Janda Bersegel

Janda Bersegel
Salah paham


__ADS_3

Setelah puas menangis, Mia melepaskan pelukannya dari Dion. Ia duduk di samping Haji Hamid.


"Pak Haji, Mia tahu Pak Haji kuat. Tapi Mia gak tahu sampai kapan Pak Haji bertahan seperti ini. Semuanya sayang sama Pak Haji," ucap Mia.


"Mia, maafin aku ya kalau aku membuat kamu sedih begini," ucap Dev.


Dev menyesal sudah menyampaikan informasi yang diberikan oleh dokter. Ia tidak tahu kalau semua itu bisa sangat menyakiti Mia.


"Kamu gak salah Dev," ucap Mia.


Setelah itu ruangan kembali hening. Mia menatap Haji Hamid. Kepalanya kembali mengingat kejadian saat mereka bersama dulu. Bagaimana Haji Hamid bisa sangat menyayanginya. Kasih sayang seperti seorang ayah yang belum sempat ia rasakan dari Pak Baskoro.


"Dev kenapa dokter menyarankan untuk melepas alat medisnya? Apa udah gak ada biaya?" tanya Mia.


"Bukan, bukan seperti itu Mia." Dev menyangkal.


"Jangan bohong Dev! Katakan kalau masih ada harapan untuk sembuh. Masalah biaya, Mia bisa bantu. Ini ada uang punya Pak Haji. Kamu jangan khawatir Dev," ucap Mia.


"Gak begitu Mi. Aku sama sekali gak mikirin masalah biaya. Tabungan Hamid masih ada. Di aku juga ada Mi. Tapi aku cuma kasihan sama Hamid. Terbaring lemah begini tidak ada perubahan. Bahkan menurut catatan medis, semenjak Hamid ke sini kesehatannya semakin menurun. Tapi kalau pihak pasien mau bertahan juga bisa," ucap Dev.


Mia diam. Ia berpikir kalau seandainya Haji Hamid bertahan dengan alat ini, siapa yang akan menunggunya di sini? Dev tidak mungkin berlama-lama di sini. Bukan hanya Haji Hamid, Kalin juga membutuhkan Dev.


"Kita ikuti apa yang dokter ucapkan," ucap Mia tiba-tiba


"Apa?" tanya Dev terkejut.


"Pak Haji pasti lelah. Kamu juga gak bisa terus-terusan nungguin Pak Haji kan Dev?" tanya Mia.


Tanpa jawaban, Dev mengisyaratkan jika ucapan Mia memang benar. Ia memang masih terus memantau pekerjaannya. Namun ada penurunan saat bukan ia yang terjun langsung di perusahaannya.


"Jadi kapan?" tanya Dev.


"Nanti kalau Mia udah kembali ke Indonesia ya! Mia gak sanggup kalau harus melihat semua itu di depan mata," ucap Mia.


"Kamu yakin Mi?" tanya Dev.


"Entahlah Dev. Tapi mungkin ini yang terbaik," jawab Mia.


"Kapan kamu ke Indonesia?" tanya Dev.


"Kapan A?" tanya Mia pada Dion.


Mia tidak tahu kapan ia akan kembali ke Jakarta, makanya pertanyaan itu ia lemparkan kepada Dion.


"Terserah kamu aja Mi," jawab Dion.


Seharusnya Dion segera kembali karena hasil meeting harus segera didiskusikan dengan karyawan lain. Namun jika Mia masih ingin di sini, Dion bisa mengirimkan hasil diskusi itu melalui email.


"Aa meeting lagi gak?" tanya Mia.


Dion menggeleng.


"Udah selesai Mi," jawab Dion.


"Kita pulang aja. Kasihan Narendra dan Naura," jawab Mia.


ASI Mia yang tidak diberikan membuat ia merasa tidak nyaman. Bahkan ASInya sempat keluar dan rasanya sakit. Selain itu, Mia juga tidak ingin memperlama proses pelepasan alat bantu dari Haji Hamid.


