
Pagi ini Dion merasa ada yang berbeda. Ketika matanya terbuka, ia sudah mencium aroma kopi yang masuk ke dalam indera penciumannya.
"Mia?" sapa Dion.
"Eh Aa udah bangun?" tanya Mia.
"Kamu buatin aku kopi?" tanya Dion.
"Iya. Kebetulan banget Aa udah bangun. Mumpung kopinya masih ngebul," ucap Mia.
"Dalam rangka apa nih Mi?" tanya Dion.
"Aa mandi dulu deh. Nanti Mia jelasin ya! Keburu jadi es nih kopinya," ucap Mia.
"Aku mandi dulu ya Mi," ucap Dion sembari mencium pipi Mia sebelum pergi ke kamar mandi.
Mia memegang pipi kanannya yang dicium oleh Dion. Senyumnya melebar, tiba-tiba hatinya berbunga begitu saja.
Selesai mandi, Dion tidak menemui Mia di kamarnya. Ia hanya menemukan baju santai yang sudah disiapkan Mia di atas ranjang. Hari ini Dion libur, ia siap menghabiskan waktu liburnya dengan kedua anak kembarnya. Pakaiaan itu kini sudah masuk ke dalam tubuh Dion. Membalut otot kekar yang bersembunyi dibalik pakaiannya.
Dion duduk di tepi ranjang dan menyeruput gelas kopi yang ada di nakas. Hanya dua tegukan saja, lalu ia menyimpan kembali gelas kopi itu ke atas nakas. Ia keluar dan mencari Mia. Seperti dugaannya, Mia memang berada di kamar Narendra dan Naura.
"A," panggil Mia saat melihat Dion masuk ke ruangan bayi kembarnya.
"Ternyata kamu di sini Mi," ucap Dion.
Matanya menatap lekat Narendra yang sedang menyusu di pangkuannya dengan lahap.
"Iya A, kan seperti biasa. Ini kan jadwal menyusui Naura dan Narendra," ucap Mia.
Mata Dion teralihkan sebentar pada Naura yang sedanh tidur nyenyak di dalam box bayinya. Namun tak lama pandangan itu sudah kembali ke arah Narendra. Mia menjadi salah tingkah.
"Bisa kalian keluar dari ruangan ini?" ucap Dion.
Pertanyaan yang diajukan untuk kedua perawat Naura dan Narendra memang terkesan seperti sebuah perintah. Segera mengangguk, mungkin itu adalah langkah tepat yang harus mereka ambil. Keduanya langsung menunduk hormat dan meninggalkan ruangan itu.
Pintu tertutup. Mata Dion tidak beralih dari Narendra yang sedang menyusu pada Mia. Jantung Mia berdetak jauh lebih cepat dari biasanya. Ia sangat takut melihat Dion seperti itu.
"A, jangan sekarang ya! Memangnya Aa udah gak bisa nahan?" tanya Mia.
"Hah?" ucap Dion.
Dahi Dion berkerut, kepalanya menggeleng. Ia tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh istrinya.
Aku gak tahu kamu ini terlalu polos, atau justru fikiranmu sudah kotor? Bisa-bisanya kamu mikir begitu?
"A, kok jawab?" tanya Mia.
"Kamu ini apaan sih?" ucap Dion kesal.
Dion semakin mendekat ke arah Narendra yang berada dalam gendongan Mia. Tangan Dion yang nyaris dua kali lebih lebar dari tangannya membuat Mia ketakutan. Mia segera menutup kancing bajunya. Ia menepuk-nepuk pelan Narendra yang ada dalam pangkuannya.
"A, jangan sekarang ya! Mia tahu Aa udah gak kuat, tapi Mia minta waktu ya! Jangan sekarang. Mia mohon," ucap Mia memelas.
"Mia kamu apaan sih? Kasihan Narendra. Beri dia ASI! Dia belum kenyang," ucap Dion.
"Tapi Aa janji ya jangan minta jatah sekarang. Sekarang biar giliran Narendra sama Naura dulu ya!" ucap Mia.
Kali ini Mia tidak main-main. Ia mengangkat jari kelingkingnya dan meminta Dion berjanji untuk tidak meminta jatahnya. Dion menghela nafas panjang dan menatap kesal wajah Mia. Wanita cantik itu masih setia dengan jari kelingkingnya di hadapan Dion.
"Iya janji. Tapi kamu cepetan kasih ASInya. Kasihan Narendra," ucap Dion.
"Janjinya begini," ucap Mia yang masih ngotohlt dengan jari kelingkingnya.
Kini jari kelingking itu nyaris menyentuh dahi Dion. Dion tidak berniat melayani hal konyol yang Mia tawarkan. Ia hanya meminta Mia untuk segera memberi ASI pada Narendra. Namun akhirnya Dion mengalah. Ia segera meraih jari kelingking itu dengan jari kelingkingnya.
