
Malam kian larut. Baik Haji Hamid maupun Mia enggan masuk ke dalam kamar duluan sebelum Bu Ningsih masuk ke kamarnya. Padahal malam ini Mia sangat lelah, Mia sudah ingin tidur. Tapi kalau Mia masuk kamar duluan, nanti dikira mau macam-macam sama Bu Ningsih.
Haji Hamid ternyata merasakan apa yang Mia rasakan. Matanya yang sudah ngantuk, ditahan sebisa mungkin. Berharap Bu Ningsih bisa masuk ke dalam kamar lebih dulu. Tapi sepertinya harapan itu sia-sia. Nyatanya Bu Ningsih masih terlihat lebih segar, tak terlihat ada raut kantuk di wajahnya.
Setelah cukup lama berjuang melawan rasa kantuknya, Haji Hamid menyerah. Akhirnya ia mengalah untuk masuk ke kamarnya lebih awal.
"Saya permisi ya Bu. Mau tidur duluan!" ucap Haji Hamid.
"Silahkan Pak Haji. Mia, ayo ikuti suamimu. Ingat ya kata ibu!" ucap Bu Ningsih.
"Apa?" tanya Mia.
"Jangan di atas. Di bawah saja ya!" ucap Bu Ningsih kembali mengingatkan Mia.
"Ibu," ucap Mia dengan wajah yang memerah.
Haji Hamid yang merasa sangat malu segera masuk ke dalam kamarnya. Mendengus kesal dan menggerutu karena sangat malu dengan ulah ibu mertuanya itu. Sementara di luar, Mia masih merasa sangat kikuk dengan ucapan ibunya. Bu Ningsih yang mencoba untuk menjadi ibu yang pengertian, segera pamit untuk masuk ke dalam kamarnya. Bukan mengantuk, hanya saja Bu Ningsih memberi kesempatan agar Mia bisa masuk kamar lebih cepat.
Mia yang merasa tak enak hati tetap bertahan dengan memainkan ponselnya. Berharap rasa kantuk itu hilang untuk beberapa jam ke depan agar ia tidak masuk ke kamarnya dulu. Kalau masuk sekarang, Haji Hamid pasti belum tidur. Dipastikan kalau suaminya itu akan melampiaskan rasa malunya dengan memarahi Mia habis-habisan.
Rasa kantuk yang sudah sangat kuat, tak bisa Mia tahan. Tanpa sengaja, Mia tertidur di kursi dengan ponsel yang masih digenggamannya. Layar ponsel yang menampakkan sebuah game farm heroes saga, masih menyala menemani sang empunya ponsel tidur nyenyak.
Tidur dengan posisi duduk saja membuat Mia sangat nyaman. Kalau saja bukan karena ingin pipis, Mia pasti tidur sampai pagi di kursi itu. Ketika melihat jam dinding, Mia terkejut karena sudah jam satu malam. Setelah ke kamar mandi, Mia melihat situasi sudah aman. Pintu kamar yang tertutup rapat, menandakan kalau ibunya sudah tidur dengan nyenyak.
Saat masuk ke dalam kamarnya, nampak Haji Hamid sudah tidur dengan pulas. Dengkuran kecil terdengar begitu nyaring di tengah malam yang sunyi. Dengan sangat pelan, Mia naik ke ranjang atasnya. Walaupun menimbulkan derit yang cukup keras, namun Haji Hamid nampak tidak terganggu sama sekali dengan suara itu. Masih asyik dalam tidurnya. Mia juga segera tidur karena kepalanya sudah terasa sangat berat.
Bu Ningsih yang sudah nyenyak, terbangun saat ia bermimpi terjun ke jurang. Seketika Bu Ningsih terperanjat sangat terkejut dan terbangun dari tidurnya. Matanya melihat ke arah jam berwarn pink yang menempel di dinding kamarnya. "Masih jam dua," gumam Bu Ningsih.
Pikirannya melayang pada Mia dan Haji Hamid. Rasa penasarannya pada kegiatan malam antara anak dan menantunya, membuat jiwa menguping Bu Ningsih meronta-ronta.
Berjalan ke luar kamarnya dan mengendap-endap. Melihat ke kanan dan ke kiri layaknya orang yang akan mencuri. Ketika langkahnya sudah berhenti tepat di depan kamar Haji Hamid, kini napas Bu Ningsih yang seakan mau berhenti. Suara napas yang tersenggal-senggal dan memburu membuat Bu Ningsih memegang jantungnya yang seakan mau copot. Lututnya gemetaran, berusaha menelan salivanya dengan susah payah.
__ADS_1
"Mia, ahh Mia. Tolong Mia, jangan, Mia..." ucap Haji Hamid dengan suara parau.
