
Dion masuk ke dalam kamar dan melemparkan sebuah bunga ke atas sofa.
"A, gimana Nyonya Nathalie?" tanya Mia.
"Pulang," jawab Dion singkat.
"Bunganya bagus," ucap Mia.
"Kamu tahu apa tentng bunga? Itu sangat jelek. Nanti aku belikan yang bagus," ucap Dion.
"Terus kalau jelek, kenapa bunganya dibawa ke kamar?" tanya Mia.
Iya ya. Ngapain aku bawa bunga dari Nyonya Nathalie ke kamar? Gak ada kerjaan banget sih aku?
"Karena aku mau nunjukkin ke kamu, kalau bunga yang jelek itu yang begitu. Buat pelajaran aja. Biar kamu ngerti soal bunga," ucap Dion.
Sayangnya kini Mia sudah tidak sepolos dulu. Ia tidak bisa dengan mudah percaya dengan apa yang disampaikan oleh pria yang tengah cemberut itu.
"Sayang," panggil Mia.
"Hemm," jawab Dion malas
"Mau aku pijat gak?" tanya Mia.
Mudah-mudahan dia gak mau.
"Boleh," jawab Dion.
Dion segera membuka baju dan tidur di hadapan Mia.
Hah? Kan Mia cuma basa basi. Biar dia gak marah. Harusnya kan dia bilang gak usah, aku ketemu kamu aja udah bahagia. Dihh, A Dion gak romantis banget sih?
"Mia, ayo! Katanya mau mijit?" tanya Dion.
"Eh iya. Sebentar A!" ucap Mia.
Mia yang bengong langsung terperanjat dan bersiap memijat punggung suaminya. Mia mulai memijat, matanya menatap punggung Dion. Ada yang berbeda.
"A, kok kayaknya kurusan ya?" tanya Mia.
"Oh ya? Masa sih Mi?" tanya Dion.
"Iya, terakhir Aa ke Surabaya gak sekurus ini deh perasaan. Aa gak dikasih makan ya di sana?" tanya Mia.
"Waduh, enak aja. Masa iya aku gak dikasih makan Mi?" ucap Dion.
Dion bertanya pada dirinya sendiri. Benarkan ia semakin kurus? Tapi memang akhir-akhir ini ia sering telat makan. Pekerjaan yang menumpuk menyebabkan pola makannya tidak teratur. Jarak yang berjauhan dengan Mia juga menjadi salah satu penyebabnya mungkin.
Mia memang sering mengingatkan Dion makan, namun kadang ia hanya mengiyakan tanpa melaksanakan. Bukan karena makanannya tidak enak. Tapi karena Dion merasa hari-harinya melelahkan ia menjadi kurang berselera untuk makan.
"Terus ini kenapa Aa kurus begini? Mia bisa malu kalau jalan sama Aa," ucap Mia.
"Hah? Kok malu?" tanya Dion panik.
"Malu lah. Nanti kata orang-orang pasti istrinya galak atau pelit," jawab Mia.
"Kok bisa begitu?" tanya Dion.
"Bisa lah. Orang pikir nanti kalau Aa kurus itu pasti karena Mia galak, jadi sering marahin Aa. Atau kalau gak galak, Mia pelit. Mia yang makan banyak makanya Mia gemuk." Mia cemberut menahan kesal.
"Hubungannya sama aku apa Mi kalau kamu galak dan pelit?" tanya Dion.
"Kalau Mia galak, itu artinya Aa gak bahagia. Aa ngebatin, karena Mia omelin terus tiap hari. Kalau Mia pelit, itu artinya Aa gak kebagian makan karena Mia yang abisin makanan punya Aa. Jadi lemak dan daging di tubuh Aa kesedot sama Mia," ucap Mia.
Dion hanya bisa tertawa. Ia sama sekali tidak pernah kepikiran hal receh seperti itu.
"Jangan ketawa!" ucap Mia kesal.
Uhukk.. Uhukk.
