Janda Bersegel

Janda Bersegel
Tuduhan Papa


__ADS_3

Hari kian siang. Terik mentari begitu nyata. Beruntunglah AC di dalam rumah bisa membuat orang rumah berdamai dengan hari ini.


"Sin, Mia udah keluar kamar belum?" tanya Nyonya Helen.


"Aku dari tadi di sini. Tapi Mia gak kelihatan Nyonya," jawab Sindi.


"Kamu coba cek ke kamarnya ya! Aku khawatir sama keadaan Mia," ucap Nyonya Helen.


"Ayo sama Nyonya aja," ajak Sindi.


"Kalau aku yang masuk, belum tentu Mia mau cerita. Kalau sama kamu kan dia bisa lebih bebas cerita semuanya," ucap Nyonya Helen.


"Oh begitu ya?" ucap Sindi.


Meskipun Sindi tidak yakin kalau Mia akan cerita padanya, namun paling tidak ia akan berusaha untuk menghibur Mia. Berhasil atau tidak, itu urusan belakangan.


"Sindi, tolong buat Mia kembali ceria ya!" pinta Nyonya Helen.


Sindi terharu melihat wajah penuh harap dari Nyonya Helen. Kekhawatiran nampak nyata di wajah ibu mertua dari sahabatnya itu.


"Aku usahakan ya Nyonya," ucap Sindi.


Sindi melangkahkan kakinya menuju kamar Mia. Bukan petama kalinya, namun kali ini ia merasa dadanya berdebar. Takut jika Mia tidak bisa menerima kedatangannya.


"Mi," panggil Sindi sesaat setelah tangannya mengetuk pintu.


"Iya Sin," jawab Mia dari dalam kamar.


Bibir Sindi mulai tersenyum lebar. Ia senang karena Mia menjawab panggilannya. Berarti paling tidak ada sedikit harapan agar Mia bisa bercerita padanya.


"Kamu sakit?" tanya Sindi saat Mia sudah membuka pintunya.


"Gak, aku baru bangun tidur aja." Mia mengucek matanya yang terlihat sembab.


Bohong! Ya, Sindi tahu Mia berbohong. Dia tidak bangun tidur. Matanya yang sembab dan merah mungkin bisa saja karena bangun tidur. Tapi pucuk hidungnya yang masih merah adalah bukti jelas kalau Mia baru selesai menangis.


"Keluar yuk! Aku mau ngobrol sama kamu," ajak Sindi.


"Masuk! Kita ngobrol di sini aja," ucap Mia.


"Boleh Mi?" tanya Sindi meyakinkan.


"Kan aku yang ngajak," jawab Mia.


Mia menepuk kursi di sampingnya. Sindi mendekat dan menjatuhkan bokongnya tepat di tempat yang Mia inginkan. Belum sempat Sindi bertanya, Mia sudah memeluknya dan mengangis dalam pelukan Sindi.


"Kuat ya Mi," ucap Sindi.


Sindi mengusap bahu Mia dan berusaha menenangkan Mia yang tidur sampai sesenggukan. Setelah lama mengenal Mia, Sindi merasa akhir-akhir ini Mia sangat berbeda. Ia lebih lemah. Tidak seperti dulu. Ia sangat kuat dalam menghadapi setiap masalah dalam hidupnya.


"Jangan pernah tinggalin Mia ya Sin," pinta Mia disela isak tangisnya.


"Mi, kamu ngomong apa sih? Aku kan ada di sini sama kamu," ucap Sindi.


Mia menghabiskan semua emosinya dalam pelukan Sindi. Tanpa obrolan apapun, hampir lima menit hening. Yang terdengar hanya isak tangis Mia sesekali. Sindi hanya mengusap-usap Mia. Berusaha menenangkan sahabatnya itu agar berhenti menangis.


"Maaf ya!" ucap Mia.


Mia sudah melepas pelukannya. Ia nampak mengusap kedua pipinya. Berusaha tersenyum pada Sindi. Meskipun Sindi tahu banyak luka yang Mia sembunyikan dibalik senyumnya.