"Kamu yakin?" tanya Dion.


"Yakin A," jawab Mia.


"Kami pulang dulu. Kabari setiap perkembangannya," ucap Dion pada Dev.


Perkembangan? Hati Mia sakit saat mendengar kata itu. Ia tahu itu hanya kata basa basi, karena sebenarnya tidak akan ada perkembangan sama sekali setelah alat bantu itu dilepas.


"Pak Haji, Mia sama A Dion pulang dulu ya! Kalau seandainya nanti kita tidak bertemu di dunia, Mia yakin kita akan bertemu di surga. Nanti kita akan kumpul lagi ya!" ucap Mia.


Dev menunduk. Ucapan perpisahan Mia itu terdengar menusuk hatinya. Dev yakin jika perpisahan itu juga akan diucapkan olehnya, beberapa saat setelah alat bantu itu dilepas.


"Ayo!" ajak Dion.


Mia mengangguk. Tangannya sudah digenggam oleh Dion. Ia hanya bisa melangkah keluar dan semakin menjauh dari ruangan Haji Hamid. Langkahnya terasa berat. Dadanya semakin sesak. Mia meyakini jika pertemuannya kali ini adalah pertemuan terakhir dengan Haji Hamid di dunia.


"A, terima kasih ya!" ucap Mia.


"Untuk apa?" tanya Dion.


"Aa udah bawa Mia ke sini. Aa udah kasih Mia kesempatan buat ketemu sama Pak Haji. Meskipun mungkin ini terakhir kalinya," ucap Mia.


"Sayang, jangan bicara seperti itu. Ucapanmu mendahului Tuhan. Kalau Tuhan sudah berkehendak, semua akan baik-baik saja. Percaya padaku," ucap Dion.

__ADS_1


"Tapi jujur aja Mia pesimis A," ucap Mia.


"Kamu yang sering bilng kalau ucapan adalah doa. Jadi lebih baik bicara yang baik-baik. Pikirin yang baik-baik ya!" ucap Dion.


"Tapi dokter sendiri sudah menyerah A. Semua hanya mengandalkan alat bantu itu. Kalau dilepas, Aa tahu kan gimana hasilnya?" tanya Mia.


"Dokter sekalipun bukan Tuhan Mia. Saat kita sudah berusaha semaksiml mungkin, tugas kita sebagai manusia hanya bisa berdoa. Doakan yang terbaik saja," ucap Dion.


Kata-kata kiasan. Kalimat basi yang hanya berusaha untuk menenangkan Mia. Meskipun Dion tahu kalau semua itu kecil sekali kemungkinannya. Keadaan Haji Hamid yang memang sudah sangat lemah membuat Dion sendiri pesimis. Tapi di hadapan Mia, ia berpura-pura memberinya harapan.


Perjalanan Mia dan Dion hanya ditemani keheningan. Setelah obrolan itu, keduanya tidak saling bicara satu sama lain. Dion sengaja membiarkan Mia berkutat dengan pikirannya sendiri.


"Mia, kenapa matamu sembab sekali?" tanya Sindi saat Mia sudah sampai ke rumahnya.


"Gak apa-apa kok Sin. Gimana Narendra sama Naura?" tanya Mia.


Mia berusaha mengalihkan pembicaraan tentang matanya yang sembab. Mia tidak mau menjelaskan apa yang terjadi padanya sekarang.


"Mereka baik-baik saja. Anteng," jawab Sindi.


"Mi, mandi dulu. Baru ke ruangan Narendra sama Naura," ucap Dion mengingatkan.


"Iya A," jawab Mia.


Mia pamit pada Sindi. Sementara Sindi hanya menatap Mia dengan penuh tanya.Rasa khawatir Sindi membuatnya menunggu Mia di kamar Narendra dan Naura.


Tidak lama, Mia datang. Sindi berdiri dan menghampiri Mia.


"Kamu sakit, Mi?" tanya Sindi.


"Gak kok," jawab Mia.


