Janda Bersegel

Janda Bersegel
Dion junior dan Mia junior


__ADS_3

"A, sakit." Mia mulai lelah dan menggenggam erat tangan Dion.


"Iya aku tahu kamu sakit. Sabar ya! Ada aku di sini," ucap Dion.


Dion mengusap kepala Mia dan merapikan rambutnya yang semakin berantakan. Berkali-kali Dion mengusap air mata yang mengalir di pipi Mia.


"A, Mia cengeng ya?" tanya Mia.


"Gak, kamu wanita kuat. Kamu gak cengeng," jawab Dion.


"Tapi Mia gak kuat A," ucap Mia.


"Mia, kamu pasti kuat. Mama yakin kamu pasti bisa. Semangat sayang," ucap Nyonya Helen.


Nyonya Helen mengusap air mata Mia dan mencium kepala Mia. Keringat yang mulai bercucuran membuat Mia terlihat sangat lelah. Nyonya Helen berusaha untuk tetap terlihat tegar saat melihat Mia lemah. Meskipun sulit, tapi ia harus bisa membuat mereka kuat menghadapi semua ini.


"Ayo Nyonya kita mulai lagi," ucap Dokter.


Mia mengangguk. Tangannya sudah siap menggenggam erat tangan Dion. Dion merelakan tangannya terluka karena kuku Mia yang menancap di tangan Dion. Dion tahu perih di tangannya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan sakit yang tengah Mia rasakan.


"Ayo Mi, kamu pasti bisa!" Dion kembali menguatkan Mia.


"Aaaaaa," teriak Mia.


"Bagus Nyonya, ayo sedikit lagi." Dokter itu terus memberi semangat pada Mia.


"Sakit Dok," ucap Mia sembari menangis.


"Sedikit lagi Nyonya. Jangan berteriak, itu akan menghabiskan energi. Mata Anda juga jangan tertutup begitu. Tetap buka mata Anda dan mengedan tanpa berteriak. Anda pasti bisa," ucap Dokter.


Lagi, lagi, dan lagi. Mia masih berusaha namun belum berhasil. Dion tetap berada di samping Mia terus menguatkan dan meyakinkan Mia. Dion kembali menangis saat melihat Mia sudah semakin gelisah.


"Sayang, kalau kamu gak kuat kita SC saja ya!" ucap Dion.


"Hussst," ucap Nyonya Helen menyikut tangan Dion. "Mia kamu pasti bisa kok. Sedikit lagi. Ayo!" lanjut Nyonya Helen.


Mia mengangguk dan mengusap air matanya. Ia menarik nafas panjang dan bersiap untuk kembali mengedan.


"Ma, tapi kalau di SC Mia gak mungkin seperti Ini. Gak bakal sesakit ini Ma," ucap Dion.


"Sok tahu. Memangnya kamu pernah SC?" tanya Nyonya Helen.


"Ya gak Ma. Tapi kan kalau di SC itu dibius. Mia gak bakal sakit," jawab Dion.


"Tapi sakit pasca SC akan lebih lama. Jangan buat Mia ngedrop. Bangkitkan semangat Mia. Gimana sih kamu?" ucap Nyonya Helen kesal.


"Aaaaaaa," teriak Dion.


Kali ini bukan Mia, tapi Dion yang berteriak. Bagaimana tidak, rambut Dion di jambak oleh Mia dengan sekuat tenaga. Sedangkan tangan kirinya dicengkram kuat hingga kuku Mia menancap kembali di tangan Dion.


"Dion, kamu jangan berisik!" ucap Nyonya Helen.


"Mama gak tahu apa gimana rasanya jadi aku?" tanya Dion dengan berbisik.


"Aaaaaaaa," teriak Dion lagi.


"Dion, berisik." Nyonya Helen menginjak kaki Dion.


"Aduh Ma, tambah sakit ini. Mama keterlaluan," ucap Dion.


Kini bukan hanya tangan dan kepalanya yang sakit, tapi kakinya juga sakit karena diinjak oleh sendal Nyonya Helen dengan hak setinggi 5 senti.


"Kamu yang keterlaluan," ucap Nyonya Helen kesal.


"Maaf, Nyonya Helen dan Tuan sebaiknya silahkan berdiskusi di luar. Kasihan Nyonya Mia," ucap Dokter itu.