"Pelan-pelan dong Mi. Ini mijat apa penganiayaan?" tanya Dion.
"Makanya jangan ketawa," ucap Mia.
"Iya, aku gak ketawa nih. Aku mingkem aja ya!" ucap Dion.
Mia tidak merespon ucapan Dion. Ia hanya memijat Dion dengan wajah kesal. Dion juga tidak berani berkomentar apapun. Ia takut salah lagi. Ia hanya menutup mulutnya dan sesekali memejamkan matanya cukup lama untuk menikmati pijatan istrinya. Tapi tidak saat sebuah cubitan cukup keras mendarat di punggungnya.
"Aduh, Mi. Kamu kenapa sih?" tanya Dion.
Dion segera bangun dan mengsuap punggungnya.
"Aa keterlaluan. Aa pikir Mia tukang pijat? Mia cape-cape mijat Aa, tapi Aa malah enak-enakan tidur. Bikin kesel deh," ucap Mia.
Aduh, drama sudah dimulai nih. Sabar Dion sabar. Ini bawaan bayi. Ingat ya! Kuncinya sabar.
"Siapa yang tidur Mi? Aku gak tidur kok," ucap Dion membela diri.
"Tapi Aa gak ada suaranya," jawab Mia.
"Ya kan kamu juga gak ngomong apa-apa Mi," ucap Dion.
__ADS_1
"Ya makanya Aa dong yang ngomong," ucap Mia kesal.
Ngomong salah. Gak ngomong salah. Aku selalu salah di mata kamu Mi. Aduh, lama-lama aku bisa migrain nih.
"Aku harus ngomong apa Mi?" tanya Dion.
"Ya Aa ngomong apa aja. Yang penting gak diem gitu. Kan Mia kesel," ucap Mia.
Oke Dion, waktunya ngomong. Tapi ngomong apa? Ayo berpikir. Cari bahasan yang akan membuat Mia tertarik.
"Mi, terima kasih ya. Berkat kamu, mulai sekarang aku bisa pindah tugas loh ke Jakarta. Kita bisa kerja sama-sama di sini," ucap Dion.
Mia menatap Dion. Hati Dion tengah harap-harap cemas. Ia menanti respon yang akan Mia tunjukkan. Antara dia marah gak jelas lagi, atau justru dia tidak mengerti. Ah, Dion sudah pasrah. Ia harus sadar bahwa setiap yang ia lakukan memang selalu salah, saat mood Mia berantakan begini.
"Aa, jadi maksudnya?" tanya Mia.
Hah? Kemana nih maksudnya? Aduh otak jangan sampai telmi begini. Bukan waktu yang tepat. Tolong, mengertilah maksud Mia.
"Ya," ucap Dion menganggukkan kepala.
"Jadi maksud Aa dari tadi gak ngomong itu saking bahagianya? Aa sampai lupa kalau ada istri yang lagi mijitin Aa. Sekarang di kepala Aa cuma ada kerja, kerja, kerja. Gak ngerti lagi Mia sama Aa," ucap Mia sembari berdecak kesal.
"Mi, bukan begitu. Maksud aku tuh," ucapan Dion terhenti saat Mia segera memotong ucapannya.
"Gak perlu jelasin apapun A. Mia udah ngerti sekarang. Di depan Mama aja Aa bilang jangan suruh Mia kerja. Nyatanya Aa senang kan? Bahkan Aa cuma mikirin itu saat berdua sama Mia sekalipun," ucap Mia kesal.
Mia beranjak dari tempat tidurnya. Ia pergi keluar dari kamar dan membanting pintu cukup keras. Dion cukup terkejut melihat sikap Mia.
Aduh. Ini istri aku kenapa sih? Aku sampe pusing mikirin mood Mia yang berubah-ubah.
Dion mencari kaos dan memakainya lalu mencari Mia keluar.
"Mia, jangan dimakan!" ucap Dion.
