Janda Bersegel

Janda Bersegel
Bab 9


__ADS_3

Semenjak Mia mengetahui apa yang terjadi antara Haji Hamid dan Dev, Mia menjadi jaga jarak dengan keduanya. Entah bagaimana perasannya kini, yang pasti Mia merasa hidupnya suram sekali.


"Mia," panggil Haji Hamid.


"Masuk, Pak Haji." Mia tengah membuka mukena saat Haji Hamid masuk.


"Besok kau sudah bisa sekolah. Aku sengaja memanggil gurunya ke sini. Jam 10 kau harus sudah siap ya!" ucap Haji Hamid.


"Bisa sekolah di rumah?" tanya Mia bingung.


"Siapa yang bilang tidak bisa?" tanya Haji Hamid meledek Mia.


Mia hanya tersenyum malu. Mia akui, dirinya memang sangat ketinggalan urusan pendidikan. Namun jika urusan rumah tangga, Mia jagonya. Sudah tidak usah diragukan lagi.


Haji Hamid keluar dari kamarnya. Mia membereskan mukena dan pergi ke dapur. Sepertinya hujan begini enak kalau minum teh hangat.


"Mia, kau sedang apa?" tanya Dev yang tiba-tiba muncul di belakangnya.


Mia terkejut saat melihat Dev tiba-tiba muncul di sana. "Eh, Dev. Ini Mia membuat teh hangat," jawab Mia.


"Aku mau, buatkan sekalian ya!" pinta Dev.


Mia mengangguk dan tersenyum. Mia tahu apa yang terjadi diantara Haji Hamid dan Dev adalah dosa besar, tapi dirinya tak punya kapasitas untuk menghakimi keduanya. Mia juga melihat kalau Dev berusaha mengakrabkan diri dengan Mia. Sekarang, Mia berusaha untuk membuka dirinya agar bisa berteman baik dengan Dev.


"Mia, kau bisa belajar bahasa Inggris?" tanya Dev.


"Boro-boro bahasa Inggris, makan aja masih singkong." Mia terlihat acuh. Baginya tidak penting bahasa Inggris. Masih bisa bertahan untuk makan juga sudah luar biasa.


"Apa hubungannya bahasa Inggris dengan makan singkong?" tanya Dev.


"Lidah saya kaku. Kalau mau pinter bahasa Inggris katanya harus makan keju, Dev." Mia menjawab dengan begitu polos sambil mengaduk gelas yang berisi air teh.


Dev tertawa mendengar jawaban Mia. Ternyata, semakin akrab dengan gadis ini membuat Dev menjadi nyaman. "Mia, maukah kau berteman denganku?" tanya Dev penuh harap.


"Benarkah mau berteman dengan Mia?" tanya Mia sambil menyerahkan segelas teh hangat pada Dev.


"Tidak boleh ya?" tanya Dev menatap Mia. Sedangkan tangannya mengambil secangkir teh hangat yang diberikan oleh Mia.

__ADS_1


"Bukan begitu. Aneh saja rasanya. Bagi Mia tak ada yang namanya teman selain Pak Haji. Terkahir kali Mia punya teman itu sejak masih sekolah. Setelah lulus, yang Mia tahu hanya majikan saja. Mia bekerja dari pagi sampai malam. Jadi tak ada yang namanya teman, Dev." Wajah polos itu masih menghiasi percakapan mereka.


Dev memperhatikan Mia. Ada banyak potensi dari Mia yang bisa ditangkap oleh Dev. Mia sangat cekatan dan juga jujur. Untuk tamatan SMP, ia termasuk kategori cerdas.


"Kau sekolah yang benar. Nanti kalau sudah lulus, aku akan memberikanmu hadiah." Dev menyemangati Mia.


"Wah, benarkah?" tanya Mia.


"Tentu," jawab Dev.


"Apa hadiahnya?" tanya Mia.


"Apapun yang kau mau," tantang Dev.


"Boleh minta dua ponsel? Tapi yang ada kameranya." Mia tersenyum lebar hingga menampakkan deretan gigi putihnya.


Dev menatapnya heran. Seistimewa itukah sebuah ponsel bagi Mia?


"Kenapa harus dua? Kau maruk sekali Mia." Dev menggoda Mia.


"Kalau satu, percuma. Bagaimana Mia bisa menghubungi ibu?" tanya Mia dengan cemberut.


