
"Mia," sapa Tuan Felix.
Mia memang sengaja menyambut kepulangan Tuan Felix dari rumah sakit. Ia menunduk hormat saat Tuan Felix menyapanya.
"Tuan," sapa Mia kembali.
Mia dan Nyonya Helen ikut mengantar Tuan Felix ke dalam kamarnya. Dion tak melepaskan Mia dari pandangannya. Ia merasa Mia berbeda. Wajahnya pucat.
"Apa kamu sakit, sayang?" bisik Dion.
Mia menggeleng. Namun entah mengapa Dion menangkap kebohongan dari Mia. Ia merangkul bahu istrinya. Perlahan tangannya mengusap kepala dan telapak tangannya menyempatkan untuk mendarat di dahi istrinya.
"Aku permisi dulu ya! Mau lihat Narendra dan Naura," pamit Dion.
Nampak kekecewaan dalam raut Tuan Felix. Ia masih ingin bicara dengan Mia. Sehari tidak bertemu dengan Mia, kenapa Tuan Felix merasa ingin bersama Mia?
Apa hanya karena Mia itu anak baik? Atau memang karena? Ah, sudahlah. Untuk apa aku banyak berharap? Tapi Mia mirip sekali dengan dia. Lagi pula kata Wira, Mia bukan anak bapaknya.
"Tuan? Apa ada masalah?" tanya Dion.
"Eh tidak. Silahkan!" jawab Tuan Felix.
Lamunannya buyar saat Dion curiga dengan tatapannya yang terlalu dalam pada Mia.
Dengan sangat mesra, Dion merangkul Mia dan segera mengajaknya keluar. Mia sudah tahu kalau Dion tengah cemburu. Dan Mia sangat tidak nyaman menghadapi Dion saat seperti ini.
Tidak ingin melayani kekonyolan Dion, Mia hanya mengikuti langkah suaminya. Tidak ke kamar Naura dan Narendra, Dion membawa Mia ke kamarnya.
"Mi," ucap Dion.
"A, kenapa sih harus cemburu sama Tuan Felix?" tanya Mia memotong ucapan Dion.
"Heh? Sembarangan. Bukan begitu, kamu gak tahu ada hal penting yang aku tahu dari Tuan Felix," jawab Dion.
Hah? hal penting? Jadi Aa bukan cemburu?
"Kamu kok malah ngelamun sih Mi?" tanya Dion.
"Gak, siapa yang ngelamun. Mia aneh aja sama Aa," selidik Mia.
"Aku mau cerita tapi takut tersinggung kamunya," ucap Dion.
"Apaan sih A?" tanya Mia penasaran.
"Gak ah, nanti kamu tersinggung. Terus marah lagi sama aku," ucap Dion.
"Mia janji gak marah deh," ucap Mia.
"Beneran?" tanya Dion.
Mia melihat Dion mengangkat jari kelingkingnya. Tanpa pikir panjang Mia membalas dengan mengaitkan jari kelingkingnya dengan kelingking Dion.
"Jadi gini," ucap Dion.
Dion menceritakan curhatan Tuan Felix saat ia pernah mencintai wanita Indonesia yang cantik. Namun ia ditinggalkan begitu saja dan hilang kontak sampai saat ini.
"Jadi hubungannya sama Mia?" tanya Mia.
"Apa mungkin dia ayah biologis kamu?" tanya Dion.
"Hah?" tanya Mia terkejut.
__ADS_1
Mata Mia membulat sempurna saat mendengar pertanyaan Dion. Mia memang menceritakan tentang dirinya yang tidak diakui oleh Pak Baskoro. Bahkan selalu disebut sebagai anak haram. Tapi mungkinkah?
Mia mulai berpikir, Tuan Felix berasal dari Jerman. Dulu juga Pak Baskoro sering menyebut-nyebut negara Jerman jika sedang bertengkar dengan Bu Ningsih. Yang Mia tahu, Bu Ningsih memang pernah jadi TKW di Jerman.
"Mia," panggil Dion.
Dion mengguncang pelan tubuh Mia. Ia melihat dengan lekat respon istrinya. Tidak marah, namun wajah pucat itu membuat Dion merasa bersalah. Kini Mia nampak begitu sedih.
"Mi, maafin aku. Mungkin ini hanya perasaan aku aja. Karena Tuan Felix selalu berusaha mencari tahu tentang kamu. Nama yang pertama kali ia sebut ketika sadar juga nama kamu," ucap Dion.
Masih ada beberapa alasan yang membuat Dion merasa kalau dugaannya begitu kuat. Namun ia menghentikan ucapannya saat Mia terlihat semakin sedih.
"Mi, maafin aku ya! Aku gak maksud buat nyakitin kamu. Ya udah kamu istirahat aja. Aku mau mandi dulu," ucap Dion.
Namun langkah Dion terhenti saat Mia menarik tangannya.
"Benarkah?" tanya Mia.
"Apa aku terlihat seperti berbohong?" tanya Dion.
Mia kembali menatap bola mata suaminya. Ya, Dion serius. Lagi pula Dion tidak mungkin membuat hal seperti ini menjadi bahan becandaan.
"Apa masih ada kemungkinan yang lain?" tanya Mia.
"Kamu begitu khawatir dan berusaha keras untuk mendapat donor darah. Aku rasa itu lebih dari empati. Aku melihat itu sebuah naluri," ucap Dion.
