
Mia yang sudah lelah baik fisik maupun psikisnya nampak tidur lebih awal dibanding Dion. Wajahnya yang cantik membuat Dion tersenyum.
Aku beruntung memilikimu, Mia. Cantik. Kamu selalu memuaskan hatiku dan membuatku selalu jatuh cinta saat menatapmu. Selain itu kamu juga wanita baik. Kamu selalu mampu membuatku tenang meskipun jauh. Aku percaya padamu. Aku yakin kamu akan menjaga dirimu untukku.
"Selamat tidur Mi!" ucap Dion.
Kecupan lembut mendarat di dahi Mia sebelum akhirnya ia ikut berbaring di samping istrinya. Sayangnya Dion tidak bisa tidur nyenyak seperti Mia. Matanya memang sudah terpejam, tapi isi kepala dan hatinya terus berkelana kemana-mana.
Entah jam berapa Dion baru bisa tidur nyenyak. Yang pasti Mia kesulitan untuk membangunkan Dion pagi ini.
"A, ini udah jam berapa? Ayo bangun," ucap Mia.
"Sebentar lagi," jawab Dion dengan suara serak.
"A, udah jam tujuh. Ao bangun!" ucap Mia lagi.
"Lima menit lagi," ucap Dion.
Dion kembali menarik selimut dan tertidur lagi. Suara dengkurannya menandakan jika Dion memang benar-benar sedng tidur nyenyak.
Mia keluar dari kamar untuk menyusukan bayi kembarnya. Sebelumnya, ia mencari dulu Tuan Wira untuk menanyakan jadwal Dion hari ini. Menurut Tuan Wira, hari ini Dion hanya mengerjakan beberapa berkas saja di kantor. Tidak ada pertemuan dengan siapapun.
Mia membiarkan Dion bangun semaunya. Mungkin suaminya lelah dan masih butuh waktu untuk istirahat. Mia tidak kembali ke kamarnya, ia memilih untuk langsung ke ruangan bayi kembarnya.
Ketika Mia baru keluar dari kamar bayinya, Dion hendak masuk. Hingga Mia terkejut dan berteriak.
"Aa, bikin kaget aja deh." Mia memegang dadanya.
"Kamu kenapa sih gak bangunin aku? Ini udah siang Mia," ucap Dion sembari menunjuk pergelangan tangannya.
Mia menarik tangan Dion dan melihat jam coklat yang terpasang di sana.
"Baru jam sembilan A," ucap Mia santai.
"Baru? Ini udah jam sembilan. Biasanya paling siang aku sampai di kantor jam delapan. Dan sekarang aku masih di rumah," ucap Dion.
"Terus kenapa?" tanya Mia dengan begitu santai.
"Kamu kenapa sih? Aneh," ucap Dion.
Dion menggeser tubuh Mia dan segera masuk menemui Narendra dan Naura. Pamit lalu pergi lagi karena sudah terlalu siang.
"Aa yang aneh," ucap Mia pelan.
Dalam perjalanan Dion beberapa kali melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya itu.
"Pak bisa lebih cepat gak sih?" tanya Dion.
Kali ini Dion berangkat bersama sopir.
"Maaf Tuan, tapi depan macet." Sopir itu memberi jawaban sesopan mungkin.
"Ini kan udah lewat jam delapan. Masa masih macet. Ada apa sih ini?" gerutu Dion.
Sopir itu membuka jendela kacanya sebentar dan berkomunikasi dengan pengguna jalan yang lain. Setelah mendapat info, sopir itu menutup kembali kaca mobilnya.
"Di depan ada kecelakaan beruntun Tuan," ucap sopir itu memberi informasi.
"Kecelakaan?" tanya Dion terkejut.
"Iya Tuan," jawab sopir itu.
"Ya sudah pelan-pelan aja bawa mobilnya," ucap Dion mengingatkan.
Dion yang awalnya ngotot ingin ngebut, namun akhirnya melemah karena takut dengan kecelakaan yang terjadi di jalanan.