Mia belum sempat menjawab. Ia hanya tersenyum dan semakin bersemangat. Ingin rasanya segera belajar.


Dev menghampiri Haji Hamid yang sedang duduk santai melihat berita di televisi. "Say, eh.. Hamid, aku ingin bicara." Dev duduk di sofa dekat dengan Haji Hamid.


Setelah Mia pingsan, mereka bersepakat untuk bersikap normal selama ada Mia.


"Apa? Katakanlah!" ucap Haji Hamid.


"Kau ambil dimana anak kancil itu? Lincah sekali. Tapi dia sangat primitif bagiku. Apa dia tidak pernah memegang ponsel?" tanya Dev.


"Dia anak yang cerdas. Tapi hidupnya tak seberuntung kita. Aku juga berniat membelikannya ponsel. Tapi nanti setelah renovasi rumah ibunya selesai," ucap Haji Hamid.


"Kenapa harus menunggu nanti?" tanya Dev penasaran.


"Anak itu terlalu polos. Mia pasti ingin pulang saat mendengar apalagi melihat wajah ibunya. Dan aku tak akan mengizinkan Mia pulang, karena ia akan bekerja membantu bapanya." Haji Hamid menyeruput kopi gooday kesukaannya yang tinggal setengah lagi.

__ADS_1


banyak hal yang Dev dan Haji Hamid bicarakan tentang Mia. Sampai akhirnya Dev tahu bagaimana kehidupan Mia sebelumnya dan mengapa. Haji Hamid memilih Mia untuk menjadi istrinya.


"Mia, ini laptop dan bukunya." Haji Hamid menyerahkan sebuah laptop dan satu buku catatan beserta pulpennya.


Mia menerimanya dengan bingung. Melihat laptop itu dan membolak balikannya. Pertama kalinya Mia bisa menyentuh benda semewah itu dalam hidupnya. Saat SMP, yang Mia tahu hanya sebuah komputer. Itu juga hanya seminggu sekali saat praktek pelajaran TIK.


"Bagaimana menggunakannya Pak Haji?" tanya Mia.


"Kau akan belajar besok dengan gurumu." Pak Haji meminggalkan Mia.


"Eh, Pak Haji," panggil Mia.


"Ada apa lagi?" tanya Haji Hamid yang berdiri di ambang pintu kamar Mia.


"Tumben Pak Haji pelit," ucap Mia.


"Apa?" tanya Haji Hamid bingung. Padahal Haji Hamid sudah memberikan semua yang Mia butuhkan, tapi anak itu masih saja menyebutnya pelit.


"Ini!" Mia mengangkat sebuah buku pemberian Haji Hamid.


"Buku?" tanya Haji Hamid.


"Iya, kenapa hanya satu? di SMP saja Mia harus punya belasan buku. Masa ini hanya satu? Nanti gurunya marah kalau semua pelajaran Mia tulis di satu buku. Dulu saja, Mia dihukum bu guru karena menggabung dua pelajaran dalam satu buku. Bagian depan Mia pakai untuk pelajaran bahasa Indonesia, yang belakang dipakai untuk pelajaran Matematika. Itu baru dua pelajaran. Bagaimana semua pelajaran jadi satu buku?" tanya Mia polos.


Kenapa harus ada anak sepolos ini Tuhaaaan. Kuatkan aku menghadapinya agar tensiku tidak naik.


"Mia, aku mendaftarkanmu untuk kelas online. Guru yang ku panggil itu untuk mengajarkanmu mengaplikasikan setiap tugas dalam laptop ini. Jadi bukunya hanya digunakan untuk mencatat beberapa hal penting saja," ucap Haji Hamid sesabar mungkin mengahadapi Mia.


"Oh," Mia mengangguk.


"Sudah paham?" tanya Haji Hamid.


"Belum," jawab Mia menggeleng dengan wajah polosnya.


Haji Hamid menghela napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan lembut. Tak lama ia menepuk jidatnya.


"Biar gurumu yang akan menjelaskan semuanya besok. Aku mau tidur dulu. Aku lelah," ucap Haji Hamid.

__ADS_1


"Ok, terima kasih Pak Haji," ucap Mia sambil mengangkat kedua jempol tangannya.


"Iya, sama-sama." Haji Hamid meninggalkan kamar Mia dan menutupnya kembali.


__ADS_2