Janda Bersegel

Janda Bersegel
Maaf, aku gak bisa!


__ADS_3

"Mi, kamu mau bilang apa ke Mama?" tanya Dion saat Mia sedang memasangkan dasinya.


"Mama udah tahu kok kalau Mia mau jemput Rian," jawab Mia.


Dion memegang tangan Mia dan menggenggamnya.


"Kapan kamu ngobrolnya?" tanya Dion.


Dion tidak tahu kalau Mia bangun lebih pagi dan meminta Mba untuk mengambil rambut Tuan Felix. Saat mba sedang di kamar Tuan Felix, Mia memberanikan diri mengetuk pintu kamar ibu mertuanya. Ia harus segera mengungkapkan keinginannya untuk menjemput Rian.


Sempat menolak karena tidak mau jika Mia semakin larut dalam kesedihan, akhirnya Nyonya Helen menyetujuinya. Mia begitu meyakinkan Nyonya Helen jika itu justru akan membuat Mia berusaha untuk berdamai dengan masa lalunya.


"Kalau itu membuatmu senang, Mama akan sangat mendukungmu," ucap Nyonya Helen.


Tentu, karena sebenarnya justru ia yang pertama kali menginginkan Rian agar ikut ke rumah mereka. Sebagai seorang ibu, Nyonya Helen tidak sampai hati melihat anak baik seperti Rian harus hidup sendirian.


Mungkin dibalik kebenciannya pada Pak Baskoro, Mia juga sama seperti Nyonya Helen. Ia wanita lembut. Mana bisa ia melihat orang yang sudah membantunya, hidup sebatang kara.


"Jadi Mama setuju?" tanya Dion.


Anggukan kepala Mia membuat Dion sedikit tidak percaya, jika ibunya mengiyakan apa yang akan Mia lakukan. Tapi ada misi lain, Mia tidak perlu izin untuk keluar rumah lagi untuk melakukan test DNA.


"Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui," ucap Mia.


Sebenarnya Mia bisa saja dengan mudah izin keluar rumah kapan saja. Apalagi jika alasannya untuk shopping, Mia tidak perlu sulit untuk mendapatkan izin dari ibu mertuanya itu.


Hanya saja Mia takut jika Nyonya Helen akan curiga. Karena Mia yang jarang belanja, tiba-tiba keluar rumah lagi untuk belanja. Jadi Mia akan memanfaatkan momen untuk menjemput Rian, untuk menuntaskan rasa penasarannya tentang Tuan Felix.


"Sayang, tapi hari ini aku ada meeting. Bisa besok saja?" tanya Dion.


"Gak bisa A. Semakin cepat akan semakin baik. Mia ingin segera menyudahi satu per satu masalah dalam hidup Mia," jawab Mia.


"Aku gak bisa batalin meeting ini," ucap Dion.


"Mia bisa sendiri," jawab Mia.


Dion tidak percaya Mia bisa bersikap seperti ini. Ia ngotot sekali bahkan siap pergi sendiri tanpa Dion. Mia begitu berani dan yakin dengan keputusannya.


"Kamu yakin mau sendiri?" tanya Dion.


"Iya. Aa kerja aja," jawab Mia.


Dion tidak bisa menahan Mia yang memang sudah tidak sabar ingin segera mengungkap semuanya. Ia tidak terlalu khawatir karena bisa mengerahkan anak buahnya untuk menjaga Mia dengan ketat. Dan memastikan kalau istrinya benar-benar aman sampai ia bisa kembali ke rumah.


"Mia, Mama ikut ya!" ucap Nyonya Helen.


Dion tersenyum saat mendengar mamanya ingin ikut. Sebenarnya Nyonya Helen ingin menjaga Mia. Memastikan menantunya aman. Sebagai seorang ibu, Nyonya Helen khawatir pada Mia. Takut jika emosinya mendadak tidak stabil.


"Gak usah Ma. Mama di sini aja. Mia titip Narendra sama Naura," ucap Mia.


Dion cemberut karena Mia menolak Nyonya Helen.


"Kalau begitu kamu di sini aja jaga Narendra dan Naura. Biar Mama yang jemput Rian," ucap Nyonya Helen.


"Nah mending gitu aja Mi," ucap Dion.


Kini giliran Mia yang cemberut karena Dion menyetujui saran ibunya.


Apa A Dion lupa kalau aku mau ke rumah sakit dulu untuk test DNA? Ngeselin banget sih Aa. Ayo Mia mikir. Cari cara biar kamu bisa keluar rumah hari ini. Pokoknya Mia harus jawab semuanya dalam waktu dekat.

__ADS_1


Mia menginjak kaki Dion untuk memberi kode. Beruntunglah Dion langsung peka dan ingat rencana Mia. Ia melihat wajah Mia sudah masam padanya.


"Tapi Ma, kayaknya mending Mia aja yang jemput Rian. Bagaimana pun kan Mia pernah marah sama Rian. Bisa jadi Rian gak mau kalau Mama yang jemput, karena kan takut sama Mia. Kalau Mia ke sana, Mia bisa langsung jelasin sama Rian. Gitu kan sayang?" tanya Dion.


Mia tersenyum lebar saat Dion bisa membantunya.


"Iya Ma. Itu maksud Mia," ucap Mia.


"Tapi Mama khawatir kalau kamu berangkat sendiri," ucao Nyonya Helen.


"Gak sendiri dong Ma, kan bawa sopir. Nanti pulangnya bertiga juga sama Rian," ucap Mia.


Dion tidak ingin debat ini terlalu panjang. Ia segera membela Mia lagi.


"Nanti aku nyusul Ma kalau ada apa-apa," ucap Dion.


