Janda Bersegel

Janda Bersegel
Minggu depan


__ADS_3

Setelah Nyonya Helen dan Nyonya Nathalie tenang. Tuan Ferdinan kembali meminta Sindi menjadi bagian dari keluarganya. Namun jawaban Sindi masih bingung. Ia merasa tidak pantas untuk menjadi istri Danu.


"Aku tidak sebaik Mia," ucap Sindi.


"Sin," ucap Mia.


Mia menatap Sindi dengan tatapan tidak suka. Sudah beberapa kali Mia mengingatkan untuk tidak membandingkan dirinya dengan siapapun. Apalagi dalam hal ini. Mia tidak ingin terlibat sama sekali.


"Tapi kenyataannya begitu Mi," ucap Sindi.


Sindi yang mengerti arti tatapan Mia memperjelas ucapannya.


"Kamk tidak mencari pengganti Mia. Kami hanya mencari calon menantu saja," ucap Tuan Ferdinan.


"Sin, aku memintamu untuk menjadi pendampingku. Jawabannya hanya satu. Katakan iya, lalu semua akan berjalan lancar. Kita akan mewujudkan impian kita," ucap Danu.


Sindi menatap Danu yang begitu berharap banyak darinya. Namun ia yang tidak begitu yakin membuatnya takut.


"Sindi pasti menerima pinangan ini. Dia hanya malu saja. Sudah berkali-kali Sindi menceritakan perasaannya padaku. Sindi memang berharap Nyonya dan Tuan bisa menyayanginya seperti Mama Helen dan Papa Wira menyayangi Sindi," ucap Mia.


"Jangan khawatir Sindi. Kalau masalah itu, aku siap bersaing. Aku janji akan menyayangimu lebih dari Nyonya Helen," ucap Nyonya Nathalie meyakinkan.


"Hey apa maksudmu? Apa menurutmu aku tidak menyayangi Sindi dengan maksimal?" tanya Nyonya Helen tersinggung.


Astagaaaa, ini gak beres-beres kalau begini. Kalau aku sudah menikah dengan Sindi, aku harus membawa Sindi jauh dari keduanya. Bisa berantem tiap hari kalau aku tinggal d rumah Mami. Untuk tinggal di rumah Nyonya Helen juga tidak mungkin. Mami bisa nyusul Sindi tiap hari. Heboh setiap waktu nih.


"Maaf Nyonya, Mami tolong biarkan aku mendengar jawaban Sindi. Setelah itu kita bisa mempersiapkan semuanya dengan cepat," ucap Danu.


Keduanya diam meskipun dengan tatapan tidak suka antara satu sama lain.


"Sin, cepat jawab iya. Biar semuanya beres. Kamu masih seru ya nonton Mama sama Nyonya Nathalie berantem begini? Nanti juga setelah kalian menikah, aku yakin tontonannya makin seru dari ini." Dion berbisik pada Sindi.


Mia yang mendengar bisikan Dion hanya bisa menahan tawanya. Ia juga memikirkan hal yang sama. Mia yakin pernikahan Danu dengan Sindi akan menjadikan dua ibu-ibu menjadi lebih heboh.


"Jadi gimana Sin?" tanya Danu lagi.


Sebelum menjawab, Sindi melihat Mia dan Dion secara bergantian. Setelah melihat keduanya mengganggukkan kepalanya, Sindi baru ikut menganggukkan kepalanya.


"Jadi kamu mau?" tanya Danu meyakinkan dirinya sendiri.


"Iya," jawab Sindi pelan.


"Terima kasih Sindi, terima kasih." Danu segera bangun dan memeluk Sindi.


"Hey, hey. Awas, lepaskan! Kalian belum menikah. Jangan macam-macam kamu!" ucap Nyonya Helen mengingatkan.


Danu terkejut dengan sikap Nyonya Helen yang mendorong tubuhnya.


"Maaf Nyonya, maaf." Sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Danu menjauh dari Sindi.


"Eh, jangan begitu dong. Danu itu anakku," ucap Nyonya Nathalie.


"Siapa yang bilang anakku?" tanya Nyonya Helen.