Mia belum berkomentar. Ia hanya sedang mencerna setiap kemungkinan yang Dion pikirkan. Dan itu semua memang Mia rasakan.
"Mia, maaf kalau ucapanku tidak berkenan. Tapi aku hanya berusaha mengungkapkan apa yang mengganjal di hatiku. Lupakan kalau semua ini hanya menjadi beban baru untuk kamu. Aku mandi dulu ya!" ucap Dion.
Dion membiarkan Mia sendiri. Memberi waktu kepada Mia untuk memahami apa yang Dion sampaikan.
"Apakah ini masalah baru dalam hidup Mia?" gumamnya dengan suara bergetar.
Malam kian larut, Dion mengunci tubuh Mia dalam pelukannya. Ia berharap istrinya bisa tidur nyenyak malam ini. Melupakan sejenak tentang apa yang menjadi beban dalam hidupnya.
"Selamat tidur!" bisik Dion di telinga Mia.
Tuhaaan, semoga Mia bisa melupakan semuanya. Masalah Tuan Felix sudah datang, padahal masalah Rian juga belum ada jalan keluarnya. Kenapa hidup Mia jadi ribet begini sih?
Mia memejamkan matanya dan membawa masalahnya untuk ia buang di alam bawah sadarnya. Berharap ketika matanya terbuka, ia sudah melupakan semuanya.
"Tidaaaaaaak," teriak Mia.
Mia membuka matanya dengan napas terengah-engah sementara keringat bercucuran di dahinya. Mia memeluk erat selimut yang ada dalam dekapannya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Dion yang terkejut.
"Mia mimpi buruk. Buruk banget A," jawab Mia.
"Mimpi itu kan hanya bunga tidur. Jadi kamu tenangin diri kamu ya!" ucap Dion.
Mia berusaha untuk mebgatur napasnya untuk kembali normal. Setelah itu sebuah gelas disuguhkan oleh Dion. Matanya melihat ke arah Dion.
"Ayo minum! Biar kamu lebih tenang," ucap Dion.
Mia mengambil gelas itu dan segera menghabiskan air itu. Dion mengajak Mia tidur kembali karena ini masih tengah malam. Mia kesal karena Dion tidak bertanya tentang mimpinya. Sementara Dion melakukan semua itu agar Mia sesegera mungkin melupakan mimpi buruk yang tidak perlu ia ingat.
Dalam balutan selimut, Mia membayangkan kembali mimpi tadi yang terasa nyata. Mia memejamkam matanya dan menggelengkan kepalanya. Ia berusaha untuk melupakan semua mimpi itu.
"Mia, ayo tidur lagi!" ajak Dion.
__ADS_1
Mia kembali memejamkan matanya. Meskipun mimpi buruk tentang Rian masih tergambar jelas dalam ingatannya.
Pagi-pagi Mia sudah duduk termenung dengan segelas teh hangat dalam genggamannya. Dion yang baru bangun mengerutkan dahinya saat melihat Mia sudah dandan rapi.
"Udah bangun A?" tanya Mia.
"Kamu mau kemana? Rapi bener," ucap Dion.
"Mau ke rumah sakit, pulangnya mau jemput Rian. Mia mau semua beban ini enyah," ucap Mia.
"Ke rumah sakit? Ngapain?" tanya Dion.
"Test DNA," jawab Mia dengan entengnya.
"Hah?" tanya Dion.
Dion seger turun dari ranjang dan mendekati Mia uang sedang duduk di sofa. Ia memegang dahi istrinya.
"A, ngapain sih?" tanya Mia sembari menjauhkan kepalanya dari tangan Dion.
"Kamu gak sakit kan?" tanya Dion.
Dion mencubit kedua pipi Mia dan mengoyaknya dengan gemas.
"Kamu gak ngigau kan? Kamu sadar kan Mi?" tanya Dion panik.
Lagi-lagi Mia menjauhkan wajahnya dari tangan Dion.
"A, lepasin ah. Mia sadar. Makanya Mia mau beresin semua ini" ucap Mia.
"Mia, maafin aku kalau ucapan aku semalam bikin kamu jadi semakin terbebani begini ya!" ucap Dion.
"Miia justru senang Aa bisa jujur sama Mia. Makanya biar dugaan ini gak berlarut-larut, Mia mau ke rumah sakit. Mia mau buktiin semuanya," ucap Mia.
"Tapi kamu mau test DNA pakai apa?" tanya Dion.
"Mia udah minta Mba buat bawa rambut Tuan Felix," jawab Mia.
"Kok bisa?" tanya Dion.
"Ya bisa lah," jawab Mia.
Dengan ide dari Mia, Mba masuk ke kamar Tuan Felix.Beralasan untuk membersihkan tempat tidurnya, Mba berhasil mengambil beberapa helai rambut Tuan Felix yang memang ada di sarung bantalnya.
"Kamu yakin?" tanya Dion.
"Yakin," jawab Mia.
"Lalu masalah hasilnya nanti gimana?" tanya Dion.
Mia diam. Jujur, Mia berharap jika hasil testnya tidak sesuai. Mia belum siap seandainya kenyataan membuktikan kalau Tuan Felix adalah ayah kandungnya. Walaupun sebenarnya Mia butuh sosok seorang ayah kandung, tapi itu dulu. Kini ia sudah menemukan Tuan Wira yang memperlakukannya seperti anak kandungnya sendiri.
######################
Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
__ADS_1
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.