
Hari ini Dion kembali ke Surabaya. Meskipun Mia menahan air matanya, akhirnya bulir bening itu berjatuhan juga di pipi Mia.
"Jangan sedih, aku kan kerja Mi. Nanti juga pulang," ucap Dion memeluk istrinya.
"Mia gak sedih. Mia hanya merasa bersalah aja sama Aa. Mia gak bisa ngurus Aa. Mia merasa gak tanggung jawab sebagai istri," ucap Mia.
"Hey, kok ngomongnya begitu sih? Kamu melakukan tugas kamu dengan sangat baik. Kamu mengandung anak kita dan harus menjaganya. Sehat-sehat ya! Kesehatan dan kebahagiaan kamu adalah tugas kamu sebagai seorang istri," ucap Dion.
Mia mengangguk. Mia tahu kalau memang saat ini yang Dion butuhkan adalah kesehatannya dan juga bayi yang ada dalam perutnya.
"Mia, kamu jangan banyak pikiran. Ada mama sama papa di sini. Kamu jangan sungkan, kami selalu ada buat kamu dan bayi ini." Nyonya Helen mengusap perut Mia.
"Terima kasih Ma, Pa. Mia beruntung bisa bertemu dengan keluarga ini," ucap Mia.
"Kami yang beruntung karena sudah bertemu kamu. Kamu membuat Dion jauh lebih bahagia. Satu hal lagi, kamu itu pembawa keberuntungan di keluarga ini. Semenjak ada kamu, perusahaan papa juga semakin berkembang pesat." Nyonya Helen terlihat sangat tulus.
Pelukan Nyonya Helen menggantikan pelukan Dion saat pria yang sangat Mia cintai itu semakin menjauh, hingga akhirnya hilang dari pandangan Mia.
Seperti halnya pengantin baru, sesampainya di Surabaya adalah menelepon Mia. Memastikan kalau istrinya baik-baik saja di rumah. Meskipun masih ada air mata yang jatuh, namun Dion yakin ini hanya tentang waktu. Mia belum terbiasa berjauhan seperti ini. Tapi apa boleh buat, ini yang terbaik buat Mia. Dion tidak ingin ambil resiko untuk calon anaknya.
Pekerjaan sedang menumpuk. Dion bahkan tidak punya waktu untuk pulang. Banyak hal baru yang harus dibenahi, hingga Dion baru bisa pulang setelah sebulan berada di Surabaya.
"Sayaaaang," teriak Dion.
Mia membuka matanya perlahan. Bibirnya tersenyum saat telinganya sayup mendengar suara suaminya. Namun matanya terpejam kembali saat menyadari kalau suaminya sedang di Surabaya.
"Sayang," ucap Dion saat membuka pintu kamarnya.
Nampak Mia sedang tertidur di bawah selimut putih yang menutupi tubuhnya. Namun sentuhan Dion di kepala Mia, membuatnya membuka mata dan tersenyum menatap istrinya.
"Aa," panggil Mia.
"Iya, ini aku Mi. Kamu baik-baik saja kan? Nayi kita juga sehat kan?" tanya Dion.
"Iya, A. Ayo sini peluk Mia. Tidur di sini," ucap Mia menepuk ranjang di sampingnya.
"Aku belum mandi. Nanti setelah mandi aku tidur di sini. Kamu tidur saja duluan," ucap Dion.
Tanpa jawaban, Dion melihat Mia sudah tertidur kembali.
"Mia, sayang," panggil Dion saat sudah selesai mandi.
Mia tidak bergeming. Masih tidur nyenyak. Dion melihat jam, masih jam sembilan.
Kamu pasti cape ya bawa anak kita di perut kamu? Jangan nakal ya Nak, kasihan Mama kamu. Sabar ya Mi!" ucap Dion sambil mengusap perut Mia.
Merasa belum terlalu malam, Dion keluar dari kamarnya. Karena bukan cuma Mia, Dion juga tidak memberi tahu Nyonya Helen dan Tuan Wira atas kedatangannya.
"Ma, Pa, sudah tidur?" tanya Dion dari balik pintu setelah mengetuk pintu kamar orang tuanya.
Nyonya Helen dan Tuan Wira tidak menjawab. Mereka malah saling menatap tidak percaya kalau itu adalah suara Dion.
"Dion? Ini kamu?" tanya Nyonya Helen sambil memegang kedua pipi Dion.
"Ya masa hantu sih, Ma? Ini Dion," Jawab Dion.
Nyonya Helen memeluk Dion dan berteriak kegirangan.