"Oh iya Dokter, maaf. Ayo Mia semangat," ucap Dion.


Waktu terus berjalan, Mia sudah semakin lemah dan gelisah. Dion sudah berulang kali menawarkan pilihan kedua, namun Mia menolak. Nyonya Helen kembali menguatkan Mia agar tetap semangat.


"Ma, gak kuat. Sakit," ucap Mia dengan bibir bergetar.


Nyonya Helen segera memeluk Mia. Ia berbisik di telinga Mia.


"Kamu pasti kuat sayang. Kamu bisa. Ada kami di sini. Kamu adalah wanita kuat. Ayo berjuang! Ibu pasti melihatmu dari surga. Ibu pasti bangga melihat kamu begitu kuat menghadapi semua ini," ucap Nyonya Helen.


Ibu? Mendengar kata ibu, fikiran Mia melayang pada sosok wanita tangguh yang selama hidupnya selalu memberikan yang terbaik untuk Mia. Berjuang jiwa dan raganya untuk anak satu-satunya.


Bu, Mia pasti bisa. Ini cucu ibu. Ibu pasti senangkan melihat mereka? Bantu Mia bu. Bantu Mia menghadapi semua masa sulit ini.


"Dokter, mules." Mia kembali memegang erat tangan Dion.


"Ayo Nyonya kita mulai lagi. Jangan patah semangat!" ucap Dokter memberi semangat untuk Mia.


"Aaaaaaa," Mia dan Dion berteriak bersamaan.


"Owaaaaa, owaaaa," tangis bayi pecah setelah keluar dari perut Mia.


"Dokter kamu apakan bayiku?" teriak Dion.


"Maaf Tuan, apa maksud Anda?" tanya Dokter itu bingung.


"Kenapa bayiku menangis? Apa kamu menyakitinya?" tanya Dion.


Dokter itu menunduk dan menarik nafas. Entah ingin tertawa atau justru marah dengan pertanyaan konyol yang belum pernah ia temui sebelumnya.


"Dion," bentak Nyonya Helen.


"Apa sih Ma?" tanya Dion bingung.


"Pertanyaan kamu itu konyol. Setiap bayi lahir pasti menangis. Kamu mau anak kamu pas lahir ketawa? Mama sih takut," ucap Nyonya Helen.


"Oh gitu ya Ma?" tanya Dion.


"Iya," jawab Nyonya Helen ketus.


"Ya maaf. Aku kan gak tahu. Oh ya anak kami laki-laki atau perempuan, Dokter?" tanya Dion sembari mengusap-usap kepalanya yang terasa pusing.


Jambakan Mia cukup kuat hingga Dion merasa rambutnya hampir copot. Belum lagi luka bekas kuku Mia di tangannya yang mulai mengeluarkan darah. Namun semua rasa sakit itu terobati saat mendengar tangisan bayinya.


"Laki-laki, Tuan." jawab Dokter.


"Yes, Dion junior coming," ucap Dion dengan sangat bangga.


Dion dan Mia yang sengaja tidak menanyakan jenis kelamin bayi kembar mereka, ingin mendapat kejutan saat lahiran tiba. Seperti hari ini. Dion bersorak sangat bahagia saat tebakannya tepat. Dion memprediksi kalau bayi pertama mereka akan berjenis kelamin laki-laki.


"Alhamdulilaaaah akhirnya cucuku lahir," ucap Nyonya Helen dengan girang.

__ADS_1


Nyonya Helen menarik kerah baju Dion dan menguncangnya. Ia melompat-lompat dan bertepuk tangan.


"Cucuku lahir. Akhirnya, Aku jadi Oma. Pa, kamu udah jadi Opa sekarang. Aduh, Papa pasti seneng sih ini." ucap Nyonya Helen bahagia.


Tangannya kembali mengguncang baju Dion.


"Di, Mama jadi Oma. Mama bahagia," ucap Nyonya Helen.


"Aku juga bahagia Ma. Tapi maaf ini dilepas dong tangannya. Kecekek ini leher aku," ucap Dion.


"Ya ampun Di. Maafin Mama ya! Mama terlalu bahagia ini," ucap Nyonya Helen.