"Mi, kamu kurusan deh." Sindi mencoba mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Ah masa sih Sin?" tanya Mia.


Mia berjalan dan berhenti tepat di depan cermin. Ia memperhatikan tubuhnya dari pantulan cermin yang ada di hadapannya. Mia tidak percaya dengan ucapan Sindi. Tapi bajunya tampak lebih longgar dari biasanya.


"Beneran kelihatan turun ya berat badan Mia?" tanya Mia meyakinkan.


"Mana mungkin aku bohong sama kamu," ucap Sindi.


"Turun berapa kilo ya?" tanya Mia.


"Wah, kalau ini sih bisa sampai turun 10," ucap Mia.


"10 kilo?" tanya Mia antusias.


"10 ons," jawab Sindi sambil tertawa.


"Cuma sekilo dong?" tanya Mia.


"Ih pinter banget. Pasti matematikanya dapat nilai bagus nih," goda Sindi.


"Sindiiii," teriak Mia kesal.


Mia menghambur menindih tubuh Sindi. Memaksanya agar Sindi memperbaiki kalimatnya.


"Ampun, ampun Mi. Iya, iya turun sepuluh kilo," teriak Sindi.


"Bohoooong," ucap Mia.


Kini Mia menggelitiki Sindi agar bicara serius perihal berat badannya. Ia tidak suka Sindi mempermainkan hatinya yang sudah senang dengan baju longgarnya.


Nyonya Helen tersenyum saat mendengar tawa dan teriakan Mia dengan Sindi dari dalam kamar. Wanita itu bisa tersenyum tenang saat mendengar Mia kembali ceria. Meskipun ia tidak tahu itu akan bertahan lama atau mungkin hanya saat ada Sindi saja.


Nyonya Helen menjauh dari kamar Mia. Ia kembali ke kamar Narendra dan Naura. Setelah memastikan kedua cucunya tidur, ia kembali ke kamarnya. Merebahkan tubuhnya di atas ranjang berukuran besar dengan kasur empuk yang selalu membuatnya nyaman.


"Mia, pasti berat jadi kamu. Maaf jika Mama selalu menuntutmu untuk selalu ceria. Mama tahu beban hidupmu tidak mudah. Tapi Mama yakin kamu pasti bisa melewati semua ini," gumam Nyonya Helen.


Nyonya Helen menyadari kalau menjadi ibu menyusui, hormon tidak stabil. Bisa membuat Mia lebih baper akan hal-hal yang bahkan menurut orang lain biasa saja. Apalagi masalah yang dihadapi Mia, rasanya wajar jika Mia menjadi lebih cengeng.


Sempat tahu kalau Pak Baskoro memiliki Rian yang disebut-sebut sebagai anak kandungnya, pasti membuat Mia drop. Belum lama bertemu dengan ayah kandungnya setelah terpisah selama puluhan tahun, kini ia harus kembali berjauhan. Bagi Nyonya Helen, ini semua wajar.


Sebagai seorang ibu, semengerti apapun ia dengan keadaan Mia tapi ia ingin Mia kembali ceria. Mungkin sulit, tapi bukan berarti tidak mungkin.


Sampai akhirnya Dion dan Tuan Wira pulang, Nyonya Helen ketiduran setelah cukup lelah memikirkan keadaan Mia. Begitupun dengan Mia dan Sindi. Dion terkejut saat masuk ke kamarnya, ia melihat Mia dan Sindi tidur di kamarnya. Dion keluar lagi dan menuju kamar bayi kembarnya.


"ASInya masih ada?" tanya Dion saat mendengar Naura menangis.


"Ada Tuan. Tadi Nyonya sudah memompa ASInya," jawab salah satu perawat.


"Tadi?" tanya Dion.


Perawat itu mengerti maksud Dion. Ayah dari bayi yang mereka rawat meminta jawaban tepat dari kata 'tadi' yang digunakan olehnya.


"Sekitar jam dua, Tuan." Perawat itu memperjelas ucapannya.


