
"Mia," panggil Tuan Wira.
Mia yang tengah berada di ruangan bayi kembarnya menoleh ke arah sumber suara.
"Pah," ucap Mia.
Mia menidurkan Naura ke dalam box bayinya.
"Duduk Pah," ucap Mia.
"Kita bicara di luar saja," ucap Tuan Wira.
Mia mengangguk dan segera pergi ke ruangan keluarga. Duduk di hadapan Tuan Wira. Ia tahu apa yang akan dibahas oleh ayah mertuanya itu.
"Dion tidur?" tanya Tuan Wira.
"Iya Pah," jawab Mia.
"Mama marah. Kamu tahu itu?" tanya Mia.
Mia mengangguk.
"Danu benar-benar mencintai Sindi sampai ia nekat menemui Dion ke kantor dan datang ke rumah ini," ucap Tuan Wira.
Mia terkejut. Ia tidak percaya jika Danu menemui suaminya.
"Untuk apa Mas Danu menemui A Dion?" tanya Mia.
"Dia meminta Sindi pada Dion. Ketakutan Sindi rupanya sampai ke telinga Danu. Sebagai pria yang bertanggung jawab, Danu menemui Dion agar tidak membenci Sindi. Bahkan Danu berjanji akan membawa Sindi pergi dari rumah ini," ucap Tuan Wira.
Mia diam. Ia mencerna dengan baik kalimat yang terucap dari Tuan Wira. Berusaha menyimpulkan apa maksud Danu. Jadi Sindi belum yakin dengan cinta Danu yang begitu besar padanya.
"Mia menyesal sudah mengizinkan Sindi pulang ke Surabaya. Kalau aja Mia bisa nahan Sindi, mungkin saat ini Sindi sudah bahagia dengan Mas Danu." Mia menunduk sedih.
"Jangan merasa bersalah. Jika tidak begini, kita juga tidak tahu pasti seberapa besar cinta Danu untuk Sindi. Kalau Danu berhasil membawa Sindi kembali ke Jakarta, artinya perjuangan Danu sudah maksimal dan membuahkan hasil." Tuan Wira menenangkan Mia.
"Iya Pah. Tapi Mama gimana?" tanya Mia.
"Mama masih shock. Nanti juga baikan lagi kok. Jangan khawatir," ucap Tuan Wira.
"Mia jadi ngerasa bersalah," ucap Mia sedih.
"Mama pasti ngerti kok. Niat kamu juga bagus Mi," ucap Tuan Wira.
"Pah, terima kasih ya udah ngerti Mia. Udah bikin Mia tenang," ucap Mia.
Saat Tuan Wira dan Mia masih mengobrol, derap langkah Dion menjadi pusat perhatian keduanya.
"A," sapa Mia.
"Kudengar kamu masih membahas topik yang sama. Apa itu tidak membosankan?" tanya Dion.
"Dion, jangan salah paham. Dewasalah sedikit. Mia itu bukan ABG labil yang bisa dengan mudah berpindah perasaan," jawab Tuan Wira.
"Aku mengerti Pah. Aku juga percaya sama Mia. Tapi jika sering dibahas begitu aku jadi bosan mendengarnya," ucap Dion.
"Tapi kalau Sindi dengan Danu, sudah bukan masalah lagi kan buatmu?" tanya Tuan Wira.
__ADS_1
"Dia berjanji akan menjaga jarak dengan Mia," jawab Dion.
"Kamu ini gengsi sekali perkara bilang setuju aja," ucap Tuan Wira.
Merasa tersudut, Dion segera mengajak Mia untuk kembali ke kamarnya. Mungkin benar ia merasa gengsi jika harus terang-terangan mengakui rasa setujunya.
Semakin ke sini, Dion semakin berpikir dengan bijak. Bukankah kalau Sindi menikah dengan Danu, rasa takut kehilangan Mia akan semakin berkurang? Waktu Danu yang mulai terisi dengan Sindi, akan membuat Mia benar-benar hilang dari kehidupan Danu.
"Pah, Mia tidur dulu ya!" pamit Mia.
Mia segera mengikuti langkah suaminya untuk pergi ke kamar.
"Tidur!" ucap Dion.
Mia segera mengambil posisi ternyaman dan berusaha memejamkan matanya. Berharap besok pagi semuanya sudah membaik.
"Kalau mereka nikah, kamu datang gak?" tanya Dion.
Mia membuka matanya saat mendengar pertanyaan Dion.
"Masih mau bahas masalah itu?" tanya Mia.
"Tinggal jawab aja kenapa sih," jawab Dion.
Ia membalikkan badannya. Membelakangi Mia karena malu dengan pertanyaannya sendiri. Padahal dia sendiri yang bilang kalau bosan jika harus membahas tentang Danu dan Sindi. Tapi saat ini, bisa-bisanya dia sendiri yang mulai membahas tentang hal itu.