"Iya janji. Udah cepetan kamu kasih ASI. Jangan sampai Mama ke sini karena tangisan Narendra," ucap Dion.
Terlambat! Jari kelingkingnya yang masih bersatu dengan kelingking Mia, dilihat jelas oleh Nyonya Helen.
"Apa yang kalian lakukan? Bisa-bisanya kalian romantis-romantisan disaat Narendra dan Naura menangis," teriak Nyonya Helen.
Nyonya Helen dengan wajahnya yang kesal masuk dan segera meggendong Naura yang sedang menangis di atas box bayinya. Langkahnya diikuti oleh kedua perawat yang sejak tadi menunggu mereka di luar.
Naura yang ikut menangis membuat suasana di ruangan itu semakin riuh. Naura menangis bukan hanya karena tangisan Narendra, tapi karena teriakan Nyonya Helen juga.
Mia segera Memberi ASI kembali untuk Narendra. Tiba-tiba saja tangis Narendra terhenti seketika. Melihat Naura yang masih menangis, salah satu perawat itu segera memberi ASI dalam dot berwarna pink yang sudah dipanaskan sebelumnya. Tanpa menunggu lama, maka Naura juga sudah tidak menangis lagi.
"Dion, apa yang kalian lakukan?" tanya Nyonya Helen dengan penuh penekanan.
Melihat tatapan tajam dan bahasanya yang dingin, Dion tidak bisa menjawab. Ia hanya menunduk dan menggeleng. Melihat Dion tidak bisa menjawab pertanyaannya, Nyonya Helen tersenyum kecut. Mia sasarannya. Ia yakin Mia tidak mungkin berbohong. Mia adalah anak polos dan selalu apa adanya.
"Miaaaaa," ucap Nyonya Helen.
__ADS_1
DEG
Jantung Dion seakan berhenti berdetak. Demi apapun ini lebih menyeramkan dari pada film zombie. Ia menyesal saat tidak menjawab pertanyaan ibunya. Karena itu sama dengan ia membiarkan Mia membeberkan hal yang tidak benar sama sekali.
Tuhaaaaan, tolong aku. Kali ini saja biarkan Mia menjawab layaknya wanita dewasa yang sangat cerdas. Tunjukkan kalau dia memang wanita dengan IPK paling tinggi.
Namun harapan Dion bertepuk sebelah tangan. Mia bahkan dengan wajah polosnya menceritakan semua yang ada di kepalanya. Padahal Dion sendiri tidak berfikiran kotor seperti itu.
"Dioooon," ucap Nyonya Helen geram.
Dion hanya membuka matanya lebar-lebar dan menggelengkan kepalanya.
"Gak gitu Ma, gak gitu. Mia salah faham," ucap Dion membela diri.
"Diam kamu!" ucap Nyonya Helen.
Kini mata tajam itu mengintai kedua perawat yang sedang ber
"Lalu kenapa kalian membiarkan Narendra dan Naura menangis?" tanya Nyonya Helen.
Kedua perawat itu diam. Saling tuduh untuk mengungkapkan jawaban yang mungkin saja bisa menjadi ancaman baru bagi mereka. Namun melihat Nyonya Helen terus menekannya, salah satu perawat itu memberanikan diri untuk buka mulut.
"Tu-Tuan yang meminta kami untuk tunggu di luar," jawab salah satu perawat itu dengan gugup.
Aduh, mampus. Kena lagi nih aku. Kenapa semua jadi nuduh aku begini sih?
Dion menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Melalui celah jemarinya, Dion mengamati keadaan di ruangan itu. Nampak Mia yang sedang menyusui Narendra menunduk dan menepuk-nepuk bayinya. Kedua perawat itu berusaha menyibukkan diri agar tidak ikut terlibat dalam kejadian ini. Hanya Tuan Wira yang nampak menahan tawanya melihat dirinya tersudut seperti itu.
"Gendong Naura," perintah Nyonya Helen.
Salah satu perawat itu segera mendekat dan menggendong Naura. Ia menunduk hormat dan tidak berani menatap Nyonya Helen yang tengah diliputi dengan emosi.
"Sini kamu!" ucap Nyonya Helen.
"Aw, sakit Ma. Ampun," ucap Dion.
Nyonya Helenen menarik telinga Dion. Dion hanya meringis dan memegang tangan Nyonya Helen sembari meminta kebaikan hati ibunya untuk melepaskannya dari hukuman pagi ini.
Layaknya anak SD yang dihukum karena sudah nakal pada anak lain, Dion menunduk dan hanya mengusap-usap telinganya yang terasa panas.