Setibanya di kantor, Dion merasa tidak nyaman saat banyak orang yang menyapanya. Padahal biasanya juga begitu. Tapi kali ini berbeda karena Dion datang jauh lebih siang dari biasanya.
"Ya, ya, ya," ucap Dion pada setiap karyawan yang menyapanya.
Dion berjalan lebih cepat agar tidak semakin banyak karyawan yang tahu jika ia datang kesiangan.
__ADS_1
"Dion," panggil Tuan Wira.
"Papa," ucap Dion.
"Ayo ke ruangan Papa," ajak Tuan Wira.
Tuan Wira yang kebetulan bertemu dengan Dion tidak sabar untuk segera menyampaikan kabar bahagia ini.
"Duduk!" ucap Tuan Wira dengan senyum yang lebar.
"Ada apa sih Pah?" tanya Dion.
"Ada kabar gembira," jawab Tuan Wira.
Ia senagaja menjeda jawabannya agar Dion benar-benar penasaran.
"Apaan sih Pah?" tanya Dion.
"Proyek baru dengan Tuan Felix sudah siap untuk direalisasikan. Apa kamu siap?" tanya Tuan Wira.
"Apa?" tanya Dion tidak percaya.
"Papa sudah bilang siapkan semuanya lebih cepat. Dan ini kesempatan emasmu. Kamu tidak bisa menundanya," ucap.Tuan Wira mengingatkan.
"Iya Pah. Aku siap, aku siap. Tapi aku gak percaya kalau Papa Felix bisa mengurus semuanya secepat ini," puji Dion.
"Jadi Papamu ini kalah? Begitu?" tanya Tuan Wira.
"Gak begitu Pah. Kan Papa yang bilang kalau semuanya tidak mudah. Bahkan Papa bilang agar aku gak banyak berharap tentang proyek ini," jawab Dion.
Ya, harus diakui kalau Tuan Felix adalah orang yang sangat cerdas. Ia bisa mengurus semua yang dianggap sulit oleh Tuan Wira menjadi hal yang sangat mungkin. Namun rasanya tidak rela saat Dion memuju sahabat sekaligus besannya itu.
"Tapi Papa tetap kan yang paling hebat?" tanya Tuan Wira.
"Iya dong. Papa itu best buat aku," ucap Dion.
Dion mengangkat kepalan tangannya dan Tuan Wira juga membalas kepalan tangan itu. Hal itu yang membuat mereka semakin dekat. Ada masa dimana Dion menjadikan Tuan Wira sebagai sahabat.
"Apa lagi?" tanya Dion.
"Tuan Felix sama Rian mau pulang ke Indonesia saat pernikahan Sindi nanti. Tapi Mia sama Sindi gak tahu sama sekali," jawab Tuan Wira.
"Kejutan gitu Pah?" tanya Dion.
"Ya begitulah. Awas ya kamu jangan bocor," ucap Tuan Wira.
"Mia pasti bahagia banget nih Pah. Papa tenang aja. Rahasia aman kalau sama aku," ucap Dion.
Meskipun pagi ini Dion sudah sangat badmood, tapi kabar gembira dari Tuan Wira berhasil membuat Dion kembali bersemangat. Dion mengerjakan beberapa pekerjaan yang sempat terlambat ia kerjakan.
"Pah, pulang yuk!" ajak Dion.
Tuan Wira menatap jam yang menempel di dinding.
"Masih satu jam lagi," ucap Tuan Wira sembari menunjuk jam dinding.
"Aku ada perlu Pah," jawab Dion.
"Perlu apa? Kamu benar-benar teladan ya?" sindir Tuan Wira.
"Papa sama anak sendiri pakai sindir-sindiran segala," ucap Dion.
"Bukan nyindir. Papa ngatain kamu. Tahu arti teladan?" tanya Tuan Wira.
"Rajin," jawab Dion.