"Mia sih gimana Aa aja," jawab Mia.
Mia memeluk Dion dari belakang dan tersenyum melihat tingkah suaminya.
"Ya kalau Aa ngizinin, Mia datang. Kalau Aa gak boleh, Mia gak datang," jawab Mia.
Dion membalikkan badannya. Ia meyakinkan jawaban Mia.
"Kalau aku gak ngizinin?" tanya Dion.
"Mia gak pergi," jawab Mia.
"Yakin?" tanya Dion.
"Yakin," jawab Mia.
"Terus Sindi?" tanya Dion.
"Dia kan udah bahagia A. Gak datang pun, Mia tenang karena Sindi udah ketemu sama kebahagiaannya," jawab Mia.
"Jadi kamu pilih aku dibanding Sindi?" tanya Dion.
"Aa sama Sindi gak bisa dibandingkan. Aa suami Mia, Sindi sahabat Mia. Tapi kedudukannya, Aa jauh lebih penting bagi Mia. Karena Mia yakin, Aa tahu yang terbaik untuk Mia. Apapun itu," ucap Mia.
Dion menjadi malu sendiri. Ia yang sibuk dengan perasaan takut kehilangannya, ternyata Mia yang dengan santainya mau mengikuti apapun yang ia mau.
Jadi sebenarnya tidak ada yang perlu aku takutkan. Maafkan aku Sindi. Semuanya hanya karena keegoisanku saja.
Malam berganti pagi. Mia nampak bangun lebih pagi. Bahkan saat Dion membuka matanya, Mia sudah tidak ada di kamar. Menduga Mia sedang menyusui bayi kembarnya, Dion segera mandi dan bersiap untuk pergi ke kantor.
Kemeja dengan celana dan jas, sudah Mia siapkan. Lengkap dengan dasi yang senada dengan kemejanya. Dion tersenyum saat Mia selalu melakukan tugasnya dengan baik.
__ADS_1
"Sayang," panggil Dion saat membuka kamar bayi kembarnya.
Kedua perawat yang ada di sana menatap Dion dengan senyum lebar.
"Nyonya sudah keluar Tuan," jawab salah satu perawat.
"Oh," jawab Dion.
Dion segera keluar dan mencari Mia. Ternyata istrinya juga tidak ada di dapur dan ruang makan. Saat bertanya pada Mba, Dion segera menyusul Mia. Ia khawatir jika Nyonya Helen marah pada Mia.
"Mama cuma kecewa sama kamu," ucap Nyonya Helen.
Dion yang mendengar ucapan ibunya pada Mia, segera membela Mia.
"Mia gak salah Ma. Jangan menyudutkan Mia seperti itu," ucap Dion.
Mia yang terkejut dengan kedatangan Dion segera mengusap sudut matanya.
"A, udah. Mama juga gak menyudutkan Mia. Memang salah Mia," ucap Mia.
"Kalian keluar saja, Mama sedang tidak mau membahas masalah ini. Masih pagi, jangan bikin Mama badmood!" ucap Nyonya Helen.
"Ayo Mia!" ajak Dion menarik tangan Mia.
"Mia pamit Ma. Tapi sebelum Mia keluar, Mia masih ingat betul apa kata Mama. Sindi anak baik kan? Gak mungkin Sindi menyakiti Mama. Ini semua hanya salah paham saja," ucap Mia.
Nyonya Helen tidak menjawab. Ia membiarkan keduanya pergi dari kamarnya.
"Tutup pintunya Pah!" pinta Nyonya Helen.
Dengan tarikan napas yang berat dan panjang, Tuan Wira menutup pintu kamarnya.
"Sindi kalau mau nikah sama siapapun boleh. Asal jangan sama dia! Masa Mama harus besanan sama wewe gombel itu sih?" gerutu Nyonya Helen.
"Ya ampun Ma. Lagian kalau mereka nikah juga belum tentu ngundang Mama kok," jawab Tuan Wira.
"Hah? Sindi kan udah Mama anggap anak sendiri. Masa kalau nikah Mama gak diundang? Gimana ceritanya," ucap Nyonya Helen kesal.
"Oh, jadi Mama udah nganggap Sindi sebagai anak Mama sendiri?" tanya Tuan Wira.
"Ya iya lah," jawab Nyonya Helen.
"Kalau memang Mama udah nganggap Sindi anak Mama sendiri, gak mungkin Mama menghalangi kebahagiaan Sindi. Dengan siapapun, itu pilihan Sindi. Bersama dia Sindi bisa bahagia," ucap Tuan Wira.
Selesai mengucapkan kalimatnya, Tuan Wira segera berdiri dan keluar. Tidak ingin melanjutkan perdebatannya. Ia hanya ingin Nyonya Helen mencerna apa yang sudah ia sampaikan.
######################
Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
__ADS_1