
Pagi ini Mia bangun lebih pagi. Ia sangat bersemangat karena akan kembali mengunjungi makam ibunya. Kali ini Mia tidak hanya bertiga. Semuanya akan pergi ke makam ibunya.
Tidak seperti kemarin saat akan ke Bandung, sekarang semuanya sudah bangun dan bersiap. Bibir Mia tersenyum lebar. Ia senang saat banyak orang yang peduli dengan ibunya.
Seandainya Ibu masih ada, Ibu pasti merasakan kebahagiaan karena berada di sekeliling orang-orang baik seperti mereka.
"Mia," panggil Nyonya Helen dengan segelas susu yang ada di genggamannya.
"Mama," ucap Mia.
"Anak-anak belum bangun?" tanya Nyonya Helen.
"Belum Ma," jawab Mia.
"Nanti kalau sudah bangun, segera mandikan. Kita langsung ke makam. Biar pulangnya gak terlalu panas," ucap Nyonya Helen.
"Iya Ma," jawab Mia.
"Mi, Narendra ngompol. Basah nih kena baju aku. Kamu gak pakaikan pampers ya?" teriak Dion dari dalam kamar.
Mia segera berlari ke kamar.
"Mia lupa A. Lagian kan Narendra biasanya gak ngompol," jawab Mia.
"Tapi ini basah. Bau lagi," ucap Dion.
"Ya tinggal mandi dong A," ucap Mia.
Dion segera ke kamar mandi. Dengan bibir yang cemberut, Dion mengguyurkan air ke tubuhnya. Ia menggigil karena udara di Bandung jauh lebih dingin dibanding dengan di Jakarta.
selesai mandi, Dion segera menarik selimut dan membawanya ke atas sofa.
"Kenapa A?" tanya Mia.
"Dingin Mi," jawab Dion.
Mia hanya tertawa. Ia lupa kalau biasanya Dion tidak mandi saat di Bandung.Tapi karena saat ini tubuhnya kena ompol Narendra, Dion terpaksa harus mandi. Ia lupa tidak memanaskan air untuk Dion.
"Maaf ya," ucap Mia.
"Gak apa-apa," ucap Dion dari balik selimut.
__ADS_1
Setelah Naura bangun, Mia memandikan dan mengganti pakaiannya. Setelah keduanya selesai, Mia mengajak Dion untuk segera bersiap ke makan ibunya.
"Sudah siap? Ayo sarapan dulu! Biar berangkat lebih pagi," ucap Nyonya Helen saat melihat Dion dan Mia serta kedua cucu kembarnya keluar dari kamar.
Selesai sarapan, mereka berangkat ke makam Bu Ningsih. Langkah demi langkah membuat Mia kembali meneteskan air mata. Ia terharu dengan banyaknya yang peduli padanya. .Dengan cepat Dion merangkul bahu Mia. Ia menenangkan Mia.
"Ningsih, kami datang. Jangan khawatir soal Mia. Dia bahagia bersama kami. Aku yakin kamu juga bahagia kan melihat anak kita bahagia?" ucap Tuan Felix sembari mengusap batu nisan Bu Ningsih.
"Jangan menangis Mia. Ibumu sudah bahagia di surga. Ada Mama yang akan selalu menyayangi kamu," ucap Nyonya Helen.
Semuanya menguatkan Mia saat melihat Mia menangis tersedu. Bukan sedih, tapi tangis haru. Mereka membiarkan Mia melepas rindu dengan ibunya.
"Ayo A!" ajak Mia.
"Ayo!" ucap Dion.
Setelah Mia berdiri, mereka semua mengikuti langkah Mia untuk kembali ke rumah. Bersiap lalu pulang.
"Sayang, bangun! Sudah sampai," ucap Dion saat mereka sudah tiba ke Jakarta.
Mia mengucek matanya yang merah lalu keluar dari mobil dan masuk ke rumah.
Dion membawa Miak ke kamar. Narendra dan Naura dibawa oleh pengasuhnya yang sudah menunggu. Saat ke Bandung, Mia yang melarang pengasuhnya ikut. Ia ingin benar-benar menghabiskan waktunya dengan kedua anak kembarnya.
Keesokan harinya, Mia kembali menangis. Kali ini tangisnya karena rasa sedih. Tuan Felix dan Rian kembali ke Jerman. Mia harus menahan rindunya lagi pada ayah kandungnya.
"Sabar ya Mi! Papa pasti akan pulang lagi untuk kamu," ucap Tuan Felix.
Mia tidak bisa mengucapkan apapun lagi. Ia hanya bisa menangis dan mengangguk. Pelukannya semakin erat saat kepergiaan Tuan Felix semakin dekat.
Setelah penuh drama, Tuan Felix dan Rian pergi meninggalkan Mia yang masih menangis. Sebenarnya ia sedih dan berat. Namun apa boleh buat, mereka masih ada beberapa tugas yang harus diselesaikan.
Hari-hari berjalan seperti biasanya lagi setelah Tuan Felix dan Rian kembali ke Jakarta. Rasa rindu hanya bisa mereka ungkapkan dengan cara panggilan video.
