
Danu dan Mia terperanjat saat mendengar teriakan dari Nyonya Nathalie.
"Sudah ku bilang kau jangan kurang ajar pada Mia. Dia anak baik. Jangan karena dia janda kamu jadi merendahkan Mia. Mami tidak suka. Papi harus tahu," ucap Nyonya Nathalie sambil keluar dari ruangan Mia.
"Mi, tunggu!" ucap Danu sambil berusaha mengejar Nyonya Nathalie, namun langkahnya dicegah oleh Mia.
Tak lama Nyonya Natahalie kembali masuk sambil menyeret Tuan Ferdinan.
"Danu, jangan membuat nama keluarga menjadi jelek dengan kelakuanmu. Kalau mau begituan jangan di sini! Pergi ke hotel," ucap Tuan Ferdinan.
"Kau dengar itu Danu?" ucap Nyonya Nathalie dengan napas yang terengah-engah karena menahan amarah.
"Begituan? Ke hotel? Jadi papi kalau begituan suka ke hotel ya?" tanya Danu memasang wajah polos.
Nyonya Nathalie yang sudah mereda tiba-tiba kembali marah dengan ucapan Danu.
"Jadi papi suka begituan di hotel? Sama siapa?" teriak Nyonya Nathalie histeris sambil memukul-mukul badan Tuan Ferdinan.
"Hah? Kok jadi papi? Papi kan cuma kasih saran sama Danu, Mi." Tuan Ferdinan membela diri.
"Kan Danu juga cuma nanya Pi," jawab Danu menahan tawanya.
Tuan Ferdinan yang merasa kesal langsung mengacungkan kepalan tangannya pada Danu. Sementara ia punya tugas besar untuk meredakan amarah istrinya karena ulah Danu.
Dengan segala cara yang dikeluarkan oleh Tuan Ferdinan, akhirnya Nyonya Nathalie luluh juga. Dan kesempatan bagi Tuan Ferdinan untuk mengingatkan masalah awalnya yaitu untuk mencerca Danu. Harapannya adalah ingin melihat bagaimana istrinya yang selalu membela Danu itu, memaki anak kesayangannya yang selalu mendebat dan membantah Tuan Ferdinan.
Kesempatan emas baginya. Tak lama mereka kembali masuk ke ruangan Danu. Tapi sayangnya, Mia sudah tidak ada di sana. Hanya ada Danu yang sedang meringis manahan sakit.
"Mana Mia?" tanya Nyonya Nathalie.
"Ke ruangannya. Kan harus kerja. Kalau gak kerja, bisa-bisa dipecat sama Papi," jawab Danu.
"Oh, jadi setelah kepergok 'bekerja' di sini, Mia kau suruh kembali ke ruangannya. Begitu?" ucap Tuan Ferdinan yang berusaha menjadi kompor agar istrinya marah pada Danu.
"Danuuuu, keterlaluan kamu. Mami kecewa, kecewa, kesal," ucap Nyonya Nathalie yang memukuli tubuh Danu.
Tuan Ferdinan tersenyum puas saat menyaksikan semua itu. Kini tiba giliran Danu yang akan merasakan penderitaan yang sudah ia alami itu.
"Mami, aw sakit." Danu menyentuh kakinya yang luka.
"Kenapa?" tanya Nyonya Nathalie melihat ke arah kaki Danu.
"Kena knalpot," jawab Danu sambil meringis.
"Ya ampun, anak mami. Sakit sayang?" tanya Nyonya Nathalie yang berlutut melihat betis Danu.
"Mi, bangun." Danu mengangkat tubuh ibunya.
__ADS_1
Nyonya Nathalie memeluk anak semata wayangnya dan memeluknya. "Maafkan mami sayang. Maafkan Mami," ucap Nyonya Nathalie.
"Sudahlah Mi, ini tidak seberapa sakit dibanding sama sakitnya hati mami menghadapi semua kebodohan dan kenakalanku," ucap Danu menyapu air mata Nyonya Nathalie.
Tuan Ferdinan nampak cemberut. Hatinya kesal karena ia tak jadi melihat Danu dimaki dan dijewer ibunya. Ia memilih untuk duduk di sofa dan mau tidak mau menyaksikan adegan yang tidak diharapkannya.
"Jadi, tadi itu?" tanya Nyonya Nathalie.