"Bukan," ucap Tuan Wira.
"Terus apa?" tanya Dion.
"Telat datang pulng duluan," jawab Tuan Wira.
__ADS_1
"Emmm, lebih parah. Ini nyindir secara terang-terangan," ucap Dion.
"Lagian kamu mau kemana sih?" tanya Tuan Wira.
"Aku mau nganter Mia," jawab Dion.
"Mia mau kemana? Jenguk Pak Haji itu ya?" tanya Tuan Wira.
"Bukan, aku mau bantu Mia ngerjain PR dari Papa." Dion masuk dan duduk di sofa.
"PR? Kamu pikir Papa guru, ada acara ngasih PR segala." Tuan Wira menggelengkan kepalanya.
"Oh jadi Mia bohongin aku ya?" tanya Dion kesal.
Tuan Wira mengangkat wajahnya.
"Eh, nanti dulu. PR apa nih? Mi gak mungkin bohong sama kamu bawa-bawa nama Papa. Mungkin Papa lupa," ucap Tuan Wira sembari mengingat-ingat PR apa yang dimaksud Dion.
"Itu yang katanya suruh ketemu sama Nyonya Nathalie," ucap Dion mengingatkan.
"Oh iya itu," ucap Tuan Wira sembari tertawa.
Tuan Wira sebenarnya tidak benar-benar memberi PR itu. Karena ia tahu itu akan sangat sulit. Namun ternyata Mia menanggapinya dengan serius.
"Papa kayak gak tahu Mia aja," ucap Dion.
"Tapi dicoba aja Di. Siapa tahu Nyonya Nathalie luluh kalau sama Mia. Mama aja mulai luluh loh. Benar kata Mia kalau mereka masih musuhan, kasihan Sindi kalau udah nikah nanti. Gimanapun Mama atau Nyonya Nathalie akan jadi Mamanya juga. Nanti dia bingung sendiri. Yang Papa khawatirkan takut berimbas sama rumah tangganya," ucap Tuan Wira.
Mendengar pemaparan Tuan Wira sebenarnya Dion tidak terlalu peduli. Baginya soal rumah tangga Sindi dan Danu tidak berpengaruh sama sekali untuknya. Hanya saja itu akan sangat berpengaruh pada Mia. Secara tidak langsung, Dion juga akan ikut merasakan keresahan Mia.
Sindi adalah sahabat baik Mia. Kalau Sindi sedih, Mia pasti ikut sedih. Maka yang harus ia lakukan adalah berusaha agar apa yang menjadi kekhawatiran Mia tidak terjadi.
Biarlah aku yang mengalah untuk bertemu dengan Nyonya Nathalie. Dari pada membiarkan Mia ikut larut dalam kesedihan Sindi ke depannya.
Dion pamit pulang lebih awal. Dan kedatangan Dion membuat Mia bertanya-tanya.
"Aa kenapa udah pulang?" tanya Mia.
"Aku pulang telat gak boleh. Pulang lebih cepat juga gak boleh," jawab Dion.
"Eh, bukannya gitu A. Mia cuma heran aja. Tumben Aa pulang lebih cepat," ucap Mia.
"Sengaja. Aku mau bantu kamu ngerjain PR dari Papa," ucap Dion.
"PR dari Papa?" tanya Mia.
"Apa jangan-jangan kamu lupa sama PRnya?" tanya Dion.
"Gak, A gak. Mia inget kok," jawab Mia.
"Ya udah ayo siap-siap!" ucap Dion.
"Aa beneran?" tanya Mia.
"Iya. Cepetan. Keburu aku berubah pikiran lagi," jawab Dion.
"Eh jangan A. Siap A l, siap. Mia siap-siap dulu ya!" ucap Mia dengan sangat bahagia.
Dion tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.
Baru seperti ini aja kamu udah bahagia Mi. Setulus itukah hati kamu untuk Sindi? Sampai kamu benar-benar peduli padanya.
#####################
Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
__ADS_1
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.