"Pa, anak kita pulang. Dion pulang," ucap Nyonya Helen.
"Iya Ma. Papa juga tahu kok. Mama biasa aja jangan lebay. Dion itu pulang dari Surabaya. Baru satu bulan juga. Nyambutnya udah kayak TKI baru pulang setelah 5 tahun kerja di Saudi deh," ucap Tuan Wira.
Tidak rindu? Bohong. Tuan Wira juga sangat merindukan kedatangan Dion. Sebagai seorang pria ia hanya sedang berusaha menutupi rasa rindunya. Keduanya memang sedang sangat sibuk. Bahkan Tuan Wira sempat ke Surabaya. Dengan dalih pengontrolan perusahaan cabang, Tuan Wira melepas rindu pada anaknya.
"Kamu kok gak bilang Mama sih kalau mau pulang?" tanya Nyonya Helen.
"Sengaja. Aku mau buat kejuatan buat kalian. Tadinya aku pikir bakal sampai sebelum jam tujuh. Tapi tadi di jalan macetnya ampun-ampunan," jawab Dion.
"Kamu berhasil bikin Mama terkejut sayang. Hampir pingsan loh Mama," ucap Nyonya Helen.
"Kenapa? Muka Dion balik dari Surabaya mirip hantu ya?" ejek Tuan Wira.
"Enak aja. Orang ganteng begini," jawab Dion.
"Ya kalau ganteng sih gimana bapaknya aja. Gak mungkin ada anak yang ngaku ganteng, kalau bapaknya gak ganteng," ucap Tuan Wira.
"Hustt ah sudah. Apaan sih kalian ini?" ucap Nyonya Helen. "Oh ya, mana Mia? Apa kamu sudah menemuinya?" lanjut Nyonya Helen.
"Mia udah tahu kok, Ma. Tadi aku langsung ke kamar, tapi sekarang Mia udah tidur," jawab Dion.
"Iya. Kamu harus ngerti ya Di. Mia itu sedang hamil. Dia pasti akan gampang lelah," jawab Nyonya Helen.
"Iya. Aku juga tadi kasihan lihat Mia. Kayaknya cape banget. Aku jadi bayangin Mama dulu pas hamil aku. Gitu juga ya Ma?" tanya Dion.
"Ya semua orang hamil memang gitu. Bedanya Mia hamil di usia lebih muda dari Mama," jawab Nyonya Helen.
"Jadi usia Mama berapa sekarang?" goda Dion.
__ADS_1
"Jangan ditanya soal umur, nanti dari ratu berubah jadi hantu. Haha," timpal Tuan Wira.
"Papaaaa," ucap Nyonya Helen geram.
"Hahaa.. Gak kok Ma. Aku cuma becanda aja. Aku minta maaf ya Ma," ucap Dion.
"Gak apa-apa. Kalau kamu Mama maafin. Tapi kalau Papa gak Mama maafin," ucap Nyonya Helen.
"Pilih kasih banget sih?" ucap Tuan Wira.
"Ya namanya juga hidup. Harus milih dong. Gimana sih Papa ini?" jawab Nyonya Helen.
"Bisa-bisanya lebih milih Dion, tapi uang belanja masih minta sama Papa. Curang," ucap Tuan Wira.
"Papa, udah ah diam dulu. Mama mau ngobrol dulu sama Dion ini, udah kangen banget. Kamu kok kaya bang toyib sih gak pulang-pulang?" tanya Nyonya Helen.
"Kan namanya perusahaan baru Ma. Masih banyak yang harus tata di sana. Dan sekarang sudah semakin baik. Iya kan Pa?" tanya Dion pada Tuan Wira.
"Pokoknya setelah menikah, kerja Dion itu Papa kasih nilai empat jempol deh. Keren. Semangat dan hasilnya OK. Terima kasih ya Di," jawab Tuan Wira.
"Semua karena doa dan motivasi dari Mia juga, Pa. Karena di balik pria yang lebih baik, ada wanita hebat yang selalu mendukungnya. Dan Mia mendukung aku banget," ucap Dion.
"Tuh kan, Mia itu emang mirip Mama. Papa juga sukses karena ada Mama di belakang Papa. Iya kan Pa?" tanya Nyonya Helen.
"Iya aja deh biar cepat," jawab Tuan Wira.
"Ish Papa gak bisa romantis dikit nih. Kali-kali belajar ya sama Dion. Sekarang Dion jauh lebih romantis. Papa kalah jauh," ejek Nyonya Helen.