"Kamu gak mau cerita?" tanya Sindi.


"Aku gak kenapa-kenapa Sin," jawab Mia.


"Aku tahu kamu. Dan ini bukan kamu," ucap Sindi.


"Kamu gimana persiapan nikahannya?" tanya Mia yang mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Jangan mengalihkan pembicaraan Mi! Jawab pertanyaanku," ucap Sindi.


"Sin, aku gak apa-apa." Mia masih mengelak.


"Baik," jawab kedua perawat itu bersamaan.


Keduanya pergi setelah pamit pada Mia dan Sindi.


"Cerita sama aku. Aku gak mau cuma tahu bahagiamu saja. Tapi aku mau kita semua saling berbagi suka dan duka. Mana dukamu? Kenapa kamu masih mau menyimpan semua itu sendiri?" desak Sindi.


Mia tidak bisa menahan air mata saat Sindi terus mendesaknya. Akhirnya Mia menceritakan apa yang terjadi sebenarnya.


"Mia, kamu jangan nangis lagi. Lihat matamu udah bengkak begitu," ucap Sindi sembari memeluk Mia. "Kamu harus percaya jika semua yang terjadi adalah yang terbaik menurut Tuhan. Dan semua yang terbaik menurut Tuhan sudah pasti yang terbaik menurut kita," ucap Sindi.


"Tapi Mia gak tega Sin. Mia merasa dengan melepas selang itu sama artinya kita membunuh Pak Haji," ucap Mia.


"Mi, ya gak begitu dong. Dokter juga udah menyarankan semua yang terbaik," ucap Sindi.


"Mi, ada telepon." Dion datang dan menyerahkan ponsel Mia.


"Dev?" ucap Mia.


Mia menatap Dion dan Sindi bergantian. Tatapannya penuh dengan kekhawatiran.


"Jawab saja," ucap Dion.


Mia mengangguk dan menyapa Dev. Sudah diduga, Dev memang meneleponnya untuk membahas alat bantu yang akan dilepas dari tubuh Haji Hamid.


"Ya sudah. Lakukan saja. Mia udah pasrah Dev," ucap Mia.


Dion dan Sindi berada di samping Mia. Memberi dukungan pada wanita yang tengah menangis sesenggukan itu. Mia segera menutup panggilannya. Ia sudah tidak tahan dengan bahasan tentang apa yang tidak ia harapkan sama sekali.


"Sayang, kuatlah!" ucap Dion.


"Iya A," ucap Mia.


Mia menatap bayi kembarnya dan mengusap pipinya bergantian.


"Sayang, doakan Pak Haji ya! Dia teman Mama. Dia orang baik. Mama yakin kalau kalian yang doain Pak Haji, Pak Haji pasti sembuh. Bantu Mama ya!" ucap Mia.


"Mi," ucap Sindi merangkul bahu Mia.

__ADS_1


Malam ini Mia menonaktifkan ponselnya. Ia tidak mau kalau sampai Dev mengabari kabar buruk malam ini. Mia hanya ingin menangis sepuasnya hingga ia tidur.


Dan semua itu memang benar-benar terjadi. Mia menangis sampai ia tidur karena kelelahan.


"Pak Haji, Pak Haji, Pak Haji," ucap Mia.


"Sayang, sayang, bangun. Kamu mimpi?" tanya Dion sembari mengguncang pelan tubuh Mia.


"Iya A. Mia mimpi," ucap Mia.


Saat ia bangun, napasnya terengah-engah. Dion segera memberinya segelas air. Mia minum hingga ia tersedak.


"Pelan-pelan Mi," ucap Dion.


Dion membantu Mia menepuk-nepuk punggung Mia.


"Ini A, terima kasih." Mia menyerahkan gelas kosong pada Dion.


"Sama-sama. Kamu istirahat lagi ya! Tenangin diri kamu," ucap Dion.


Mia kembali merebahkan tubuhnya. Ia memejamkan matanya dan berusaha untuk tidur. Namun bayangan Haji Hamid masih mengisi kepala Mia.