"Maaf, Nyonya Helen dan Tuan Dion. Perjuangan Nyonya Mia belum berakhir. Masih ada satu bayi lagi," ucap Dokter mengingatkan.


"Ah lupa Dokter. Ayo Mia lagi, satu lagi. Kamu pasti bisa," ucap Nyonya Helen.


Dengan arahan dokter, Mia kembali mengedan setelah mules itu datang kembali. Namun kali ini Mia semakin lemah. Meskipun selang infus sudah terpasang, energi Mia sudah semakin menurun.


"Siapkan alat vakum sekarang!" ucap Dokter.


"Dimana?" tanya Dion.


"Maaf Tuan, saya memintanya pada perawat," ucap Dokter.


"Oh, aku kira bicara sama aku." Dion nampak malu.


"Ini Dokter," ucap perawat itu menyerahkan alat vakum.


"Apa itu?" tanya Dion.


"Ini alat vakum," jawab Dokter.


"Untuk apa?" tanya Dion.


"Ini adalah alat untuk membantu Nyonya melahirkan bayinya, Tuan. Nyonya sudah kehilangan banyak energi. Ini akan sangat membantu Nyonya," ucap Dokter.


"Oh ya sudah. Lakukan segera!" perintah Dion.


Bagaimana aku bisa melakukannya dengan cepat kalau Anda terus mengganggu aktivitas kami Tuan.


"Ayo Nyonya! Mulai," ucap Dokter setelah memasukkan alat vakum.


"Aaaaaa," teriak Dion saat Mia mengedan.


Seperti kelahiran bayi pertamanya. Dion berteriak saat Mia menjambak rambutnya hingga kepalanya menyentuh tubuh Mia.


"Akhirnya," ucap Dokter dengan lega.


"Laki-laki lagi atau perempuan?" tanya Dion.


"Perempuan Tuan," jawab Dokter.


"Yeaaaay, Mia junior coming." Dion bertepuk tangan bahagia.


"Tapi," ucap Dokter.


"Tapi apa?" tanya Dion panik.


Setelah melakukan tindakan vakum untuk anak kedua Mia, akhirnya bayi kedua lahir. Namun Dokter panik karena bayi kedua tidak menangis saat lahir.


"Dokter, ada apa lagi ini?" tanya Dion setelah menyadari bayi keduanya tidak menangis.


"Tadi Mama bilang setiap bayi lahir pasti menangis. Kenapa anak keduanya gak nangis?" tanya Dion.


"Gak nangis?" tanya Nyonya Helen.


Nyonya Helen baru tersadar kalau bayi kedua tidak menangis.


"Dokter kenapa ini?" tanya Nyonya Helen panik.


"Maaf Nyonya, kami sedang melakukan tindakan. Mohon sabar dan berdoa," jawab dokter itu.


Sabar dan berdoa? Dion dan Nyonya Helen saling menatap dan mencari kesimpulan ucapan dokter itu. Mereka melihat Mia, nampak Mia semakin cemas dengan wajah pucatnya.


"A, bayi kita gak apa-apa kan?" tanya Mia.


"Gak apa-apa Mi. Bayi kita baik-baik saja. Mereka sudah lahir dan kita akan merawatnya dengan baik. Kamu tidak perlu khawatir Mia," ucap Dion menenangkan.


Dion tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia juga panik dengan keadaan bayi kedua mereka, namun ia tidak boleh membuat Mia semakin sedih.


Cara demi cara tim medis lakukan untuk menolong bayi kedua Mia dan Dion. Setelah hampir lima belas menit akhirnya tangis bayi mulai terdengar. Dokter yang menangani proses persalinan Mia mengusap dada dan bersyukur atas keajaiban yang terjadi.


"Ma, nangis. Bayi kedua nangis," ucap Dion dengan mata berkaca.


"Iya. Dia menangis. Mia, kamu harus semangat. Bayi kalian nangis," ucap Nyonya Helen.


Tuhaaaaan terima kasih untuk semua anugerah luar biasa yang sudah Engkau berikan pada keluarga kami. Harta yang tak ternilai sudah ada di kehidupan kami.


"Di, selamat. Kamu sudah jadi Papa. Kamu punya dia anak sekaligus," ucap Nyonya Helen memeluk Dion.