Tuan Wira tidak menjawab. Ia lebih memilih menutup bahasan tentang hal yang akan membuat malam ini kehilangan jatah. Ia mencoba mengalihkan pembahasan.
"Kamu belum ngobrol sama Mia?" tanya Tuan Wira.
"Belum, mau dibangunin juga gak enak." Dion tersenyum.
"Yaaah, padahal Mia mau cerita sama kamu kamu belum tahu dong kalau Mia... Aaaaaaw Mama sakit ngapain sih cubit-cubit?" ucap Tuan Wira kesal.
"Mia kenapa? Cerita apa sih Pa? Ma, biarin papa cerita dong sama aku," ucap Dion.
"Aduh tapi Mama sama papa ngantuk nih. Kamu istirahat ya! Dadaaaah," Nyonya Helen menarik tangan Tuan Wira dan segera menutup pintu kamar.
"Papa ini ember banget sih jadi cowok? Itu kan kejutan Mia buat Dion. Ngapain pakai dibocorin? Biarin Mia dong yang bilang," ucap Nyonya Helen gemas.
"Ya maaf Ma. Kan Papa keceplosan," ucap Tuan Wira.
Sementara Dion masih menatap pintu kamar orang tuanya yang sudah tertutup rapat itu.
Mia mau cerita apa ya? Kok Mama gak bolehin Papa cerita sama aku sih? Ada rahasia apa sebenarnya? Kok Mia jadi main rahasia-rahasiaan sama aku ya?
Apa yang sebenarnya dirahasiakan Mia dari aku ya?
Rasa penasarannya sangat besar, namun rasanya Dion tidak tega jika harus membangunkan istrinya. Memberi waktu untuk istrinya beristirahat, mungkin keputusan yang tepat. Dion akan mendapat jawabannya besok.
Dion baru saja memejamkan matanya, namun matanya terbuka kembali saat tangan Mia melingkar di perutnya.
"Peluk aku Mia. Aku tahu kamu sangat merindukan hal ini kan?" ucap Dion pelan.
Kecupan di pipi Mia menjadi pengantar tidur malam itu. Tidak butuh waktu lama, Dion sudah tidur dengan pulas. Mungkin pekerjaan dan perjalanan yang sudah membuatnya merasa sangat lelah. Hingga hanya beberapa menit saja Dion sudah masuk ke alam mimpinya. Apalagi ditemani dengan hangatnya pelukan Mia. Tentu membuat Dion semakin pulas.
"Aaaaaaa," teriak Mia di pagi hari.
Dion terperanjat dan ikut berteriak.
"Siapa kamu?" tanya Mia panik.
"Hah? Kamu amnesia Mi? Masa gak kenal sama aku?" tanya Dion.
Mia menatap Dion dengan tajam.
"A Dion?" tanya Mia.
"Nah itu kamu tahu. Peluk aku sayang," ucap Dion merentangkan tangannya.
"Jangan macam-macam kamu. Suamiku di Surabaya. Apa kamu jin yang menyerupai suamiku? Pergi! Jangan ganggu aku!" teriak Mia.
"Ya Tuhan, Miaaaa. Ini aku. Mana aja jin seganteng ini? Aku Dion, suami kamu." Dion mememgang tangan Mia untuk meyakinkannya.
Namun Mia malah turun dari ranjang dan keluar dari kamar sambil berteriak memanggil Nyonya Helen.
"Mia, jangan lari. Bahaya!" ucap Dion mengingatkan.
Mia tidak mendengar ucapan Dion sambil terus berteriak.
"Mamaaaa, Maaaa," teriak Mia.
Teriakan Mia tentu disambut heboh oleh seisi rumah. Terlebih Nyonya Helen.
"Ada apa Mia? Kamu kenapa?" tanya Nyonya Helen panik.
__ADS_1
"Ada hantu di kamar Mia. Ada jin," ucap Mia.
"Hantu? Jin? Mana ada? Papaaaa, panggilkan ustadz. Rumah kita harus diruqiyah," teriak Nyonya Helen panik.
"Astagaaaa, ada apa ini pagi-pagi sudah ribut?" tanya Tuan Wira.
"Ada jin di kamar Mia Pa," jawab Mia panik.
"Gak ada. Ini aku. Bukan jin," ucap Dion.
"Tuh itu jinnya," ucap Mia sambil menunjuk ke arah Dion.
Nyonya Helen dan Tuan Wira saling menatap dan menghela nafas panjang.
"Ma, Pa, kok pada diam sih? Ayo panggil ustadznya," ucap Mia.
"Sepertinya kamu yang harus di ruqiyah Mia," ucap Nyonya Helen.