Tak lama, terdengar dengkuran kecil Dion. Mungkin ia lelah, hingga begitu cepat untuk tidur. Tapi Mia senang karena Dion sigap untuk bangun saat dirinya mengigau.


Tangan Mia perlahan meraih ponsel. Ia menggenggam ponselnya yang tidak aktif. Ingin rasanya mengaktifkan ponselnya. Namun ia takut dengan kenyataan buruk itu.


Mia melihat jam yang menempel di dinding kamarnya. Sudah enam jam sejak Dev menghubunginya tadi. Kalau menurut dokter, jika tubuh Pak Haji tidak memberi respon, kemampuannya bertahan tidak lebih dari lima jam.


Pak Haji, selamat jalan. Maafkan Mia karena gak bisa menemani Pak Haji di penghujung usia Pak Haji. Tapi doa Mia selalu yang terbaik untuk Pak Haji. Sekali lagi terima kasih banyak.


Mia kembali menangis. Ia sampai merasa kepalanya sangat berat. Mungkin karena terlalu sering menangis. Tapi untuk saat ini Mia tidak bisa menolak untuk tidak meneteskan air mata. Mia hanya bisa menangis dan menangis.


Pagi hari Dion bangun dengan terkejut. Mia demam. Wajah Mia terlihat begitu pucat. Dengan cepat Dion menghubungi dokter pribadinya.


"Mia, kamu kenapa?" tanya Nyonya Helen yang masuk ke kamarnya setelah Dion memberi tahu keadaan Mia.


"Pusing Ma," ucap Mia dengan pelan.


"Kamu kecapean ya?" tanya Nyonya Helen.


"Gak Ma," ucap Mia.


Tatapan Nyonya Helen tiba-tiba beralih pada Dion. Dion sampai mengerutkan dahinya saat menyadari tatapan yang menyudutkannya.


"Dion kamu menggempur Mia ya? Dasar anak kurang ajar. Menantu Mama sampai dibuat begini," ucap Nyonya Helen tiba-tiba.


Dion sampai memegang dadanya yang terasa sesak. Tuduhan macam apa itu? Begitu mungkin ucapan yang ingin disampaikan oleh Dion. Ia pikir tuduhan itu akan dilayangkan karena tak bisa menjaga Mia, hingga Mia terlalu lelah jalan-jalan. Ternyata semua diluar dugaan Dion.


Untung saja dokter segera datang dan membuat Nyonya Helen berhenti memarahi Dion. Kini, ia hanya fokus dengan kesehatan Mia. Ia yang begitu sayang pada Mia, terlihat sangat gelisah. Wajahnya yang pucat membuat Nyonya Helen tidak tenang.


"Apa perlu ke rumah sakit?" tanya Nyonya Helen.


"Tidak perlu Nyonya. Nyonya Mia hanya perlu istirahat, sepertinya kurang tidur. Tekanan darahnya rendah," ucap Dokter.


"Berikan obat yang bagus ya!" ucap Nyonya Helen.


"Baik Nyonya," ucap Dokter.


Dua lembar obat diberikan kepada Mia.


"Diminun sebelum makan ya!" ucap Dokter.


"Terima kasih Dokter," ucap Mia.


Setelah semua selesai, Dokter pamit. Masalah tidak selesai. Justru masalah baru dimulai bagi Dion. Pasalnya tatapan Nyonya Helen terus mengancam Dion.


"Dion, ini semua salah kamu!" ucap Nyonya Helen.


"Ma, gak gitu. Mama salah paham. Biar aku jelasin ya!" ucap Dion.


"Gak perlu jelasin-jelasin. Kamu bikin Mama kesel aja. Mia dibawa ke luar negeri bukannya dibikin senang malah kamu bikin sakit," ucap Nyonya Helen.


"Mama salah paham. Gak begitu ceritanya Ma," ucap Dion.


#####################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..

__ADS_1


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


__ADS_2