Janda Bersegel

Janda Bersegel
Gagal kabur


__ADS_3

Pagi ini semua sudah berkumpul di ruang makan. Semuanya saling mencari tahu ketidakhadiran Tuan Felix di kamarnya. Saat Tuan Wira hendak memanggil Tuan Felix ke kamarnya, langkahnya harus terhenti saat Mia melarangnya.


"Pah, biarkan saja dulu. Nanti Mia yang antar sarapannya ke kamar Papa Felix," ucap Mia.


"Kenapa tidak makan di sini? Apa dia sakit?" tanya Tuan Wira.


"Mungkin sedikit kecapean Pah. Papa Felix kan baru sembuh dari sakit. Tapi kemarin langsung ke makam Ibu di Bandung. Papa juga tahu kan perjalanan ke sana gimana?" tanya Mia.


Tuan Wira mengangguk. Ia kembali duduk dan mulai sarapan. Mia diam-diam mengamati setiap ekspresi yang tengah sarapan di ruang makan. Tidak ada ada yang berubah, kecuali Rian. Mia bisa dengan sangat jelas menangkap ekspresi Rian yang berbeda.


Sedih, begitulah Rian. Apa hanya Rian? Tidak! Bisa jadi semuanya merasakan apa yang Rian rasakan. Tapi saat ini, mereka sedang menyembunyikan rasa itu. Rian masih polos, hingga ia tidak bisa seperti yang lain.


Selesai makan, Tuan Wira dan Dion berangkat ke kantor. Nyonya Helen juga pamit karena ada acara arisan bersama teman sosialitanya. Sementara Sindi, mengajak Rian untuk menemani Mia ke kamar Narendra dan Naura.


"Mi, boleh masuk ya!" pinta Sindi saat pintu kamarnya terbuka.


"Hey kalian. Ayo masuk!" ajak Mia.


Sindi menarik tangan Rian yang masih berdiri di ambang pintu. Masih dengan raut sedih dan perasaan canggung, Rian duduk dan nampak gelisah.


"Rian, kamu sakit?" tanya Mia.


"Gak kak. Aku baik-baik aja kok," jawab Rian.


"Tapi kamu kelihatan pucat dan lesu," ucap Mia.


"Mungkin hanya perasaan Kakak aja. Aku gak apa-apa kok Kak," ucap Rian lagi.


Setelah itu, Rian berusaha untuk menyembunyikan rasa yang tersimpan dalam hatinya. Mencoba mengajak bermain Narendra, sedikitnya membuat raut wajah Rian mulai berubah.


Sindi menatap Mia, seolah mengisyaratkan apa yang memang ada dalam kepala Mia. Mia memberi kode kalau mereka harus ngobrol berdua, tanpa kehadiran Rian.


"Kak," ucap Rian ragu.


Mia dan Sindi seketika mengalihkan pandangannya.


"Apa?" tanya Mia.


"Emmm, itu, emm," ucap Rian.


"Itu apa?" tanya Mia.


"Tuan Felix belum sarapan," ucap Mia.


Mia merasa sakit saat Rian mengatakan hal itu. Rian masih saja perhatian pada Tuan Felix, padahal ia sendiri menyadari perubahan sikap Tuan Felix.


"Mi," ucap Sindi.


"Oh, Papa udah sarapan. Tadi Mba udah bawain makanan buat Papa," ucap Mia setelah tersadar dari lamunannya.


"Tuan Felix sakit?" tanya Rian.


Rian memang masih polos jika dibandingkan dengan anggota keluarga yang lain, namun dia juga bukan anak kecil lagi. Rian mungkin tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Namun itu semua terjadi karena Rian tahu apa permasalahan yang tengah dihadapinya.


"Gak kok. Papa cuma kecapean aja," jawab Mia.


"Apa aku boleh ke kamarnya?" tanya Rian.


Mia menghela napas panjang. Ia bingung dengan jawaban yang tepat untuk Rian. Karena saat ini, Mia yakin Tuan Felix tidak akan menerima kehadiran Rian. Tapi apa alasan yang bisa Mia berikan untuk menahan Rian agar tidak menemui Tuan Felix dulu.


"Jangan dulu Ri. Biarkan Tuan Felix istirahat. Nanti juga kalau dia butuh kita pasti nyariin kok. Mending hari ini kamu temenin aku jalan-jalan yuk!" ajak Sindi.


Sebagai teman yang sangat paham tentang Mia, Sindi menjawab pertanyaan Rian. Karena ia tahu kalau Mia tidak bisa menjawab pertanyaan Rian. Untuk memberi waktu antara Mia dan Tuan Felix, Sindi mengajak Rian untuk keluar dari rumah itu.