"Duduk!" perintah Nyonya Helen.
Dion dengan wajah pasrahnya hanya mengikuti semua yang diperintahkan ibunya.
"Dion, Mama tahu kamu ini pria dewasa bahkan hampir bangkotan. Kamu memang perkasa, seperti yang sering kamu banggakan sekali sembur langsung dua. Mama ngerti kamu memang sudah menginginkan hak kamu. Tapi ya masa kamu gak kasihan lihat Mia? Fisik Mia memang sudah sehat, tapi kamu harus tahu psikisnya. Mia itu masih belum lama lahiran. Ia masih butuh waktu untuk fokus mengurus Narendra dan Naura. Masa kamu gak bisa memaklumi semua itu sih?" tanya Nyonya Helen.
"Ma, itu semua gak seperti yang Mama fikir. Aku sama sekali berfikiran kotor seperti itu. Ini semua hanya salah faham saja," ucap Dion berusaha membela diri.
"Ah, kamu ngeles aja. Mama lebih percaya sama Mia. Dia pasti jujur, gak mungkin dia bohongi Mama kayak kamu," ucap Nyonya Helen.
Hah? Kalau gitu Mama ngapain nanya sama aku? Percuma dong aku jawab kalau Mama gak bakal percaya sama aku.
"Kenapa diam? Kamu udah gak bisa membela diri lagi kan? Kamu udah mentok kan?" tanya Nyonya Helen.
Terserah Mama deh, terserah.
Dion memilih bungkam. Ia hanya menggerutu dalam hati. Percuma ia membela diri mati-matian. Itu tidak akan berpengaruh. Di mata ibunya ia tetap salah dan akan selalu salah.
"Ma, Dion ngeledekin Mama. Masa Mama marah dia cuma diam aja? Wah parah sih ini kalau menurut Papa," ucap Tuan Wira.
Dion sontak mengangkat wajahnya dan menatap Tuan Wira dengan raut tidak percaya. Bisa-bisanya Tuan Wira menjadi kompor meledug saat Nyonya Helen sedang marah besar padanya.
Awas ya Pa! Aku buat perhitungan nanti. Aku buat Papa nyesel karena udah jadi kompor meledug hari ini. Papa lihat aja nanti.
"Dion, kamu berani ya ngeledekin Mama begitu?" tanya Nyonya Helen kesal.
"Gak gitu Ma. Ya ampuuuuun," jawab Dion tak kalah kesal.
"Terus kenapa kamu diam aja? Kamu respon dong ucapan Mama," ucap Nyonya Helen.
"Kan Mama sendiri yang bilang kalau Mama lebih percaya sama Mia dibanding aku. Jadi percuma aku jelasin sampai mulut aku berbusa juga karena Mama hanya akan percaya ucapan Mia kan? Aku jadi heran, anak Mama itu aku atau Mia sih? Bisa-bisanya Mama gak percaya sama anak sendiri," ucap Dion.
"Kamu memang anak kandung Mama. Tapi sekarang Mia udah jadi anak Mama. Mama sayang sama kalian berdua. Hanya saja Mama lebih percaya sama Mia yang selalu jujur sama Mama," ucap Nyonya Helen.
"Ya udah makanya Mama jangan nanya aku. Percuma karena gak bakal dipercaya sama Mama. Jadi aku diam aja. Lumayan bisa lebih hemat energi," ucap Dion.
"Wah, parah sih Ma. Dion itung-itungan perkara energi. Dia fikir Mama gak buang energi dari tadi marah-marah sama Dion? Parah banget," ucap Tuan Wira.
Dion hanya menarik nafasnya dengan berat. Ia tidak tahu lagi dengan nasibnya saat ini. Pasrah, mungkin itu yang sedang Dion jalani sekarang. Berusaha bersikap bodo amat dengan ucapan Tuan Wira yang berusaha menjadi kompor meledug.
"Kamu emang benar-benar keterlaluan Dion. Awas kalau sampai kamu berani mengganggu Mia dulu. Mama gak mau kalau Mia sampai trauma gara-gara ulah kamu," ucap Nyonya Helen.
Telunjuk lentik Nyonya Helen nampak nyata di depan matanya. Dengan hentakan kaki yang cukup keras, Nyonya Helen meninggalkan Dion. Hal itu menandakan kalau Nyonya Helen masih sangat marah padanya. Sikap Tuan Wira yang menutup mulutnya saat menahan tawa, jelas terkesan mengejek keadaan Dion yang sedang terpuruk.
__ADS_1
"Papaaaa," ucap Dion geram.
Melihat Dion emosi, Tuan Wira segera berlari mengikuti langkah istrinya.