Sementara dengan Sindi dan Maya, Mia masih selalu berkabar dan sering menyempatkan diri untuk bertemu. Mereka saling mengenalkan anaknya satu sama lain. Agar kelak setelah dewasa nanti, anak-anaknya pun bisa bersahabat seperti mereka saat ini.
Seiring berjalannya waktu, mereka saling menguatkan kedekatan dan rasa satu sama lain. Menata setiap cita-cita dan harapn untuk masa depan.
Tidak terasa Rian yang sudah mereka anggap sebagai adik kandung mereka sudah selesai sekolah. Berkat kecerdasannya, Rian bisa diterima di perguruan tinggi terbaik di Jerman. Tidak tanggung-tanggung. Ia meraih beasiswa berkat usahanya selama ini.
Untuk memberi kejutan, Mia, Sindi dan Maya serta suami mereka berkumpul untuk mengucapkan selamat pada Rian. Sebuah ruangan dihias sebaik mungkin. Seolah Rian ada di sana, mereka menyiapkannya dengan sangat semangat.
__ADS_1
"Riaaaan, selamaaaaat!" teriak mereka semua saat panggilan video itu sudah terhubung.
Rian terharu dengan apa yang sudah dilakukan oleh kakak-kakaknya. Mereka terlihat benar-benar tulus dan membuat Rian semakin menyayanginya.
"Terima kasih Kak. Aku janji akan belajar dengan sungguh-sungguh. Aku akan mendapat nilai terbaik dan kembali ke Indonesia untuk mengaplikasikan hasil belajarku," ucap Rian.
Selama perkuliahan, Mia dan yang lainnya sering memberi kabar dan semangat untuk Rian. Bermodalkan semua itu, Rian selalu membangun semangat demi semangat untuk selalu menjalani masa perkuliahannya.
Ia selalu mendapat nilai terbaik meski berlatar belakang orang yang tidak begitu mampu. Namun ia beruntung ketika bertemu dengan Mia dan keluarga Dion yang membawanya bertemu dengan Tuan Felix.
Semua yang Rian raih selalu ia persembahkan untuk Tuan Felix dan keluarga Mia. Mereka selalu senantiasa memberi dukungan dan doa pada Rian.
Bukan hanya Rian dan keluarga Mia, Nyonya Helen dan Nyonya Nathalie juga semakin dekat. Permusuhan diantara keduanya sudah benar-benar hilang. Mereka semakin dekat dan mendapat jatah yang adil untuk mengurus anak Sindi.
Dion dan Danu juga kini semakin dekat. Mereka sudah tidak lagi saling bermusuhan. Keduanya kerap mengadakan makan malam bersama dengan pasangannya masing-masing.
Mia juga membangun hubungan yang baik dengan teman-teman lamanya. Dekat dan sibuk dengan Sindi dan Maya, Mia tidak melupakan Kalin, Dev, Dokter Leoni dan Haji Hamid. Mereka menjadwalkan untuk berkumpul minimal sebulan sekali.
Jarang namun selalu mereka usahakan. Latar belakang mereka yang berbeda membuat sulit untuk menentukan jadwal. Apalagi Dokter Leoni yang kadang jadwal liburnya tidak sama dengan Mia dan yang lainnya. Tapi walaupun begitu, mereka berusaha menyempatkan waktu untuk bertemu.
Akhir-akhir ini, Mia merasa hidupnya terlalu sempurna. Bahagia demi bahagia selalu menyelimuti kehidupannya. Baik dari hubungannya dengan keluarganya, teman-temannya, sampai kantornya yang terus berkembang pesat. Belum lagi perkembangan Narendra dan Naura yang begitu membanggakan.
"Aa, terima kasih selalu ada buat Mia." ucap Mia di sebuah balkon.
"Terima kasih juga sudah mengubah hidupku menjadi lebih berwarna. Aku sayang sama kamu," ucap Dion.
"Mia juga sayang sama Aa," ucap Mia.
Saling berpelukan dalam heningnya malam. Membagi rasa dan asa.
Tuhan terima kasih sudah menghadirkan orang-orang baik dan sangat tulus menyayangi Mia. Maha adil Engkau yang sudah membayar semua kesedihan Mia di masa lalu yang tidak seberapa ini dengan kebahagiaan yang tidak terkira.
Mia meyakini jika kehidupan itu benar-benar seperti roda yang terus berputar. Ada bahagia dan ada sedih. Semua datang silih berganti untuk membuat warna indah dalam hidupnya. Hanya sabar yang membuat Mia akhirnya bersyukur dengan jalan kehidupannya.
####################
Readers baik hati, terima kasih untuk waktunya hingga kalian membaca sampai akhir dari cerita ini. Rencananya aku mau buat novel baru yang masih berkaitan dengan novel ini.
Terima kasih juga buat semua komen baik dan like dari kalian. Bagaimanapun, itu semua adalah bayaran termahal buat mimin yang masih belajar ini.
Kalian sehat-sehat ya! Mimin sayang kalian. Sampai jumpa di next novel ya...😍😍😍
__ADS_1