
Tangis Mia pecah saat Haji Hamid menyerahkan surat cerai. Tanda tangan Haji Hamid di atas materai membuat jantung Mia seakan berhenti berdetak. Oksigen seakan hilang dalam tubuhnya hingga dadanya terasa sangat sesak. Air mata yang bercucuran tak bisa dibendung oleh Mia.
Bu Ningsih hanya mengusap pungguh Mia dan memeluknya. Dengan pelukannya, Bu Ningsih berusaha agar Mia sedikit lebih tenang. Namun kali ini usaha Bu Ningsih gagal. Tangis Mia tak bisa mereda.
"Pak Haji jahat sekali pada Mia. Apa salah Pak Haji sampai hati menceraikan anak saya? Dulu Pak Haji yang meminta Mia. Kenapa sekarang Pak Haji begitu mudahnya menyingkirkan Mia?" Bu Ningsih melampiaskan kekecewaannya pada Haji Hamid.
Haji Hamid hanya diam. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Haji Hamid. Andai saja ia punya nyali besar, ingin rasanya Haji Hamid membeberkan penyebab perceraiannya dengan Mia.
"Maaf, bu. Saya minta maaf," ucap Haji Hamid.
Bu Ningsih tidak menjawab, kekecewaannya pada Haji Hamid sudah terlalu besar dan dalam.
"Mia, bolehkah aku bicara denganmu sebentar saja?" ucap Haji Hamid.
Bu Ningsih yang mengerti maksud Haji Hamid meninggalkan mereka berdua. Tanpa ada senyum, Mia masih terisak menahan sakit yang begitu dalam.
"Mia, maafkan aku." Haji Hamid mengusap pipi Mia yang sudah sangat basah karena deraian air matanya.
"Pak Haji jahat. Mia benci sama Pak Haji," teriak Mia.
Haji Hamid paham apa yang Mia rasakan. Saat ini yang ia lakukan adalah membuat Mia meluapkan semua kekecewaannya sebelum akhirnya ia menjelaskan kembali semua keputusan yang sudah diambilnya itu.
Setelah melihat tangis Mia sedikit mereda, Haji Hamid menarik napas panjang dan mencoba mengumpulkan kata terbaik dan merangkainya. Mencoba menjelaskan pada Mia dengan kata sehalus mungkin agar Mia bisa mengerti dan menerimanya.
"Mia," ucap Haji Hamid.
Mia justru lebih memilih untuk memalingkan wajahnya dari pada menatap lawan bicaranya itu. Tapi itu bukan masalah bagi Haji Hamid. Wajah Mia memang tak menatapnya, namun Haji Hamid yakin telinganya masih mendengar semua penjelasannya dengan baik.
"Mia, dengarkan aku! Jujur saja, sejak dulu aku memang sudah berencana untuk menceraikanmu setelah wisuda. Aku pikir dengan semua ilmu yang kau miliki, kau akan lebih mandiri dan sukses tanpa aku. Awalnya aku memang berniat menceraikanmu dan akan hidup berdua bersama Dev. Tapi sekarang setelah aku merubah tujuan hidupku, aku tetap harus menceraikanmu. Pernikahan kita ini semu." Haji Hamid menjeda ucapannya saat mata Mia mulai menatapnya.
"Iya, pernikahan kita memang semu. Tapi Mia bahagia hidup dengan Pak Haji. Pak Haji jahat," ucap Mia.
"Mia, kenyamananmu denganku itu sebatas sayang. Kamu menyayangiku dan aku menyayangimu. Bukan cinta. Sedangkan pernikahan itu butuh cinta. Dan kita tidak bisa menghadirkan itu. Untuk apa harus terus-terusan hidup dalam dusta?" ucap Haji Hamid.
"Mia tidak berdusta. Mia nyaman menjadi istri Pak Haji. Tapi kenapa Pak Haji menceraikan Mia?" ucap Mia.
"Mia, yang kamu rasakan itu karena kamu tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang ayah. Selama ini Pak Baskoro menganggapmu alat, mesin uangnya. Dan setelah bertemu denganku, aku adalah pria pertama yang menganggapmu manusia. Benarkan?" desak Haji Hamid.
__ADS_1
Mia tak menjawab. Matanya yang menatap tajam pada Haji Hamid kini mulai menunduk. Hatinya mengiyakan apa yang Haji Hamid ucapkan.
"Dan itu juga yang aku rasakan. Setelah lama aku tidak pernah berhubungan dengan wanita secara intens, kamu adalah wanita yang membuat hariku lebih ceria. Aku nyaman denganmu meskipun tidak ada kata cinta. Saat itu cintaku hanya Dev. Bahkan Dev juga mengakui kalau hidup denganmu memang membuatnya nyaman. Nyaman yang tercipta karena kita saling peduli. Dan Aku akan tetap menyayangimu layaknya aya pada anak, atau mungkin sayang sebagai sahabat. Apa salahnya untuk saling membuat nyaman walaupun tidak ada ikatan pernikahan?" ucap Haji Hamid.