"Hah? Memangnya kenapa?" tanya Mia panik.
"Itu dari Nyonya Nathalie," ucap Dion.
Mia menatap Dion dengn dahinya yang mengkerut. Dion yang mengerti maksud Mia segera menjelaskan maksud ucapannya.
"Mia, maksud aku, kamu jangan makan makanan yang tidak jelas," ucap Dion.
"Ini jelas A. Ini namanya kue coklat. Dan Mia suka," ucap Mia.
"Nanti kita beli ya! Nanti aku beliin yang lebih enak dari ini," ucap Dion.
"Lama A. Ini aja yang ada," ucap Mia.
"Aku janji beliin kamu yang lebih enak," ucap Dion.
"Kamu ini bandel banget kalau dibilangin," ucap Dion.
Dion merebut kue coklat yang ada di hadapan Mia dan membuangnya ke tempat sampah.
"Aa," teriak Mia.
Mia yang kesal memukul tangan Dion lalu pergi ke kamar. Dion hanya duduk dan menunduk. Ia merenungi semua ini. Berpikir keras siapa yang salah dalam kasus ini. Apakah memang Mia yang bandel atau justru ia yang terlalu berlebihan?
Mungkin Dion tidak memahami mood Mia yang tengah hamil. Mungkin juga memang karena Dion terlalu mengekang Mia, jika berurusan dengan Nyonya Nathalie.
Jujur saja, sampai saat ini Dion belum bisa menerima semua kebaikan Nyonya Nathalie pada Mia. Terkesan mendadak dan tidak masuk akal. Dalam rangka apa? Itu yang belum terpecahkan bagi Dion.
"Mia," panggil Dion.
Rasa bersalah menyeruak dalam hatinya saat melihat Mia tengah menangis di dalam kamar. Maaf. Hanya itu yang ada di kepalanya. Dion tidak tahu apa yang harus dilakukannya selain minta maaf. Meskipun ia tahu, Mia belum tentu menerima permintaan maafnya.
"Sayang, maaf." Dion mendekat dan mengusap kepala Mia.
Mia tidak menjawab. Namun dari sikapnya Dion tahu Mia belum memaafkannya. Mia lebih memilih untuk memalingkan wajahnya. Tak ingin bertatap muka dengan suaminya, Mia memilih menghindar. Ia masih kecewa. Bagi Mia, sikap Dion saat membuang kue coklat itu sangat keterlaluan.
"Kamu mau aku gimana biar bisa menebus kesalahanku?" tanya Dion.
Mia menggeleng. Tanpa jawaban, Dion hanya mendengar isak tangis. Semakin lama, rasa bersalah itu berubah menjadi rasa kesal. Dion merasa ia sudah lelah dengan sikap Mia yang sangat menjengkelkan.
"Terserah kamu saja. Aku cape. Kamu pikir cuma kamu yang bisa marah? Aku juga bisa!" ucap Dion kesal.
Dion membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya. Dadanya bergemuruh. Nafasnya sudah tidak beraturan. Rasa marah dan kesal beradu hingga membuatnya merasa sedikit sesak. Saat ini Dion tidak bisa menerima sikap Mia yang memang sedang tidak terkontrol.
Merasa Mia turun dari ranjangnya dan keluar dari kamar, Dion bersikukuh dengan keputusannya untuk tetap memejamkan matanya. Tidak bertanya kemana tujuan Mia, Dion hanya berusaha menenangkan dirinya sendiri. Percuma Dion mengejar Mia kalau keadaannya sendiri sedang tidak baik.
Sekitar sepuluh menit, Mia belum kembali ke kamar. Dion membuka matanya. Duduk dengan menyandarkan punggungnya di atas ranjang, ia mencoba menormalkan pikirannya. Dion ke kamar mandi dan mencuci muka. Ia menatap wajahnya yang masih basah pada pantulan cermin di kamar mandi.
"Mia, maafkan aku yang sudah egois. Aku salah. Aku yang salah. Maafkan aku," gumam Dion.
