
"Dion jangan berisik!" ucap Nyonya Helen.
Dion hanya memijat kepalanya yang terasa sakit karena tingkah Nyonya Helen. Ia hanya bisa duduk manis menyaksikan betapa sibuknya Nyonya Helen meminta ini dan itu pada juru dapur. Bahkan Nyonya Helen sendiri yang menyuapi Mia.
"Mia bisa sendiri Ma," ucap Mia.
"Sudah kamu tinggal mangap sama ngunyah aja. Kamu juga gak perlu khawatir, nanti Mama bikin perhitungan sama Dion. Dia memang benar-benar keterlaluan," ucap Nyonya Helen.
"Ma, A Dion gak begitu kok." Mia berusaha menjelaskan pada Nyonya Helen.
"Kamu jangan membela Dion. Biarkan Mama menghukumnya. Ayo sekarang buka mulutmu!" ucap Nyonya Helen.
Mia hanya membuka mulutnya dan memakan suapan demi suapan bubur yang diberikan oleh Nyonya Helen. Sementara matanya sesekali menatap Dion. Mengisyaratkan permintaan maaf karena ia tidak bisa membela Dion.
Dion yang mengerti apa yang Mia isyaratkan hanya tersenyum dan mengangguk. Ia kembali menjawab isyarat Mia. Ia akan baik-baik saja. Yang harus Mia lakukan adalah makan dan tenang. Kesehatannya adalah yang paling penting.
Setelah selesai sarapan dan minum obat, Nyonya Helen meminta Mia untuk berbaring kembali dan beristirahat. Ia harus memastikan jika Mia tidur dengan cukup agar segera sehat.
"Dion, keluar! Mama mau bicara," perintah Nyonya Helen.
Dion yang sudah tahu kalau dia berada dalam ancaman yang begitu dahsyat, hanya bisa pasrah. Tangannya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Tak lupa mengacak rambutnya dan mengusap wajahnya dengan kasar.
"A," panggil Mia sebelum Dion benar-benar keluar dari kamar.
Dion kembali menghampiri Mia. Duduk di samping Mia. Mengusap kepala Mia dan menciumnya.
"Kamu tenang aja. Aku baik-baik aja. Gak usah khawatir ya!" ucap Dion.
"Maafin Mia ya!" ucap Mia.
"Kamu bisa gak sih kalau gak bilang maaf dan terima kasih? Apa yang aku lakukan semua karena ini adalah kewajibanku. Semua yang berhubungan denganmu adalah tanggung jawabku," ucap Dion.
Mia tersenyum. Ia menggenggam tangan Dion san menciumnya. Setelah itu Dion keluar dari kamar.
"Astaga Sindiiiii," ucap Dion sembari mengusap dadanya.
"Maaf Tuan, aku cuma mau tahu kabar Mia aja. Tadi Tuan Felix juga nelepon. Katanya ponsel Mia gak aktif semalaman. Sepertinya Tuan Felix juga khawatir," ucap Sindi.
"Iya tapi kamu jangan muncul tiba-tiba begitu dong. Aku kan jadom kaget. Untung aja aku gak punya penyakit jantung," ucap Dion.
"Ya ampun Tuan. Ini tadi aku baru mau ketuk pintu. Eh, Tuan udah keluar duluan." Sindi berusaha membela diri.
"Ah, kamu selalu aja gak mau disalahkan. Ya udah sana masuk. Temani Mia! Aku udah ditunggu sama Mama," ucap Dion.
"Boleh Tuan?" tanya Sindi ragu.
"Kan tadi aku udah bilang masuk. Kalau gak boleh aku gak mungkin bilang begitu. Udah sana masuk!" ucap Dion.
"Terima kasih, Tuan." Sindi mengangguk dan segera masuk dengan perasaan senang.
"Mi," panggil Sindi.
Mia yang baru saja memejamkan matanya, melihat ke arah sumber suara.
"Sin," ucap Mia.
"Kamu kenapa? Masih mikirin Pak Haji itu ya? Mi, aku tahu kamu pasti terpukul. Tapi kamu gak bisa begini. Kamu juga punya tanggung jawab buat Narendra sama Naura," ucap Sindi.
Sama sekali tidak bermaksud untuk membebani Mia, Sindi hanya berusaha untuk membangkitkan semangat Mia. Bagaimanapun sedihnya Mia, tapi tidak boleh lupa jika Mia punya tanggung jawab.
"Maafin Mia ya Sin," ucap Mia.
Tatapannya kosong. Mia merasa dirinya adalah orang yang sangat tidak tahu terima kasih. Mia belum sempat berterima kasih secara langsung, namun Haji Hamid harus pergi meninggalkan dirinya. Begitu beban yang mengganjal di hatinya.
"Jangan minta maaf sama aku. Yang harus kamu lakukan itu ayo bangkit! Mana Mia yang semangat?" ucap Sindi.
"Iya Sin," jawab Mia singkat.
"Kenapa ponsel kamu gak aktif?" tanya Sindi.
"Takut. Mia takut dapat kabar itu," jawab Mia.