"Sekarang aku sudah gak dibutuhkan lagi ya Kak?" tanya Rian


"Ya gak begitu juga," jawab Sindi.


Ia mulai kelabakan menjawab pertanyaan Rian yang tak kunjung henti.


"Terus kenapa?" tanya Rian.


"Gak apa-apa. Ah, udah lah mending kamu antar aku ya! Gak kasihan kamu sama aku, Ri?Sebulan lebih aku di sini, tapi gak pernah keluar rumah. Menyedihkan," ucap Sindi.


"Memangnya kakak mau kemana?" tanya Rian.


"Kemana aja yang penting keluar rumah. Ke mall, ke taman, kemana aja lah." Sindi mencari alasan.


Rian menatap Mia. Ia meminta jawaban dari Mia. Ia sempat ragu saat Mia mengangguk yang berarti mengiyakan.


"Boleh Kak?" tanya Rian pada Mia.


Mia cemberut. Bibirnya mengerucut.


"Boleh dong Mi. Ya kan?" ucap Sindi.


"Tapi lain kali aku ikut ya!" ucap Mia.


"Siap," ucap Sindi. "Tuh Ri, Mia udah ngizinin kita. Jadi mau ya temenin aku!" bujuk Sindi.


"Beneran gak apa-apa Kak?" tanya Rian lagi memastikan.


"Gak apa-apa. Tapi lain kali aku juga ikut ya!" ucap Mia.


"Apa kita jalan-jalannya nanti aja ya? Sekalian sama Kak Mia ya Kak," ucap Rian ada Sindi.

__ADS_1


Namun Sindi menggeleng. Ia memaksa Rian untuk pergi karena Mia juga sudah mengizinkannya.


"Ya sudah Rian, kamu antar Sindi. Tapi jangan lama-lama ya!" ucap Mia mengingatkan.


"Iya, tenang aja. Ayo Ri!" ajak Sindi.


"Sekarang?" tanya Rian.


"Masa besok sih," jawab Sindi.


"Ya maksudnya nanti nunggu Nyoya Helen pulang aja biar Kak Mia ada temannya," ucap Rian.


"Ya ampun Ri, kelamaan kali. Nanti keburu panas. Mall juga keburu tutup. Mana kita tahu Nyonya Helen pulang jam berapa. Lagi pula, di rumah ini orang yang kerja kalau dikumpulin ada se'RT. Jadi kamu gak perlu khawatir," ucap Sindi.


Mia hanya bisa tersenyum melihat usaha Sindi yang begitu gigih hingga nampak lebay di mata Mia. Namun Mia harus mengapresiasi Sindi dengan semua jempol yang ia punya.


"Berangkat aja. Aku gak apa-apa kok," ucap Mia.


Meskipun sempar ragu, namun karena Mia terus meyakinkannya akhirnya Rian berangkat. Mia menyelesaikan pompa ASInya untuk kembali bicara dengan ayah kandungnya.


"Pah," panggil Mia setelah sebelumnya mengetuk pintu dulu.


"Masuk Mia," jawab Tuan Felix dari balik pintu.


Mia masuk dengan membawa nampan berisi secangkir teh yang masih panas.


"Sudah minum obat Pah?" tanya Mia.


Mia melirik meja yang berisi nampan sarapan. Tidak habis. Hanya sedikit yang Tuan Felix makan. Menyadari kesalahannya, Tuan Felix segera menghabiskan makanannya. Ia tidak ingin membuat Mia kecewa.


"Jangan buru-buru Pah. Pelan-pelan aja," ucap Mia.


Tuan Felix tersenyum dan segera mengelap bibirnya saat semua sarapan sudah habis ia lahap.


"Kamu sudah sarapan Mi?" tanya Tuan Felix.


"Udah. Papa jangan lupa obatnya ya!" ucap Mia.


Mia duduk di hadapan Tuan Felix. Ia menunggu Tuan Felix benar-benar meminum obatnya. Setelah minum obat, Tuan Felix merapikan mejanya. Namun Mia segera meraih tangan Tuan Felix.


"Biar Mia aja Pah. Papa istirhat aja ya!" ucap Mia.


Tuan Felix hanya ternganga melihat perhatian Mia sampai sedetil itu. Ia tiba-tiba mengingat Rian. Apa yang Mia lakukan, biasanya dilakukan oleh Rian.


Bicara soal Rian, ia menerka keberadaan anak itu. Mungkinkah Rian marah padanya? Kenapa anak itu tidak lagi mengunjunginya? Apakah karena semalam ia mengabaikan kehadiran Rian?


"Pah," ucap Mia.