Nyonya Helen masih tidak menyangka jika kini Dion sudah memiliki anak kembar. Padahal rasanya baru kemarin Nyonya Helen melahirkan Dion.


"Ma, terima kasih ya! Dion gak tahu harus bilang apa sama Mama. Perjuangan Mama untuk Dion tidak akan pernah bisa Dion balas. Dion sayang sama Mama," ucap Dion.


Haru, Mia harus kembali menyeka air matanya saat mendengar kalimat demi kalimat yang diucapkan suaminya.


"Mama tidak pernah menganggapmu sebagai Dion yang sudah menajdi seorang Papa. Bagi Mama, kamu tetap Dionnya Mama. Anak yang Mama sayangi apapun keadaannya," ucap Nyonya Helen.


"Ma," ucap Dion dengan bibir bergetar.


"Aw," jerit Mia.


"Kenapa Mi?" tanya Dion.


"Sakit A," jawab Mia.


"Masih sakit?" tanya Dion.


Mia mengangguk dan kembali meringis. Dion menjadi bingung saat melihat salah seorang perawat masih berada di sekitar Mia.


"Kamu lagi ngapain sih?" tanya Dion.


"Menjahit jala lahir Nyonya yang robek, Tuan." Perawat itu menjawab dengan sangat sopan.


Bukan karena sabar, namun mereka tahu siapa pria menyebalkan yang ada di hadapannya itu.


"Menjahit? Kamu fikir Mia ini kain? Main jahit-jahit aja," ucap Dion kesal.

__ADS_1


"Dion, diam." Nyonya Helen tidak kalah kesal.


Dion menatap Mia dengan tatapan tidak tega. Berkali-kali Mia meringis karena menahan sakit.


"Dokter, lama sekali. Berapa lama lagi?" tanya Dion.


"Sebentar lagi," jawab Dokter.


Setelah beberapa saat, akhirnya selesai juga. Mia nampak sangat kelelahan. Wajahnya yang pucat nampak lemas. Tak lama, Mia tertidur.


"Mia" panggil Dion.


"Dion, biarkan Mia tidur dulu. Mia pasti lelah," ucap Nyonya Helen.


Iya. Benar kata Mama. Mia pasti lelah. Tidurlah Mi. Istirahat. Terima kasih sudah berjuang mempertaruhkan nyawamu demi anak kita. Aku sayang kamu, Mi.


"Mana bayiku?" tanya Dion.


"Dibersihkan dulu oleh perawat, Tuan." Dokter itu menjawab dengan tetap fokus pada Mia.


"Dimana?" tanya Dion.


"Di belakang Tuan," Jawab Dokter.


"Terus kenapa Dokter masih di sini? Ayo bantu bersihkan bayiku," ucap Dion.


"Maaf Tuan, tapi ada perawat yang sudah bertugas di sana," ucap Dokter.


"Apa mereka bisa diandalkan?" tanya Dion.


"Dion, jangan berisik," ucap Nyonya Helen.


Dion cemberut karena tidak sabar ingin segera menggendong bayinya. Namun sampai sekarang bayinya masih belum juga bisa ia temui.


Selama menunggu Dion terus menggerutu. Gerutuan itu baru usai setelah bayi kembar itu dibawa ke hadapan Dion dan Mia. Mia yang tertidur tiba-tiba terbangun setelah mendengar tangis bayi kembarnya.


"Anak-anak Mama," ucap Mia sembari berkaca.


Perawat membantu Mia untuk belajar menyusui anak kembar mereka. Kedua bayi itu didekatkan pada Mia dan mulai belajar menyusu. Sakit, itu yang Mia rasakan. Namun saat melihat kedua anaknya sedang menghisap ASInya, Mia tersenyum bahagia.


"Nyonya, kalau ASInya tidak cukup kita bisa memberikan susu formula pada bayi kembar ini," ucap salah seorang perawat yang sedang membantu menyusukan bayi laki-laki.


Pada umumnya, bayi laki-laki memang menyusu lebih banyak dan lebih sering dibandingkan bayi perempuan. Termasuk saat ini, saat ASI Mia belum banyak, bayi laki-laki Mia nampak menangis.


"Tapi Mia mau ASI eksklusif buat bayi kembar kita A," ucap Mia.


