu dan Sindipun membahas tentang rencana lamaran dan pernikahan impian mereka.


Waktu terus berjalan. Mia selalu memantau perkembangan persiapan acara lamaran Sindi. Memang bukan Mia yang mengerjakan, tapi Mia selalu tahu pergerakan orang kepercayannya.


Sampai hari itu tiba, acara lamaran berjalan dengan khidmat dan lancar. Penerimaan tamu nampak sangat mewah. Tidak banyak tamu memang, hanya sebagian kecil dari kenalan kedua keluarga Tuan Ferdinan dan Tuan Wira. Namun bisa dipastikan jika mereka orang yang sangat berpengaruh di dunia bisnis.


"Sin, selamat ya!" ucap Mia.


Kalimat penuh ketulusan itu membuat Sindi mendekap erat sahabatnya. Sama sekali tidak terpikir jika ia akan menikah dengan mantan suami sahabatnya sendiri. Namun takdir mengantarkan Sindi untuk jatuh cinta pada Danu.


"Jangan pernah berubah Mi. Aku butuh kamu yang selalu seperti ini," ucap Sindi sembari mengeratkan pelukannya.


"Mia akan selalu menjadi Mia. Jangan memikirkan hal yang tidak-tidak ya!" ucap Mia menenangkan.


Pemandangan Mia dan Sindi yang saling berpelukan itu tentu menjadi hal yang menarik perhatian. Tidak sedikit yang mengasihani Mia, padahal nyatanya Mia tidak terluka sedikitpun. Kehadiran Dion benar-benar sudah menyembuhkan luka Mia.

__ADS_1


Bahagia yang Dion berikan untuk Mia, membuat Mia tidak memiliki ruang untuk bersedih dengan hubungan Danu dan Sindi. Dion segera merangkul tubuh istrinya untuk meyakinkan tamu undangan kalau Mia sudah menjadi miliknya.


"Mas Danu, Mia titip Sindi ya! Mia yakin Sindi bahagia bersama Mas," ucap Mia.


"Sindi bukan anak ayam. Gak perlu kamu titipin begitu," bisik Dion.


Mia hanya bisa menahan tawa mendengar ucapan Dion. Mia dan Dion kembali menikmati jamuan yang sudah disediakan. Pasangan yang jarang terdengar gosip itu, membuat para tamu undangan tak kalah iri.


Bagaimana tidak. Meskipun Mia dan Dion menikmati pesta itu, mereka sama sekali tidak terganggu dengan kehadiran kedua bayi kembarnya.


Roda bayi itu mengikuti keduanya kemanapun mereka bergerak di pesta itu. Karena mereka sendiri yang mendorong rodanya. Sementara perawat itu hanya memantau di kejauhan saja. Memastikan jika botol susu sudah siap seandainya Narendra dan Naura menangis.


"Kamu jangan khawatir. Aku akan memberikan yang terbaik untuk calon istriku," ucap Danu.


"Baru calon istri, udah belagu." Dion mendelik tidak suka.


Mia mencubit Dion. Ia tidak ingin membuat masalah di hari pertunangan sahabatnya. Tapi kenyataannya, Dion merasa apa yang dilakukan oleh Danu adalah salah satu cara untuk membuat Mia cemburu.


"Mia percaya sama Mas," ucap Mia.


"Musrik kalau kamu percaya sama dia. Percaya itu sama Tuhan," ucap Dion.


Mia hanya melambaikan tangannya saat Mia pergi menjauh karena tangannya ditarik oleh Dion. Danu yang memaklumi sifat Dion hanya menggelengkan kepalanya.


Baru saja Mia dan Dion selesai berdebat, kini debat itu dilanjutkan oleh Nyonya Helen dan Nyonya Nathalie. Berbeda dengan Mia dan Dion yang debat karena cemburu, Nyonya Helen dan Nyonya Nathalie justru berdebat karena tamu undangan.


"Kamu kenapa sih bawa tamu banyak banget? Mau saingan sama aku ya?" bisik Nyonya Helen.


"Kenapa? Takut makanannya gak cukup ya? Kenapa gak bilang dari awal?" ejek Nyonya Nathalie.


"Sembarangan. Makanan banyak. Gak perlu khawatir," ucap Nyonya Helen.


"Ya udah makanya santai dong," ucap Nyonya Nathalie.


"Kamu gak sopan. Masa bawa tamu lebih banyak dibanding tuan rumah sih?" ucap Nyonya Helen kesal.


"Itu artinya kenalanku lebih banyak dari kenalan kamu," ucap Nyonya Nathalie.


"Apa kamu bilang? Awas ya! Lihat nanti, aku akan undang jauh lebih banyak tamu dari pada kamu." Nyonya Helen mengancam.


"Eh, sudah-sudah. Malu sama tamu undangan," ucap Tuan Wira mengingatkan.


"Nyonya Helen yang mulai Tuan," ucap Nyonya Nathalie.


"Dia yang bikin ulah Pah," ucap Nyonya Helen membela diri.


"Ma, nanti berantemnya dilanjut lagi ya! Sekarang stop dulu. Malu sama tamu," ucap Tuan Wira.


Nyonya Helen hanya diam dan menahan kesal saat Nyonya Nathalie nampak tersenyum mengejek.


"Mi, jangan bikin malu. Diam atau pulang!" ancam Tuan Ferdinan pada Nyonya Nathalie.


Ancaman itu berhasil membuat Nyonya Nathalie diam. Tidak ada lagi senyum puas, karena dirinya juga sama. Ancaman Tuan Ferdinan sudah membuat Nyonya Helen puas.


Dalam acara tersebut, Danu maju dan memperkenalkan Sindi secara resmi sebagai calon istrinya. Ia merangkul bahu Sindi.


"Tamu undangan sekalian, wanita di sampingku ini adalah wanita spesial yang sebentar lagi akan menjadi istriku. Calon ibu dari anakku."


Dengan lantang Danu bangga memperkenalkan Sindi sebagai calon istrinya. Sementara Sindi hanya bisa menahan air matanya agar tidak jatuh. Ia benar-benar terharu. Rasanya seperti mimpi. Saat Sindi merasa dirinya tidak punya siapapun dan apapun, Danu justru membuatnya begitu spesial.


"Aa kenapa?" tanya Mia.


"So romantis. Pakai bilang wanita spesial. Martabak kali ah," cibir Dion.


Tidak hanya Mia, Kalin dan Dokter Leoni yang duduk di belakang Dion ikut menahan tawa.


"Aku gak nyangka suami Mia ternyata gak segalak yang dibayangkan," bisik Kalin.


Dokter Leoni hanya menyikut Kalin. Ia khawatir kalau Dion mendengar ocehannya.


#####################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.

__ADS_1


__ADS_2