"Mia, kamu gak boleh begitu. Kamu harus menerima kenyataan. Kamu tahu akibat kamu mematikan ponselmu?" tanya Sindi.
"Apa?" tanya Mia.
"Tuan Felix begitu khawatir. Semalam dia meneleponku berkali-kali. Tuan Felix mau bicara denganmu. Tapi aku bisa apa? Mana mungkin aku mengetuk pintumu malam-malam," ucap Sindi.
"Oh ya? Telepon Papa!" pinta Mia.
__ADS_1
"Pakai ponsel kamu aja. Ayo aktifin dong!" ucap Sindi.
"Nanti siang aja Sin. Sekarang Mia belum siap," ucap Mia.
"Kamu yakin siang kamu siap?" tanya Sindi.
"Iya," jawab Mia.
"Ya udah aku telepon Tuan Felix sekarang ya!" ucap Sindi.
Mia mengangguk dan tersenyum bahagia.
"Papa," panggil Mia sembari melambaikan tangannya saat panggilan video itu sudah terhubung.
"Kamu kok masih tidur? Sakit? Kenapa ponselmu gak aktif?" tanya Tuan Felix.
"Mia cuma kecapean aja Pah. Mia juga sengaja gak aktifin ponsel. Biar gak keganggu istirahatnya. Maafin Mia karena Mia lupa ngabarin Papa dulu," ucap Mia dengan bohong.
Sindi hanya menatap Mia dan berharap jika sahabatnya itu jujur saja. Tapi Sindi tidak bisa memaksa Mia. Ia punya alasan tersendiri untuk tidak menjelaskan tentang Haji Hamid pada setiap orang.
"Kamu lanjut istirahat. Maaf Papa gak bisa jenguk kamu. Gak bisa nemenin kamu. Peluk jauh dari Papa ya! Cepat sehat Mi," ucap Tuan Felix.
"Terima kasih Pah," ucap Mia.
Setelah selesai, Mia memberikan kembali ponsel Sindi dan berterima kasih.
"Ya udah aku keluar dulu ya! Kamu istirahat!" ucap Sindi.
"Sin," panggil Mia.
"Iya Mi," ucap Sindi.
"Gimana persiapan pernikahan kamu? Ada orang yang ngurusin?" tanya Mia.
"Udah lah. Kamu jangan mikirin hal begitu. Sekarang yang penting kamu sehat," jawab Sindi.
Sindi segera pergi dan melambaikan tangannya pada Mia. Mia hanya bisa pasrah dan kembali memejamkan matanya. Sepertinya obat yang diberikan dokter membuat Mia ngantuk.
Mia yang tidur dengan nyenyak tidak tahu kejadian yang menimpa suaminya di luar. ion nampak dicecar habis-habisan oleh Nyonya Helen.
"Mama tahu kamu belum sempat bulan madu Dion. Tapi gak begitu caranya," ucap Nyonya Helen.
"Ma, gak begitu." Dion berusaha membela diri.
"Aku juga gak program hamil lagi kok," ucap Dion.
"Ah, alasan saja. Dengarkan Mama ya! Mia memang menantu Mama. Tapi Mama sayang sama dia seperti anak Mama sendiri," ucap Nyonya Helen.
"Lalu apa kabar sama aku? Aku juga anak mama kan?" tanya Dion.
"Kamu memang anak Mama. Tapi kamu gak lupa kan bagaimana Mia berjuang untuk melahirkan darah dagingmu? Bagaimana Mia bertaruh nyawa saat memberikan keturunan untuk keluarga kita? Kamu gak tahu gimana lelahnya Mia menyusui kedua bayi kembarmu itu?" tanya Nyonya Helen.
Dion hanya diam dan menunduk. Ia benar-benar pasrah dengan semua omelan Nyonya Helen. Karena sebenarnya apa yang diucapkan ibunya itu memang benar. Mia memang sudah banyak berkorban untuk keluarganya.
"Kenapa kamu diam?" tanya Nyonya Helen saat melihat Dion tidak menjawab ucapannya.
"Mama gimana sih? Ngomong salah. Diam juga masih salah. Terus Mama maunya Dion gimana? Serba salah begini," ucap Dion.
Memang nada bicaranya tidak tinggi. Tapi wajahnya jelas terlihat sangat kesal.
"Ma, ini ada apa sih?" tanya Tuan Wira.
"Nih anak Papa bikin malu aja," jawab Nyonya Helen.
"Kamu kenapa sih Di?" tanya Tuan Wira sembari merapikan dasinya.
"Ini cuma salah paham aja Pah," jawab Dion malas.
"Ya udah ayo cepat mandi! Ini sudah siang," ucap Tuan Wira sembari menunjuk jam di pergelangan tangannya.
"Papa ini apa-apan sih?" tanya Nyonya Helen.
"Hah?" tanya Tuan Wira tidak mengerti.
"Mia itu lagi sakit. Dion harus ada di rumah dan menemani Mia. Di perusahaan masih banyak orang, tapi Mia cuma punya Dion. Dion masuk ke kamar dan temani Mia," perintah Nyonya Helen.
Dion masuk ke dalam kamarnya sementara Tuan Wira pergi ke ruang makan untuk sarapan.