Dion melihat pergelangan tangannya. Jam mewah berwarna hitam yang melingkar itu menunjukkan angka empat. Jam dua? Itu artinya dua jam yang lalu. Mia pasti lelah sampai akhirnya ia ketiduran bersama Sindi di kamarnya.


Ada yang membuatnya penasaran. Ia ingin tahu bagaimana ekspresi Mia saat bertemu dengan kedua bayi kembarnya. Dion membuka jas dan dasinya.


"Sini biar aku saja," pinta Dion.


Dion meminta agar Naura menyusu di pangkuannya saja. Ya biar ada alasan untuk bertanya tentang keadaan Mia saat berada di ruangan itu. Paling tidak, jiwa keponya tersalurkan tanpa terlalu meninggalkan jejak.

__ADS_1


"Tadi ASInya dapat berapa botol?" tanya Dion.


Dion senang dengan jawaban yang didapatnya. Meskipun belum sebanyak biasanya, tapi paling tidak siang ini jumlahnya lebih banyak dibanding pagi tadi.


"Dia nampak pucat?" selidik Dion.


"Masih sedikit pucat Tuan. Tapi Nyonya Mia sudah terlihat tertawa bersama Non Sindi tadi," jawab perawat itu.


"Sindi ikut ke sini?" tanya Dion.


"Iya Tuan. Non Sindi yang menggendong Naura tadi. Sepertinya Non Sindi senang sama anak kecil," ucap perawat itu membuka percakapan yang lebih luas.


"Menurutmu dia seperti itu?" tanya Dion.


"Yang saya lihat memang seperti itu. Non Sindi juga sering ke sini untuk mengajak bayi kembar untuk bermain," jawab perawat.


"Sering?" selidik Dion dengan kerutan di dahinya.


"Ya setelah Den Rian tidak ada. Mungkin karena sekarang Non Sindi tidak ada kegiatan," jawab perawat.


Dion mengangguk-angguk. Ia berhutang budi pada Sindi. Meskipun Sindi sudah lancang tidur di atas ranjangnya, tapi tak bisa dipungkiri ternyata Sindi cukup berjasa. Ia berhasil membuat Mia tersenyum lagi.


Setelah Naura tidur dan merasa cukup informasi tentang istrinya dan Sindi, Dion keluar. Menuju ruang makan, karena ia merasa cukup haus.


"Kenapa belum ganti baju?" tanya Tuan Wira yang ternyata sedang berada di ruang makan juga.


"Sindi tidur di kamar sama Mia," jawab Dion sembari duduk di hadapan Tuan Wira.


Dion merasa tatapan Tuan Wira akan menyerangnya. Meskipun ayahnya belum mengucapkan apapun, tapi ia yakin jika akan ada tuduhan buruk yang dilayangkan padanya.


"Jangan-jangan kamu seneng ya?" tuduh Tuan Wira.


"Seneng apaan sih Pah?" tanya Dion.


Dion yang tengah minum hampir menyembur Tuan Wira jika telapak tangannya tidak menahan bibirnya. Ia sangat terkejut dengan tuduhan yang kelewatan dari Tuan Wira.


"Papa ini kalau ngomong suka ngasal," ucap Dion setelah mengelap mulutnya.


"Ya kan siapa tahu?" ucap Tuan Wira.


"Aku gak mungkin menduakan Mia. Apalagi sama Sindi," ucap Dion.


"Bagus dong," ucap Tuan Wira.


Dion mengambil tissue dan mengelap meja yang basah karena semburannya. Ia menggelengkan kepalanya. Tak habis pikir dengan tuduhan Tuan Wira padanya.


Bagaimana mungkin Papa menuduhku senang dengan kehadiran Sindi di kamarku? Bisa-bisanya Papa mengira aku membayangkan mempunyai dua istri yang akur. Dua istri yang tidur dalam satu ranjang bersamaan. Papa kebangetan deh sama anaknya sendiri.


Dion kembali menggelengkan kepalanya saat mengingat tuduhan ayahnya tadi.


######################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.

__ADS_1


__ADS_2