Tangannya mengepal. Dion merasa kesal pada dirinya sendiri karena gagal mengerti keadaan Mia. Ia bahkan lupa kalau Mia tengah mengandung dua bayi sekaligus dalam perutnya. Mia pasti lelah.
Dion mengeringkan wajahnya dan merapikan rambutnya. Ia memastikan kalau wajahnya jauh lebih segar dari sebelumnya. Ia keluar dan mencari Mia.
"Sayang," panggil Mia.
Mia menoleh dan mengusap sudut matanya. Sembab, mata Mia nampak sembab. Dion menunduk. Hatinya sakit melihat istrinya yang terlihat sembab.
__ADS_1
"Maafkan aku," ucap Dion.
Dion mendekat dan memeluk Mia dari belakang. Tangannya mengusap perut Mia yang semakin besar. Bibirnya berbisik di telinga Mia. Berkali-kali meminta maaf.
"A, seharusnya Aa tidak keterlaluan seperti itu. Aa boleh membenci Nyonya Nathalie, tapi bukan berarti Aa harus membuang makanan itu. Mubadzir A. Aa tahu kan kalau mubadzir itu temannya setan?" tanya Mia.
Aduh, baru aja aku minta maaf. Aku berusaha sesabar dan seromantis mungkin. Beginikah cara kamu meresponnya Mia? Maksudmu aky teman setan? Sabar Dion. Sabar!
Pelukan Dion melonggar. Perlahan ia menjauhkan tubuhnya dan berdiri di hadapan Mia. Mengubur semua kekesalannya dan berusaha untuk selalu mengerti keadaan Mia.
"Aku salah. Aku minta maaf," ucap Dion.
"Aa gk tahu kan kalau kue coklat itu kesukaan Mia? Nyonya Nathalie sengaja membawakannya untuk Mia, tapi Aa membuangnya begitu saja. Mia rasa Nyonya Nathalie sudah berubah A," ucap Mia.
"Nanti aku carikan kue coklat ya buat mengganti kue tadi. Maafkan aku kalau bersikap keterlaluan. Aku hanya masih tidak habis fikir saja atas sikap Nyonya Nathalie yang berbeda seratus delapan puluh derajat. Mungkin benar apa yang kamu bilang. Dia bisa saja berubah. Tapi apa motivasinya? Kenapa dia bisa berubah secepat itu?" tanya Dion.
Dion berusaha mengungkapkan pendapatnya. Berharap kalau Mia juga bisa menerima pemikirannya. Namun sepertinya harapan Dion sia-sia. Mia tetap membela Nyonya Nathalie. Kali ini Dion mengalah. Mengiyakan setiap pemikiran Mia, agar semuanya segera berakhir. Dion lelah terus-terusan bertengkar hanya karena Nyonya Nathalie.
"Mia maafkan. Tapi jangan sampai diulang lagi ya!" ucap Mia.
"Iya," jawab Dion.
"Janji?" tanya Mia.
Mia mengangkat jari kelingkingnya. Mengajak Dion berjanji agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Walaupun malas, Dion mengangkat kelingkingnya. Mengikuti apa yang Mia inginkan.
Berhasil! Senyum merekah kini sudah menghiasi wajah Mia.
"Kamu jauh lebih cantik kalau senyum begini," ucap Dion mengecup singkat bibir Mia.
"Jadi tadi gak cantik?" tanya Mia cemberut.
Ampun. Jangan mulai lagi Mia. Game baru berakhir. Mana mungkin sudah harus start lagi. Energi aku habis Mia. Ku mohon!
"Miaaa," ucap Dion.
Dion berusaha berpikir untuk membahas sesuatu yang baru agar keluar dari pertengkaran lagi.
"Sebagai gantinya Aa harus nemenin Mia jalan-jalan besok ya!" ucap Mia.
"Oh tentu! Kemanapun aku siap antar kalian," ucap Dion.