"Tapi Pak Haji, Mia tidak mau jadi janda." Mia merengek.
Haji Hamid diam. Saat ini ketakutan dan kesedihan Mia hanyalah karena sebuah status. Mencoba menyentuhnya dengan berbagai cara sampai akhirnya Mia luluh.
Saat Haji Hamid kembali membahas cinta. Beberapa pertanyaan membuat Mia menatap Haji Hamid dengan sangat dalam. Tidakkah kamu berniat untuk bisa hidup bahagia dan saling mencintai? Menikah dan memiliki keturunan?
Cinta? Mia tidak pernah jatuh cinta. Cintanya hanya Bu Ningsih. Kalau cinta bisa membuat nyaman, untuk apa cinta itu jika bersama Haji Hamid saja sudah nyaman? Ah, entahlah. Mia pusing memikirkan semua hal yang tak ia mengerti.
"Apakah mungkin Mia mencintai Pak Haji?" tanya Mia.
Pertanyaan macam apa itu? Haji Hamid sampai merasa sangat terkejut.
"Tidak, Mia. Kau tidak mencintaiku," ucap Haji Hamid.
"Tapi Mia nyaman." Mia menjawabnya dengan sangat polos.
"Boro-boro Pak Haji. Mia pusing. Kelamaan nangis gara-gara jadi janda nih," ucap Mia dengan cemberut.
Haji Hamid tertawa senang. Akhirnya Mia sudah kembali menjadi Mia yang dulu. Mia yang tidak pernah mencintai lawan jenisnya, ternyata kalah telak dengan pengalaman Haji Hamid dalam urusan percintaan.
Sebelum belok, Haji Hamid pernah merasakan cinta yang normal dengan kekasoh wanitanya dulu. Sampai akhirnya dengan Dev saja, ia melibatkan cinta dalam hubungannya.
Sedangkan Mia? Tahu apa dia selain mencari uang? Haji Hamid sangat memaklumi semua itu.
"Malam ini, aku mau tidur denganmu ya! Anggap saja ini sebagai salam perpisahan karena besok akna pergi ke luar kota." ucap Haji Hamid.
"Kan biasanya juga begitu," ucap Mia dengan entengnya.
"Maksudku sekarang tidurnya di bawah berdua ya?" ucap Haji Hamid.
Mia menatapnya penuh haru. Dulu saat mereka menikah tak sekalipun mereka tidur seranjang berdua. Tapi kenapa sesudah bercerai justru Haji Hamid ingin tidur dengannya? Mia hanya mengangguk dan mengiyakan. Mia juga berpikir ini malam terakhir dengan Haji Hamid.
Saat malam itu tiba, Mia dan Haji Hamid naik ke atas ranjang yang sama. Mia yang berbaring di sebelah Haji Hamid menatap langit-langit kamarnya.
__ADS_1
"Mia, apa kamu merasakan hal yang berbeda?" Tanya Haji Hamid.
"Iya Pak Haji," jawab Mia.
"Hah? Apa yang kamu rasakan?" tanya Haji Hamid.
"Ini lebih panas ya?" tanya Mia.
"Apa jantungmu berdegup kencang?" tanya Hamid.
"Iyalah," jawab Mia dengan yakin.
Apa maksudnya? Apakah setelah tidur bersama, Mia mendadak mencintainya?
"Mia? Apa maksudmu?" tanya Haji Hamid serius.
"iya, ini panas. AC mati ya? Jantungku juga berdegup kencangkarena aku hidup. Kalau aku mati baru tidak ada degupan jantung," jawab Mia dengan sangat polos.
"Miaaa, maksudku bukan begitu. Apa kamu merasa deg-degan saat tidur di sampingku begini?" tanya Haji Hamid.
"Tidak, biasa saja." Mia menjawabnya.
"Nah itu artinya kita tidak saling mencintai, tapi kalau tidur bersama orang yang kita cintai, makanakan deg-dega dan jantung kita berdegup lebih cepat. Jadi kamu itu harus kalau a--" Haji Hamid menghentikan ucapannya saat mendengar suara dengkuran pelan Mia.
"Mia?" panggil Haji Hamid.
Mia tidak terusik sama sekali saat Haji Hamid mengguncang pelan tubuh Mia.
"Ya ampun, baru 5 detik yang lalu kamu masih ngobrol. Sekarang sudah tidur saja," Ucap Haji Hamid tersenyum.
Haji Hamid menyelimuti Mia dan keluar dari kamar itu. Ia menyadari setelah bercerai, maka tidak boleh tidur bersama walaupu hanya satu kamar dan tidak satu ranjang. Haji Hamid sangat mengerti itu dan memilih kamar tamu untuk tidurnya malam ini. Menunggu hari esok. Hari dimana Haji Hamid akan meninggalkan Mia dan rumah itu.
############
Tap like kakak...
Makasih...
__ADS_1