"Beneran ya kamu, Di. Awas kalau biarin menantu Mama kenapa-kenapa," ucap Nyonya Helen.


"Iya Ma, siap. Mama tenang aja ya!" ucap Dion.


Saat Nyonya Helen dan Tuan Wira susah menyetujui semuanya, Mia nampak terseyum girang. Bahkan saat Dion berangkat ke kantor, Mia menggandeng tangan Dion dengan manja. Bisikan pelan mengucapkan terima kasih disertai kecupan manja di pipi Dion, mengantarkan Dion dengan wajah yang ceria.


Bukan karena Dion tidak khawatir, tapi ia ingin Mia senang. Mia memang butuh semua ini. Membiarkan Mia mengungkap tentang siapa Tuan Felix, dan berusaha berdamai dengan masa lalunya dengan menerima kehadiran Rian. Hal itu sengaja Dion lakukan karena memang Mia berhak untuk menentukan jalan hidupnya. Dion yakin Mia tahu yang terbaik.


Tak lama setelah Dion berangkat, Mia menuntaskan tugasnya sebagai seorang ibu pagi ini. Ia menyusui Narendra dan Naura sebelum akhirnya meninggalkan rumah.


"Ma, Mia berangkat ya! Titip si kembar," ucap Mia.


"Kamu hati-hati ya!" ucap Nyonya Helen.


Mia berangkat dengan sangat semangat. Meskipun hatinya berdebar tak karuan. Bukan hanya tentang Rian, tapi tentang hasil test DNA nanti.


"Nyonya sakit?" tanya sopir.


"Ah, gak. Mia cuma mau kontrol aja," jawab Mia.


Mobil terparkir dan Mia langsung masuk. Tak ingin menghabiskan banyak waktu, Mia melangkah lebih cepat. Bertemu dokter dan membahas apa maksud kedatangannya.


"Maaf Nyonya, ini milik siapa?" tanya Dokter mengangkat plastik berisi rambut.


"Apakah privasi saya aman di sini?" tanya Mia.


Dokter menatap Mia. Matanya penuh ancaman. Tak ada pilihan selain mengiyakan dan mempercepat prosesnya.


"Berapa lama saya bisa menunggu?" tanya Mia.


"Saya akan menghubungi Anda secepatnya, Nyonya." ucap Dokter.


"Baiklah. Saya akan menunggu kabar Anda," ucap Mia.


Mia kembali ke mobil dan menuju rumah Rian. Satu tujuannya sudah selesai, meskipun Mia masih harus menunggu hasilnya. Kini ia tengah mempersiapkan hatinya untuk bertemu dengan Rian.


"Nyonya, sudah sampai." Sopir memberi tahu Mia karena sudah hampir satu menit, Mia belum juga turun dari mobil.


"Nyonya," panggil sopir itu kembali.


Setelah tiga kali mengulang panggilannya, Mia baru tersadar dan segera turun. Rian sudah siap dengan celemek dan barang dagangannya di depan rumah. Hati Mia sakit. Entah melihat keadaan Rian atau mungkin karena mengingat jalan hidupnya yang begitu rumit.


"Kak Mia," panggil Rian.

__ADS_1


"Hai," jawab Mia.


"Kak Mia mau beli lotek?" tanya Rian dengan semangat.


Mia menggeleng.


"Mau beli rujak?" tanya Rian kembali.


Mia masih menggeleng.


"Tapi Kak Mia belum nyoba lotek dan rujak buatan aku. Ini enak kak," ucap Rian yang belum putus asa menawarkan barang jualannya.


Mia masih tetap menggeleng.


"Kak Mia mau apa? Mau marahin aku? Aku gak tahu apa-apa kak. Aku gak minta untuk dilahirkan ke dunia ini kalau kehadiranku hanya akan menyakiti orang lain," ucap Rian sembari menundukkan kepalanya.


"Aku mau kamu jualan di rumah aku. Kamu mau?" tanya Mia.


Rian mengerutkan dahinya dan mengangkat kepalanya. Memberanikan diri menatap wajah Mia. Mencari makna atas ucapan yang sempat menggelitik indera pendengarannya.


"Jualan di rumah Kakak?" tanya Rian.


"Ah, di rumah mertuaku. Kamu bisa?" tanya Mia.


Mendengar kata mertua, kepala Rian langsung teringat pada Nyonya Helen. Wanita yang menginginkan dirinya tinggal di rumahnya. Kini Rian tahu apa maksud Mia.


"Maaf Kak. Kalau kakak dan Nyonya Helen iba, jangan khawatir. Aku bisa bertahan meskipun sendirian," ucap Mia.


"Siapa yang iba padamu? Anak kuat dan hebat. Tidak ada yang perlu kami khawatirkan," ucap Mia.


"Lalu apa yang bisa aku lakukan?" tanya Rian.


"Apa aja yang kamu bisa," jawab Mia.


"Aku yakin di rumah kakak sudah banyak sekali pekerja. Untuk apa aku aku ikut bekerja di sana?" tanya Rian.


"Ya, karena aku butuh kamu. Apa kamu bisa?" tanya Mia.


"Tolong jelaskan apa yang bisa aku lakuin buat Kakak?" tanya Rian.


"Membantu apapun yang aku butuhkan. Terutama membuatkan aku lotek dan rujak kapanpun aku mau. Kamu bisa ya?" tanya Mia.


Rian bukan orang yang bodoh. Dia tidak bisa Mia perdaya begitu saja.


"Maaf kak, aku gak bisa." Rian menolak ajakan Mia.


Apa? Rian menolak?


######################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.

__ADS_1


__ADS_2