Merasa tak kuat mendengar suara Haji Hamid yang begitu berat, membuat Bu Ningsih segera berlari dan masuk kembali ke dalam kamarnya. Bu Ningsih segera membaringkan tubuhnya di atas ranjangnya dan menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya. Merasa malu sendiri saat membayangkan apa yang dilakukan Mia pada Haji Hamid, sampai menantunya itu bernapas begitu berat dan memburu. Antara seperti sedang berolah raga atau di kejar buldog. Sampai suaranya terdengar ke luar kamar. Terbayang bagaimana buasnya Haji Hamid di atas ranjang.
"Sudah tua tapi masih oke juga ya Pak Haji," ucap Bu Ningsih.
Sayang sekali, apa yang dibayangkan oleh Bu Ningsih tak sejalan dengan kenyataan yang terjadi di dalam kamar Haji Hamid. Mia yang sudah sangat mengantuk, justru sampai tidak sadar kalau Haji Hamid yang tidur di ranjang bawah tengah mengigau dengan suara yang begitu berat.
Sampai akhirnya Haji Hamid tersadar dari tidurnya dan segera membangunkan Mia.
"Mia, bangun!" ucap Haji Hamid.
Mia masih tidur dengan nyenyak. Tapi tidak ketika Haji Hamid menarik kaki Mia. "Mia, bangun. Miaaaa," ucap Haji Hamid.
"Eh, Pak Haji. Mia kesiangan ya? Maaf ya Pak Haji," ucap Mia.
"Hussstt! Mia, ini masih jam dua malam." Haji Hamid menunjuk ke arah jam dinding.
"Terus kenapa Pak Haji bangunin Mia? Nyuruh sholat tahajud?" tanya Mia.
"Mia sini turun!" ucap Haji Hamid.
Mia dan Haji Hamid duduk di sofa kamarnya. Haji Hamid menceritakan apa yang ia alami. Mimpi buruk yang terasa begitu nyata. Nampak sekelilingnya api dan di bawahnya terlihat air yang mendidih. Terdengar suara seseorang yang menyebut bahwa dirinya harus masuk ke dalam air yang mendidih itu, atau akan hangus terbakar. Saat mencari sumber suara itu, ternyata muncul sosok Mia.
Mia mendorongnya untuk masuk ke dalam air yang mendidih itu. Namun Haji Hamideminta tolong agar Mia tidak membuatnya tenggelam dalam didihan air di bawahnya. Namun Mia tetap saja mendorongnya sampai Haji Hamid tenggelam dalam air yang mendidih itu. Panas, sangat panas. Sampai ia bangun, tubuhnya basah dengan keringat.
"Mia, apa artinya aku akan masuk neraka?" tanya Haji Hamid setelah selesai menceritakan semua mimpi buruknya itu.
"Mana Mia tahu," ucap Mia dengan nada cuek.
"Mia," ucap Haji Hamid dengan geram.
__ADS_1
"Eh, maksud Mia ya Mia tidak tahu. Urusan surga dan neraka hanya urusan Tuhan. Kita tidak tahu, bahkan seorang pendosa saja bisa jadi masuk surga jika Tuhan meridhoi." Mia menjelaskan setahunya pada Haji Hamid.
"Emm, menurutmu aku berdosa karena mencintai Dev?" tanya Haji Hamid.
DEG!
Jantung Mia seakan berhenti.
"Maksud Pak Haji" tanya Mia.
"Aku tahu kalau kisah cintaku dengan Dev itu salah. Tapi aku tidak bisa menolaknya. Rasa itu muncul begitu saja dan aku menikmatinya, aku bahagia bersama Dev. Apakah semua itu membuatku akan masuk neraka?" tanya Haji Hamid.
Mia menunduk, hatinya tak karuan. Apakah ini saat yang tepat untuk mengingatkan Haji Hamid?
"Pak Haji, Mia tidak tahu harus jawab apa. Yang Mia tahu, mencintai sesama jenis itu salah dan berdosa. Dan setiap yang berdosa akan masuk neraka, kecuali jika orang itu mau bertaubat." Dengan sangat hati-hati Mia menyampaikan apa yang ia tahu pada Haji Hamid.
Mia perlahan mengangkat kepalanya dan melihat reaksi Haji Hamid. Tidak marah, justru terlihat seperti ketakutan.
"Pak Haji, jangan takut. Urusan surga dan neraka hanya urusan Tuhan. Tugas kita hanya beribadah dan mengaharap ridho-Nya agar kita bisa masuk surga," lanjut Mia.
Mencoba mencerna apa yang sudah disampaikan oleh Mia, Haji Hamid lebih memilih untuk kembali berbaring di atas ranjangnya.
"Mia, ayo tidur lagi! Jangan sampai besok pagi kesiangan ya! Nanti ibu kamu mikir yang macam-macam lagi sama kita," ucap Haji Hamid.
"Baik Pak Haji," ucap Mia yang kembali naik ke atas ranjangnya.
###################
Likenya jangan lupa ya kak!
Terima kasih banyak...
__ADS_1