Guncangan pelan di bahu Tuan Felix membuat pria itu terkejut. Meskipun ia berusaha menyembunyikannya, namun terlambat. Mia melihat semua itu.


"Gak ada apa-apa," jawab Tuan Felix.


Mia tahu kalau Tuan Felix sedang gelisah. Ia merasa ada celah untuk kembali memperbaiki apa yang salah dalam diri Tuan Felix.


"Pah, Mia boleh nanya sesuatu?" tanya Mia.


"Apapun. Kamu boleh bertanya apapun Mia," jawab Tuan Felix.


"Apa Papa membenci Rian?" tanya Mia.


Tuan Felix menghela napas panjang dan menatap Mia. Ada keraguan saat ia akan menjawab pertanyaan yang tidak ia harapkan.


"Kenapa? Papa bilang apapun," ucap Mia saat Tuan Felix tak kunjung menajwab pertanyaannya.


"Mia, sudah kubilang jangan membahas anak itu lagi. Pertanyaan lain kan bisa," ucap Tuan Felix.


"Pah, ini bukan Papa yang Mia kenal. Apa yang Papa tahu tentang Pak Baskoro, itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan Rian. Mia mohon tolong ingat semua sikap dan kebaikan Rian sama Papa," ucap Mia.


Tuan Felix diam. Ia benar-benar mengingat semua sikap baik Rian padanya selama ini. Bahkan saat ia merasa sendiri, hanya Rian yang menemaninya.


"Mi, apa Papa salah kalau Papa sakit hati?" tanya Tuan Felix.


"Gak salah. Wajar, sangat wajar. Mia bahkan pernah merasakan sakit hati yang sama saat baru mengetahui kalau Rian adalah anak Pak Baskoro. Mia kecewa, tapi itu tidak menyelesaikan masalah. Tidak ada gunanya. Untuk apa?" ucap Mia.


"Seperti halnya kamu, mungkin Papa juga butuh waktu untuk membuang perasaan ini. Kamu mengerti kan?" tanya Tuan Felix.


"Mau sampai kapan? Sehari? Seminggu? Sebulan? Atau justru setahun? Mungkin bahkan Papa sendiri tidak tahu sampai kapan Papa menyimpan rasa itu," jawab Mia.


Mia benar. Itu yang ada di kepala Tuan Felix saat itu. Ia benar-benar tidak bisa menentukan sampai kapan semuanya benar-benar berakhir. Bahkan mungkin benar kalau semuanya tidak akan berakhir. Karena ia sempat akan kembali ke negaranya tanpa Rian.


Namun ucapan Mia membuatnya sesak. Ia harus berpikir ulang tentang rencananya itu. Kenapa hatinya tiba-tiba mengeras bak batu? Tuan Felix masih diliputi amarah yang mendalam atas kelakuan ayah kandung Rian. Tapi benarkah apa yang Tuan Felix lakukan itu adil?


"Rian, kenapa anak sebaik kamu harus menjadi penjahat seperti dia?" gumam Tuan Felix.


"Pah, tidak ada yang mau dilahirkan dari keluarga yang tidak baik. Jika boleh memilih, semua orang pasti ingin lahir dari keluarga baik dan berada. Tapi takdir Tuhan yang menentukan keadaan seseorang," ucap Mia.


Mia melihat Tuan Felix mengacak kasar rambut dan wajahnya. Nampak sangat stress. Mia tidak mau memberi beban terlalu dalam pada Tuan Felix. Mungkin waktu yang dibutuhkan Tuan Felix tidak sesingkat saat Mia menyadari kesalahannya. Namun Mia yakin jika Tuan Felix akan kembali menyayangi Rian.


"Pah, Mia ke kamar dulu ya! Papa istirahat! Jangan banyak pikiran. Kalau seandainya ucapan Mia hanya menambah beban untuk Papa, lupakan saja. Mia permisi dulu ya!" ucap Mia.


Mia kembali ke kamarnya dan membiarkan Tuan Felix tenang. Mungkin tidak baik juga jika Mia terus menekannya. Mia melihat jam dinding, sudah lama tapi Rian dan Sindi belum terlihat kembali ke rumah.


Mia mengambil ponselnya dan menghubungi Sindi. Sampai tiga kali panggilan, Mia tidak mendapat jawaban dari Sindi.


"Mereka kemana ya?" gumam Mia.

__ADS_1


Ada rasa khawatir di hati Mia. Ia segera menghubungi sopir dan menanyakan keberadaan Sindi. Namun Mia terkejut saat mereka pergi tanpa sopir. Mereka pergi menggunakan jasa driver online. Saat Mia panik, beruntunglah sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya.