"Iya artinya kamu jangan kasar sama Danu. Itu bisa masuk tindak penganiayaan," jawab Nyonya Nathalie.


"Anak kamu yang duluan nyosor," ucap Nyonya Helen.


Sebelum adu mulut itu berlangsung lebih alit dan sengit, Tuan Ferdinan segera menyimpulkan hasil pertemuannya kali ini.


"Biar cepat, kita ambil kesimpulannya aja ya! Jadi lamaran kami sudah diterima. Maka untuk meresmikan lamaran itu, kami akan datang ke sini minggu depan. Untuk itu kita siap-siap sesuai tugas masing-masing," ucap Tuan Ferdinan.


"Siap. Kami akan mempersiapkan semuanya sebaik mungkin," ucap Tuan Wira.


Dia pria yang akan menjadi besan itu saling menjabat tangan. Tanpa menunggu komentar dari keduanya, Tuan Ferdinan segera pamit dan membawa istrinya dengan paksa.


"Aku pulang dulu ya Sin!" pamit Danu.

__ADS_1


"I-iya," ucap Sindi gugup.


"Kenapa? Mami masih betah di sini?" tanya Tuan Ferdinan saat mereka sudah sampai ke parkiran.


"Ih, mana ada Mami betah? Mami gak betah sama sekali," ucap Nyonya Nathalie.


"Itu buktinya susah banget diajak pulang," ucap Tuan Ferdinan.


"Bukannya betah Pi. Tapi Mami belum puas. Mami belum bikin Nyonya Helen kalah," ucap Nyonya Nathalie.


"Tenang aja Mi. Kan masih banyak waktu yang lain," ucap Danu.


"Heh, Danu. Kamu jangan jadi kompor ya!" ucap Tuan Ferdinan mengingatkan.


"Bukannya jadi kompor Pi. Maksudnya ya kalau berdebat jangan lama-lama. Kan bisa bersambung dilanjut lain kali gitu Pi," ucap Danu.


"Ah kamu ini sama aja. Jangan dengerin Danu Mi," ucap Tuan Ferdinan.


Sementara Nyonya Nathalie masih nampak cemberut. Rasanya ia belum terima untuk pulang lebih cepat. Ia belum puas berdebat dengan Nyonya Helen.


Dia pasti senang karena aku udah pulang. Jangan sampai dia mikir aku kalah ya. Ini semua gara-gara Papi. Kesel banget deh.


Ternyata dugaan Nyonya Nathalie salah. Tidak ada perasaan senang sekalipun saat Nyonya Nathalie pulang. Justru Nyonya Helen merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan calon besannya itu.


Rasa kesal karena belum puas menyampaikan unek-uneknya pada Nyonya Nathalie, membuat Nyonya Helen nampak cemberut.


"Ma, kenapa? Masih kangen sama Nyonya Nathalie?" tanya Tuan Wira.


"Ih amit-amit. Gak ada kangen-kangennya," jawab Nyonya Helen.


"Terus kenapa itu masih cemberut?" tanya Tuan Wira.


"Kesel aja. Mama belum selesai bikin perhitungan, dia main pergi aja." Nyonya Helen berdecak kesal.


Danu hanya menahan tawanya saat melihat tingkah Nyonya Helen seperti anak kecil.


"Aku lagi bayangin gimana kalau nanti pas lamaran mama dan Nyonya Nathalie saling jambak," ucap Dion.


"Pasti heboh tuh Di. Bisa masuk infotaiment tuh. Lumayan jadi artis dadakan. Bisa terkenal kita Di," ucap Tuan Wira.


"Ih, Papaaaaaa." Nyonya Helen berteriak kesal saat suami dan anaknya terus menggodanya.


"Udah dong, Pah, A. Mama ke kamar aja ya! Istirahat dulu. Mau Mia antar?" ucap Mia.


Benar! Hari ini memang terasa sangat melelahkan bagi Nyonya Helen. Ia yang seharusnya menikmati hari libur dengan jalan-jalan atau sekedar makan di mall, harus terganggu dengan kedatangan Merry dan keluarga Danu.


