Janda Bersegel

Janda Bersegel
Dosa apa?


__ADS_3

"Permisi," sapa Dokter.


"Eh, silahkan dokter?" Nyonya Nathalie berdiri dan bersikap sangat ramah.


"Sayaa akan melakukan pemeriksaan terjadao Nyonya Sindi," ucap Dokter.


"Silahkan, silahkan. Diperiksa dengan baik ya cucu saya," ucap Nyonya Nathalie.


"Baik Nyonya," ucap Dokter.


Cucu saya? Aku juga bapaknya gak seheboh itu. Aduh bahaya, posisiku benar-benar terancam. Bukan cuma sama Mami nih kalau begini, anakku juga bisa-bisa lebih sayang sama omanya.


Danu memperhatikan setiap tingkah Nyonya Nathalie terhadap Sindi. Meskipun ia sempat iri dan cemburu, akhirnya Danu tersenyum bahagia juga. Ia kembali menemukan kebahagiaan dalam diri Nyonya Nathalie dengah kehadiran Sindi dan bayi yang ada dalam perutnya.


"Keadaannya sudah membaik. Nyonya Sindi bisa pulang hari ini," ucap Dokter.


"Wah, senangnya. Terima kasih dokter," ucap Nyonya Nathalie.


Setelah selesai memeriksa, dokter pamit. Melihat donter sudah keluar dari ruangan itu, Nyonya Nathalie segera meminta Danu membereskan barang-barangnya karena mereka harus segera pulang.


"Mi, kenapa gak bawa orang sih? Kok jadi aku yang harus beres-beres?" tanya Danu.


"Sindi aja yang hamil anak kamu gak repot. Masa kamu cuma diminta beresin barang aja udah nolak," ucap Nyonya Nathalie.


"Iya, iya. Ini mau aku beresin," ucap Danu.


"Begitu dong," ucap Nyonya Nathalie.


Sindi menatap Danu dengan tidak tega. Biasanya semua kebutuhan Danu selalu ia siapkan. Ia tidak biasa melihat Danu melakukan hal seperti itu.


"Sudah, biarkan saja. Baru seperti ini, hal kecil. Mulai hari ini, semua yang berurusan sama kamu dan cucuku menjadi tugas Danu," ucap Nyonya Nathalie saat melihat Sindi terus menatap Danu.


"Ya ampun Mami," protes Danu.


"Kenapa? Keberatan?" tanya Nyonya Nathalie penuh dengan tekanan.


"Gak Mi. Aku gak apa-apa kok," ucap Danu.


Danu melanjutkan kegiatannya dan segera membawa Sindi untuk pulang. Danu tidak membiarkan Sindi berjalan, ia memaksa Sindi untuk sigendong. Namun Sindi menolak. Akhirnya Danu membawa kursi roda agar Sindi tidak merasa lelah.


"Naik!" perintah Danu.


"Aku bisa jalan sendiri kok," tolak Sindi.


"Naik," perintah Danu lagi.


Kali ini Danu sudah menaikkan nada suaranya. Sindi tidak ingin berdebat di rumah sakit. Ia segera naik meskipun sangat tidak nyaman dengan perlakuan Danu. Alih-alih merasa diistimewakan, Sindi justru merasa menjadi pasien lumpuh.


"Awas hati-hati ya! Jaga cucuku baik-baik ya Sin," ucap Nyonya Nathalie.


"Iya Bu," jawab Sindi pelan.


Perjalanan rumah sakit ke rumahnya menjadi jauh lebih lambat dari biasanya. Danu benar-benar membawa mobilnya dengan sangat pelan.

__ADS_1


"Kok pelan banget sih?" tanya Sindi.


"Ada bayi yang harus dijaga di dalam perut kamu. Aku gak mau bayi kita oleng," jawab Danu.


Sindi menepuk pelan dahinya.


"Kenapa?" tanya Danu.


"Gak apa-apa," jawab Sindi.


"Terus kenapa tepuk-tepuk dahi?" tanya Danu.


"Nyamuk. Kenapa? Gak boleh di tepuk? Takut bayinya sakit?" ucap Sindi kesal.


"Gak. Kamu jangan marah-marah dong," ucap Danu.


"Danu, kamu itu sebagai suami harus tahu betul kalau istri yang sedabg hamil, hormonnya gak stabil. Kamu diem aja Sindi bisa marah, apalagi kalau kamu nyebelin. Jangankan Sindi, Mami juga emosi sama tingkah kamu." Nyonya Nathalie membela Sindi.


Sindi menahan senyumnya. Akhirnya Nyonya Nathalie membantunya untuk menjelaskan pada Danu tentang yang ia rasakan.


"Mami kok gitu sih sama aku," ucap Danu.


"Nyetir yang bener. Jangan ngoceh melulu," ucap Nyonya Nathalie.


Danu menutup mulutnya rapat-rapat agar tidak kena semprot dari dua wanita yang paling ia sayangi.


Padahal kan aku cuma melakukan yang terbaik buat bayi kita, Sin. Buat cucu Mami juga. Kok jadi tetep aku yang kena omel ya? Terus aku harus gimana?


"Kenapa diam begitu?" tanya Nyonya Nathalie.


"Oh kamu ngambek? Gak malu sama bayi di perut Sindi? Kamu itu udah mau jadi Bapak. Masih aja ngambek begitu," gerutu Nyonya Nathalie.