"A, kenapa belum siap-siap? Nanti kesiangan," ucap Mia.
__ADS_1
Matanya terbuka saat mendengar pintu kamarnya terbuka.
"Mana mungkin aku bisa kerja kalau kamu sakit begini?" tanya Dion.
"Mia baik-baik aja kok A. Aa kerja ya! Hari ini kan Aa harus mendiskusikan hasil meeting kemarin di Singapura," ucap Mia.
"Kamu lagi sakit. Pekerjaan nomor sekian. Prioritasku saat ini adalah kesembuhan kamu," ucap Dion.
"Mia cuma butuh istirahat kok. Jadi percuma Aa di sini. Karena Mia cuma mau tidur," ucap Mia.
"Mama juga gak bolehin aku kerja. Bisa habis aku ditampol Mama kalau sampai gak nurut," ucap Dion.
Dion tahu Mia akan menyemangatinya untuk bekerja. Tapi Dion tidak mungkin bisa melawan ibunya. Bukan berarti takut, tapi Dion menuruti apa kata ibunya karena semua memang untuk kebaikannya juga.
"Biar Mia yang bilang sama Mama," ucap Mia sembari menyibakkan selimutnya.
"Eh, mau kemana? Kamu diam saja di sini. Tidur lagi!" ucap Dion.
Dion menahan Mia. Ia sudah memutuskan untuk mendiskusikan hasil meetingnya secara online. Mia pun hanya menemani Dion diskusi online hingga selesai. Percuma protes lagi. Semuanya hanya akan menambah beban Dion dan memperpanjang kemarahan Nyonya Helen.
Selesai Dion diskusi online, Mia kembali menggenggam ponselnya. Dengan penuh pertimbangan ia mengaktifkan kembali ponselnya.
Dadanya berdebar. Ia tegang tidak karuan. Dan ternyata matanya dibuat terbelalak dengan panggilan tidak terjawab dari Dev. Tidak tanggung-tanggung. Sebanyak dua puluh panggilan yang diabaikan Mia sejak semalam. Tapi anehnya Dion tidak mengirim pesan apapun padanya. Hal ini tentu membuat Mia sangat penasaran.
Dev, ada apa kamu meneleponku sebanyak ini? Apa semua tentang Pak Haji?
Setelah sempat ragu, akhirnya Mia menghubungi Dev kembali. Namun sayangnya, sekarang Dev yang tidak menjawab panggilannya.
"Udah empat kali. Kamu kemana sih Dev?" ucap Mia pelan.
Meskipun tempat duduk Dion dan Mia jauh, tapi Dion masih bisa mendengar apa yang diucapkan oleh Mia.
"Kamu kenapa? Nelepon Dev?" tanya Dion.
"Eh, Aa keganggu ya? Perasaan Mia ngomomgnya pelan deh," ucap Mia.
Pelan? Kamu bilang pelan? Oke, terserah kamu lah Mi. Mungkin telinga aku aja yang terlalu tajam.
"Bukan keganggu Mi. Aku hanya ingin tahu aja," ucap Dion.
"Iya A. Mia nelepon Dev. Tapi gak dijawab," ucap Mia.
"Udah dong. Kalau dua kali gak jawab telepon sebaiknya sudahi. Mungkin saat ini Dev lagi sibuk," ucap Dion.
Mia juga tahu itu. Dan ia pun tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya pada siapapun. Tapi saat ini Dev membuatnya gelisah. Ia meninggalkan dua puluh panggilan yang tidak dijawab.
Tanpa sepengetahuan Dion, Mia terus memghubungi Dev. Meskipun hasilnya tetap sama, tapi Mia tidak berhenti. Ia terus menghubungi Dev. Sampai akhirnya Dev menjawab panggilannya entah pada panggilan ke berapa.
"Halo Dev," ucap Mia saat panggilannya sudah terhubung.
"Mia, kamu kemana aja? Kenapa semalam gak bisa dihubungi? Apa kamu sakit?" tanya Dev.
"Semalam Mia sengaja gak aktifin ponsel. Mia gak mau dapat telepon dari kamu Dev," ucap Mia.
"Kamu kok gitu sih? Aku kan cuma mau ngabarin kamu. Hamid sudah--" ucapan Dev tiba-tiba terputus.
"Halo, Dev, Dev, Halo." Mia menatap layar ponselnya dengan perasaan sedih.
"Kenapa Mi?" tanya Dion.
"Teleponnya mati A. Gak tahu kenapa," ucap Mia sedih.
"Coba sini aku cek ponselnya!" ucap Dion.
Sebelum memberikan ponselnya pada Dion, Mia masih berusaha menghubungi Dev kembali.
"A, abis pulsa." Mia meloudspeaker panggilannya.
"Astaga Mia, kamu ini malu-maluin suami aja. Isi pulsa sekarang!" ucap Dion.
Mia hanya tersenyum malu dan segera mengisi ponselnya. Terlalu banyak ini dan itu akhir-akhir ini membuat Mia lupa mengisi pulsanya. Dion hanya menggelengkan kepalanya dengan tingkah istrinya.
#####################
Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
__ADS_1
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.