Danu melihat wajah ibunya dan mengangguk. Nyonya Nathalie sudah salah paham atas apa yang dilihatnya. Saat masuk ke dalam ruangan, Nyonya Nathalie melihat Danu yang sedang duduk di kursi dan Mia berjongkok di bawahnya. Kegiatan yang tidak terlihat dengan jelas, Nyonya Nathalie langsung menyimpulkan hanya dengan melihat wajah Danu yang meringis. Nyonya Nathalie berpikir kalau Mia sedang menikmati atau hanya sekedar mengukur benda pusaka milik Danu. Nyatanya yang Mia lakukan adalah mengobati luka Danu saja.
Nyonya Nathalie hampir saja berpikir semuanya karena status Mia, hingga Mia bisa mengajarkan aweu-aweu pada Danu. Meskipun secara logika, Danu tidak perlu diajarkan. Meskipun status anaknya adalah bujangan, tapi Nyonya Nathalie yakin kalau Danu bisa mengimbangi pengalaman Mia.
"Maafkan Mami karena sudah berburuk sangka padamu," ucap Nyonya Nathalie.
"Aku yang harus minta maaf sama Mami," ucap Danu.
Nyonya Nathalie yang selalu saja menganggap Danu anak kecil, membuatnya selalu berlebihan. Bahkan hari ini saja, karena betis Danu terkenal knalpot motor Mia, Danu sampai dibawa pulang oleh Nyonya Nathalie. Danu harus ke dokter dan istirahat total di rumah. Dan hal itu yang membuat Tuan Ferdinan kesal.
Danu tahu ini berlebihan, tapi tak ada gunanya menantang ibunya. Jika saja Danu berani menantang apa yang diinginkan ibunya, bisa-bisa urusannya semakin panjang dan repot. Nyonya Nathalie pasti akan menangis karena sedih yang berkepanjangan, belum lagi ibunya akan merasa kecewa dengan penolakan Danu.
Tapi ada untungnya, Danu akan melihat ayahnya semakin kesal. Tak lupa Danu melambaikan tangannya pada Tuan Ferdinan sebelum keluar dari ruangannya. Tuan Ferdinan sudah menatap malas ke arah Danu. Sedangkan Danu nampak tersenyum penuh kemenangan saat melihat raut kekesalan yang teramat dalam pada ayahnya.
"Mami, sebentar ya! Ada yang ketinggalan," ucap Danu.
Nyonya Nathalie mengangguk dan membiarkan Danu kembali ke ruangannya. Sebenarnya tak ada yang ketinggalan. Danu hanya belum puas saja melihat kekesalan ayahnya.
"Kamu lagi?" tanya Tuan Ferdinan saat melihat Danu kembali lagi.
"Memangnya kenapa? Kamu ngapain di sini? Cepat sana katanya mau ke dokter, terus nanti istirahat total di rumah. Manja sekali," ejek Tuan Ferdinan.
"Ih, ini ruangan Danu. Papi betah ya di ruangan Danu? Atau papi lagi masih kangen sama Danu? Sini Danu peluk sini," ucap Danu yang merentangkan tangannya dan berjalan mendekati ayahnya.
Tuan Ferdinan segera berdiri dan menjauh dari Danu. "Jangan terlalu percaya diri kamu," ucapnya ketus.
"Papi iri ya karena gak dimanja sama Mami? Papi mau? Gampang kok pi, tinggal tempel aja tuh kaki ke knalpot Mia." Danu tertawa puas dan kembali melambaikan tangannya pada Tuan Ferdinan.
Rasa kesal Tuan Ferdinan semakin menjadi hingga ia meraih berkas yang ada di meja Danu dan melemparkannya. Sayang sekali, pintu terlanjur tertutup hingga berkas itu jatuh menghantam pintu. Dengan rasa kesal yang masih terasa, Tuan Ferdinan bermaksud untuk kembali ke ruangannya. Namun ketika ia menyentuh gagang pintu, pintu sudah terbuka. Nampak wajah Danu menyeringai di balik pintu.
"Pi, emang kalau begituan di hotel mana?" ejek Danu sambil berlari menjauh dari ruangannya meskipun dengan kaki yang masih perih.
Tak masalah. Rasa perihnya tak seberapa dengan hatinya yang puas melihat ayahnya sangat kesal pagi ini.
Tuan Ferdinan memang kesal bukan main dengan sikap anak semata wayangnya itu. Ia kembali ke ruangannya dengan perasaan dongkol. Saat ia sudah berhasil duduk di kursi empuk miliknya, ia menarik napas dalam-dalam. Sepertinya paru-parunya butuh oksigen yang cukup agar kembali tenang.