Dion tidak menjawab. Ia hanya melihat kebarah perawat agar ia bisa membantu menjelaskannya pada Mia.


"Nyonya Anda akan tetap memberikan ASI Anda, hanya saja sebelum ASInya memadai, Anda bisa memakai susu formula untuk membantu asupan susunya." ucap perawat itu.


"Mi, semuanya buat bayi kita juga. Jangan sedih ya!" ucap Dion.


Mia mengangguk. Meskipun begitu, hatinya tetap sedih karena harapannya bisa memberikan ASI eksklusif kini hanya tinggal kenangan. Ternyata kebutuhan ASI untuk bayi kembarnya tidak terpenuhi hingga Mia harus memberikan susu formula pada bayi kembarnya.


"Yang penting kan kamu masih tetap menyusi bayi kembar kamu, Mi. Kamu masih bertanggung jawab penuh kok untuk mereka. Kamu jangan sedih ya!" ucap Nyonya Helen menguatkan Mia.


"Iya Ma," jawab Mia.


Pemikiran Mia memang sedikit berbeda. Saat banyak wanita karir tidak ingin menyusui anaknya, Mia justru berjuang keras agar bisa menyusui hingga anaknya dua tahun nanti.


Setelah bayi kembar mereka menyusu, Nyonya Helen menggendong salah satu cucunya.


"Dion, gendong satu lagi." ucap Nyonya Helen.


"Gak bisa Ma," ucap Dion sambil menggelengkan kepalanya.


"Gak bisa. Belajar dong. Masa kamu cuma bisa bikinnya aja. Kalau bikinnya bareng-bareng, ya ngurusnya juga harus bareng-bareng. Ayo gendong bayinya!" ucap Nyonya Helen.


Mama apaan sih bahas beginian di depan dokter dan perawat. Bikin malu aja.


"Sini bayinya. Pelan-pelan ya!" ucap Dion pada perawat yang memberikan salah satu bayinya.


Dion nampak tidak percaya diri, namun Nyonya Helen dan Mia terus meyakinkan Dion kalau ia pasti bisa. Setelah Dion makin percaya diri, Dion menyerahkan ponselnya pada seorang perawat dan memintanya memotret mereka. Momen yang sangat spesial seperti ini memang harus diabadikan.


"Mana hasilnya?" tanya Nyonya Helen.


"Ini Nyonya," ucap perawat memberikan ponsel Dion.


"Ah bagus sekali. Lagi, lagi ya! Dion, ayo tukeran bayi. Terus kita juga ganti gaya ya! Mia kamu senyumnya lebih lebar ya!" ucap Nyonya Helen yang sibuk mengatur angel untuk foto mereka.


Beberapa foto sudah diambil dengan hasil yang memuaskan. Bayi kembar Dion dan Mia dibawa kenbali ke ruang perawatan. Sembari menunggu Mia tidur, Nyonya Helen ingin mengirimkan foto itu pada Tuan Wira.


"Di, kirim fotonya ke Mama," pinta Nyonya Helen.


"Siap Ma," ucap Dion.


Nyonya Helen nampak memainkan ponselnya dan berkali-kali tersenyum bahagia.


"Yes berhasil," ucap Nyonya Helen.


"Berhasil apa Ma?" tanya Dion.


"Berhasil terkirim ke Papa," jawab Nyonya Helen.


"Papa?" tanya Dion.


"Iya," jawab Nyonya Helen.


Dion bahkan sampai melupakan Papanya. Ia tidak memberi tahu apapun tentang Mia.


"Kenapa aku bisa sampai lupa sama Papa ya?" tanya Dion. "Papa pasti marah," lanjutnya.


Dan dugaan Dion memang tepat. Saat ini Tuan Wira tengah marah saat menerima kiriman foto cucu kembarnya digendong oleh istri dan anaknya.


Tuan Wira tidak menanggapi kiriman foto dari Nyonya Helen. Ia lebih memilih untuk segera menyelesaikan pekerjaannya dan pulang ke Jakarta. Rasanya sudah tidak sabar ingin segera menggendong cucu kembarnya. Meskipun harapannya pupus ketika ingin menjadi orang pertama yang menggendong cucu kembarnya.


######################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.

__ADS_1


Terima kasih..


__ADS_2