"Papa benar-benar keterlaluan. Puas banget lihat aku begini. Awas aja, aku pasti balas nanti Pa." Dion terus menggerutu saat kedua orang tuanya sudah pergi.
"A," panggil Mia.
Dion tidak menjawab. Ia hanya melihat Mia dengan wajah malas dan tidak meresponnya.
"Aa marah sama Mia?" tanya Mia.
"Gak," jawab Dion dingin.
"A, maafin Mia ya. Aa tahu kan kalau Mia gak pernah bisa bohong sama Mama," ucap Mia.
"Kamu memang gak bisa bohong. Tapi masalahnya aku gak gitu," ucap Dion.
"Tapi kan Mia mikirnya begitu," ucap Mia.
"Mia, gak setiap yang ada di kepala kamu itu bisa jadi konsumsi publik. Ada kalanya kamu harus memilah apakah itu pantas atau tidak untuk diutarakan," ucap Dion.
"Iya maaf A. Mia kan cuma belajar buat jujur," ucap Mia.
"Mia, sekali-kali kamu belajar ngeles bisa kan?" tanya Dion.
"Ngeles sama bohong bedanya dimana A? Mia gak biss bohongin Mama Helen. Takut dosa," ucap Mia.
"Bedanya antara sabang dan merauke," ucap Dion kesal.
"Ih Aa kok marah terus sih. Mia kan udah minta maaf," ucap Mia.
"Tahu ah," jawab Dion.
"Gak tempe nih A?" goda Mia.
"Garing, gak lucu." Dion pergi meninggalkan Mia.
"Kalau garing ya disiram dong biar basah," ucap Mia.
Mia menatap Dion yang semakin menjauh dan hilang dari pandangannya. Dion pergi ke kamarnya. Ia ingat masih ada kopi yang belum ia habiskan. Dion mengangkat gelas kopi itu dan wajahnya berubah masam. Kopinya sudah dikerubuti semut. Bahkan ada puluhan semut yang gugur dalam lautan kopi miliknya. Dion menyimpan kembali gelas itu dan duduk di tepi ranjang.
"A,mau Mia buatkan lagi kopinya?" tanya Mia.
"Jangan bikin kopi. Aku mau susu," jawab Dion.
"Hah? Jangan!" ucap Mia panik sembari menutup dadanya dengan kedua tangannya.
"Mia apaan sih? Aku mah susu murni," ucap Dion.
"Jangan A. Mia minta waktu ya A," ucap Mia.
"Otak kamu ngeres, kamu sapuin deh. Heran deh," ucap Dion.
"Maksudnya?" tanya Mia.
"Aku mau sarapan. Bawakan aku segelas susu UHT dan roti. Kamu mengerti Mia?" tanya Dion menatap Mia dengan tajam.
"Oh, kalau itu Mia ngerti A. Sebentar ya!" ucap Mia.
Mia segera keluar dan menyiapkan susu untuk Dion. Tak lupa dua potong roti tawar yang sudah diberi selai coklat juga Mia siapkan. Kali ini Mia benar-benar menyiapkannya dengan tangannya sendiri. Meskipun juru dapur sudah menawarkan bantuan, namun Mia menolaknya.
Mia belum bisa melayani suaminya secara batin, paling tidak ia masih bisa melayani suaminya secara lahir. Mia merasa semenjak menikah dengan Dion, ia tidak berguna. Ia tidak mengurus Dion sepenuhnya, apalagi menyiapkan masakan untuk Dion.
Sebelum membawa nampan berisi susu dan roti, lamunan Mia melayang jauh pada bayangannya ke depan. Mungkin sebentar lagi Mia akan menjalani hubungan pernikahan jarak jauh. Memang bukan hal yang aneh, karena sebelumnya Mia juga sudah pernah mengalami hal yang sama.
Namun kali ini kondisinya berbeda. Mia yang sudah terbiasa dengan kehadiran Dion, pasti akan merasa sangat kehilangan. Apalagi sekarang ada Narendra dan Naura. Kebiasaan Dion setiap pagi dan pulang kerja menyapa mereka, akan menjadi hal yang bayi kembarya rindukan. Meskipun Dion janji akan lebih sering pulang ke Jakarta, Mia tetap merasa belum siap dengan kenyataan ini.
Mia memegang kepalanya dan menggelengkannya. Ia tidak bisa membayangkan jika saja hal itu akan segera ia jalani.
"Nyonya, apa Anda baik-baik saja?" tanya Mba yang mengamati Mia sejak tadi.
"Eh, gak Mba. Mia baik-baik aja kok," ucap Mia.
Mia segera meninggalkan dapur dan kembali ke kamar. Mengantarkan sarapan untuk Dion.
######################
Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
__ADS_1
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.