
"Saya mau pulang Tuan," ucap Mia pada Danu.
"Dokter belum membolehkanmu untuk pulang Sabarlah! Semuanya juga untuk kebaikanmu," ucap Danu.
Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Mia nampak semakin gelisah. Danu memperhatikan sikap Mia yang semakin lama semakin tidak tenang.
"Ada apa?" selidik Danu.
"Ini saya bisa pulang jam berapa ya?" tanya Mia dengan raut khawatir.
"Tanya dokter. Jangan tanya aku," jawab Danu.
Mia cemberut. Hatinya semakin tak tenang saat sudah jam 7 malam Mia masih belum boleh pulang. Melihat Danu yang masih duduk di sofa, Mia bingung kenapa pria itu belum pulang juga.
"Tuan, belum pulang?" tanya Mia.
"Memangnya kamu berani di sini sendirian?" tanya Danu.
"Berani. Tapi saya titip motor ya!" ucap Mia.
Danu menghela napas panjang. Pertanyaannya terjawab sudah Jadi motor itu yang menjadi sumber kegelisahan hati Mia.
"Ok. Tapi hati-hati ya! Biasanya nanti malam kalau sudah lewat jam sebelas, kadang terdengar suara aneh. Lampu juga kadang-kadang mati sendiri," ucap Danu menakut-nakuti Mia.
Masalah hantu, Mia bisa membaca doa. Tapi kalau mati lampu, Mia tidak bisa menguasai dirinya sendiri. Melihat kekhawatiran Mia, Danu segera membawa jas yang ada di kursi dan bergegas untuk pergi meninggalkan ruangan Mia.
"Eh Tuan, memangnya rumah sakit mewah seperti ini bisa mati lampu?" tanya Mia.
"Bisa, sering malah." Danu semakin menakut-nakuti Mia.
"Benarkah Tuan?" tanya Mia penasaran.
"Kalau kamu tidak percaya, nanti kamu buktikan sendiri ya!" jawab Danu.
"Tuan, mau kemana?" tanya Mia.
"Kan mau pulang," jawab Danu dengan entengnya.
"Eh, kalau tidak pulang bisa kan?" tanya Mia.
"Bisa," ucap Danu sangat bahagia. Akhirnya keberadaannya di sana dianggap penting oleh Mia.
"Tapi motornya gimana ya?" tanya Mia.
Danu mulai kesal, motor lagi. Bahkan hanya motor butut saja membuat Mia sampai gelisah seperti itu? Mia bahkan lebih gelisah memikirkan motornya daripada kesehatannya sendiri? Danu menggelengkan kepalanya.
"Jangan mikirin motor butut, pikirin kesehatan kamu," ucap Danu dengan kesal.
"Tuan, bagi Anda itu memang motor butut. Tapi bagi saya itu adalah barang penting yang bisa menyelamatkan saya dari kemarahan Tuan Besar setiap hari," ucap Mia sedih.
Danu menjadi iba saat melihat kesedihan Mia.
__ADS_1
"Kau tenang saja. Aku sudah menugaskan anak buahku untuk mengurus motornu. Jadi jangan pikirkan motor itu lagi. Kau harus banyak istirahat!" ucap Danu.
"Ah, benarkah?" tanya Mia dengan penasaran.
"Iya," jawab Danu singkat.
"Terima kasih banyak, Tuan." Mia tersenyum sangat lepas.
"Mia, tidak bisakah kau memanggilku Danu seperti saat itu?" tanya Danu.
"Tapi saat ini saya adalah anak karyawan Tuan. Sudah sewajarnya saya memanggil Anda dengan sebutan Tuan," ucap Mia.
"Ah sudahlah. Terserah!" ucap Danu kesal.
Hari ini Danu cukup lelah dengan pekerjaan kantor dan urusan Mia. Sampai-sampai ia harus kembali bersitegang dengan ayah kandungnya sendiri. Meskipun sudah membaik, tapi butiran kekesalan masih tersisa di hati keduanya.
"Ya sudah, saya tidur dulu ya?" ucap Mia.
"Tidur?" tanya Danu.
"Kan tadi Tuan yang bilang kalau saya harus banyak istirahat. Saya mau tidur sekarang. Lagipula motornya sudah diamankan. Tidak ada lagi beban. Saya bisa tidur nyenyak Tuan," ucap Mia.
Danu tidak menjawabnya. Disaat Danu memilih untuk tetal menemani Mia malam ini, Mia justru memilih untuk tidur karena motornya sudah aman. Tidak maukah Mia menemani Danu malam ini? Padahal Danu sampai rela tidak pulang hanya untuk menemani wanita itu. Ah, lagi-lagi Mia membuat Danu tepuk jidat dengan sikap polosnya.
Malam ini Mia tampak tidur dengan sangat pulas. Berbeda dengan Danu yang tidak bisa tidur karena tidak ada kasur empuk yang memanjakan tubuhnya.
Saat Mia terbangun, nampak Danu masih asyik dengan gadgetnya.
"Tuan sudah bangun?" tanya Mia.
Saat dokter memeriksa kondisi Mia, dokter menyatakan kalau pagi ini Mia sudah boleh pulang. Bukan hanya Mia, Danu juga nampak terlihat sangat bahagia. Bahagia Danu bukan karena Mia sudah sembuh, tapi karena Danu akan segera pulang ke rumah untuk tidur. Kepalanya sudah sangat berat karena tidak tidur semalaman.
"Kau pulang diantar sopir ya!" ucap Danu.