'Mia cantik. Aku dan Rian izin agak lama ya pulangnya. Nanti aku ceritakan semua kisah jalan-jalan kami. Kamu jangan khawatir, aku tidak akan lupa jalan pulang. Aku pasti akan pulang tanpa harus menunggu tiga kali puass tiga kali lebaran. Karena aku bukan Bang Toyib.'


Mia menggelengkan kepalanya. Bisa-bisanya Sindi tidak menjawab panggilannya, sementara ia mengirim pesan yang begitu panjang.


'Apaan sih kamu Sin? Bang Toyib gak salah apa-apa kok kamu bawa-bawa. Ya sudah selamat jalan-jalan, tapi ingat ya kalian harus pulang sebelum Mama dan Papa pulang.'


Mia duduk santai setelah membalas pesan Sindi yang tidak membalas lagi pesannya. Sementara Sindi yang Mia sangka sedang di mall, ternyata sedang di rumah sakit.


"Bu, Bu," panggil Sindi.


Selang infus dan oksigen sudah terpasang. Namun pasien belum juga sadarkan diri. Rian yang menemani Sindi hanya berusaha untuk menenangkannya.


"Memangnya Kakak kenal sama ibu itu?" tanya Rian.


"Gak," jawab Sindi sembari mengusap kedua pipinya.


Rian mengernyitkan dahinya. Kenapa Sindi bisa sesedih itu saat melihat pasien yang tidak ia kenal sama sekali. Bahkan ia belum berhenti menangis.


"Aku takut Rian," ucap Sindi.


"Kak Sindi tenang aja. Kan udah ditangani sama dokter. Ibu itu sebentar lagi pasti bangun," ucap Rian.


"Bukan itu Rian," ucap Sindi.


"Terus takut apa?" tanya Rian.


"Takut ada polisi. Gimana kalau nanti aku dipenjara?" tanya Sindi.


"Ya gak mungkin dipenjara Kak. Kan kita menolong ibu ini," ucap Rian.


"Terus ibu ini keluarganya dimana ya?" tanya Sindi.


"Gak tahu Kak," jawab Rian.


"Apa kita kabur aja ya?" tanya Sindi.


"Kok kabur?" tanya Rian.


"Aku gak bawa duit. Nanti kita yang suruh bayar. Mau bayar pakai apa kita?" ucap Sindi.


Rian memeriksa setiap saku yang ada pada baju dan celananya. Ia hanya menemukan uang lima ribuan dan sepuluh ribuan saja. Melihat Rian mengumpulkan uangnya, Sindi ikut melakukan hal yang sama.


"Berapa semuanya?" tanya Sindi.


"tujuh puluh lima ribu Kak," jawab Rian.


Sindi menghitung uang yang ia bawa dalam dompet kecilnya.


"Berapa?" tanya Rian.


"Empat ratus dua puluh lima ribu lima ratus," jawab Sindi.


"Cukup?" tanya Rian.


"Cukup dari mananya Rian. Ini rumah sakit besar dan mahal," jawab Sindi.


"Jadi gimana dong?" tanya Rian.


"Kabur!" bisik Sindi.


"Hah?" tanya Rian tidak percaya.


Rian menatap pasien yang berbaring dengan selang infus dan oksigen itu. Bagaimana mungkin ia meninggalkan ibu itu sendirian tanpa ada keluarganya.


"Ayo!" ajak Sindi.


Lama melihat Rian hanya diam menatap pasien itu, membuat Sindi harus menarik tangan Rian. Namun baru saja beberapa langkah ia membelakangi dan menjauh dari pasien, tiba-tiba pasien itu bangun dan memanggil mereka.


"Tunggu," ucap pasien dengan suara lemah.


Rian dan Sindi saling menatap. Sindi menarik tangan Rian agar tetap melanjutkan aksi kaburnya sebelum pasien itu melihat wajah mereka. Namun Rian menahannya.


"Orang baik, tunggu dulu." Pasien itu kembali meminta mereka untuk tidak meninggalkannya.


"Kak, dia butuh kita." Rian mencoba membujuk Sindi.


"Tapi kita juga butuh uang untuk membantu ibu itu. Dan kita tidak punya uang. Jadi apa gunanya kita di sini?" bisik Sindi.


"Aku masih punya tabungan di rumah. Biar nanti aku yang bayar saja," ucap Rian.


Rian melepaskan tangannya dari genggaman Sindi dan berbalik kembali menemui ibu itu. Namun Sindi masih ragu dengan langkah yang akan ia tempuh. Tapi mendengar ibu itu bicara dengan Rian, Sindi tidak tega. Suaranya lemah dan bergetar. Akhirnya Sindi ikut menemui kembali ibu itu.


######################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.

__ADS_1


__ADS_2