"Gak perlu. Mama bisa sendiri," ucap Nyonya Helen.


Nyonya Helen meninggalkan mereka. Sindi merasa bersalah saat melihat Nyonya Helen berlalu dengan sebelah tangannya nampak memijat kepalanya.


"Sin, kamu juga istirahat ya!" ucap Mia.


"Iya Mi," ucap Sindi.


Setelah pamit pada Mia dan yang lain, Sindi pergi ke kamarnya. Bukan lelah, tapi ia merasa lebih tidak enak saat berada di tengah-tengah keluarga Tuan Wira.


Saat sampai di kamarnya, Sindi mendapati sebuah pesan dari Rian.


'Cieeee, calon pengantin. Selamat ya Kak!'


Sebuah pesan yang membuat Sindi berbunga. Namun ia sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya pernikahannya nanti.


Sementara di ruang tamu, Mia dan Dion masih membahas tentang rencana pernikahan Sindi.


"Mi, menurut kamu gimana kita mulainya?" tanya Tuan Wira.


"Biar Mia yang atur," ucap Mia.

__ADS_1


"Jangan! Kamu fokus saja mengurus Narendra sama Naura. Biar aku tugaskan orang untuk mengatur semuanya," ucap Dion.


"Ya, suruh orang kepercayaan kita. Jangan lupa siapkan baju buat kita sekeluarga. Kita jangan kalah keren sama keluarga Tuan Ferdinan," ucap Tuan Wira.


Dion dan Mia saling beradu pandang.


"Kok Papa jadi ikutan bersaing sih?" tanya Dion.


"Eh, bukannya bersaing. Tapi kan nanti mereka bisa aja ngejek kita kalau baju kita jelek," jawab Tuan Wira membela diri.


"Ah sama aja," ucap Dion.


Dion segera meraih ponsel dan menghubungi orang kepercayaannya.


"Kamu hanya punya waktu satu minggu. Tidak lebih. Ingat, siapkan semuanya dengan baik. Dari mulai baju sampai catering. Buat semaksimal mungkin. Jangan mengecewakanku," ucap Dion.


Panggilan itu terhenti. Dion mengajak Mia segera beristirahat. Tapi Mia memilih untuk bertemu dengan Sindi dulu.


"Mia boleh ya lihat Sindi dulu. Mia khawatir sama keadaan Sindi.


"Ya sudah. Tapi jangan lama-lama ya!" ucap Dion.


"Siap A," ucap Mia.


Mia segera pergi ke kamar Sindi, menemui sahabatnya sendiri dan memastikan kalau Sindi baik-baik saja.


"Sin," panggil Mia.


"Mi," ucap Sindi.


"Kamu gak tidur?" tanya Mia.


"Gak, Mi." jawab Sindi. "Sini masuk!" ajaknya.


Mia masuk dan memeluk Sindi.


"Selamat ya Sin! Hari bahagia itu semakin dekat. Minggu depan kamu udah resmi jadi tunangannya Danu. Mia gak tahu kapan kalian menikah, yang pasti nanti kita pasti jauh. Mia pasti bakal kangen banget sama kamu," ucap Mia.


Sindi kembali memeluk Mia dengan erat.


"Mi, aku gak tahu apa yang akan terjadi nanti. Ini berasa mimpi," ucap Sindi.


Mia melepaskan pelukannya. Ia menggenggam tangan Sindi.


"Ini memang masih mimpi, tapi mimpi indah. Dan seminggu lagi kamu akan mewujudkan mimpi itu Sin," ucap Mia.


"Iya Mi," ucap Sindi.


"Kamu jangan banyak pikiran. Semua persiapan untuk acara lamaran sudah dihandle sama orang kepercayaan A Dion," ucap Mia


"Mi, terima kasih ya. Aku gak tahu lagi harus bilang apa sama kamu," ucap Sindi.


"Kamu kayak sama siapa aja ah," ucap Mia.


Sindi dan Mia kembali berpelukan untuk meluapkan rasa bahagianya.


#####################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.

__ADS_1


__ADS_2