"Kalian? Jadi karena Mia lebar, Aa bilang kalian?" tanya Mia kesal.
"Ya ampun Mia, bukam gitu. Maksud aku tuh kamu dan bayi kembar kita. Jadi kalian itu adalah kamu bertiga," jawab Dion panik.
"Oh, begitu ya! Maaf ya A. Mia pikir Aa ngejek Mia karena badan Mia lebar," ucap Mia.
Iya, kamu emang selalu buruk sangka sama aku. Giliran ke Nyonya Nathalie aja, selalu berpikirn positif. Cemburu aku Mi.
"Iya Mi, gak apa-apa. Aku ngerti kok. Hormon kehamilan kamu pasti bikin kamu gak nyaman. Tapi aku janji akan berusaha untuk selalu mengerti kamu. Aku juga minta maaf ya kalau aku kurang sabar menghadapi kamu. Aku cape Mi, kadang emosi aku juga gak stabil. Aku minta maaf ya!" ucap Dion mengecup kepala Mia.
"Gak apa-apa A kalau kurang sabar, asal jangan kurang duit aja! Hehe," ucap Mia.
"Sudah mulai matre ya sekarang? Belajar sama siapa nih?" goda Dion.
Bukan marah, Dion malah suka saat Mia terkesan matre. Bukannya menantang, tapi selama ini, Mia terlalu hemat bagi Dion.
"Belajar dari pengalaman. Hidup di keluarga ini serba mahal. Makan mahal, baju mahal, sendal mahal, makanya kalau kurang duit, bisa-bisa sakit kepala tujuh turunan. Ahahaha," ucap Mia.
Dion hanya tertawa dan memeluk gemas istrinya. Jika dibandingkan dengan kehidupan Mia sebelumnya, tentu kehidupan Dion itu sangat mewah. Mia yang pernah merasakan hidup mewah dengan keluarga Danu, hidup keluarga Dion jauh lebih mewah. Tapi bagi Dion yang terbiasa hidup mewah, segala kemewahan dalam hidupnya memang sudah sewajarnya.
Mia sempat berpikir untuk mengajarkan anaknya agar tidak mengikuti gaya kehidupan keluarga Dion. Namun ia kembali berpikir ulang. Rasanya tidak adil jika Mia membiarkan anaknya hidup menderita. Cukup Mia yang selalu menderita selama ini. Anaknya berhak bahagia.
Hemat kan bukan berarti pelit. Buat apa uang terus ditumpuk kalau gak dipake? Kasian suami yang cape-cape kerja cari duit, kalau duitnya dimakan rayap. Apalagi yang rayap betina yang merayap ke rumah tangga orang. Dihh ngeri!
Mia bergidik membayangkan hal buruk seperti itu. Mungkin kali ini Mia sudah mulai membiasakan diri agar bisa mengikuti gaya hidup keluarga Dion.
"Kamu kenapa?" tanya Dion.
"Gak. Kapan Aa gajian?" tanya Mia.
"Hah? Kok tiba-tiba nanya gajian?" tanya Dion.
"Mau jajan sepuasnya," jawab Mia.
"Gak perlu nunggu gajian, kamu boleh jajan sepuasnya kapanpun kamu mau. Asal jangan seblak, baso aci, cilok, cilor, ci---" Dion harus menghentikan ucapannya karena tangan Mia membungkam mulutnya.
"Itu sama artinya kalau Mia gak boleh jajan apa-apa. Dasar pelit," ucap Mia.
Mia pergi meninggalkan Dion yang menelan ludahnya dengan sangat sulit.
Marah lagi? Kan masih banyak jajanan sehat yang lain Mi. Eh sabar Dion. Kesabaranmu sedang diuji. Tapi kali ini ujiannya bertubi-tubi Tuhaaaan. Ibarat kata, ini aku masih TK, tapi ujiannya bisa bikin aku langsung wisuda sarjana.
####################
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
__ADS_1
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
Terima kasih..