"Loh? Kok Mama gitu sih?" tanya Mia.
"Itu suami kamu. Jin dari mana?" ucap Nyonya Helen kesal.
"Suami Mia? Kan A Dion masih di Surabaya," ucap Mia.
"Dia udah pulang dari semalam," ucap Nyonya Helen.
"Aa?" tanya Mia.
"Iya. Aku mau bikin kejutan. Tapi pas sampai kamu sudah tidur. Eh tapi semalam kamu juga bangun kok. Kamu lihat aku kan tadi malam?" tanya Dion.
"Gak," jawab Mia singkat sambil menggelengkan kepalanya.
"Miaaaa, jadi semalam kamu mengigau? Astagaaaa, hancur sudah kejutanku," ucap Dion memegang kepalanya.
"Maaf," ucap Dion pelan.
"Iya nih Mia. Kamu ini ada-ada saja. Gara-gara kamu teriak pagi-pagi, kamu gak lihat nih alis Mama jadi tebel sebelah," ucap Nyonya Helen.
Semua orang yang tidak menyadari semua itu, karena pengakuan Nyonya Helen semuanya jadi fokus ke alis Nyonya Helen dan tertawa keras.
"Ah, udah bikin jantungan terus bikin kesel deh. Mama mau marah aja ah," ucap Nyonya Helen sambil masuk kembali ke dalam kamarnya.
"Lagian Mama mau kemana sih pagi-pagu udah alisan aja?" tanya Dion.
"Mama mau ikut ke kantor. Teman lama papa baru sampai Jakarta dan dia mau main ke kantor sama istrinya," jawab Tuan Wira yang kemudian mengikuti istrinya untuk kembali ke dalam kamarnya.
"Aa, Mama marah ya sama Mia?" tanya Mia.
"Gak, Mama cuma kesal aja karena kita semua malah menertawakan Mama. Lagian salah sendiri kenapa alisan sampe tebel sebelah begitu?" ucap Dion.
"Kan gara-gara Mia teriak-teriak A. Mama pasti marah sih sama Mia. Mia mau ke kamar Mama ya! Mia mau minta maaf," ucap Mia.
"Mama kalau lagi dandan jangan diganggu. Nanti makin marah. Pagi ini kan mau ke kantor Papa? Kita jangan bikin mood Mama makin berantakan ya!" ucap Dion.
Melihat wajah Mia yang terlihat merasa sangat bersalah, Dion mengajak Mia untuk kembali ke kamarnya.
"Ayo dong sayang! Aku kan udah buat kejutan buat kamu. Kok kamu malah sedih gini? Kamu gak seneng ya lihat aku pulang?" tanya Dion.
"Seneng A. Tapi Mia ngerasa gak enak aja sama Mama," ucap Mia.
"Kalau gak enak kasih sama kucing. Kalau yang enak-enak kasih sama aku dong. Aku udah sebulan nih gak dapat jatah yang enak-enak. Sekarang yuk!" ajak Dion.
"Hah?" tanya Mia.
"Kenapa? Gak mau?" tanya Dion.
Mia mengatupkan mulutnya yang menganga. Ya memang benar, sejujurnya Mia tidak mau melayani Dion pagi itu. Bukan tidak sayang, tapi karena ini sudah pagi. Mia malu kalau sampai Nyonya Helen dan Tuan Wira menggedor kamar mereka. Karena mereka sudah bersiap untuk pergi ke kantor.
Tapi Mia juga menyadari kalau Dion memang membutuhkan dirinya. Mana mungkin Mia menolak apa yang sudah menjadi hak Dion.
"Tapi jangan lama-lama ya!" ucap Mia.
"Udah lama gak gitu, pas gitu jangan lama? Gimana ceritanya? Penyiksaan itu namanya. Ya harus full dong durasinya. Ganti libur selama sebulan loh Mia," ucap Dion.
"Ya kan bisa dicicil A," jawab Mia.
"Gak bisa. Aku gak buka kreditan. Harus dibayar tunaaaai, kontaaaan." Dion menatap Mia dengan tajam.
Kalau sudah begini, apa yang bisa Mia lakukan? Kecuali pasrah. Membiarkan Dion menuntaskan apa yang ia inginkan. Sebulan bukan waktu yang sebentar untuk menahan kerinduan terhadap Mia. Maka, saat waktunya bertemu dengan Mia ya bisa dibayangkan apa yang akan terjadi di kamar itu. Eh tapi jangan dibayangkan, bahaya.
#################
Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.
Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
__ADS_1
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
Terima kasih..