"Tidak usah Tuan, saya kan bawa motor." Mia menjawab dengan begitu santai.
"Mia, kau baru sembuh. Harus banyak istirahat," ucap Danu kesal.
"Tapi motorku?" tanya Mia.
"Motor terus yang ada di kepalamu. Sesekali pikirkan kesehatanmu," ucap Danu.
"Tapi motor itu bukan milik Mia. Itu Mia sewa dari ibu kost. Kalau sampai hilang, Mia bisa lebih sakit dari ini," ucapnya sedih.
Untuk ke sekian kalinya Danu tidak tega dengan wajah sedih Mia.
"Ya sudah nanti motor itu akan diantarkan ke rumahmu," ucap Danu.
"Ke Bandung? Jangan! Ke kostan saja, Tuan." ucap Mia.
Danu sudah sangat kesal dengan tingkah Mia. "Iya maksudku ke kostanmu," ucap Danu geram.
__ADS_1
"Pake truk?" tanya Mia.
"Pake pesawat," jawab Danu kesal sambil meninggalkan Mia.
"Tapi Tuan di sana tidak ada landasan. Bagaimana pesawatnya bisa mendarat?" teriak Mia.
Danu malas meladeni ocehan Mia yang membuatnya sakit kepala.
"Miaaaa... Kau cerdas tapi sangat menyebalkan," teriak Danu saat sudah ada di dalam mobilnya.
Sementara sopir yang ditugaskan oleh Danu membantu Mia untuk pulang ke kostannya.
"Mari, Nona." Sopir itu sudah membuka pintu mobil saat Mia keluar dari rumah sakit.
"Terima kasih," ucap Mia yang kemudian masuk ke dalam mobil itu.
Dalam perjalanan, Mia menjelaskan jalan menuju kostannya. Sopir itu mengangguk-angguk padahal ia sudah tahu alamat Mia dari Danu.
Tak ada pembicaraan antara Mia dengan sopir itu. Mia memilih untuk diam dan istirahat, seperti yang Danu ucapkan semalam.
Dalam suasana hening, tiba-tiba saja ponsel Mia berdering. Nada dering dengan irama dangdut membuat sopir itu menahan tawanya. Mia membuka tas dan meraih ponselnya.
"Nomor baru?" ucap Mia.
Kepalanya berpikir, menduga tentang si pemanggil yang menghubunginya dengan menggunakan nomor baru. Setelah cukup lama berpikir Mia menekan tombol hijau untuk menjawab rasa penasarannya.
"Hallo, siapa ini?" tanya Mia.
Saat mendengar suara yang tidak asing itu, Mia tiba-tiba menjerit kegirangan. Mia tak menyangka kalau Haji Hamid menghubunginya hari ini.
Mia bercerita banyak hal dengan Haji Hamid. Mia bahkan tak segan mengungkapkan rasa rindunya pada mantan suaminya itu. Haji Hamid bagaikan memiliki magnet dengan Mia, ketika Mia sakit tiba-tiba saja menelepon untuk menanyakan kabar Mia. Pria yang lama menghilang dari hidup Mia kini datang di saat yang tepat.
Haji Hamid ternyata masih menyimpan nomor Mia, sedangkan nomornya untuk menghapus semua kenangan masa lalunya.Selama ini Haji Hamid tidak menghubunginya karena sibuk mengobati penyakitnya. Sengaja menjauhi setiap orang yang mengenalnya, termasuk Mia dan Dev. Kini Haji Hamid sudah sembuh. Namun dokter dan psikiaternya menjelaskan kalau penyakit beloknya itu bisa saja kambuh lagi di waktu yang tidak diprediksi. Jadi Haji Hamid sangat menjaga masa lalunya. Mencoba keluar dari zona nyamannya. Memulai hidupnya dengan orang-orang baru di kota yang berbeda dengan Mia.
Mia turut senang dan bersorak bahagia atas kesembuhan mantan suaminya. Mia sebenarnya tidak menganggap Haji Hamid sebagai mantan suami, bagi Mai Haji Hamid adalah sahabat yang bisa berperan sebagai ayah Mia. Menggantikan peran Pak Baskoro saat itu.
Kehilangan Haji Hamid membuat Mia kehilangan semangat. Namun kini, setelah Haji Hamid menghubunginya kembali, semangat itu tumbuh kembali. Mia dengan sangat bangga menceritakan pekerjaannya yang sudah sesuai dengan cita-citanya.
"Semuanya berkat Pak Haji. Terima kasih banyak," ucap Mia dengan sangat senang.
Lama mengobrol dengan Mia membuat waktu terasa sangat cepat berlalu. Mia sudah sampai di kostannya. Dan Haji Hamid menutup panggilan teleponnya.
Saat turun dari mobil, Mia sangat bahagia saat melihat motor sewaan dari ibu kostnya sudah ada di sana. Namun Mia kebingungan mencari tempat mendarat dari pesawat yang membawa motornya itu.
"Ah, sudahlah. Tidak terlalu penting dimana mendaratnya. Yang penting motornya sudah kembali dengan selamat," ucap Mia setelah memastikan kalau motornya baik-baik saja. Tak cacat apapun.
Mia yang merasa sangat lelah segera masuk ke dalam kamarnya. Ucapan Danu yang memintanya untuk banyak beristirahat kembali terngiang.
"Aku harus istirahat!" ucap Mia sambil merebahkan tubuhnya.
###########
__ADS_1
Tap like dan vote seikhlasnya Kak..
Makasih...