"Mi, aku harus gimana? Ngomong salah. Diam juga salah. Bingung aku," ucap Danu.


"Ya kamu ngomongnya yang bener. Jangan bikin orang kesel," ucap Nyonya Nathalie.


Melihat Danu tertindas seperti itu ternyata membuat Sindi bisa tersenyum bahagia. Ia senang saat melihat Nyonya Nathalie sedang memarahi Danu.


Saat mobil sudah sampai ke rumah, Danu membantu Sindi untuk berjalan. Ia benar-benar menjaga agar perut Sindi tidak banyak bergerak.


"Aku bisa sendiri," ucap Sindi.


"Aku tahu. Tapi aku mau bantu kamu. Boleh kan?" bujuk Danu.


Melihat Danu memelas begitu membuat Sindi merasa kasihan. Ia hanya mengangguk walaupun sebenarnya ia sama sekali tidak menginginkan diperlakukan berlebihan seperti itu.


"Banyak-banyak istirahat ya! Kalau ada apa-apa kamu telepon Mba saja dari sini. Semua yang kamu butuhkan pasti segera diantar ke sini," ucap Danu saat mereka sudah tiba di kamar.


Apa lagi ini? Beginikah menjadi seorang Nyonya? Tapi kenapa aku merasa menjadi irang strooke? Begini jangan begitu juga gak boleh. Aku cuma tiduran seharian? Semalaman? Bisa-bisa kaku semua tulangku.


Dering ponsel menyadarkan Sindi dari gerutuannya.


"Siapa?" tanya Danu.

__ADS_1


"Mia. Kenapa? Gak boleh? Takut bayinya terganggu karena berisik?" tanya Sindi kesal.


"Gak. Angkat saja," jawab Danu.


Karena yang menelepon istrinya adalah Mia, Danu segera keluar kamar dan membiarkan mereka bicara berdua.


"Mia, apakah kalau ibu hamil itu harus selalu begini? Ini jangan itu jangan. Kenapa aku gak dipasung aja sekalian?" ucap Sindi pada Mia.


Mia hanya tertawa mendengar curhatan sahabatnya itu. Ia meyakinkan Mia kalau apa yang Danu lakukan semua karena sayang.


"Mas Danu pasti gak mau kalau kamu kecapean. Dia pasti ingin yang terbaik buat kalian," ucap Mia.


Sindi akhirnya mulai mengerti perubahan sikap Danu yang berlebihan. Ia merenung dan menyesali apa yang sudah ia lakukan pada suaminya.


Setelah panggilan Mia berakhir, Sindi memanggil Danu. Ia meminta maaf atas semua sikapnya yang tidak menyenangkan pada suaminya.


"Niat aku tuh baik. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa. Aku gak mau ambil resiko buat kalian berdua," ucap Danu.


"Iya. Aku juga mengerti. Maafin aku ya," ucap Sindi.


Danu segera memeluk Sindi dan mengusap perut ratanya.


"Ini nanti membesar loh. Aku makin jelek," ucap Sindi.


"Kamu selalu cantik buat aku," ucap Danu.


"Gombal," ucap Sindi.


Mereka yang sedang romantis tiba-tiba harus saling menjauh saat mendengar ketukan pintu. Danu berdiri dan membuka pintu.


"Gimana kabar Sindi?" tanya Tuan Ferdinan.


"Papi kapan pulang?" Danu malah kembali bertanya pada Tuan Ferdinan.


"Barusan. Gimana kabar Sindi? Cucu Papi gimana? Dia baik-baik aja kan?" tanya Tuan Ferdinan.


Mendengar Tuan Ferdinan dan Danu berdebat di ambang pintu, Sindi segera menghampiri mereka.


"Aku baik-baik aja kok. Bapak udah pulang?" tanya Sindi.


"Ah Sindi, syukurlah. Aku senang melihatmu baik-baik saja. Kamu istirahat ya! Jangan sampai kecapaean," ucap Tuan Ferdinan.


Saat dikabari tentang keadaan Sindi kemarin, Tuan Ferdinan sedang berada di luar kota. Hingga saat ia selesai segera pulang dan memastikan kalau menantunya itu baik-baik saja.


"Danu, ikut Papi sebentar!" ucap Tuan Ferdinan menarik tangan Danu.


"Ada apa sih, Pi?" tanya Danu.


Tuan Ferdinan nampak melihat ke kamar Danu. Saat melihat Sindi sudah masuk, ia berbisik.


"Sindi lagi hamil muda. Jangan sampe macam-macam. Jaga kandungannya. Jangan cuma mikirin kepuasan sendiri. Awas ya! Kalau sampai ada apa-apa sama Sindi dan cucu Papi, kamu akan berurusan sama Papi." Tuan Ferdinan meninggalkan Danu setelah menyampaikan hal itu sembari mengangkat kepalan tangannya.


Danu hanya membuka mulut dan matanya selebar mungkin setelah mendengar dan melihat tingkah Tuan Ferdinan.

__ADS_1


Ini kenapa aku terus yang disudutkan sih? Kesannya semua kesalahan ada diaku. Dari omelan sampai ancaman, semua aku terima hari ini. Dosa apa aku, Tuhan?


__ADS_2