Setelah beberapa kali menghirup dan menghela napas dengan sangat dalam, ia pun kembali merasa lebih tenang. Dalam duduknya, Tuan Ferdinan tiba-tiba saja tersenyum. Ia tak habis pikir dengan hubungannya dengan Danu.
Sempat merenggang karena Tuan Ferdinan yang menekan Danu untuk segera menikah, kini hubungannya justru menjadi semakin hangat dengan Danu. Banyak hal yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya dengan Danu, dan semenjak ada Mia justru mereka semakin dekat.
__ADS_1
"Terima kasih Mia," gumam Tuan Ferdinan.
"Terima kasih untuk apa Tuan?" tanya Mia yang nampak kebingungan.
"Mia?" tanya Tuan Ferdinan yang terkejut karena kedatangan Mia.
"Iya Tuan," jawab Mia.
Tuan Ferdinan mengucek matanya. Meyakinkan dirinya kalau Mia memang ada di hadapannya. Benar! Mia memang ada di hadapannya.
"Mia, lancang sekali kau masuk tanpa mengetuk pintu?" ucap Tuan Ferdinan.
"Maaf Tuan, tapi tadi Mia sudah memanggil Anda, tapi Anda tidak menghiraukan panggila Mia. Mia juga tidak mengetuk pintu karena pintunya sudah terbuka lebar sejak Mia ke sini. Maaf Tuan," ucap Mia dengan nada yang gemetar.
Hilang sudah hasil latihan Mia untuk selalu terlihat elegan saat di kantor. Semuanya hanya karena kumis Tuan Ferdinan yang selalu tampak menyeramkan bagi Mia, saat Tuan besar itu sedang memarahinya.
Tuan Ferdinan melihat ke arah Mia yang sedang menunduk ketakutan. Kemudian ia melihat ke arah pintu yang memang terbuka lebar. Ia kembali menatap Mia. Ada berkas yang ia bawa.
"Apa itu?" tanya Tuan Ferdinan.
Ucapannya melembut karena tak tega melihat Mia ketakutan seperti itu.
"Ini berkas Tuan," jawab Mia.
"Siapa yang bilang itu laptop? Semua juga tahu itu adalah berkas. Maksudku, berkas apa yang kau bawa?" tanya Tuan Ferdinan.
Baru saja nada bicaranya melembut, namun kini sudah naik beberapa oktaf lagi. Sikap Mia memang selalu saja membuatnya emosi dan menggelengkan kepalanya.
"Oh, ini berkas yang harus ditandatangani oleh Tuan, sekarang. Karena nanti siang harus dikirimkan ke mitra Tuan," ucap Mia.
"Sini!" pinta Tuan Ferdinan pada Mia.
Selesai menandatangani, Mia segera pergi karena telunjuk. Tuan Ferdinan sudah mengarah ke pintu keluar.
Tuan Ferdinan mengamati Mia dengan sudut matanya. Setelah sosok Mia tidak nampak, ia segera berdiri dan menutup pintu ruangannya. Bagaimana mungkin ia melupakan pintu ruangannya yang terbuka begitu lebar sejak tadi? Ia menjadi malu sendiri, siapa saja yang mendengar ucapannya selain Mia?
Tuan Ferdinan menutup wajahnya. Merasa malu sendiri dengan apa yang terjadi padanya. Hari ini ia merasa sial bertubi-tubi. Semua itu gara-gra knalpot.
Ada satu hal yang harus diacungi jempol. Mia berhasil menghandle pekerjaan Danu. Karena seharusnya Danu yang mengerjakan berkas itu. Sedangkan Danu sedang ke rumah sakit dengan istrinya, dan ia melupakan berkas yang memang harus segera selesai hari ini. Mia sudsah menyelamatkan nama baik perusahaanya.
Memang sudah sepantasnya ucapan terima kasih itu untuk Mia. Bahkan seharusnya, Mia diberi hadiah atas keloyalannya dalam bekerja. Belum ada karyawan yang seperti Mia. Anak baru yang bisa menyesuaikan bahkan mengejar dan memimpin dalam hal kemampuan, jika dibandingkan dengan karyawan lamanya.
##################
Yuks tap like, vote, love, dan rate5 nya kakak...
Dukungan kalian sangat berarti bagi semangat mimin..
__ADS_1
Makasih..
Happy reading kalian😍😍..